
"Sayang," lirih Poda.
"Hm," gumam Krisna tanpa menatap Poda.
"Tidak sopan jika menjawab tanpa melihat wajahnya," ucap Poda santai.
Poda meletakkan kepalanya di bahu Krisna. Membiarkan wanita itu menikmati hembusan nafasnya. Krisna merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia seperti kedapatan angin topan yang mampu memporak-porandakan semuanya.
"Don't touch me honey," batin Krisna.
Poda mengeratkan pelukannya sementara tangan kiri memegang pinggang Krisna dan tangan kanannya mengusap perut yang masih rata. Krisna merasa ada desiran aneh yang menjalar di setiap aliran darah. Bagaimana dengan dadanya apakah masih bisa normal, tentu saja berdebar kencang.
Bahkan Krisna lupa kapan terakhir kali merasakan pelukan sehangat sekarang. Jangankan untuk pelukan, hanya untuk saling menggenggam saja dia lupa. Ya, karena Poda terlalu lama mendiamkan Krisna hingga wanita itu tidak pernah mengingat kenangan manis lagi.
Sekilas bisikan setan kembali muncul untuk melakukan keinginan yang sedari tadi ditahan. Namun sekelebat bayangan masa lalu hadir hingga membuat Poda mampu menyadari kesalahannya.
"Tidak! Aku harus bisa menjaganya! pikir Poda.
"Sayang," bisik Poda.
"Hm," gumam Krisna.
"Aku mencintaimu," bisik Poda tepat di telinga Krisna dan menggigit kecil disana.
"Aku juga," ucap Krisna seraya membalikkan tubuhnya bermaksud membalas gigitan Poda.
Mendapati Krisna membalikkan tubuh membuat Poda sontak mengunci pergerakan wanita itu agar tidak bisa bertingkah. Yang dilakukan Krisna hanya menoleh ke samping untuk menghindari tatapan Poda. Laki-laki itu dengan pelan menggerakkan kepala Krisna agar membalas pandangannya. Krisna berada tepat dihadapannya dan perlahan Poda memajukan bibir agar tepat dibibir Krisna.
"Cup," satu kecupan mendarat dengan sempurna di bibir Poda.
Krisna memalingkan wajahnya lagi karena tahu jika saat ini wajahnya seperti kepiting rebus. Wanita itu malu akan tindakan cerobohnya meskipun dia tidak sengaja.
Poda kembali memutar wajah Krisna agar dia bisa menatap wajahnya. Adegan berulang itu terjadi dua kali hingga Krisna merasa dirinya sedang dipermainkan oleh perasaannya. Dia rindu menatap mata teduh yang selalu membuatnya tenang. Entah siapa yang memulai, kini Poda berani mendekatkan bibirnya lagi. Ingin menikmati sentuhan itu kembali karena tadi hanya sekkilas, kini Poda berniat untuk lama dan memperdalamnya. Wanita di hadapannya juga melakukan hal yang sama.
Seinchi lagi bibir keduanya bersentuhan, tapi Poda tidak sengaja jatuh membuat Krisna juga ikut terjatuh. Mereka berada di atas kasur dengan posisi Poda menindi* Krisna. Wanita itu kembali merasakan wajahnya panas.
Ingin berlari, namun seperti ingin menikmati. Ingin mengakhiri, namun seperti ini mengulangi. Dua insan dalam satu kamar itupun saling menatap. Bahkan wanita dibawah ya tidak merasakan ada beban berat menimpanya. Ditambah hujan deras yang sedang mengguyur atap membuat raganya sedikit merasakan hawa dingin.
"Sial! Selalu saja ada yang menggangguku! Pakai acara jatuh juga," batin Poda.
Bibir yang lama tidak dikecupnya itu terlihat semakin menggoda membangkitkan gairahnya di dalam sana. Setan atau suatu hal sakral bernama iman. Poda sedikit lupa akan Sang Pencipta.
Di antara seribu keinginan bejatnya hanya ada sebuah kata yang selalu meyakinkan dirinya untuk mengakhiri hubungan seperti itu. Namun diantara seribu wanita yang pernah ada hanya Krisna yang selalu membuatnya ingin lagi dan lagi.
