My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 91 Cayangku



Aku bertanya kepada masa dimana akan kutemukan cinta ketika waktu begitu cepat menyela


Antara aku dan dia kamu hadir menjadi orang ketiga


Namun ketika aku dan dirinya bersama kamu hadir untuk menuai luka


Aku tidak mengerti akan rasa yang setia menemani


Aku berniat menyelami untuk belajar mencintai


Ya, awalnya aku mengira aku mencintai


Namun ternyata aku membenci


Aku membencimu segenap jiwa dan ragaku


Karena kepergianmu membuat hariku menjadi sayu dan enggan untuk menyapa setiap detik nafasmu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tepat ketika Poda merebahkan diri ke kasur, rintikkan hujan mulai terdengar. Krisna segera berlari menuju tempat jemuran untuk mengambil pakaiannya. Sebenarnya wanita itu sudah melihat tanda akan turun hujan, tapi sengaja tidak mengangkat bajunya.


Niat awalnya Krisna ingin agar Poda yang mengambilnya karena disana juga ada pakaian Poda. Namun justru sekarang membuat wanita itu kelabakan. Dengan susah payah dan penuh perjuangan akhirnya setumpuk pakaian berhasil diselamatkan.


"Huft kenapa tidak membantuku? Ini juga ada milikmu! Dasar menyebalkan," gerutu Krisna.


"Aku sengaja," ucap Poda polos.


"Iihhh menyebalkan!," teriak Krisna seraya melempar setumpuk pakaian yang dibawanya tepat di atas tubuh Poda.


Sontak saja laki-laki itu mengumpat. Siapapun orangnya pasti akan geram jika diperlakukan seperti itu. Meskipun seseorang itu salah karena tidak membantu.


"Sayang, kenapa dilempar ke aku sih? Berat tau," ucap Poda pura-pura kesal.


"Harusnya tuh aku yang kesel! Udah tau berat diluar balapan sama hujan eh kamu disini sengaja tiduran," dengus Krisna.


"Maaf, tapi sekarang aku bantuin! Dimana tempat keranjang bersihnya? Oh ya sekalian dilipat aja gimana," usul Poda.


"Kamu yang lipat kan? Aku capek hm," sungut Krisna.


"Seperti apapun kamu marah, kalau disosor juga pasti diem," pikir Poda.


"Iya sayang, don't worry! Apa sih yang enggak buat kamu?," goda Poda.


"Uluh-uluh maaciw cayangku," ucap Krisna dengan gaya cadelnya serta mencubit hidung Poda karena merasa gemas.


"Akh, sakit tahu!," ucap Poda kesal.


Laki-laki itu menghempaskan setumpuk pakaian yang sudah dibawa. Sebenarnya dia bermaksud meletakkan ke keranjang bersih lalu melipatnya, tapi melihat Krisna memulai aksi jahilnya membuat laki-laki itu juga mengurungkan niatnya.


Poda segera mendekatkan diri duduk di sebelah Krisna. Mengamati bagian mana yang pantas untuk mendapatkan cubitannya. Dia sudah terbiasa melakukan cubitan di pipi, kali ini berencana untuk membalas di hidungnya.


Segera menyiapkan tangan dengan membentuk seperti capit ikan, Poda lalu duduk di pangkuan Krisna. Laki-laki itu memang tidak tahu diri sudah tahu badannya lebih besar dari Krisna, tetap saja duduk seenaknya.


"Gimana enak kan? Ih Cayangku aku jadi gemes deh lihatnya," ucap Poda manja seraya mencubit hidung Krisna.


"Sial! Hei turunlah! Kamu berat apa-apaan sih nggak tahu diri banget," umpat Krisna seraya mendorong tubuh Poda agar menjauh.


Tenaga Poda lebih besar dan laki-laki itu membalas pergerakan Krisna. Bukannya Poda menjauh, tapi justru Krisna semakin mendekat. Laki-laki itu mendorong Krisna, sontak saja wanita itu terjengkang ke belakang hanya dengan sekali hempasan.


Sementara Poda refleks jatuh mengikuti badan Krisna. Keduanya berada di posisi saling menindih. Susah payah Krisna menahan berat laki-laki tidak tahu diri. Namun laki-laki itu hanya diam saja seperti tidak ada niat untuk beranjak.


"Bangun! Kamu berat banget makan apa sih!," dengus Krisna kesal.


Wanita itu berusaha menyingkirkan badan yang menindihnya, tapu tidak berhasil. Sungguh Krisna sangat gemas melihat ekspresi Poda yang datar tanpa dosa.


"Kenapa harus pergi jika aku menikmati moment seperti ini? Hei, tidakkah kamu rindu dengan belaianku?," batin Poda.


Merasa usahanya sia-sia, akhirnya wanita itu pasrah. Bagaimanapun dia berusaha, jika laki-laki itu tidak punya niatan maka usahanya tidak akan membuahkan hasil.


"Sudah selesai meronta?," lirih Poda.


"Apes! Pergi sana dasar bisikan terkutuk!," gerutu Krisna dalam hati.


