
Tanyakan pada rumput yang bergoyang
Apakah cintamu hanya abadi untukku
Atau hadirku hanya sebagai selingan sandiwaramu
Cinta
Terkadang caramu yang salah mampu membuatku mengalah
Namun pesonamu yang indah tak kan mampu membuat hatiku berpindah
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku tidak suka mangga, apalagi mangga muda," lirih Krisna.
"Kupikir kamu kenapa," ucap Raka acuh.
"Rakaaa, aku tidak suka mangga muda ini," ucap Krisna manja.
"Lalu? Kamu masih bisa memakan yang lain kan?," tanya Raka.
"Kamu sama sekali tidak perhatian!" tukas Krisna.
"Aku perhatian dia minta jangan perhatian, aku peduli dia bilang jangan terlalu baik, sekarang aku tidak perhatian dia bilang aku tidak perhatian, lalu bagaimana sebenarnya aku harus memperlakukan dia? Hmm wanita aneh," pikir Raka.
"Baiklah Krisna wanitaku yang manja, aku akan memakan mangga punyamu nanti aku kasih nanas sebagai gantinya," ujar Raka tulus.
"Nah, gitu dong! Kalau begitu dari tadi kan aku nggak perlu marah-marah, eh tapi aku bukan wanitamu! Enak saja kamu sembarangan menyebutku seperti itu," gerutu Krisna.
"Terus saja salahkan aku, mungkin aku disini bersamamu juga sebenarnya salah," gumam Raka.
Krisna hanya melirik sekilas melihat wajah cemberut Raka. Bukan hanya senyuman yang menambah ketampanannya, ternyata cemberut juga membuat laki-laki itu terlihat tampan. Betapa beruntungnya Krisna mendapat perhatian dari sosok sempurna seperti dia.
Sementara Raka memakan mangga muda dengan memejamkan matanya. Rasa yang cocok untuk ibu hamil namun tidak untuk dia. Bagaimana mungkin ketika nyidam pasti meminta mangga muda jika rasanya sungguh membuat cacing di perut menggeliat.
"Aku tidak membayangkan jika nanti mendapat istri yang lagi hamil pengen mangga muda! Sebenat lagi ekosistem di perutku juga akan musnah," gerutu Raka.
Mendengar Raka berucap seperti itu membuat Krisna terhenti dari aktivitasnya. Lalu menatap Raka lekat-lekat. Sebenarnya yang salah Krisna atau Raka. Kenapa di saat hanya berdua mereka tidak pernah bisa berdamai, namun disisi lain ketika banyak orang yang melihatnya mereka seperti kakak beradik yang saling menyayangi.
"Apa lagi? Masih kurang aku makan mangga segini?," tanya Raka pura-pura marah.
"Hehe, enak?," ucap Krisna polos.
"Mimpi apa aku semalem? Kenapa bisa apes begini! Sudah tahu rasa yang sangat membuat lidahku kelu, masih saja bertanya," gumam Raka.
"Oh, maaf sudah merepotkanmu! Sudahi saja makan mangganya," ucap Krisna.
"Sepertinya tidak sia-sia aku makan seperti ini jika akhirnya bisa membuatmu melirikku, ya meskipun hanya sesaat," batin Raka.
"Sebagai permintaan maaf, sini aku siapin yang kedondong, sebenarnya biar cepet habis juga," tukas Krisna seraya menyuapi Raka.
"Terima kasih," lirih Raka.
"Sama-sama, sudah cepat habiskan! Aku tidak mau disini lama-lama, panas sekali Raka! Lihatlah kulitku yang mulai seperti kentang goreng dengan taburan choklat diatasny," gerutu Krisna.
Krisna lalu meletakkan plastik yang isinya sudah habis ke dalam tong Sampang di sebelahnya. Lalu mengambil tisu basah dari dalam tasnya dan menyapukan di kedua telapak tangannya.
Setelah itu memakai hand sanitizer dan membersihkannya dengan tisu kering. Wanita itu sungguh teliti akan kebersihan dirinya. Bahkan sampai sela-sela jari pun tak luput dari sentuhannya.
"Cepatlah! Ini sungguh sangat panas! Kamu
gila mengajakku duduk dibawah terik seperti ini," umpat Krisna dengan penuh penekanan.
