My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 43 Pengen Tahu



Tidak ada yang lebih indah


Selain sesuatu yang kamu terima dengan pasrah


Jangan pernah mengucapkan penyesalan


Karena hidup ini butuh suatu keikhlasan


Bukan sebuah penolakan


Ingat


Tidak akan ada yang bisa merubah takdir selain Tuhan


Dan juga selain diri kamu sendiri


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Baik pak," jawab Krisna.


Pak Angga kemudian menjabat tangan Krisna. Seperti selesai melakukan interview bagi para pelamar kerja, Pak Angga mengucapkan terimakasih.


"Terima kasih dan selamat bergabung kris," tutur Pak Angga.


Beliau adalah visitor pusat yang mempunyai wewenang disini untuk mengangkat atau memberhentikan karyawan. Sekaligus mempunyai hak untuk mengusulkan perpindahan karyawan dari divisi saat ini ke divisi lain yang tentunya juga harus disetujui oleh kepala pimpinan cabang terkait.


"Berdasarkan hasil interview lisan dan tertulis, saya berniat mengusulkan kamu sebagai Mercerdhiser meskipun itu berarti kamu memulainya dari awal lagi, namun saya ingin meminta agar kamu menjadi cadangan marketing dan juga posisi administrasi, saya yakin kamu bisa bahkan saya tidak meragukan kemampuanmu, tapi semua keputusan ada di General Manager disini, saya hanya sekedar memberi usul," jelas Pak Angga.


"Baik pak, terima kasih banyak atas kesempatan yang Bapak berikan, saya akan berusaha semampu saya, semoga tidak mengecewakan Bapak," ujar Krisna seraya menjabat tangan Pak Angga sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Huuuuuuwwww, akhirnya bisa bernafas lega," Krisna melepas nafas panjang setelah keluar dari ruangan itu.


Kini dia berjalan kembali menuju ke ruangan Raka. Krisna berharap atasan mereka sudah pergi dari ruangan itu. Tidak dipungkiri, saat ini perut Krisna mendadak menjadi lapar. Setelah sebelumnya moodnya buruk membuat dia mendadak kenyang. Sekarang dia mendadak lapar karena mendengar berita baik dari visitor muda tampan nan rupawan itu.


Sebenarnya jarak antara ruangan tadi dengan ruangan Raka dekat. Namun Krisna beralibi kamar mandi terdekat rusak dan akan ke kamar mandi yang dekat kantin. Padahal Krisna hanya merasa lapar ingin mencari makan.


Sesampai di kantin, Krisna memesan jus alpukat dan roti sobek rasa coklat. Lalu berjalan menuju ruangan Raka. Saat di depan pintu, Krisna mendengarkan dengan seksama. Sepertinya ruangan sunyi. Mungkin hanya ada Raka sendiri.


Krisna menempelkan kupingnya ke pintu. Bersandar dan menajamkan pendengarannya sekali lagi. Benar-benar sunyi atau tadi hanya situasi yang sangat mencekam.


"Tap.. tap.. tap" seperti suara derap langkah yang tergesa.


Krisna segera berlari mencari tempat persembunyian. Segera masuk ke kamar mandi di sebelah ruangan Raka.


"ceklek" suara pintu terbuka. Kemudian terdengar ditutup kembali.


Krisna keluar dari persembunyiannya. Kali ini memberanikan diri mengetok pintu ruangan Raka. Semoga benar-benar hanya Raka sendiri.


"Tok.. tok.. tok" Krisna mengetok pintu pelan.


"Masuk," terdengar jawaban Raka dari dalam.


Krisna lalu masuk dan mengeluarkan roti serta jus alpukatnya.


"Raka, kamu mau ini?," ujar Krisna.


"Apa kris?," tanya Raka.


"Roti sobek rasa coklat dan jalus alpukat," jawab Krisna.


"Kenapa sama dengan yang tadi pagi aku beli," ujar Raka yang tiba-tiba mengernyitkan dahinya.


"Eh iya, aduh maaf ka! Aku lupa kamu tadi pagi udah beli," lirih Krisna dengan kedua tangan disatukan di depan dada membentuk segitiga.


"Tidak apa-apa kris," lirih Raka.


"Ka, tadi bapak tercinta ngapain kesini?," tanya Krisna. Mereka berdua sepakat memanggil atasan mereka dengan sebutan bapak tercinta.


"Dia minta kita melakukan perjalanan keluar kantor lagi, tapi kali ini tidak bisa dipastikan kita pulang jam berapa," jawab Raka.


