
Canggung bukan lagi menggambarkan keadaan Terry dan Krisna. Mereka sudah terbiasa garing, lalu tiba-tiba saling menggoda dan tertawa melengking.
"Krisna, ayolah," rajuk Terry manja.
"Ish, manja," tukas Krisna.
"Bagaimana jawabanmu? Aku mencintaimu sayang," ucap Terry dengan nada memelas.
"Hadeh, aku sih b aja," gumam Krisna santai.
"Em, aku sih c aja," ucap Terry menirukan gaya Krisna.
"Iya, cocok cama cicak," tukas Krisna.
"Sial! Garing woey! Apaan sih nggak bisa ya romantisan bentar. Gue rindu belaian kali," gerutu Terry dalam hati.
Laki-laki itu memutar pandangannya ke seluruh ruangan. Mengamati setiap centi penempatan benda dalam kamar kecil tersebut.
"Kecil banget ni kamar," ucap Terry tanpa takut menyinggung perasaan Krisna sedikitpun.
"Kalau gede ya kamu, lihat nih gara-gara kamu tidur disini kasurku jadi penuh. Nggak bisa gerak kemana-mana akutu," gerutu Krisna.
"Mending kasurnya yang penuh atau perutmu yang penuh?," goda Terry.
"Eh lupa, kan udah dipenuhin sama laki-laki yang nggak punya tanggung jawab," ralat Terry.
Bola mata yang memiliki bentuk asli bulat itu semakin membulat menatap tajam ke arah Terry. Bagaimana bisa di saat seperti ini Terry seperti tidak berdosa dengan ucapannya.
"Bisa nggak kita berantemnya berhenti aja, aku capek ribut hal nggak penting terus," ucap Krisna langsung ke inti pembicaraan.
"Aku nggak ada niatan buat berantem sama kamu, kan aku cinta kamu," gurau Terry.
Meskipun bergurau, tetap saja dalam hati laki-laki itu sedang berkata jujur. Namun melihatkan kesungguhannya saat ini bukan saat yang tepat.
"Iya, aku juga cinta kamu. Cepat pergi dari sini," usir Krisna halus.
Satu alis Terry terangkat lalu kedua matanya berkedip.
"Cinta kenapa disuruh pergi?," gumam Terry.
"Sengaja biar kamu singgah di hatiku aja nggak usah singgah disini," balas Krisna cepat.
Lalu ketika kita menemukan seseorang yang kita sayang di waktu yang salah, apa yang harus dilakukan. Harus mengalah atau tetap pada pijakan hati yang tak pernah lemah.
Krisna menatap gambar dalam bingkai yang diletakkan di dekat parfum non alkohol miliknya. Mengambil frame tersebut lalu mengelusnya pelan.
"Kamu multitalent. Memberiku kehangatan, kebahagiaan sekaligus menghancurkan," gumam Krisna pelan namun terdengar seperti sindiran.
Terry tersentuh hatinya ketika mendengar ucapan Krisna dalam nada rendah. Betapa tersiksanya wanita itu hanya karena laki-laki yang tidak pernah memikirkannya. Jangankan meluangkan waktu untuk berpikir, sejenak membiarkan bayangnya hadir dalam benak saja dia tidak rela.
Jika bersama semenyakitkan ini, aku lebih memilih hidup seorang diri. Tanpa secarik irama bersamamu kurasa lebih membuat lukaku berlalu.
"Hidup adalah pilihan dan ini sudah menjadi keputusanmu. Jangan pernah menyesal karena penyesalan tidak akan membuat harimu lebih nyaman," ucap Terry.
"Lalu apa yang membuat hidupku akan nyaman?," tanya Krisna seraya membalikkan kepalanya untuk menatap Terry.
"Lupakan masalalu, biarkan aku mengisi harimu hingga ujung usiamu," bisik Terry.
"Itu bukan solusi, terkesan seperti paksaan," desis Krisna.
"Tepat! Ternyata otakmu cerdas juga," puji Terry.
Tempat peraduan antara senja dan malam adalah ujung penantian. Keduanya silih berganti dengan carok jingga sebagai saksinya.