"Berat sayang, cepat bangun," ucap Krisna lemas.


"****! Kenapa jadi aku yang kejebak gini sih," batin Poda.


"Apa? Pelan sekali suaramu? Apa kamu menikmati tindih*nku?," goda Poda.


"Dasar mesum!," jerit Krisna.


Entah mendapat kekuatan darimana, wanita itu bisa menjauhkan Poda hanya dengan sekali dorongan. Padahal tadi sudah mendorong berkali-kali tidak ada hasil.


Poda terpental mengenai sudut kamar. Sontak saja laki-laki itu meringis kesakitan dengan memegang pinggangnya. Ya, baru saja ada kejadian perang dunia ketiga antara sudut kamar dengan pinggang Poda.


"Oh my God! Sakit tahu! Awas! Kamu harus merasakan pembalasan dariku!," ucap Poda datar namun penuh penekanan.


Krisna menelan salvinanya merasa seperti habis berlari di gurun pasir yang kering kerontang. Mendengar ucapan Poda seperti mendengar petir yang menggelegar bgitu memekakkan telinga.


"Boleh saja kalau bisa," ketus Krisna.


Jujur saja Krisna hanya berpura-pura berani. Bahkan dia akan pasrah jika nanti Poda akan menyalurkan keinginannya. Krisna segera berdiri menuju kasur kesayangannya dan meregangkan otot di sana.


Tidur terlentang, perut kenyang, lalu menyalakan AC dan menghidupkan TV. Seperti dunia serasa milik sendiri. Tiba-tiba Poda mendekat dan menyentuh tangan Krisna.


"Mau ngapain?," pikir Krisna.


Poda segera memijat pelan mulai dari ujung jari hingga atas siku. Hal yang tidak dibayangkan Krisna sebelumnya. Jangankan untuk membayangkan, punya keinginan seperti itu saja tidak.


Terkadang kamu perlu mengerti arti dari sebuah perhatian kecil yang terjadi karena bisa saja sesuatu itu untuk mengalihkan perhatianmu karena kesalahan yang telah berlalu. Namun tidak dipungkiri jika tidak semua manusia itu sama.


"Sayang aku tidak menyukainya," lirih Krisna.


"Ssttt," Poda menempelkan jari telunjuknya ke bibir Krisna pertanda laki-laki itu tidak mau dibantah.


"Tapi pijatan hanya membuat badanku terasa sakit," ucap Krisna.


"Aku tahu, lagian juga cuma pijitin tangan kan gratisan kalau mau pijit enak full body ya bayar neng," tukas Poda menirukan gaya ala emak-emak tukang urut.


"Sial! Udah ah pijetannya aku takut ada udang dibalik batu," gerutu Krisna.


"Tau aja deh si eneng, habis ini kan gantian," ucap Poda santai.


Krisna segera menarik tangannya agar tidak dipijat sepenuhnya. Wanita itu tidak mau balas budi karena ulah Poda.


"Enak aja aku kan nggak minta ngapain harus gantian wekk," dengus Krisna kesal seraya menjulurkan lidah.


Mendadak ide jahil muncul di benak Poda. Laki-laki itu berniat menggelitik Krisna, dia tidak mau berhenti sebelum wanita itu berjanji akan memijitnya.


"Lumayanlah bisa ngobatin nih capek haha," pikir Poda.


"Eh, sayang boleh aku minta sesuatu?," tanya Poda.


"Apa?," jawab Krisna seraya mendekat.


Poda mengisyaratkan gerakan tangan agar Krisna semakin mendekat. Wanita itu menurut saja karena tidak mengerti niat terselubung Poda. Krisna merasa sudah dekat namun Poda mengatakan kurang dekat. Akhirnya dengan terpaksa Krisna menempelkan kuping kanannya ke kuping kiri Poda.


"Kuping mau pacaran ya? Kenapa nempel-nempel?," sindir Poda.


"Apa sih tadi suruh dekat-dekat terus, sekarang udah dekat malah ngatain! Udah ah males aku mau ke kamar mandi udah nggak tahan," ketus Krisna.


Selesai dari kamar mandi Krisna bermaksud kembali ke kamar, tapi pandangannya terhenti oleh sandal laki-laki yang berada di samping kamarnya.


"Kapan datengnya? Jalan kaki? Kok nggak denger motornya," gumam Krisna.


Hati-hati dengan segala tindakanmu karena bisa jadi mulutmu harimaumu. Jangan terlalu sering mencampuri urusan orang lain karena bukti nyata jika mulut tetangga lebih pedas daripada cabai sekilo. Fakta terbukti ketika kamu dengan tanpa sadar diri mencampuri urusan orang lain sedangkan kamu sendiri belum tentu mengerti akan hidupmu tak tidak ingin tercampuri.


Lalu ingatlah jika roda kehidupan ini berputar. Tidak selamanya kamu berada di bawah, namun tidak selamanya juga kamu berada di atas. Roda berputar dan selama itu karma akan selalu ada. Dia bersandar santai dan menunggu waktu untuk menghampiri siapapun yang sudah menunggu di daftar antri.