My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 79 Sendu



Jika mencintaimu adalah kesalahanku


Maka izinkan aku menua bersamamu


Agar kelak aku bisa menebus semua dosaku


Jika bersamaku saat ini bukan keinginanmu


Izinkan aku sedikit saja menikmati waktu denganmu


Karena untukku


Hanya dengan berada disampingmu dan melihat seulas senyum darimu mampu membuat hatiku sedikit lepas dari belenggu lukaku


~Krisna Yosepha~


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah kepergian Krisna, Raka lalu berdiri dan menatap para karyawan yang masih kaget dengan kelakuan Raka. Selama ini Raka terkenal sopan dan tidak pernah melakukan asusila di kantor, tapi pagi itu membuat mata siapapun yang melihat menjadi tercemar.


"Sial! Ini masih pagi woey! Kenapa aku apes banget!," gerutu Raka dalam hati.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Silahkan saja kalau kalian mau menertawakanku!," dengus Raka kesal karena melihat karyawan wanita senyum-senyum.


Mereka hanya diam tidak berani menjawab pertanyaan Raka. Di saat seperti ini amarah Raka akan menjadi-jadi. Bahkan dia bisa lebih menakutkan dari seorang monster. Semua yang ada di sana perlahan pergi karena tidak mau terkena abu hangat.


"Aaarrrgghhhh! Dasar wanita selalu saja membuatku gila! Hanya untuk medapatkanmu saja aku harus mengerahkan segala kesabaranku! Hm, sabar Raka sabar!," teriak Raka putus asa.


Hampir saja Raka menyesali keputusannya karena ingin berhenti mendekati Krisna, namun melihat bagaimana wanita itu menjaga dirinya menbuat Raka kembali menginginkan wanita itu. Seperti melihat ada bintang diantara gelapnya semesta.


Bertepatan dengan Raka menatap meja Krisna, saat itu juga ponsel yang ada di samping laptop berdering karena ada panggilan maKrisna.


ngan menampilkan nama "Poda" sebagai pemanggil. Membuat Raka mendekat dan mengamati sejenak benda pipih di depannya. Dua kali Poda melakukan panggilan masuk, namun Krisna belum juga kembali. Raka tentu saja tidak berniat untuk mengangkat. Dia tidak mungkin berhadapan dengab Krisna yang sedang tersulut emosi. Meskipun karena murni kesalahan Raka sendiri.


"Apakah Poda menyadari apa yang terjadi dengan Krisna? Ah membuatku iri saja! Tolonglah gadis kecilku, isilah kekosongan hidupku dengan sedikit perhatianmu! Tapi tentu saja kamu tidak mau! Menyebalkan!," gerutu Raka.


"Hei, apa lagi yang kamu lakukan? Ternyata selain kepo dengan apa yang aku kerjakan, kamu juga kepo tentang hidupku? Raka tolong jangan seperti ini! Dimana Raka yang dulu selalu stay cool? Tidak recehan seperti ini! Ayolah aku benci melihatmu begini!," dengus Krisna dengan menatap Raka tajam.


Sosok laki-laki tampan yang dulu tidak pernah memperlihatkan sisi lain dirinya, kini terpaksa mengumpat dalam hati. Lagi-lagi pokok permasalahannya adalah Krisna. Wanita sederhana yang telah singgah di hatinya sejak pertemuan pertama kali. Terlebih ketika melihat sifat wanita itu ceria dan renyah seperti kentang krispi. Serta senyum manis yang selalu dia perlihatkan membuat hati seorang Raka meleleh seketika.


Terus berjuang untuk mendapatkan orang yang kita sayang adalah benar, namun mengambil seseorang yang sudah berada di pelukan pasangannya adalah salah. Raka menyadari perasaannya yang salah, namun dia selalu mengelak akan hal itu. Selalu menyalahkan waktu kenapa telat mempertemukan mereka.


Tidak hanya sekali laki-laki yang biasa di sebut Raka bingung menjalani hidupnya. Di situ sisi, Krisna sosok wanita langka bahkan bisa jadi hanya ada satu wanita seperti dia di kantornya. Di sisi lain Raka seperti berambisi harus memiliki Krisna seutuhnya karena merasa wanita tulus itu tidak pantas untuk Poda.


