My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 114 Khilaf



"Cup" bibir keduanya bertemu di tengah tatapan mereka yang paling dalam.


Seolah tersirat rindu di dalamnya, Terry merengkuh Krisna ke dalam pelukannya. Tentu saja Krisna tidak menolak. Wanita itu membalas pelukan Terry dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Terry.


"Sekali-kali khilaf nggak papa kan?," kekeh Krisna dalam hati.


Ciuman lembut perlahan menjadi ******* buas. Bukan buas akrena gigitan, melainkan karena keduanya saling meminta lebih. Seakan tidak cukup jika hanya melakukan di bibir saja.


Terlepas dari khilaf yang dirasa, Krisna malah melakukan hal bodoh dengan menekan tengkuk Terry agar memperdalam ciumannya.


Seringai licik berbasis kepuasan terbit di sudut bibir Terry. Meski sedang bertautan, Krisna mampu melihat gurat kebahagiaan disana.


"Bruk" Terry mendorong Krisna hingga jatuh ke kasur empuk miliknya.


Lalu laki-laki itu melepas ciumannya. Dia membenamkan kepalanya di leher Krisna. Menghembuskan nafas dengan sengaja agar sang empu tak mampu lagi menolak pesonanya.


"Terr," bisik Krisna.


"Hm," gumam Terry.


"Udah dong, jangan gila," ucap Krisna lagi.


"Cup" kecupan terakhir mendarat di pipi Krisna.


Kali ini terasa tidak seperti ciuman penuh nafsu, tapi ciuman kasih sayang yang menghangatkan.


"Maaf," sesal Terry.


Oh lebih tepatnya pura-pura menyesal karena penyesalan tidak ada dalam kamus kehidupannya. Mungkin saat ini lebih baik pura-pura daripada mengatakan sejujurnya.


"Iya," ucap Krisna.


Ada separuh ruang yang mendadak kosong. Berselimut nafas sebagai penolong. Kasar, seperti lidah penjilat yang kotor. Tanpa suatu warna hanya sebuah memar.


Kala senja mengubahnya menjadi rahasia akan gelapnya malam. Langit memilih pekat sebagai pelengkap. Kala bintang memilih sembunyi dibaliknya, bulan memilih menyembulkan sedikit pesonanya.


Ya, mungkin terkesan indah, tapi tidak untuk tempat pelepas penat. Perihal rasa yang masih melekat, apalah daya jika nantinya harus terpikat.


Menepis jauh rasa yang sulit dicerna, waktu punya cara mengabdikan dalam sebuah strata. Jika hujan memiliki rinai untuk mengambil tujuh cakrawalanya, maka cinta punya banyak rasa sebagai pelengkapnya.


Luka, duka, atau mungkin kecewa. Semua adalah lapisan kasta dalam sebuah makna. Tanpa sebuah pepatah, tanpa sebuah petuah. Cinta memilih pergi meninggalkan insan seorang diri.


"Sayang," ucap Terry lirih berharap Krisna tidak mendengarnya.


Namun dugaan Terry salah, wanita itu mendengar hanya berpura-pura tidak mendengar. Dia ingin sekali lagi mendengar Terry memanggilnya dengan sebutan itu.


"Kris," panggil Terry.


"Hm," balas Krisna.


"Kamu nggak denger kan?," tanya Terry karena tidak ada tanda-tanda Krisna akan menjawabnya.


Jika wanita lain mungkin lebih memilih melupakan ucapan Terry dan terus berada dalam situasi kepura-puraannya. Berbeda dengan Krisna, wanita itu tidak bisa menepis jiwa ingin tahunya yang sudah mendarah daging.


"Dengar apa?," tanya Krisna polos.


Seolah tidak ada apa-apa, sebenarnya ada ribuan rasa yang ingin mencari jawabannya.


"Ah tidak papa," jawab Terry cepat.


"Secepat ini kamu menjawab pertanyaanku? Terkesan seperti menutupi sesuatu?," tukas Krisna dengan tatapan mengintimidasi.


Telak! Terry mendapat tatapan tajam dari wanita kecil dihadapannya. Bukan kecil badannya, tapi kecil karena empat tahun lebih muda darinya.


"A-," belum sempat Terry menjawab ucapan Krisna wanita itu segera menyela.


"Aku tidak mengenal dirimu yang menutupi kebohonganmu," ucap Krisna tepat pada sasaran.


