My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 98 Jin Penunggu



Jika aku tidak bisa melupakanmu, setidaknya aku harus menyimpan kenangan tentangmu.


Agar kelak ketika nanti aku merindukanmu, aku tidak perlu lagi bertemu dengan masa lalu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Krisna tidak memikirkan ucapan Raka. Wanita itu sudah terbiasa mendengar ocehan Raka yang menurutnya tidak penting. Setengah jam Raka melajukan mobil, kini sampailah di depan pintu masuk Kaliurang.


"Jangan bilang putar balik lagi," batin Krisna.


Raka melihat spion untuk mengamati keadaan belakang. Krisna juga ikut menolehkan kepalanya melihat ke belakang.


"Sepi, lalu?," batin Krisn.


Perlahan Raka memutar mobil, dan kini mobil itu berbalik arah.


"Kamu gila," desis Krisna.


"Apa maksudmu?," tanya Raka.


Laki-laki itu memutar bola matanya. Pikirannya sedang kacau dan sekarang Krisna membuatnya semakin bingung.


"Udah sampai sini, terus pulang. Dulu kamu juga gitu, niat habisin bensin banget ya?," sindir Krisna.


Wanita itu lama-lama kesal kepada Raka karena sekarang Raka menjadi menyebalkan. Laki-lami yang biasanya cepat tanggap dalam hal apapun, kini mendadak menjadi kacau. Krisna harus menjelaskan berkali-kali untuk mendapatkan jawaban dari ucapannya.


"Ah tidak," jawab Raka.


"Sekarang pulang, anterin aku ke kost dan kamu pulang saja ke kantor! Aku bosan melihatmu seperti ini," ucap Krisna kesal.


Bahkan wanita itu juga tidak mengerti kenapa sekarang menjadi galak. Mungkin benar karena Raka menyebalkan hingga membuat moodnya rusak.


"Ya," lirih Raka.


"Oke dengan senang hati," ketus Krisna.


"Dasar gila!," gerutu Krisna dalam hati.


Sadar akan ponsel yang hanya di buka ketika bertemu Terry tadi, Krisna penasaran kenapa Poda tidak menghubunginya.


"Apa dia sibuk? Apa dia bersama wanita lain lagi?," gumam Krisna.


Sepanjang perjalanan Krisna dan Raka tidak saling sapa. Keduanya lebih memilih diam dengan pikirannya masing-masing. Raka memikirkan apa yang pernah diucapkan kakeknya. Sedangkan Krisna memikirkan Poda pacar yang selama ini menemani hidupnya.


"Bagai hilang di telan bumi, jangan-jangan sekarat? Ah bodo amat," batin Krisna.


Perjalanan yang terasa lama untuk Krisna. Dia bosan melihat pemandangan yang sering dilihatnya hingga akhirnya dia tertidur. Raka melirik sekilas wanita di sebelahnya. Laki-laki itu tidak berniat mengganggunya.


Tiba di persimpangan yang hampir sampai kantor, Raka bingung dimana letak kost Krisna. Dia belum pernah sekalipun kesana. Raka mengingat ucapan Krisna yang mengatakan berada di area perumahan.


Perlahan menepikan mobil dan mencari di google maps. Menulis kata kunci "perumahan" lalu menekan kolom cari. Di sana muncul beberapa perumahan yang membuat Raka bingung.


"Bodo*! Kenapa juga nyari perumahan, ya jelas muncul banyak! Yaudah terpaksa bangunin nih cewek menyebalkan," gerutu Raka.


"Hei, maaf ya wanita bawelku tapi aku harus membangunkanmu! Aku tidak tahu dimana letak rumah keduamu," lirih Raka sebelum membangunkan Krisna.


Dia berniat meminta izin kepada jin penunggu tubuh Krisna, takut jika penunggunya menampakkan diri.


"Kris, bangun kita udah sampai," ucap Raka seraya menggoyangkan tubuh Krisna.


Sekali sentuh, Krisna tidak menunjukkan perubahan. Tentu saja Raka dengan lembut membangunkannya lagi.


"Kris, bangun," ucap Raka.


"Sial! Kebo banget sih kalau tidur! Apa perlu aku suram pake air?," umpat Raka kesal.


Sebersit kejahilan muncul di benar Raka, tapi laki-laki itu masih menahan godaannya.


"Aku tidak mungkin menodaimu lalu meninggalkanmu," batin Raka.


