My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 45 Di Mobil



Karena orang yang benar-benar mencintaimu akan mengikhlaskan kepada siapa kamu bersama


Percaya akan suatu kebahagiaan yang nantinya membuatmu merasa dicinta


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Terus kenapa?," ucap Krisna.


"Mampir ke Kali*rang sekalian ya," pinta Raka.


"Kenapa ke Kali*rang? Bahkan aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk pergi ke sana," batin Krisna.


"Heh, aku bahkan tidak pernah sekalipun berpikir untuk pergi ke sana," jawab Krisna bermaksud mengutarakan isi hatinya.


"Kamu tidak tahu Kaliurang tempat apa?," tanya Raka penasaran sejauh mana Krisna mengetahui tempat itu.


"Hahaha sial, aku tidak mau Raka," Krisna menjawab dengan tertawa.


"Kenapa tidak mau? Kenapa juga kamu tertawa?," ucap Raka sinis. Dia pura-pura galak.


"Katanya sih Kaliurang tempat untuk pacaran, terus kenapa kita kesana kan kita tidak pacaran," jelas Krisna datar.


"Hahaha," Raka hanya menjawab dengan tertawa.


Raka mengendarai mobilnya dengan pelan. Tidak mau menghabiskan waktu terakhirnya dengan sia-sia. Ingin menikmati detik demi detik untuk kesekian kalinya. Agar tidak ada penyesalan yang tersimpan di dalamnya.


Sementara Krisna memandang pepohonan di samping kirinya melalui kaca mobil yang ditumpangi. Melewati Jalan Ringroat Selatan, terus belok kekiri kemudian sampaikan di Jalan Ringroat Barat. Jalan yang disaar malam hari terasa sangat sepi untuk dilewati. Namun ketika siang para pengendara kendaraan roda dua maupun roda empat sering kebut-kebutan berebut siapabyang lebih dulu sampai ke tujuan.


Sesekali melirik sang pengemudi yang duduk bersandar santai sambil memegang kendali. Melirik sekali. Raka tidak menyadarinya. Melirik untuk yang kedua kalinya, Raka memergokinya. Sebenarnya tidak hanya Rakabyang memergoki Krisna meliriknya. Krisnapun juga memergoki Raka meliriknya karena mereka sama-sama melirik namun kali ini bola mereka berpapasan satu sama lain.


"Hei, kamu melirikku ya? Hahaha," ujar Raka dengan tawa ngakaknya.


"Haha, kamu juga kan?," jawab Krisna tak mau kalah.


"Biar saja, kamu yang biasanya tidak pernah melihatku tiba-tiba melirikku seperti itu kenapa aku tidak boleh melihatmu hm?," ucap Raka.


"Boleh, apa sih yang tidak untuk kamu," tanya Krisna mengeluarkan jurus andalannya.


"Krisna, ayolah kali ini aja kita keluar! Pasti setiap aku mengajakmu ada saja alasan," gerutu Raka yang pastinya ditujukan untuk Krisna.


"Kan kita sudah keluar ka, mau keluar kemana lagi?," tanya Krisna.


"Keluar di dalem kris!," batin Raka.


"Maksudku, gimana kalau hari ini kita jalan-jalan dulu sebelum pulang kantor," usul Raka.


"Mau jalan kemana?," tanya Krisna.


"Sle*an Cit* Ha**," ucap Raka.


"Aku tidak mau, tempat lain saja," tolak Krisna.


"Kenapa tidak mau?," tanya Raka.


"Hei, kamu tau aku kampungan kan? Kamu tau kalau aku tidak bisa naik eskalator," jawab Krisna dengan polosnya.


"Serius?," tanya Raka penasaran.


"Iya Raka, terus kamu mengajakku kesana untuk apa? Untuk menertawakanku?," sindir Krisna.


"Tidak kris, justru aku akan mengajarimu caranya naik," ucap Raka.


"Naik ya tinggal naik aja, kenapa diajarin," lirih Krisna.


"Tuh kamu tau, kalau naik tinggal naik, kenapa kamu tidak bisa?," tanya Raka yang semakin penasaran.


Pasalnya dia baru menemukan satu perempuan yang model seperti ini. Dengan polosnya mengakui keluguannya. Tidak malu dia sedang berhadapan sama siapa.


"Aku takut ketika naik dan turun, tapi saat di tengah-tengah pas eskalator sudah jalan aku aku tidak apa-apa," jelas Krisna.


"Kenapa begitu kri?," ucap Raka.


"Aku tidak tahu," gumam Krisna seraya menaikkan bahunya.


"Kamu belum pernah naik eskalator?," tanya Raka.


"Sudah," jawab Krisna.


"Pas di Jogja T*onik," lirih Krisna.


"Kenapa ke sana?," tanya Raka penasaran.


"Karaoke," jawab Krisna enteng. Justru itulah yang membuat Raka berani mengajak Krisna untuk karaoke.