"Sebentar aku masih menikmati pedas dengan sedikit rasa terasi ini," tukas Raka.
Melirik Raka yang masih dengan polosnya menikmati lutisnya. Membuat Krisna sedikit gemas dengan tingkah Raka. Dia segera mencubit pinggang Raka serta menggelitiknya. Sudah bersabar diajak berendam di panasnya dunia, namun Raka tanpa sadaralah membuat Krisna semakin geram.
"Hei, lepaskan aku! Kamu selalu saja membuatku merasa geli," tukas Raka.
"Cepatlah Rakaaa! Sebelum aku berteriak lebih keras lagi," tegas Krisna.
Gemas melihat Raka tidak bergeming seperti itu membuat Krisna semakin geram. Siang itu Krisna terlihat lebih tempramental dari biasanya. Bagaimana mungkin wanita lain selalu dimanja sedangkan dia diajak berdosa.
Raka berdosa atas ajakannya untuk menjemur Krisna. Mungkin juga sengaja membuat Krisna agar terlihat lebih hitam. Tidak ada yang tahu apa maksud Raka sebenarnya.
Sejujurnya wanita itu senang berdua bersama Raka. Apalagi bertemankan makanan kesukaannya, tapi siang itu Raka seperti tidak peduli akan keluhannya.
"Pakai tabir surya sih iya, tapi berada di tengah panas seperti ini juga bisa membuatku gosong," umpat Krisna dalam hati.
"Sekali lagi kamu merajuk, aku akan menurutimu," batin Raka.
Dia melihat Krisna diam dengan bibir cemberut dan wajah yang petak. Masih memandang taman yang indah oleh pantulan sinar sang surya.
Tinggal lima potong buah lagi Raka selesai. Namun Krisna tidak meliriknya, apalagi merajuk meminta pergi dari sana. Bisa jatuh harga diri laki-laki itu jika Krisna tidak mengajaknya.
"Apa harus aku yang mengajakmu?," gumam Raka.
"Tidak, aku masih ingin disini menikmati indahnya siang yang hanya bisa kunikmati denganmu," lirih Krisna.
"Oh itu, apa kamu tidak bisa sebentar saja tidak menggodaku? Kenapa kamu senang sekali merayuku lalu kau hempaskan diriku begitu saja?," ucap Raka dengan gaya bak putus terkenal.
"Aduh, kenapa jadi seperti ini? Aku kan malu diliatin orang! Dasar Rakaaaa!," jerit Krisna dalam hati.
Krisna lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan Raka yang masih mengucapkan kata-kata gombalnya. Laki-laki itu tidak menyadari kepergian Krisna karena saking serius mengucapkan wakil dari perasaannya.
Setelah dia selesai bicara, barulah menyadari jika bangku disebelahnya sudah kosong. Segera Raka mengejar Krisna, namun wanita itu hanya mengedikkan bahu acuh. Teriakan Raka yang lantang pun tidak dihiraukan.
Benar-benar dua sosok yang berbeda. Namun dengan beberapa persamaan. Salah satunya ketika keduanya sama-sama melakukan hal konyol. Mereka tidak pernah memperdulikan dimanapun dan kapanpun. Ketika suasana hati sedang baik, mereka bisa seperti tadi.
Selalu menggerutu hanya untuk hal kecil, namun sebenarnya mereka saling peduli. Andai waktu dapat berputar kembali, Raka berharap dirinya dipertemukan dengan Krisna lebih dulu. Daripada bertemu wanita-wanita yang tidak pernah berhati tulus.
Jika takdir bisa untuk dipilih, pastilah mereka saling berlomba merajut mimpi. Mengukir indah kenangan dalam balutan kesederhanaan. Melukis cerita untuk sebuah akhir yang bahagia.
Menghapus setiap luka yang ada agar kelak hanya tawa yang ada disana. Namun seulas senyuman serta secarik harapan sirna seketika, sesaat setelah Raka menyadari jika semua hanya ada dalam mimpi.
"Bagaimana aku akan memilikinya? Jika untuk saat ini saja dia tidak merubah posisiku sedikitpun, masih tetap menjadi teman dan belum juga bergeser," gumam Raka dalam hati.