
Pelampiasan
Datang ketika dibutuhkan
Diabaikan ketika tak lagi diharapkan
Bukan
Aku tidak pernah berniat sedikitpun mengubah peranmu
Kamu tetaplah yang dulu
Berdua
Bersama
Dan saling mengadu
Karena rasa itu hadir bersama hatimu
Tanpa diminta
Namun mengalir begitu saja
Seperti cerita
Yang entah kapan berakhirnya
Hanya Tuhan yang tahu
Tentang perjodohan garis takdirku
Tuhan
Tolong satukanlah dia bersama seseorang yang lebih baik dari dirinya
Karena aku yakin tak mungkin mampu bersamanya
Terlalu banyak jarak yang memisahkan
Tanpa ada celah yang mendekatkan
Tuhan
Jagalah dia agar tetap berada di jalanMu
Membimbing melangkah walau tanpa ku
Karena aku tak mampu melihatnya jatuh kedua kalinya
Sementara saat ini hidupnya hampir sempurna
Cukup aku disini yang terluka
Dan hanya bisa berdoa
Semoga kelak tersisa bahagia untuk ku menikmatinya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rutinitas di kantor masih sama seperti sebelumnya. Raka dan Krisna duduk di kursi seperti biasa. Namun ada yang berbeda. Krisna menyadari perbedaanya meski tidak tau apa sebenarnya yang berbeda. Meja masih sama. Kursi masih sama. Bunga mawar masih ada. Oh mungkin yang berbeda hanya nawarnya saja. Beberapa hari yang lalu, ketika Raka memberikan padanya masih nampak segar. Sekarang bunga itu tampak layu. Jelas itu perbedaannya.
"Bukankah mawar itu dari kemarin sudah layu?," pikir Krisna.
Kembali mencari apa yang berbeda. Melihat kolong di bawah meja. Tempat untuk mengamati CPU sebelum menghidupkannya. Tapi CPU itu tidak ada.
"Dimana? Perasaan kemarin masih ada," gumam Krisna dalam hati.
Kemudian Krisna melihat ke atas meja. Komputernya juga tidak ada, tapi ada laptop yang sudah menempati mejanya. Menggantikan komputer yang tidak ada.
"Oh jadi ini perbedaannya, pantas saja seperti ada yang berbeda! Tentu saja laptop ini lebih kecil daripada komputer yang kemarin," kali ini Krisna berbicara pada dirinya sendiri namun dengan nada lirih.
Raka yang sedari tadi memperhatikan Krisna merasakan hal aneh. Krisna seperti orang yang agak linglung. Dan sepertinya juga kurang tidur. Terlihat dari kantung matanya yang membuat dirinya terlihat semakin jelek.
"Kris, kamu sehat?," tanya Raka.
"Sehat ka, kenapa? Ada yang aneh sama aku?," Krisna gantian menanyakan keadaannya kepada Raka.
"Oh aku liatin dari pertama masuk ada yang beda, tapi aku nggak tau yang beda apa. Makanya aku liatin kursi sama meja," jelas Krisna.
"Kris, setauku kalau di divisi ini tu orangnya pinter-pinter deh," ucap Raka.
"Apa hubungannya sama aku ka?," tanya Krisna.
"Hubungannya adalah kenapa orang kaya kamu di terima padahal yang berbeda adalah laptop dan CPU, dimana kemarin kamu pakai komputer dan ada CPUnya, sekarang kamu pakai laptop dan nggak usah pakai CPU lagi, tapi yang kamu teliti malah kursi sama meja," jawab Raka panjang lebar.
"Rakaa!," Krisna menyebut nama Raka dengan sedikit melotot karena merasa dikerjain.
"Kok belum dihidupin laptopnya? Atau kamu nggak bisa pakai laptop ya?," ejek Raka sembari mengangkat kedua bahunya pertanda dia sedang dalam keadaan acuh.
"Bisa kok, aku nggak udik banget kali ka," sanggah Krisna.
"Nggak papa kris, disini cuma aku yang tau keudikan dan kebodohanmu! Yang lainnya tu cuma tau kamu pinter aja, eh padahal kalau mereka jadi aku nggak mungkin bilang kamu pinter yang ada kamu itu oon," tukas Raka.
"Ih Raka nyebelin banget sih, ini masih pagi kamu udah gitu," gerutu Krisna dengan memonyongkan bibirnya.
