My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 121 Pernikahan Paksa



"Ingat! Jangan membuatku malu lagi," teriak Yatma yang menyadari Krisna sedang melamun.


"Ya," ucap Krisna lesu.


Acara berjalan lancar bagi semua yang ada disana kecuali Krisna. Wanita itu terus memikirkan Terry. Ingin sekali berlari dan menangis di pelukannya, tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima semuanya.


"Sekarang hari Rabu, pernikahan harus dilakukan hari Minggu," tukas Yatma tegas.


"Akan saya usahakan," jawab Sumit selaku wali dari Feri Poda Mardana.


"Ya Tuhan, bukankah menikah harus mendaftar jauh hari? Kenapa sekarang tidak ada satu Minggu? Apa ini mimpi?," batin Krisna.


Setelah mencapai kesepakatan, keluarga Poda pamit undur diri. Berharap semoga acara pernikahan akan lancar tanpa halangan apapun.


Setelah tamu pergi, Krisna masuk ke kamar tanpa memperdulikan ayah dan ibu yang sedari tadi menatapnya tajam.


"Kenapa semua harus memaksaku? Mereka tidak bertanya bagaimana pendapatku? Tidak berpikir aku menginginkan tanggal berapa dan mas kawin apa! Dunia begitu kejam! Aku tidak pernah meminta ini semua!," ucap Krisna disela isaknya.


"Dua puluh satu tahun aku hidup di sisi ketidakadilan. Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Keluarga ini selalu menyalahkan ku atas semuanya. Dan sekarang mereka memaksaku menikah di hari pilihan mereka. Bahkan dengan mas kawin yang sangat berat menurutku," jerit Krisna.


Kembali teringat masa kecil yang seharusnya penuh kenangan, tapi hanya berisi tangisan. Krisna tidak pernah merasakan masa golden age karena pertengkaran orangtuanya. Dia selalu menjadi sasaran ayah atau ibunya dalam melampiaskan kekesalannya.


Sad age adalah kata yang tepat untuk masa dibawah sepuluh tahunnya. Wanita itu mengingat dengan pasti usia sekitar tiga tahun sampai saat ini. Tidak ada sedikitpun kasih sayang yang diberikan orang tuanya.


Krisna hendak mencari ponsel untuk menghubungi Terry, tapi teriakan dari luar menggagalkan rencananya.


"Keluar sekarang dan bicarakan pernikahanmu!," teriak Yatma.


Dengan lesu Krisna berjalan menuju ruang keluarga. Disana ada Yatma dan sang mama Tumi sudah menunggu dengan wajah keras.


"Berapa teman yang ingin kamu undang kesini?," tanya Yatma.


"Tidak ada," jawab Krisna cepat.


"Aku tidak akan meminta sepeserpun uang yang diberikan, aku juga tidak akan meminta hal berlebihan. Aku hanya akan mengenakan kebaya yang kupunya dan make up seadanya yang kubisa. Aku tidak ingin ada hal mewah apapun terjadi disini," imbuh Krisna dengan wajah merah menahan emosi.


"Anak durhaka!," teriak Yatma.


"Aku tau, oleh karena itu aku tidak ingin pernikahanku hanya menghamburkan uang. Dan lagi aku hanya ingin menikah di KUA. Tidak akan membolos kerja hanya untuk mengikuti permainan yang kalian rencakanan. Aku lelah dengan semua yang kalian paksakan. Maaf jika saya lancang, tapi ini semua karena buih dari kekecewaan yang selalu kupendam. Aku bersyukur tidak menjadi gila dan berkeliaran diluar sana," ucap Krisna dengan nada bergetar.


Sadar jika kini ucapannya telah melukai hati orang tuanya, tapi dia juga tidak bisa harus berdiam dengan luka-lukanya. Terlalu banyak kenangan pahit yang tak ingin diungkit. Dia terlahir seperti anak yang tidak diharapkan.


Sekarang adalah puncak dimana masa kecil dan remajanya tersiksa. Kecewa atas keluarganya yang hanya menggunakan dia sebagai alat pemenuh kebutuhan juga kecewa atas perlakuan Poda yang hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsu belaka.


"Pernikahan akan dilakukan disini dan akan kurayakan dengan semestinya," tukas Yatma.


