
Kamu bisa membohongi siapapun termasuk pasanganmu tapi kamu tidak akan bisa membohongi dirimu sendiri terlebih jika hatimu menogerti ada yang berbeda dari tingkahmu
~Krisna Yosepha~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Krisna melihat kepergian Poda denfan menggelengkan kepala. Laki-laki itu pasti melajukan maticnya dengan kecepatan penuh apalagi di saat buru&buru seperti sekarang.
"Hati-hati di jalan," gumam Krisna karena berteriak belum tentu Poda mendengar.
Krisna segera memasuki kantor, melakukan absen finger print lalu naik ke atas menuju ruangan Raka. Pasti pemilik ruangab sudah berada di sana. Mungjun seperti biasa, dia sudah membuka laptopnya.
"Tok, tok, tok," Krisna mengetuk pintu ruangan.
"Masuk," ucap Raka dari dalam.
Wanita yang sedang dirundung bahagia segera menampakkan diri. Membuka pintu lalu memperlihatkan kepala terlebih dulu, tersenyum dan sedikit cengengesan baru seluruh tubuhnya masuk ke ruangan Raka.
"Hai Raka," sapa Krisna.
"Hai juga, kamu kenapa?," tanya Raka penasaran.
"Hehehe, aku baik-baik saja," ucap Krisna.
"Hm, sepertinya baru ada sweet moment," tanya Raka selidik seraya memberi tatapan tajam.
"Matilah aku, laki-laki ini selalu tepat mengenai sasaran! Oh Raka, apa kamu tidak bisa sebentar saja berhenti menatapku seperti ini," gerutu Krisna dalam hati.
"Tidak, bahkan sweet moment hanya ada untukmu karena hanya kamulah seseorang yang selalu mengerti tentang suasana hatiku," jawab Krisna dengan kalimat andalannya.
"Oh, rupanya kamu malah berusaha menggodaku ya?," tukas Raka.
"Eh tidak, aku bahkan tidak mendekatimu kenapa bisa menggodamu?," elak Krisna.
"Baiklah, percuma saja meneruskan aksi merayu jika nantinya kamu sendiri yang akan terjerumus," batin Raka.
Laki-laki itu tidak menanggapi Krisna. Dia kembali menatap laptopnya agar terlihat sibuk. Sementara Krisna segera menuju kursinya dan duduk di sana. Mengamati Raka dari kejauhan lalu mengagumi sifatnya yang tidak pernah patah semangat.
"Dia tidak pernah putus asa, dia juga selalu menyelesaikan pekerjaannya sebelum dead line, laki-laki tampan nan mapan juga tipe pekerja keras, namun selalu kurang beruntung tentang masalah asmara, malangnna nasipmu hampir sama sepertiku kak," gumam Krisna.
"Seperti ada yang menyindirku," tukas Raka dengan wajah masih nenatap layar.
"Apa kamu merasa?," ujar Krisna bersemangat.
"Sedikit, tapi mengapa aku merasa ada yang ingin mendekatiku ya?," ucap Raka serius.
"Oh benarkan? Siapa dia?," tanya Krisna.
"Kamu sayang, ayolah tolong jangan berpura-pura! Aku tahu jika kamu sebenarnya tidak ingin jauh dariku kan? Namun di dunia ini aku tidak mau menjadi yang kedua, meskipun kamu dengannya aku akan tetap menunggumu! Ingat ya sayang, aku akan menunggumu bukan menjadi yang kedua untukmu," kata Raka dalam hati.
"Tidak, cepat katakan siapa dia! Tolong lihat aku disini Raka, jangan terus-terusan melihat laptopmu!," rengek Krisna.
"Hm sebentar lagi aku baru menyelesaikan laporanku, apa kamu sudah menyelesaikan laporanmu kemarin?," ucap Raka.
"Belum, tapi biarlah ini masih pagi dan aku masih ingin membahas tentangmu terlebih dulu baru aku akan bekerja," ujar Krisna santai.
"Astaga, dasar wanita! Kalaupun kamu tidaj mengerjakan laporanmu aku akan dengan senang hati membantumu," gumam Raka dalam hati.
"Oke aku sudah selesai, sekarang apa yang akan kamu tanyakan?," kata Raka seraya memutar tubuhnya menatap Krisna tajam.