Masih dengan memincingkan mata, Krisna melihat Raka seperti memikirkan sesuatu. Krisna tidak tahu jika sebenarnya Raka memikirkannya. Akhir-akhir ini memang Krisna lebih sering melihat Raka mellow. Jauh berbeda dari Raka yang dikenal sebelumnya.


"Nih anak bisa galau juga ternyata, kirain cuma aku aja yang suka mellow," batin Krisna.


Raka memberanikan diri memandang Krisna, tentunya dengan tatapan bersalahnya dan juga tampang sendu sebagai andalannya. Semua wanita iba ketika Raka melakukan itu. Tidak tahu bagaimana dengan Krisna.


"Kenapa melihatku seperti itu? Raka, apa kamu lupa jika harusnya kamu berada di ruangan GM? Kenapa masih disini dan mengurusi hal yang sepertinya tidak penting untukmu?," ucap Krisna mengingatkan Raka.


"Eh, aduh mamp*s! Kenapa bisa sebod*h ini sih!," gerutu Raka seraya berlalu meninggalkan Krisna dan tanpa permisi ketika melewatinya.


Krisna hanya menggelengkan kepala melihat Raka pagi itu sudah aneh. Seperti bukan Raka yang pertama kali dikenalnya. Dia memang laki-laki lembut dan penyayang, bahkan bersikap baik kepada semua orang. Tidak pernah marah, tidak pernah terlihat galau. Namun saat ini Krisna melihat Raka suka marah-marah, juga sudah dua kali memergoki Raka kepo tentang kehidupan Krisna.


"Apa yang sebebarnya direncanakan Raka? Apa mungkin sebenernya dia jahat tapi cuna aku yang nggak tahu saja? Tapi semua orang disini mengatakan jika Raka adalah laki-laki terbaik diantara semua laki-laki yang berada di kantor ini. Bagaimana jika diam-diam dia adalah seorang mafia di dunia gelap? Ah entahlah, Raka terserah kamu saja bagaimana kamu ingin tahu tentang hidupku asal tidak mengusik ketenanganku," gumam Krisna.


Melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 07.45 WIB, Krisna sudah merasa merindukan Poda. Wajar saja karena selama ini hanya Poda laki-laki pengisi hatinya, tapi Raka hadir dengan maksud yang sama. Sebagai seorang wanita cantik nan baik hati, Krisna harus hati-hati agar nanrinya Raka tidak baper kepadanya.


Mengingat sudah dua kali Raka mebyatakan cintanya, Krisna jadi berpikir apa yang membuat partner kerjanya seperti itu. Mengungkapkan perasaab seperri memesan makanan saja. Sekali diabaikan dia akan mengulangi ucapannya.


"Eh, panggilan dari Poda?," lirih Krisna ketika ponselnya berdering.


Segera mengambil lalu menjawab panggilan Poda. Laki-laki itu mengirim pesan adalah hal langka apalagi melakukan panggilan. Sedikit membuat mood Krisna membaik. Hidupnya bukan melulu tentang Raka.


"Hallo," ucap Krisna.


"Sayang, i love you," lirih Poda dari seberang.


"I love you to," balas Krisna.


Nuttt nutt.. Poda langsung mengakhiri panggilannya dan tersenyun puas. Sementara Krisna mengerutkan dahinya merasa tidak hanya Raka yang aneh, tapi Poda juga aneh.


"Sebenarnya pagi ini mereka berdua yang aneh atau aku yang sedikit gil*? Kenapa aku merasa berhadapan dengan dua laki-laki asing? Dimana mereka yang ku kenal selama ini?," guman Krisna seraya menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi untuk memastikan apakah suhu badannya panas atau tidak.


"Tidak panas, berarti aku normal! Coba nanti aku akan mengecek jidat Raka siapa tahu panas seperti air mendidih kan aku bisa bikin kopi di sana," guman Krisna dengan tawa kecil.