"Aarrghhhhkk," Poda mengacak rambutnya kesal seraya bangkit menjauh dari Krisna.
"Maaf," sesal Poda kemudian laki-laki itu mengambil air putih untuk menenangkan gejolaknya.
Sepeninggal Poda, Krisna segera bangkit dan mencari air putih untuk menenangkan dirinya. Meski di tempat dan tujuan yang sama, namun suasana masih sedikit kaku. Mungkin karena pengaruh kekhilafan keduanya.
"Malam nanti kita mau kemana?," ucap Poda memecah keheningan.
"Kemana katamu? Tidakkah kau lihat diluar hujan deras sayang," ucap Krisna sedikit kesal.
"Aku tahu, maksudku kamu akan memintaku tetap disini atau menyuruhku pulang?," tanya Poda mencoba memancing Krisna siapa tahu wanita itu menginginkan Poda terus bersamanya.
"Pulang, lebih cepat lebih baik, sekarang juga boleh," ucap Krisna datar.
"Hei lihatlah aku, apa kamu tidak memikirkan caraku untuk pulang! Ini hujan deras sayang dan aku tidak membawa baju ganti ataupun jas hujan," sungut Poda dengan gaya manjanya.
"Oh maaf sayang, aku lupa," lirih Krisna seperti menyesali ucapannya.
Mata Poda terlihat berbinar mendengar ucapan Krisna. Laki-laki itu berpikir setidaknya Krisna luluh dengan ucapannya. Namun tanpa diduga, ternyata Krisna sudah menyiapkan kejutan untuk Poda. Ya, kejutan berupa ucapan yang memaksa Poda harus pulang ke kostnya.
"Benarkah?," lirih Poda dengan tatapan penuh harap.
"Iya aku lupa, maafkan aku," ucap Krisna.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, sekarang biarkan aku berbaring di atas kasur empukmu! Aku akan menikmati malam panjang ku bersamamu sayang," tukas Poda seraya berjalan mendahului Krisna dan berbaring di kasurnya.
Krisna segera mengikuti laki-laki yang telah meninggalkannya. Melihat laki-laki itu merebahkan diri, Krisna segera ikut merebahkan dirinya. Namun ketika Poda hendak menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, Krisna menahan.
"Kenapa ditahan? Aku sedikit kedinginan," ucap Poda.
"Oh baiklah, tapi aku juga kedinginan," lirih Krisna.
Poda segera memeluk wanita itu di atas ranjang. Jangankan untuk membalas pelukannya, Krisna bahkan hanya tersenyum manis menatap Poda membuat laki-laki itu mengernyitkan dahi.
"Apa dia merencanakan sesuatu?," pikir Poda.
"Sayang," bisik Krisna tepat di telinga Poda.
"Hm," gumam Poda.
"Kapan kamu pulang? Kenapa sekarang malah tidur dan akan memakai selimut?," tanya Krisna.
"Ha? Sudah ku katakan aku akan bermalam disini," jawab Poda.
"Tidak sayang, kamu hanya bisa menghabiskan malam di sini hingga pukul tujuh selebihnya bisa kamu habiskan di kamarmu sendiri," jelas Krisna.
"Hei, apa kamu tidak kasihan kepadaku? Aku tidak membawa Jan hujan dan lihatlah saat ini hujan semakin deras," ucap Poda heran dengan ucapan Krisna.
"Sayang, kenapa aku harus kasihan kepadamu? Kamu sudah terbiasa hujan-hujanan, lagipula kamu jalan kaki atau naik matic kesayanganmu tidak akan sampai lima menit," ucap Poda santai.
"Aku tidak mau! Malam ini aku tidur di kamarmu," tolak Poda.
"Aku juga tidak mau kamu menginap di sini, belum sepenuhnya semua omong kosongmu itu bisa dipercaya," ucap Krisna santai.
Wanita itu mencoba menguasai keadaan agar tidak terpancing oleh amarah Poda. Krisna sudah berpikir jika Poda pasti akan tetap pada pendiriannya. Namun disini Krisna juga mempunyai hak untuk melarang Poda karena jujur saja untuk saat ini dia belum sepenuhnya mempercayai Poda.
"Oke aku akan pulang sekarang! Ingat jangan pernah mencariku karena kamu yang menginginkan aku pergi," ancam Poda.
