
Ingin sekali aku membawamu ke dalam hidupku
Namun saat menyadari jika aku hanya kekosongan hatimu,
Aku pasrah dan menyerah akan waktu yang nantinya menyatukan jiwa dan ragamu kepada tulang rusukmu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tepat pukul 06.40 WIB ketika Poda dan Krisna keluar dari kamar. Keduanya bersiap untuk berangkat ke kantor. Berbeda dari biasanya karena pagi itu mereka melakukan hal yang membuat orang lain menggelengkan kepala.
Bagaimana tidak jika biasanya Krisna dan Poda selalu berlomba memakai sepatu, kini keduanya saling memakaikan sepatu. Ketika Krisna memasukkan kaki kanan Poda ke sepatunya, Poda juga memasukkan kaki kanan Krisna ke sepatunya. Begitu juga dengan kaki sebelah kiri. Saat Krisna memasukkan kaki Poda sebelah kiri, Poda juga memasukkan kaki Krisna sebelah kiri.
Sebenarnya bisa saja memakai sepatu sendiri, tapi tingkah mereka saja yang kurang sehat. Benar kata pepatah jika jodoh tidak jauh sifatnya dengan kita. Terbukti oleh Krisna dan Poda jika keduanya sama-sama aneh.
Poda bermaksud mengantarkan Krisna ke kantor, tapi Krisna menolaknya. Tentu saja membuat Poda memincingkan matanya seperti mengintimidasi Krisna. Dengan wajah yang di tekuk serta tatapan tajam membawa Krisna ke lembah kurang terdalam.
"Sial!," umpat Krisna.
"Apa kamu merencanakan sesuatu?," ketus Poda.
Dia berpikir jika Krisna mempunyai perasaan dengan Raka dan saat ini wanita itu sedang menjaganya.
"Tidak," ucap Krisna dengan perasaan was-was namun ditahannya.
"Lalu kenapa menolakku? Ada seseorang yang sedang dijaga perasaannya?," sindir Poda.
"Tidak sayang, bukan maksudku seperti itu ta-," jelas Krisna yang tiba-tiba Poda memotong bicaranya.
"Lalu?," tanya Poda penasaran.
"Hei, dengarkan aku! Salah siapa memotong pembicaraanku," gerutu Krisna.
"Oke lanjutkan!," ujar Poda.
"Kaya kampanye aja oke lanjutkan," batin Krisna.
"Aku hanya tidak mau merepotkan mu, ingat kamu bukan bos disana dan mana mungkin kamu bisa pulang sesuka hatimu! Bukankah kamu selalu pulang malam? Kemarin kamu sudah pulang sore, aku tidak mungkin membiarkanmu bolos seperti itu," jelas Krisna.
"Hm, iya bawel," gumam Poda.
Laki-laki itu segera memakai helm dan segera melajukan maticnya. Sedikit kesal karena Krisna menolaknya. Tidak biasanya Krisna seperti itu.
"Awas kalau kamu main di belakangku!," ancam Poda seraya mengepalkan tangannya.
"Dasar laki-laki gila! Kemarin aja bikin aku bahagia, sekarang udah kaya orang gila," gerutu Krisna melihat kepergian Poda yang tanpa pamit kepadanya.
Tiba di kantor, Krisna tersenyum seperti biasa. Bahkan wanita itu hanya menganggap sifat kekanakan Poda sebagai perilaku labilnya. Sedikit bahagia sedikit menderita. Itulah hidup yang dirasakan Krisna.
"Hai Raka," sapa Krisna ketika mendapati laki-laki itu sudah berada di sebelahnya.
"Tumben aku dulu," tambah Krisna.
"Iya, aku males! Males ketemu pacar orang," ucap Raka jujur karena pagi itu dia memang masih kesal dengan Krisna.
Laki-laki itu hanya menggeleng menatap kepergian Krisna. Sudah sangat mengerti ketika Krisna bersikap dingin pasti sedang baku hantam dengan Poda. Sempat Raka berpikir jika hidupnya monoton, tapi setelah melihat Krisna ternyata lebih monoton lagi.
"Sungguh aku bersedia menjadi pelarianmu," batin Raka.
Tanpa pikir panjang, Raka segera menyusul Krisna menuju ruangannya. Tempat yang beberapa tahun terakhir menemaninya mengais rezeki. Juga tempat yang pernah menjadi saksi pengkhianatan kekasihnya.