"Terserah, jika kalian punya rencana untuk apa harus bertanya? Bukankah semua pendapatku tidak akan pernah terlaksana?," ucap Krisna bersama air mata yang mulai membasahi pipinya.


Takut emosinya akan lebih meluap, Krisna memilih kembali ke kamar. Setidaknya dia harus bisa menenangkan diri. Besok pagi dia harus bekerja. Tanpa sadar wanita itu terlelap karena lelah memikirkan hidupnya yang gelap.


"Klek" tiba-tiba pintu terbuka menunjukkan sosok ayah yang sangat di bencinya.


Yatma datang membawa selembar kertas dengan penuh coretan.


"Ini adalah syarat pernikahanmu. Aku sudah mengurus semuanya. Sekarang hanya kurang foto KTPmu, foto Akta Kelahiranmu, juga pas fotomu dengan background merah," ucap Yatma seraya menunjukkan kertas yang dibawanya.


Setelah Krisna menerima kertas itu, Yatma keluar dengan membanting pintu.


"Aaarrgghhkkk! Apa pantas sosok seperti itu disebut ayah?," teriak Krisna seraya mengacak rambutnya kasar.


Lima menit kemudian terdengar suara matic memasuki halaman rumahnya.


"Seperti matic milik Poda," gumam Krisna.


Sementara di luar sana, sang empu turun dari maticnya dan langsung menemui Yatma. Keduanya berbincang membicarakan hal serius. Sesekali Poda mengangguk dan Yatma tersenyum puas.


Poda masuk ke kamar Krisna dan mengajak wanita itu agar segera mengurus pernikahan mereka. Mandi singkat dan tanpa make up dilakukan Krisna sebagai bentuk kecewanya. Tanpa make up pun dia terlihat cantik, apalagi memakai make up.


Tahap pertama di tempatnya tinggal, lalu ke unit kesehatan untuk suntik ** dan berakhir di kantor KUA.


Yatma berada disana sedang berbincang dengan seseorang. Dilihat dari pakaiannya seperti pegawai KUA. Setelah selesai bicara, Yatma menghampiri Poda dan Krisna yang berada tak jauh dari tempatnya.


"Ini Surat Dispensasi kalian. Seharusnya kalian melakukan sidang memakan waktu yang lama karena kamu hamil enam bulan, tapi beruntung pihak terkait mau menandatangani tanpa kehadiranmu," ucap Yatma seraya memberikan map berisi Surat Dispensasi.


"Oh ya, apa unit kesehatan tahu jika kamu hamil?," tanya Yatma.


"Ya," jawab Krisna.


"Lalu? Ceritakan semuanya," perintah Yatma.


"Dia menanyakan berapa usia kehamilanku, aku menjawab sekitar tiga bulan. Mereka tidak percaya lalu memeriksa semua kesehatanku hingga cek Hb dan cek urin. Tak lupa mereka melakukan USG dan mendeteksi detak jantungnya," jelas Krisna malas.


"Mereka tetap memberimu surat kan?," tukas Yatma.


"Ya, semua proses pengurusan sudah selesai," jawab Krisna.


"Bagus," puji Yatma.


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Hari ini adalah hari pernikahan Poda dan Krisna. Minggu, 2 September 2018 pukul 10.00 WIB pernikahan yang sama sekali tidak diharapkan oleh Krisna.


Wanita itu sengaja bangun siang agar tidak mendengar ocehan dari siapapun. Dia akan berusaha tuli jika ada yang menanyakan seputar kehamilan dan pernikahan.


Untuk pertama kalinya, wanita itu melakukan fardhunya. Tidak tahu apa tujuannya, tapi dia melakukan sholat Dhuha sebelum akad dilakukan. Lalu memoles wajahnya dengan sungguh-sungguh meski terlihat seperti ondel-ondel.


"MUA sudah datang, persiapkan dirimu," ucap Tumi.


Mama membuka pintu kamar dan mengucapkan kata itu. Memang benar diluar sudah ada MUA, tapi tidak datang untuk memoleskan make up di wajah Krisna melainkan mendapat undangan dan bersedia merias Krisna jika wanita itu berubah pikiran.