Krisna menghela nafasnya. Bagaimana dia bisa percaya kepada laki-laki yang sering membentaknya. Bahkan hanya sebentar bersikap manis lalu kembali ke wujud aslinya seperti malam ini.
"Iya, maafkan aku sayang, aku hanya tidak mau kita kelewat batas! Ingat kita sama-sama dewasa dan pernah melakukan semua itu, lalu dengan keadaan terpaksa kita membuat kesepakatan untuk menghentikannya! Aku belum siap jika harus menghabiskan sepanjang malam bersamamu lagi," jelas Krisna.
"Hm, maafkan aku juga," gumam Poda.
Laki-laki itu segera mengendarai matic menuju kostnya. Tidak perduli meski dia harus kehujanan karena amarahnya saat ini telah membuatnya gelap mata. Tidak butuh waktu lima menit Poda sudah tiba di gerbang depan kostnya.
Melihat ada wanita berteduh di teras depan gerbang, dengan penerangan yang minim memaksa Poda untuk menyorotkan lampu maticnya ke arah wanita itu. Sontak saja Poda melotot setelah melihat siapa yang ada di sana. Dia adalah Resta mantan selingkuhan Poda.
"Dam*! Kenapa dia kesini! Jangan bilang dia hanya ingin mengotori tanganku untuk menjama*nya!," umpat Poda.
Resta terlihat sibuk memainkan ponsel. Dia tidak peduli meski saat ini hujan dan berada di teras orang. Bahkan ketika Poda menyorotkan lampu ke arahnya, wanita itu tetap diam saja.
"Tin tin," Poda menyalakan klakson sekeras mungkin agar Resta mendengar.
Benar saja wanita itu kaget hingga ponsel yang dipegangnya jatuh. Beruntung tidak sampai ke air yang berada tak jauh dari kakinya.
Resta mendekati siapa yang telah berani mengganggu ketenangannya. Dari tatapan benci menjadi tatapan berbinar ketika sadar jika yang akan dicaci maki adalah laki-laki yang sedang ditunggunya.
"Kenapa kamu hujan-hujanan?," tanya Resta sedikit berteriak.
"Jangan banyak bicara! Apa maumu kesini malam-malam?," ketus Poda.
"Boleh aku ikut ke kamarmu sebentar? Aku tidak ingin melihatmu sakit jika kamu masih basah kuyup seperti ini," ucap Resta c*ntil.
"Hm," gumam Poda.
Wanita yang masih menjadi masa lalu Poda itu berdiri di depan gerbang membuat Poda sedikit menekankan ucapannya. Sungguh wanita yang tidak pernah mau mengalah. Hanya membuat aku menjadi darah tinggi di usia muda.
"Woey buka gerbangnya cepat!," teriak Poda.
Resta menuruti perkataan Poda. Wanita itu segera membuka gerbang. Setelah Poda masuk ke dalam, Resta berlari mengikutinya dengan melewati pinggiran bangunan agar tidak terlalu basah.
Poda masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan Resta. Bahkan laki-laki itu lupa jika tadi ada yang mencegatnya. Selesai berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya dengan handuk, Poda segera menghubungi Krisna bermaksud meminta kejelasan dari semuanya.
"Tuuuut," nada jika panggilan tersambung mulai terdengar.
"Hallo," sapa suara di seberang tak lama setelah suara panggilan tersambung tadi.
"Krisna apa maksudmu? Kenapa kamu menyuruhku pulang? Apa kamu tidak merindukanku?," tanya Poda dengan beruntun pertanyaan.
Lagi-lagi Krisna hanya menghembuskan nafas beratnya. Benar-benar sulit bicara dengan orang yang tidak pernah merasa salah.
"Hei, apa kau mendengarku?," tanya Poda.
Tepat ketika laki-laki itu mengucapkan kata terakhir, gedoran dari arah pintu terdengar. Bahkan bersama dengan teriakan seorang wanita yang mengalahkan suara hujan.
"Poda buka pintunya!," teriak Resta dari luar kamar.
Sementara di tempat lain Krisna melongo seakan tidak percaya jika dia mendengar suara wanita memanggil Poda. Wanita berteriak dan terdengar seperti marah, tentu itu simpanannya.