"Sama siapa? Kamu tahu karaoke? Aku pikir kamu kampungannya gebangeten ternyata tidak terlalu kok," ucap Raka datar.


"Sial! Aku pikir dia tidak tau tempat seperti itu, ternyata dia keceplosan! Kalau begitu nanti aku akan mengajak dia ke room saja," pikir Raka.


"Sama Poda, hahaaha, segitu cupunya kah aku sampai kamu berpikir serendah itu tentangku?," sindir Krisna.


"Hahaha tidak, maksudku karaoke ada di lantai paling atas berarti kamu naik eskalator kan?," tukas Raka.


"Tidak," jawab Krisna.


"Naik lift?," tebak Raka.


"Tidak juga," ucap Krisna.


"Terus naik apa? Tidak mungkin lewat tangga darurat kan?," tebak Raka.


"Yups, all right Raka," gumam Krisna.


"Ha? Kamu serius? Tuh si Poda apa kabar kalau kamu lewat tangga darurat?," tanya Raka yang semakin penasaran dengan kepribadian Krisna yang benar-benar polos.


Lalu bagaimana mungkin jika Raka mengajaknya ke sana. Mungkinkah Raka akan mengikuti ide khonyolnya melewati tangga darurat dari lantai dasar ke lantai paling atas hanya untuk menemani Krisna. Mungkin Raka lebih memilih akan menggendong Krisna daripada mengikuti ide gilanya.


"Iya bener ka, Poda awalnya menolak, dia pilih menggendongku tapi aku tetap saja takut, apalagi jika dia menggendongku mau ditaruh mana mukaku yang malu-maluin ini? Aku cukup malu dengan berjalan lewat tangga darurat tapi aku tidak mau lebih malu lagi dengan menaiki lift digendongan Poda," jelas Krisna panjang lebar. Dia menceritakan itu semua agar Raka merasa malu mempunyai teman seperti itu.


"Poda tidak marah?," tanya Raka.


"Sebenernya marah, tapi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauanku. Lagipula saat itu dia yang mengajakku ke sana, bukan aku yang memintanya," jelas Krisna.


"Kan dia gendut?," sindir Raka.


"Iya, tapi pulang dari sana Poda tidak kurus. Malah semakin gendut karena begitu keluar dia langsung makan geprek double porsi," jawab Krisna.


Raka hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar cerita Krisna. Betapa tidak malu dia menceritakan kisah yang dia alami. Padahal tidak dipungkiri, bagi kebanyakan wanita uang dilakukan Krisna adalah hal memalukan. Tapi Krisna justru bangga dengan keluguannya.


"Aku terlalu lama memendam perasaan ini bahkan aku pernah mencoba mengucapkannya, namun Krisna menolaknya! Bukan menolak, lebih tepatnya membiarkan aku dan dia berteman saja tidak lebih, bisa jadi dia menceritakan hal memalukan itu agar aku tidak mendekatinya lagi namun itu justru membuat hati kecilku agar melindungi dia dari para pembully ketika aku mengajaknya keluar nanti membuatku semakin yakin jika aku akan sering mengajaknya jalan agar dia terbiasa," pikir Raka.


"Ka, lagunya di ganti ya","pinta Krisna.


"Ganti apa kris?," tanya Raka.


"Pengen denger lagu dari Derbi Romero," lirih Krisna.


"Judulnya apa?," ucap Raka.


"Tidak tahu, hehehe," Krisna menjawab dengan senyum manisnya dan sedikit mengekeh dengan nada rendah.


"Dasar Krisna, tidak tahu kenapa mau dengerin," kekeh Raka.


"Biarin wekkk," ucap Krisna dengan menjulurkan lidahnya.


Tangan Raka terulur mendekati kepala Krisna Kemudian Raka mengacak rambut Krisna bagian depan. Membiarkan rambut wanita di sebelahnya itu acak-acakan.


"Raka apaan sih?," ucap Krisna sambil memegang tangan Raka agar berlalu dari rambutnya.


Raka menarik tangannya dari kepala Krisna lalu menoleh ke arahnya. Kemudian dia tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Membalas apa yang dilakukan Krisna tadi.


"Wkwkwk," Raka menjulurkan lidahnya lagi.


"Ish, menyebalkan," ucap Krisna yang kali ini mencubit pinggang Raka. Krisna yakin Raka tidak akan membalasnya.


Raka lalu tertawa girang melihat Krisna yang menggerutu. Inilah hal yang selalu Raka rindukan ketika bersama Krisna. Meski di saat seperti ini Krisna selalu diam. Tapi Raka yakin, dia diam hanya untuk menutupi perasaan yang sengaja disembunyikan.


"Kris?," lirih Raka.


"Hm?," ucap Krisna.


"Kamu marah?," tanya Raka.


"Tidak," jawab Krisna.