
Terkadang aku butuh pelukan
Ketika bukan hanya aku yang dirindukan
Karena kamu tidak tahu
Jika pelukan lebih berarti daripada
Sebuah bayangan halu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kedua mata itu masih melihat kegelapan pertanda masih ditutup oleh tangan misterius. Krisna mencoba menggigit namun jarak antara taring dan kelopak matanya terasa jauh. Perlahan jemarinya meraba menuju arah netranya. Terhenti di pergelangan tangan yang memakai jam besar.
"Jam besar? Seperti milik Raka," gumam Krisna.
"Rakaaa! Lepaskan aku! Kenapa kamu suka mengagetkanku?," ucap Krisna setengah berteriak.
"Tuh kan apa ku bilang, kamu pasti berteriak!," lirih Raka penuh penekanan.
"Apa kebiasaan barumu adalah menggangguku?," tanya Krisna sembari melepas tangan Raka yang masih menutup kedua matanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kamu mengucapkan sesuatu," ujar Raka.
"Hush, mengucapkan apa kamu tidak tahu betapa sakitnya mataku setelah keduanya hanya melihat kegelapan?," ketus Krisna.
"Sudahlah, jangan begitu," ucap Raka seraya melepaskan tangannya.
"Kenapa kamu nggak bilang Raka, tolong lepaskan! Aku tidak suka kamu mengagetkanku! Atau bilang sah Raka, kamu kenapa romantis sekali," gerutu Raka dalam hati.
Setelah Krisna kembali melihat dunia yang penuh dengan warna-warni, dia lalu tersenyum. Seperti terlepas dari cengkraman buaya. Sesekali mengerjapkan mata memastikan penglihatannya tidak terganggu.
Raka kemudian duduk di sebelah Krisna dengan senyum menawannya. Menatap wanita di depannya dengan penuh arti. Seperti sebuah harapan yang terpancar, namun belum tentu akan akhir dari segalanya.
"Kenapa tersenyum? Apa ada yang aneh denganku?," tanya Krisna seraya mengambil ponsel dari sakunya.
Bermaksud membuka aplikasi kamera untuk berkaca, namun Raka mencegahnya. Mengambil ponsel milik Krisna lalu menggenggamnya.
"Kok diambil? Aku belum melihat wajahku disana," ucap Krisna.
"Cukup tatap mataku dan kamu akan melihat dengan jelas bayanganmu disana," tukas Raka.
"Hm, seribu rayuan kau ucapkan namun tidak satupun ada yang menawan," batin Krisna.
Wanita itu menuruti kemauan Raka untuk menatapnya. Raka masih dengan senyumannya, sedangkan Krisna masih dengan kepolosannya. Serta bingung akan apa maksud semuanya.
Raka menarik tangan Krisna, membawa dalam genggamannya. Memberikan kehangatan di tengah panasnya terik yang menyengat. Baru saja digenggam, Krisna justru langsung menarik tangannya membuat Raka mengerucutkan bibir.
"Aku yakin dia pasti akan menolak, padahal hanya tangannya yang ku pegang, coba kalau aku memeluknya disini," pikir Raka.
"Raka, disini panas! Apa kamu tidak merasakannya?," tanya Krisna mencoba memecah keseriusan Raka.
"Aku tidak pernah merasakan panas, terlebih saat di dekatmu seperti ini," jawab Raka.
"Tapi disini sangat panas, bahkan kamu memakai tabir surya, apa kamu lupa?," ujar Krisna.
"Disini memang sangat terik, tapi percayalah jika hatiku tetap sejuk ketika bersamamu," lirih Raka.
"Ya ampun, benarkah dia sekarang lebih gila dari aku?," batin Krisna.
Kembali menatap kedua bola mata bulat itu. Masih dengan senyumannya. Raka betah sekali tersenyum bahkan Krisna tidak membalasnya. Dia juga tahu jika Krisna pasti merasa risih. Namun tetap juga Raka memperlakukan Krisna seperti itu.
Lalu apa tujuannya dan bagaimana jika Krisna masuk ke dalam pelukannya. Ah itulah sesungguhnya yang dinantikan Raka. Menginginkam wanita disebelahnya bagaikan mencari duri dalam jerami. Begitu sulit untuk didapatkan.
"Aku punya sesuatu untukmu," lirih Raka.
Sengaja melakukannya agar Krisna mendekat. Kali ini Dewi keberuntungan berpihak kepada Raka. Benar saja, Krisna lalu mendekat karena tidak mendengar ucapan Raka.