Walaupun berkali-kali Raka menjelek-jelekkan Krisna, namun Krisna tetap tidak pernah marah. Mungkin Krisna hanya menganggapnya bercanda. Atau Krisna terlanjur aneh makanya nggak pernah marah. Entah hanya Krisna dan Tuhannya yang tau.
"Kris, kamu nggak lepas jaket?," tanya Raka ketika melihat Krisna tak kunjung melepas jaketnya.
"Eh iya, aku lupa ka," jawab Krisna santai sembari melepas jaketnya.
Sementara Raka di sampingnya memandangi Krisna. Kenapa pagi ini Krisna terlihat aneh. Tidak biasanya dia seperti ini.
"Apa semalem Krisna jalan sama Poda terus kesambet? Ah kenapa nggak Poda aja yang kesambet biar sekalian jadi psikopat tingkat dewa," batin Raka.
Krisna melepas jaketnya. Menaruh dibelakang kursinya. Lalu menghidupkan laptop dan manghampiri Raka di mejanya.
"Kris, kok kamu bikin kissmark di leher? Yakin nggak malu?," Raka menyambut kehadirannya dengan tumpukan pertanyaan ketika Krisna baru saja sampai di meja Raka.
Krisna berlalu kembali menuju mejanya. Langsung memakai jaketnya. Kemudian dilepaskan lagi. Dia lupa tujuan awal memakai jaket di ruang kerja. Padahal rencananya dia akan mengatakan sakit jika ada yang bertanya. Namun justru lupa saat di depan Raka.
"Sial! Pakai jaket lagi juga Raka udah lihat, mending lepas aja biarin Raka tahu semua tentang aibku, semoga saja dia bisa melindungiku dari hujatan massa nanti," pikir Krisna dalam hati saat memakai jaket dan langsung melepasnya.
"Hehehe, iya Raka aku lupa! Tadinya mau pakai jaket terus mau bilang kalau aku sakit tapi malah kamu udah lihat," jawab Krisna polos dengan sedikit tertawa kecil.
"Mentang-mentang nggak jadi jalan sama aku, jalan sama Poda dipuasin," ucap Raka ketus.
"Hahaha nggak jadi jalan ka, semalem kan hujan deras," ucap Krisna.
"Terus ngapain? Boxing? Dapet berapa ronde?," gelak tawa Raka menggema di ruangan mereka.
"Rakaaa," protes Krisna seraya menghampiri Raka lalu mencubitnya.
Raka tidak membalas cubitannya namun dia mengacak pelan rambut Krisna. Hal yang paling disukai adalah mengacak rambutnya. Membuat Krisna semakin kesal seperti anak kecil yang mainannya di ambil oleh kakaknya.
"Dasar anak kecil! Inget kris, Poda kaya gitu, kamu nggak takut kalau dia cuma manfaatin kamu?," Raka bertanya sambil mengacak rambut Krisna kembali.
"Aku sudah menghentikan kebiasaan buruk itu, jadi tenanglah aku merasa lebih baik dari biasanya," jawab Krisna.
Raka benar-benar menyukai rambut itu. Wangi strawberry yang selalu menenangkan hatinya. Mendadak membuat amarahnya hilang. Dan Raka setiap hari tidak pernah absen untuk mengacak rambut Krisna.
"Kita tidak pernah ada apa-apa, cuma temen kan? Jadi kalau kamu ngacak-ngacak rambut menurutku sih nggak apa-apa," Raka mengingat kembali percakapan mereka ketika Raka bertanya apakah Krisna marah ketika Raka menyentuh rambutnya? Dan itulah jawabannya.
"Ka, aku ke kamar mandi bentar ya," lirih Krisna.
"Ngapain?," tanya Raka.
"Mau lihat bekas gigitan drakula," jawab Krisna acuh.
"Sini aku tambahin," usul Raka.
"Kamu mana mungkin berani," ujar Krisna.
"Bener kris?," tanya Krisna yang mulai mendekatkan tubuhnya.
"Iya", ucap Krisna.
Kemudian Raka semakin mendekati Krisna. Menatap tajam kearahnya, melihat seberapa tingkat kegugupan Krisna. Melihat seberapa serius Krisna dengan ucapannya. Karena yang Raka tau, mereka belum pernah sedekat ini sebelumnya.
Raka mendekatkan wajahnya ke depan leher Krisna. Mendadak Krisna memejamkan mata. Tidak menjauh dan tidak mendekat. Tetap pada posisinya.
"Kamu yakin?," Raka bertanya dengan seringai liciknya.