
Ku tepis bayangmu kala hadir dalam mimpiku
Namun tak mampu membuatku melupakanmu
Seribu kata yang pernah terucap
Membuatku semakin yakin akan rasa yang telah kukecap
Aku terlanjur mencinta
Meski berselimut luka
Aku terlanjur percaya
Meski berlingkup dusta
Kepergianmu membuatku sadar
Akan rasa yang harusnya pudar,
Namun hadirmu kembali
Membuatku meyakini
Jika kekosongan hati telah terisi
Denting waktu yang berlalu
Dan jarak yang menggebu
Membuatku tahu
Arti sebuah rindu
Memberi makna
Akan sebuah nada
Jika cinta
Untuk saat ini masih ada
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Raka melajukan mobilnya kembali. Menembus derasnya hujan yang membasahi bumi. Dia datang tidak sendiri. Namun selalu bersama-sama untuk membasahi bumi. Andai hujan tidak seperti ini, mungkin aku akan melawannya seorang diri. Tapi apalah daya, hujan tidak pernah datang sendiri.
Pelan sekali Raka mengendarai mobil kantor itu. Sengaja karena dia tahu Krisna suka hujan. Membiarkan dia menikmatinya. Meski sebenarnya jiwa Raka berontak. Ingin sekali dia membawa Krisna ke sebuah penginapan yang ada sepanjang jalan Kaliurang ini. Tapi tidak untuk saat ini. Dia tidak mau menikmati sesuatu dalam sebuah paksaan. Lebih indah jika saling menikmati. Terlebih menikmati milik orang lain itu lebih indah. Benar kata pepatah, jika rumput tetangga memang lebih hijau.
Tidak pernah tau bagaimana takdir membawa dirinya ke dalam balutan cinta. Berselimut dusta dan berlingkup nestapa. Tidak peduli jika harus menjadi yang kedua. Karena saat ini Raka benar-benar menginginkannya.
"Brug" suara ponsel yang terjatuh.
Mengamati dasboard di depannya. Ponsel Raka masih ada disana. Lalu ponsel siapa yang jatuh. Raka menengok melihat wanita di sebelahnya.
"Astaga, Krisna tidur, secepat itukah dia tidur? atau pura-pura tidur?," batin Raka.
Bagaimana Raka bisa mengambilnya. Sementara dia sedang di posisi mengemudi. Terlalu beresiko mengambil barang jatuh di kolong bawah kemudinya. Jalan teramat padat. Hujan lebat. Tidak ada ruang untuk menepi karena memang jalan ini dipenuhi dengan bangunan.
Membangunkan Krisna bukan saat yang tepat. Dia terlihat sangat lelah. Akhirnya dia membiarkan Krisna tetap terlelap. Menunggu dia membuka mata akan lebih baik daripada menganggu tidurnya.
"Mungkin saja dia sedang bermimpi bercinta denganku, pulas sekali tidurnya, seperti sangat menikmati alam mimpinya," ucap Raka lirih.
Raka terlalu membanggakan dirinya. Jangankan untuk menembus mimpi Krisna, bahkan dihadapannya pun kehadirannya hanya dianggap biasa. Bagaimana mungkin dirinya masuk ke dalam mimpinya. Teramat sulit dan itu mustahil.
Lima belas menit kemudian, Raka mulai memasuki kilo meter atas. Meski belum mencapai puncak, tapi rimbunan pohon di sekelilingnya mulai terlihat.
"Akhirnya sebentar lagi nyampe, aku akan melakukannya sendiri, biarkan Krisna tetap menikmati tidur indahnya! Aku akan membangunkannya jika semua sudah selesai," pikir Raka.
"Mas, mbak yang di dalem nggak diajak?," tanya petugas parkir yang melihat Krisna masih terlelap.
"Enggak pak kasihan dia masih tidur," jawab Raka santai.
"Oke mas," ucap penjaga parkir.
Raka segera menyusuri area pasar itu. Melakukan repeat, take order dan inkaso. Sebenarnya harus menunggu lama namun dia beralibi sudah ditunggu di kantor ada kunjungan pusat. Bodohnya, pihak outlet percaya begitu saja. Itu membuat Raka dengan mudah segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum Krisna terbangun.