Tersenyum ketika mendapati Krisna mendadak menghidupkan laptop dan sok sibuk dengan jari mengetik sesuatu disana. Raka mendekat sebenarnya ingin mengerti apa yang dilakukan Krisna, tapi mengingat kejadian kemarin yang membuatnya malu memaksa Raka mengurungkan niatnya.
Waktu sudah menunjukkan saatnya apel pagi dimulai. Namun melihat Krisna yang sok sibuk membuat Raka semakin penasaran. Biasanya wanita itu akan selalu bercengkrama dengan Raka baru akan bekerja. Terkadang juga harus Raka yang mengingatkan jika sudah waktunya bekerja.
Berbeda dengan hari sebelumnya, jika kemarin Raka murni menginginkan Krisna untuk menjadikan dirinya only one pagi itu Raka menginginkan menjadi yang kedua.
"Otakku sudah tercemar! Oh my God, sudah sangat buruk butuh recycle bean," gerutu Raka seraya memukul kepalanya.
Krisna yang mendengar gerutuan Raka segera memalingkan kepala. Melihat kondisi lali-laki di sebelahnya apakah sedikit sembur dari gilanya atau malah bertambah gila.
"Astaga! Apa kamu sudah gila? Jangan melakukan hal bo*oh Raka!," jerit Krisna.
Tanpa sadar jeritannya terdengar hingga ke luar ruangan. Karyawan yang mendengar Krisna segera membuka pintu ruangan Raka. Mereka tidak sabar menyaksikan adegan apalagi yang akan diperankan Raka dan Krisna.
Tempo hari saja mereka melihat adegan tindih menindih dilantai. Banyak dari mereka yang saling berbisik dengan apa yang akan dilihatnya.
"Ceklek," suara pintu terbuka.
Raka dan Krisna menoleh bersama mendapati beberapa karyawan berada di pintu. Yang paling belakang juga berusaha berjinjit untuk melongok.
"Kenapa kris?," tanya Raga.
Saat itu hanya Raga yang berani mengatakan sesuatu. Lagipula hanya Raga yang pernah berurusan dengan Raka karena melakukan hal bodoh dengan kekasih Raka. Beruntung saat itu Raka tidak mengajukan ke atasan agar memecat Raga.
"Aku sih nggak papa mas, tanya aja tuh sama pemilik bangku sebelah," jawab Krisna santai.
Raga menelan ludahnya dengan susah payah. Mana mungkin dia berani bertanya hal bodoh kepada Raka. Apalagi melihat tatapan tajam Raka yang seakan membunuhnya. Saat itu juga mungkin Raga bisa dicekik Raka jika tidak ada orang lain.
"Mampu*! Kenapa tuh orang matanya mau copot sih? Untung ada Krisna di sebelahnya, setidaknya bisa sedikit menyelamatkan hati dan jiwaku," batin Raga.
"Maaf kris, aku mendadak gebelet! Yaudah kalau kamu nggak papa, hati-hati ya denger-denger di ruangan ini ada hantunya," bisik Raga setelah laki-laki itu menghampiri Krisna.
"Raga! Apa yang kamu bisikkan?," ketus Raka ketika melihat Raga menghampiri Krisna.
"Kenapa? Apa itu mengganggumu?," ucap Krisna kesal.
"Hancurlah harga diriku! Seorang Raka Rahardian kalah saing dengan bawahannya! Lagi-laga Raga! Sungguh menyebalkan membuat pagiku menjadi semakin buruk," umpat Raka dalam hati.
Raka tidak menjawab hanya menatap Krisna sekilas lalu memberi tatapan tajam kepada Raga. Seolah mengingatkan agar laki-laki itu segera keluar dari ruangan Raka. Namun tidak dengan Raga, dia pura-pura tidak tahu dan masih terlihat khawatir dengan Krisna.
Para penonton yang setia di depan pintu merasa melihat drama secara live. Mereka enggan pergi dan memilih melihat di dalam ruangan Raka. Bahkan sepertinya apel pagi agar tertunda atau bisa jadi tidak ada apel pagi.
Siapa yang akan melakukan upacara apel jika semua karyawan lantai dua sibuk melihat pemandangan langka. Sungguh menggoda mata untuk diintip. Dan sangat merugikan jika tidak dilihat.