Krisna menelan ludah, tidak tahu jika ucapannya akan dianggap serius oleh Raka. Pagi itu sudah dua kali Raka menatap Krisna tajam pertanda dua kali juga Krisna merasa dadanya berdebar.
"Hei dadaku apa kabar denganmu? Benhentilah berdebar! Memalukan saja! Ingat jika kamu tidak mempunyai perasaan apa-apa untuk Raka!," ancam Krisna dalam hati.
"Kenapa diam? Apa kebiasaanmu mengagumiku belum selesai? Ingat kamu sudah menjadi milik orang lain dan aku sebentar lagi akan pindah ke luar kota," lirih Raka.
Sebenarnya laki-laki itu mengucapkan kalimatnya dengan berat. Namun begitu lebih baik daripada Raka dan Krisna nantinya terhanyut dalam perasaan yang salah. Bukan perasaan yang salah, hanya saja waktu yang salah mempertemukan keduanya.
"Jika saja saat ini kamu masih sendiri, aku akan dengan senang hati menawarkan kosongnya hatiku untukmu! Rasa yang dari awal kumiliki hingga saat ini masih sama! Perasaan itu masih tertata rapi seiring dengan kenangan yang selalu terkenang, aku tidak tahu bagaimana rasa itu tercipta bahkan kamu sendiri tidak pernah memberikan taburan perasa! Aku juga tidak tahu dengan sengaja atau tanpa sengaja ketika bersamamu dan melihatmu tersenyum aku seperti melihat bayangan masa depanku di sana! Aku bukan bodoh, hanya saja aku terlalu munafik untuk memanfaatkan segala cara agar memilikimu selamanya," ucap Raka dalam hati.
Pernah ada secarik kata untuk seseorang yang dicinta. Pernah ada sebuah harapan untuk seseorang yang selalu menghangatkan. Andai semua berjalan dengan pelan, bisa saja waktu menemukan mereka di sebuah sudut bernama kenangan.
Sekali saja Raka merasa bertemu wanita yang tepat, saat itu juga dia merasa jika semua sudah terlambat. Raka memang tipe laki-laki yang mempertahankan sesuatu yang menurutnya benar, tapi jika harus menyakiti hanya untuk mengakhiri adalah hal yang jauh dari hidupnya.
Berkali-kali selalu tersakiti tidak membuat Raka menjadi dendam kepada wanita. Dia tidak pernah menilai wanita sama, namun dia selalu berpikir jika semua memiliki alasan masing-masing mengapa mereka melakukannya.
Semakin Raka menatap Krisna, semakin menciut nyali yang dimiliki Krisna. Wanita itu tidak menyangka jika pada akhirnya Raka sedikit menggoyahkan hatinya. Lupa akan hati yang selama ini tidak pernah tergoda sekalipun ada seribu laki-laki yang mendekatinya.
"Woeeyyy Raka, berhenti dong!!! Jangan pernah menatapku seperti itu! Hadeh, bagaimana ini? Aku tidak mau kamu bersinggah di hatiku! Ingat kamu terlalu sempurna untukku!," teriak Krisna dalam hati.
"Apa yang ingin kamu tanyakan tentang hidupku?," lirih Raka.
Sadar betul jika wanita dihadapannya sedang menutupi kegugupannya. Sebenarnya mereka merasakan hal yang sama, tapi Raka selalu mampu mebyembunyikan. Tidak seperti Krisna yang selalu bisa dibaca suara hatinya.
"Hei? Apa mendengarku?," ucap Raka lagi dengan melambaikan tangannya.
"Eh, em apa?," tukas Krisna memberanikan diri membalas tatapan Raka.
"Sial! Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak tahu jika aku menunggu lirikan mautmu?," gerutu Raka dalam hati.
"Lancang sekali berani membalas tatapanku? Apa kamu merindukanku? Atau mungkin kamu menginginkanku?," goda Raka dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ish, pergi saja jauh-jauh! Kenapa juga aku merindukan laki-laki menyebalkan sepertimu," umpat Krisna seraya memalingkan wajahnya.
Berusaha untuk tidak mendengarkan Raka dan akan fokus memulai pekerjaannya. Krisna lalu menghidupkan laptop dan meneruskan pekerjaan kemarin yang belum selesai.
"Hei angin, apakah kamu melihat jika saat ini ada wanita yang sedang menutupi perasaannya rapat-rapat?," ucap Raka dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan seolah berbicara kepada angin.