"Bisa diulang?," bisik Krisna.
"Oh shi*! Kenapa kamu ikutan berbisik? Senjata makan tuan kan? Sabar Rakaa, sabar, harap bersabar ini ujian!," batin Raka.
"Apa disini ada setan?," tanya Krisna dengan serius.
"Tidak, memangnya kenapa?," jawab Raka lebih serius.
"Kenapa kamu membaca mantra pengusir setan? Bahkan aku tidak mendengar, ku rasa kamu sedang berusaha merayunya agar pergi dari sini karena orang ketiga adalah setan," ucap Krisna polos.
Raka lalu mengacak rambut Krisna karena dia merasa gemas ketika mendengar ucapan Krisna. Dia sama sekali tidak merasa bersalah atas pertanyaannya. Tidak juga merasa ada yang aneh dengan dirinya.
"Hei, berapa kali kamu mengacak rambutku setiap hari? Tadi pagi kamu sudah mengacaknya, sekarang kamu mengacak lagi! Coba aku bikin tarif 10ribu per pengacakan, aku bisa cepet kaya," gerutu Krisna.
"Tidak perlu seperti itu," tukas Raka seraya mengedarkan pandangannya ke tempat lain.
"Apa dia marah?," batin Krisna.
"Poda tidak mencarimu?," gumam Raka namun bo*ohnya malah Krisna mendengar.
"Iya, kamu mengingatkanku! Kemarilah ponselku, bahkan aku belum melihatnya!," tukas Krisna.
"Senjata makan tuan lagi Raka, lama-lama bisa senjata makan Raka bukan senjata makan tuan," umpat Raka dalam hati.
"Ini," ucap Raka lesu seraya memberikan ponsel Krisna.
Krisna lalu membuka ponselnya, melihat aplikasi berwarna hijau. Tidak ada pemberitahuan di sana. Namun tetap membuka kontak Poda dan menemukan dia berada di status online.
Ketika Krisna hendak menulis pesan, tiba-tiba ada pesan masuk dari Poda. Wanita itu tanpa sadar tersenyum, membuat laki-laki di sebelahnya memanyunkan bibir dan mengacak rambutnya.
From : Poda
"Hai sayang, selamat siang! Apa kamu sudah makan?"
From : Krisna
"Belum, aku baru keluar sama Raka dan kali ini dia tidak memberiku makan siang"
From : Poda
"Kamu dimana? Apa sebaiknya kita makan berdua saja"
From : Krisna
"Aku di Malioboro, sepertinya ide yang bagus"
Layar ponsel Krisna memunculkan nama Poda disana. Tidak biasanya laki-laki itu melakukan panggilan ketika bekerja.
"Apa dia merindukanku?," gumam Krisna.
"Tidak mungkin, paling juga dia cuma mau bilang kamu jangan pulang terlambat ya," tukas Raka.
Tidak menjawab ucapan Raka namun dia mengangkat panggilan itu. Begitu bahagia karena ini moment yang sangat langka. Seorang Feri Poda Mardana menghubunginya.
"Halo sayang, aku di daerah Parangtritis sepertinya kita tidak mungkin makan siang bersama! Oh ya, jangan pulang terlalu sore! Aku merindukanmu," ucap suara di seberang membuat harapan Krisna pupus.
"Baiklah," ujar Krisna lesu.
Sementara Raka dengan wajah tanpa dosa tertawa sembari menggerutu menirukan Krisna. Merasa menang atas ucapannya. Tidak peduli jika Krisna menderita.
"Tebakanku benar kan? Sudah kubilang, kamu menurutlah denganku," ucap Raka.
"Iya," jawab Krisna.
Raka segera mengambil lutis dan es camcau yang sudah disiapkan. Mengambil dari bangku yang berada di belakang mereka lalu memberikan kepada Krisna.
"Makanlah, aku sudah membelikan untukmu! Aku yakin kamu menyukainya, bahkan sangat yakin lutis yang pedas dengan buah mangga dan nanas mampu membuat air liur ingin menetes," jelas Raka.
"Hahaha, kamu selalu tahu apa keinginanku! Terima kasih Raka," ucap Krisna tulus seraya tertawa.
Baru memegang buah-buahan yang ada, mendadak Krisna menautkan kedua alisnya. Membuat Raka yang disebelahnya menjadi heran. Sempat berpikir apakah wanita itu tidak menyukainya. Namun tidak mungkin dia akan menolak.
"Ada apa?," tanya Raka.