Wanita yang selalu membenci kebohongan adalah dirinya. Dimana kebohongan seharusnya ditegakkan, tapi dalam hidupnya justru kebohongan selalu membenarkan.


Sorot mata yang sedikit bening menggambarkan adanya harapan disana. Meski harus bisa menguburnya rapat-rapat. Bukan lagi rasa tidak berani yang dirasakan, tapi ketidakmampuan untuk menerima tolakan.


Andai saat ini mereka baru bertemu, mungkin Terry lebih leluasa mengungkapkan perasaannya tanpa malu. Sayang, kenyataan menemukan mereka jauh sebelum keduanya dekat seperti sekarang.


"Huft" Terry menghembuskan nafas kasar ketika Krisna tidak juga memberi jawaban atas permintaannya.


"Kenapa?," tanya Krisna.


"Kamu tidak memberi jawaban atas ucapanku, apa itu berarti kamu menyetujuinya?," tanya Terry balik.


Kerlingan nakal muncul begitu saja. Berasal dari mata bulat dengan bulu mata lentik sebagai pelengkapnya.


"Aku tau hanya waktu untuk membiarkanmu bernafas, lalu kenapa aku harus menjawabnya. Bukankah kamu tidak membutuhkan jawaban seperti permintaan kepergian yang terkesan menyakitkan bukan?," tebak Krisna.


"Aku merasa sedang tertindas disini," dengus Terry kesal.


"Bagaimana mungkin dia lebih pintar dariku? Bahkan dulu dia selalu menjadi bahan bullyanku," gerutu Terry.


"Cup" wanita itu mengecup pipi Terry.


"Lama berteman denganmu membuatku mengerti bagaimana cara memahami," ucap Krisna pelan.


"Tapi tidak dengan perasaanku," desis Terry.


"Ya, maksudku kecuali masalah hati," imbuh Krisna.


Kekehan Terry terdengar seperti ocehan beo yang tidak patut didengarkan. Ada rasa bersalah di hatinya yang kini semakin menggebu. Untuk apa menginginkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkan. Hal itu terlihat konyol.


Keduanya diam tanpa ada yang berbicara. Canggung tentu saja menjadi kata yang tepat untuk penggambarannya. Wanita itu tidak bisa berada di dalam situasi ini lebih dari lima menit.


"Terry, ayolah keluarkan celotehanmu. Aku tidak suka melihatmu seperti robot begini," rengek Krisna.


"Hm," gumam Terry.


Laki-laki itu ingin tahu seberapa persen Krisna benar membutuhkan celotehannya.


"Aargghhkk," ucap Krisna prustasi.


Terbiasa melihat Krisna seperti itu menjadikan nilai plus untuk Terry. Dia tidak perlu panik hanya karena Krisna mengacak rambutnya kesal. Bahkan jika boleh, Terry ingin sekali melihat wanita itu membuka bajunya saja daripada hanya mengacak rambutnya.


"Itu akan menambah tingkat kejelekannya," batin Terry.


Krisna melirik sekilas laki-laki di hadapannya. Dia terkesan cuek pada penampilannya yang sudah kacau.


"Apa aku sama sekali tidak membuatnya khawatir?," batin Krisna.


"Terry, ayolah," rengek Krisna sekali lagi.


Melunak kekerasan hati yang sedari tadi ditutupinya. Hanya dengan rayuannya saja dia tergoda apalagi dengan pesonanya.


"Jangan seperti ini, lihatlah kamu semakin jelek," ucap Terry seraya mengambil ponsel miliknya untuk berkaca.


"Aku tau," ketus Krisna tanpa Sudi melihat keadaannya yang kacau disana.


Jemari Terry terulur membenarkan rambut Krisna yang super berantakan. Hampir mirip seperti gelandangan yang sering dilihatnya di kolong jembatan.


Melihat sisi kekanakan menimbulkan rasa tersendiri di dada Terry. Laki-laki yang membenci anak manja luluh karena pembawaan Krisna yang sebenarnya tidak manja. Dia hanya pura-pura. Terry paham akan hal itu.


"Jangan mencari perhatianku dengan mengacak rambutmu, meski itu benar mumbuatku tergoda tapi aku tidak suka kamu melakukannya," gumam Terry yang masih menyusuri setiap celah rambut yang ada.


"Baiklah," ucap Krisna terpaksa karena wanita itu mengucapkan seraya mengerucutkan bibir.


"Tapi aku berniat menggodamu," imbuhnya.


Refleks tangan kanannya menutup bibir yang ceroboh mengucapkan hal gila di depan Terry.