"Ternyata kamu masih seperti dulu," gumam Krisna dengan seringai liciknya karena merasa dipermainkan Poda.
"Oke, aku akan mengikuti bagaimana skenario yang akan kuperankan! Dan lagi, semoga ucapan jangan menyesal itu berlaku untukmu bukan untukku," ucap Krisna.
Merasa kedua telinganya seperti akan pecah, Poda segera membuka pintu kamarnya. Terlihat Resta dengan balutan dress selutut berwarna hijau muda dengan rambut ikal dan sedikit pirang yang terurai. Menambah kesan cantik natural untuknya.
"Sekalipun kamu telanjang aku tidak akan menyentuhmu! Jadi tolong jangan membuat kekacauan disini," ketus Poda.
"Apa semua karena wanita yang baru saja kau hubungi?," tanya Resta penasaran.
"Tepat," jawab Poda.
"Aargghhhh! Apa yang membuatmu menyukai wanita seperti dia? Lihatlah bahkan dia lebih buruk darimu! Dia tidak pantas untukmu sayang," ucap Resta manja seraya bergelayut manja di lengan laki-laki itu.
Dengan cepat Poda melepas tangan Resta dari bahunya. Laki-laki itu menatap Resta tajam, tapi Resta tidak perduli karena biasanya Poda akan luluh dengan segala rayuannya.
Laki-laki di hadapan Resta sangat terlihat kecewa. Dia bahkan tidak berbicara apapun. Hanya menatap Resta dengan dingin seperti enggan melelehkannya.
"Sayang," lirih Resta.
Tangan kanan wanita itu terulur menyentuh pipi laki-laki di depannya. Poda diam, dia tidak menolak juga tidak menikmati. Masih diam dengan rasa beku di hatinya.
"Cup," Resta mengecup bibir Poda sekilas.
Lalu tanpa permisi laki-laki itu mendorong Resta hingga tersungkur ke lantai. Wanita itu menitikkan air mata. Tidak percaya dengan perlakuan Poda yang diberikan. Dia memang mengerti jika laki-laki itu sebenarnya sangat dingin, namun sepanjang Resta mengenalnya dia tidak pernah mendapat perlakuan memalukan seperti ini.
"Sudah berani mengotori tanganmu untukku?," sindir Resta dengan senyum mengejeknya.
"Jangan menyentuhku! Aku sedang tidak ingin di ganggu," ketus Poda.
Laki-laki itu membanting pintu kamarnya keras. Karena malam itu penghuni kost tidak seramai biasanya, maka Poda berani sedikit berbuat kasar. Sebenarnya dia tidak akan marah jika Resta datang dengan tujuan yang jelas. Nyatanya wanita itu datang secara tidak langsung hanya meminta uang, yang, dan uang.
"Wanita sepertimu hanya butuh uang kan? Lalu kenapa kamu mencariku? Ingin menghabiskan uangku lalu pergi meninggalkanku? Dasar wanita siluman," gerutu Poda.
Hujan sudah reda ketika Poda mengintip lewat celah jendela. Laki-laki itu ingin mencari Resta dan memastikan jika dia tidak mengganggu hidupnya. Namun diurungkan ketika menyadari bisa saja wanita itu justru memfitnahnya.
"Jangan harap aku akan kembali ke pelukanmu jika hanya uang yang kau inginkan dariku," ucap Poda ketus serta penuh penekanan.
Setelah Poda mendorong Resta dengan kasar, wanita itu segera meninggalkan tempat yang membuatnya malu. Malu sekaligus bercampur amarah yang sudah di ubun-ubun. Betapa bos*hanya Resta mendatangi Poda ketika hujan lebat. Tidak mendapatkan keuntungan apapun, tapi justru mendapatkan kesialan yang tidak berujung.
"Sial! Sekali lagi kamu berani menolakmu, akan ku pastikan hidupmu hancur! Semoga kamu tidak melupakan siapa aku dan bagaimana sifat garangku muncul ketika aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan!," umpat Resta.
Wanita itu segera pulang menuju kediamannya dan bermaksud akan datang kembali jika situasi dan kondisi membaik menurutnya. Wanita keras kepala yang akan mendapatkan apapun meski dengan sebuah paksaan.