Tidak butuh waktu satu jam, Rakapun setelah melakukan semuanya. Dia segera bergegas kembali ke mobil. Melihat Krisna yang masih tidur lelap. Sebenarnya dia ingin segera menuju puncak tanpa memberi tahu Krisna sebelumnya. Akan membiarkan Krisna terbangun ketika sudah tiba disana. Namun Raka mengurungkan niatnya.
Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Raka mendekatkan wajahnya. Mengamati dengan jelas wanita di depannya. Tidak terlalu cantik. Tapi Raka sangat mengaguminya. Mengagumi kecerdasan dan sifat keras kepala menjadikan Krisna terlihat sangat menghargai komitmennya.
"Dasar laki-laki bodoh! Membiarkan seseorang yang berkomitmen tinggi hanya untuk menduakannya," ujar Raka yang pastinya ditujukan untuk seseorang yang tidak ada di sana.
Raka mendekatkan wajahnya ke kening Krisna. Dia ingin sekali mencium kening itu. Namun tiba-tiba Krisna menjambak rambut Raka.
"Shit! Krisna bangun," umpat Raka tanpa melihat Krisna.
Namun Krisna melepaskan rambut Raka. Membuat Raka bernafas lega. Untung Krisna tidak marah. Coba kalau dia menarik rambutnya lagi. Bisa-bisa Raka kelewat batas normal. Mendongak ke bawah, memastikan mata itu masih terpejam atau tidak.
"Ffyuhhhh," Raka menarik nafas lega. Ternyata Krisna cuma mengigau.
"Muaaach," kecupan itu akhirnya mendarat di kening Krisna.
Setelah melakukan aksinya, Raka segera membangunkan Krisna. Sebenarnya dia sedikit iri karena Krisna bisa menikmati tidur nyenyak ya ditengah derasnya hujan seperti ini. Tapi bukankah seorang pria ditakdirkan untuk selalu mengalah?. Hanya pria jadi-jadian yang tidak pernah melakukan wanita dengan sepantasnya.
"Kris, bangun kita udah sampai," ucap Raka pelan.
Krisna menggeliat pelan. Entah kenapa kali ini dia langsung bangun. Padahal biasanya dia sulit bangun apalagi disaat hujan deras seperti ini. Matanya seperti enggan untuk terbuka.
"Eh, udah sampai ka? Maaf aku ketiduran," ujar Krisna.
"Udah dari tadi kris," jawab Raka.
"Masih hujan ya?," Krisna bertanya dengan bodohnya. Padahal sudah jelas saat ini dia melihat hujan didepannya yang masih deras. Bahkan saat ini lebih deras daripada tadi sebelum dia ketiduran.
"Iya kris, apa kamu mau hujan-hujanan?," tanya Raka.
"Enggak ah dingin tau," ucap Krisna.
"Kirain mau, kamu biasanya suka aneh kok," kata Raka.
"Em, mungkin kalau saat ini aku dirumah aku udah hujan-hujanan, tapi sekarang kan masih kerja mana mungkin aku ngelakuin itu," jawab Krisna.
"Nggak papa kris, nanti aku temenin kamu hujan-hujanan deh," goda Raka.
"Nggak mau ka, emang aku gila hujan-hujanan di negeri orang? Aku sadar dirilah," Krisna menolak tawaran Raka dengan pelan.
"Yaudah, kamu maunya apa sekarang," tanya Raka.
"Kerja, mau apa lagi?," jawab Krisna.
"Aku udah selesai kris, kamu mau kerja apa? Kerja sampingan?," tanya Raka.
"Serius Raka," Krisna mulai merajuk.
"Beneran kita sudah selesai, tadi pas kamu tidur aku yang selesaiin semua," jelas Raka.
"Oh, maaf", kawab Krisna dengan lesu. Dia pura-pura kecewa padahal sebenarnya bahagia.
Saat itu, jam diatas dasboard menunjukan pukul 12.15 WIB. Itu artinya mereka sudah memasuki waktu makan siang. Raka menimbang sebentar, makan siang atau melanjutkan misinya.
"Kita ke Kaliurang sekalian ya," pinta Raka. Akhirnya dia mengesampingkan makan siangnya.