Godaan Terry berhenti ketika menyadari jika harapan untuknya sudah penuh dengan sebuah kenyataan. Pahit kala mengingat Krisna lebih memilih Poda daripada memikirkan perasaannya.
"Kris, maaf. Aku tidak bermaksud memaksamu. Hanya saja aku ingin selalu di sampingmu jika itu boleh," ucap Terry jujur.
"Kamu boleh selalu di sampingku asalkan tidak lupa jika aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untukmu," ucap Krisna lirih.
Wanita itu menyesal kenapa baru sekarang menyadari adanya Terry di sampingnya. Selama ini hatinya tertutup untuk sebuah perhatian. Hanya Poda dan selalu nama itu yang mengganjal di benaknya.
Tidak ada yang baik selain dirinya. Laki-laki yang telah membuatnya hamil namun entah kemana pergi begitu saja.
"Ter, Poda kemana? Kok nggak ada kabar sih," tanya Krisna kepada Terry.
Dengan bodohnya wanita itu justru menanyakan keadaan laki-laki lain. Bukan bagaimana keadaan dirinya saat ini.
Sebelum menjawab pertanyaan yang terlontar, Terry terlebih dulu menghirup udara dan menghembuskan secara berat.
"Aku tidak tahu dimana dia berada, tapi alangkah baiknya jika kamu menyelidi keberadaannya. Mungkin dengan sebuah GPS yang terdapat di ponselnya," jelas Terry.
"Lupakan. Aku tidak mau hariku semakin buruk," tukas Krisna seraya mengacak rambutnya kesal.
"Bodoh! Kenapa harus laki-laki brengsek yang kamu pertahankan hm?," rutuk Terry setengah kesal.
"Lebih bodoh lagi jika aku mempertahankanmu! Mana ada laki-laki baik rela menjadi yang kedua," sungut Krisna.
"Bruk" Terry mendorong tubuh Krisna hingga terlentang di kasur. Bukan rasa takut yang ada di benak Krisna. Wanita itu sudah pernah melakukannya, tapi tidak untuk bersama orang lain.
"Cup" kecupan hangat mendarat di leher Krisna.
"Hentikan, please," lirih Krisna dengan suara parau.
"Aku wanita normal yang bisa saja tergoda dengan aksimu, tapi tolong aku tidak ingin melakukan ini denganmu," imbuhnya.
"Eh, em maaf," sesal Terry seraya bangun dari posisinya.
Berdua membuat jiwa Terry bergejolak. Oleh karena itu dia memutuskan memilih pulang.
"Disini hanya akan menyiksaku," gerutu Terry.
"Tidak denganku karena aku tidak memulainya," kekeh Krisna.
"Yes, it's my mistake," ucap Terry.
Terry berjalan keluar dari kamar Krisna. Mulai saat ini dia harus bisa menjaga dirinya agar tidak memaksa Krisna. Jika nanti cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, mungkin akan dengan mudah laki-laki itu melakukan apa yang menjadi keinginannya.
"Cup" bibir Krisna terasa hangat saat ada bibir yang menciumnya.
"Maafkan aku jika menunjukkan kebodohanku di depanmu, aku mencintaimu," bisik Terry.
"Tidak papa, kita sama-sama dewasa," tukas Krisna.
Deru motor menandai kepulangan Terry meninggalkan kost Krisna. Menyisahkan lambaian tangan wanita yang sedang memendam luka. Senyum dipaksakan, sorot mata penuh kepiluan, serta tubuh yang terlihat sedikit kurus.
Semua cukup menjadi saksi atas nestapanya jalan yang ditapaki. Waktu tidak bisa kembali karena dia harus rela berjuang sendiri. Terus berputar dan berjalan tanpa henti.
"Kenapa kamu harus ada di saat aku terluka? Lalu kepada siapa harus ku adukan sebuah lara? Terry, aku tidak mencintaimu, tapi rasa kehilanganmu tidak mungkin singgah di benakku. Aku tidak mencintaimu, tapi aku menginginkan kehadiranmu," gumam Krisna dengan mata yang sedikit mengembun.
"Semua tidak berat, hanya saja aku ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang tak mungkin sesat. Meski sulit, aku tidak yakin dengan angan yang melesat," imbuhnya.