"Kenapa begitu," lirih Krisna.


"Di daun yang ikut, mengalir lembut, terbawa sungai ke ujung mata," Krisna segera mengambil ponselnya.


"Bentar ya aku angkat dulu," pinta Krisna dengan jari telunjuknya menempel di bibir.


"Siapa?," tanya Raka.


"Poda," namun Krisna hanya menjawab dengan gerak bibir tanpa menimbulkan suara.


"Oh shit! Poda terus," umpat Raka dalam hati.


"Iya, kenapa? Tidak, boleh juga, nanti sore ya? Iya jangan lama-lama, aku tidak tahu,"


begitu Krisna berbicara dengan benda pilih itu.


Raka yang awalnya menggebu akan meneruskan pembicaraannya jadi mengurungkan niatnya.


"Apapun yang kulakukan pasti salah ketika pria itu ada," pikir Raka.


"Maaf ya ka, lanjutin donk kamu tadi bilang apa," pinta Krisna.


"Aduh apa ya kris? Aku lupa mau bicara apa," jawab Raka bohong. Sebenarnya dia hanya tidak mau melanjutkan pembicaraannya.


Hening sesaat setelah Raka bicara. Krisna sibuk dengan pikirannya sendiri, begitupun Raka. Dia juga sibuk dengan pikirannya.


"Kris?," Raka mengakhiri keheningan diantara mereka.


"Hem?," jawab Krisna.


"Kamu tadi kenapa di panggil visitor?," tanya Raka penasaran.


"Nego pindah divisi ka, awalnya aku ditanya seperti interview ulang terus berakhir bagaimana jika aku dipindah dari divisi ini," jawab Krisna santai.


"Seperti interview gimana kris?," tanya Raka serius. Dia ingin mendengarkan dengan seksama tidak mau ketinggalan hal sekecil apapun.


"Ditanya siapa namanya, tinggal dimana, pengalaman kerja apa, lulusan mana, terus disuruh praktekin pakai komputer bikin laporan lewat word, Excel, bikin powerpoint, terus praktek presentasi, pokoknya kaya interview lagi ka," Krisna menjelaskan panjang lebar apa yang tadi dilakukan.


"Serius kris? Terus kamu mau dipindah kemana?," lirih Raka.


"Aku tidak tahu katanya diusulin gantiin administrasi kalau ada yang nggak berangkat, terus ganti marketing kalau ada yang tidak berangkat, pokoknya disuruh gantiin orang-orang yang tidak berangkat, au juga tidak tahu bagaimana besok," jelas Krisna.


"Kamu ditanya divisi apa yang kamu pilih?," ucap Raka.


"Iya, aku bilang Merchendiser," jawab Krisna.


"Loh, kenapa kamu pilih turun posisi?," ucap Raka.


"Bukan begitu Raka, maksudku aku bersyukur di divisi ini, tapi sebenernya disini banyak lembur tapi gajinya tetep besar yang Merchendiser, kan disini benefit nya kecil cuma besar lemburnya aja," jelas Krisna panjang lebar dengan gaya yang seperti mengetauuicsrgalanya. Padahal sebenarnya dia tidak tahu.


"Sok tau kris, hahaha," Raka menjawab dengan tertawa.


Raka selalu tertawa ketika mendengar Krisna menjawab sesuatu dengan gaya percaya dirinya. Terlebih ketika dia menceritakan kejadian yang selalu membuatnya marah. Dia selalu bercerita dengan ekspresi yang sangat lucu bagi orang melihatnya.


"Kenapa tertawa sih ka," ujar Krisna datar.


"Biarin, kamu lucu ketima bicara seperti itu," jawab Raka acuh.


"Lucu gimana? Apanya yang lucu? Perasaan aku masih seperti ini dari dulu sampai sekarang," kini Krisna menjawab pertanyaan Raka dengan serius. Dia juga menatap Raka dengan tatapan tajam.


"Serius pengen tau?," jawab Raka yang tak kalah serius wajahnya dengan Krisna.


"Banget," ujar Krisna.


"Sini duduk di sampingku cepet, manti aku kasih tau, aku nggak mau ya ada orang lain selain kita yang nguping," pinta Raka dengan menepuk ruang kosong di sebelahnya.


"Oke ka," Krisna kemudian membawa kursinya di samping Raka.


"Kurang dekat kesini, dimana telingamu?," tanya Raka.


Krisna kemudian mendekatkan kupingnya di dekat Raka. Mendengarkan dengan sak sama apa yang Raka ucapkan.