Akhirnya Raka memutuskan membawa Krisna kembali ke kantor. Tidak peduli jika akhirnya wanita itu akan marah karena Raka tidak ada pilihan lain.


Tiba di kantor, Raka segera membangunkan Krisna dan keduanya menuju ke ruangan Raka untuk berkemas. Sebelum pulang, Raka ingin berbicara empat mata dengan Krisna.


"Sebelum pulang aku ingin berbicara kepadamu hanya empat mata, apa kamu punya waktu?," tanya Raka.


"Baiklah," jawab Krisna.


"Poda tidak juga menghubungiku, apa dia kembali mengkhianatiku? Hei, kamu pikir aku tidak punya hati? Dasar laki-laki breng***!," batin Krisna.


Setelah semua karyawan pulang dan lantai atas sudah sepi, Raka segera menghampiri Krisna. Laki-laki itu duduk di meja Krisna sementara wanita dihadapannya duduk di kursi bawahnya.


Raka menatap Krisna tajam, sementara wanita yang ditatapnya bergidik ngeri. Dia merasakan hawa dingin menyelimuti ruangan Raka.


"Aku akan pergi, hari ini terakhir disini," ucap Raka.


"Bukankah kemarin kamu sudah bicara begitu lalu esoknya kamu masih disini?," tanya Krisna bingung.


"Sungguh, saat ini aku tidak membohongimu," lirih Raka dengan suara serak.


"Aku tidak masalah jika itu yang terbaik untukmu Raka," ucap Krisna santai.


"Apa kamu tidak merasakan kepergianku? Aku tidak mempermasalahkan jika kamu tidak mencintaiku, hanya saja aku merasa bebanmu terlalu berat ketika tidak ada tempat untukmu berbagi," jelas Raka seraya memegang kedua pundak Krisna.


"Setidaknya aku kehilangan seseorang yang selalu mendengarkan suara hatiku," ucap Krisna parau.


"Aku berjanji, kapanpun kamu membutuhkan bantuan ku, aku akan selalu ada untukmu! Aku bersedia terus mendengarkan alur hidupmu hingga kamu lelah dan meminta aku untuk berhenti mendengarmu," tukas Raka.


"Raka, kamu baru mengerti tentang sedikit ceritaku tidak semua tentang hidupku," ucap Krisna.


"Aku tahu, setidaknya kamu bisa berbagi denganku, apapun itu! Aku mau kris," ucap Raka.


"Baiklah," ucap Krisna.


"Bolehkah aku mengucapkan sekali lagi perihal perasaanku?," tanya Raka.


"Boleh asalkan membuatmu bahagia," jawab Krisna.


"Haha, tentu saja aku bahagia," tawa Raka.


"Bagaimana mungkin aku bahagia jika kamu tidak bisa menerimaku?," batin Raka.


"Aku masih mencintaimu, dan mungkin cinta ini akan abadi untukmu. Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintaimu, aku juga tidak tahu bagaimana rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Yang kutahu saat ini, rasa itu semakin tumbuh dan berkembang meski teruntuk orang yang salah," ucap Raka.


"Sial! Hei, jangan teruskan gombalanmu! Aku sudah bosan mendengarnya," dengus Krisna kesal.


"Apa maksudmu?," tukas Raka.


"Jujur saja, semenjak aku menjalin hubungan dengan Poda aku selalu dikelilingi laki-laki yang baik sepertimu. Bahkan aku masih mengingat dengan jelas ketika sekolah ada teman laki-lakiku yang memintaku menjadi pacarnya di tempat umum, tapi aku menolaknya. Bukan tanpa sengaja aku mematahkan harapan mereka, tapi aku hanya tidak mau mengkhianati komitmentku selama ini. Meskipun aku selalu tersakiti, namun aku tetap akan mencoba hingga nantinya aku sendiri yang lelah dan memutuskan untuk menyerah," jelas Krisna.


"Kamu boleh meluapkan semuanya, asal jangan meneteskan bulir beningmu hanya karena laki-laki sepertinya," pinta Raka.


Krisna mengangguk, wanita itu benci setiap kali ada seseorang yang mengingatkan tentang luka yang dirasa. Poda, laki-laki yang dicintai namun selalu menyakiti.


"Jika benar seseorang yang menyakiti adalah orang yang disayangi, maka aku tidak berjanji untuk selalu menyayangi," batin Krisna.