My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 73 Aneh



Aku mencintai angin dasar aku mencintaimu


Karena itu aku kembali menyukai alam


Aku mencintai indahnya awan yang terbentang di atas sana


Karena awan mengingatkanku tentang kenangan jika kita pernah bersama


Dan lagi,


Aku mencintai pantai yang terbentang luas membentuk garis biru


Karena dia mengingatkanku akan sosokmu dengan perangai selembut kecupanmu sertas pelukan sehangat dekapanmu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selesai makan Raka dan Krisna segera kembali ke kantor. Sore itu mereka tiba bersama dengan karyawan lainnya karena biasanya keduanya akan tiba di kantor lebih sore. Seperti biasa, setelah memasuki ruangan Raka, Raka dan Krisna segera meneliti laporan keuangan masing-masing.


Sebelum akhirnya mengecek kembali repeat order yang tadi dilakukan. Setelah semuanya selesai baru mereka akan pulang. Menyelesaikan pekerjaan lalu pulang lebih menguntungkan keduanya daripada harus menunda pekerjaan dibawa pulang.


Raka membuka benda pilih miliknya bermaksud memutar lagu untuk mengurangi keheningan yang tercipta. Karena keduanya larut dalam pekerjaan masing-masing, Raka menjadi tidak berniat mengganggu Krisna. Wanita itu adalah wanita pelupa dan Raka tidak mau dirinya mengacaukan semua yang sudah disusun Krisna dalam benaknya.


Sementara Krisna mengambil ponselnya, membuka aplikasi Youtub* dan menuliskan kata "Starbuck" disana. Kemudian mengklik tombol cari. Biasanya suasana tidak sehening sekarang, makanya Krisna mencari kesibukan lain. Meski sebenarnya dia harus meneliti laporannya, namun yang mengganjal di benaknya tidak bisa diabaikan.


Setelah aplikasi itu menampilkan apa yang dicari, tiba-tiba saja Krisna terpikir untuk mencari pekerjaan part time. Dia selalu pulang jam 15.00 WIB, hanya sesekali saja pulang terlambat. Itupun karena dia merasa sendiri di kost-nya.


Sedangkan Poda, laki-laki itu selalu pulang larut. Pukul 18.30 WIB adalah waktu yang menurutnya paling sore. Bagaimana mungkin Krisna akan menghabiskan masa mudanya jika Poda selalu seperti itu.


"Raka, menurutmu bagaimana jika aku bekerja di Starbuck?," ucap Krisna tiba-tiba.


"Apa dia akan memilih bekerja di sana lalu resign dari kantor ini? Ah apa sudah gila memilih bekerja hingga larut malam," pikir Raka.


"Kenapa bertanya seperti itu?," tanya Raka.


"Aku sering melewatkan waktu soreku dengan tidak bermanfaat," jawab Krisna asal.


"Maksud kamu apa?," tanya Raka lagi kali ini dengan mengangkat kedua alisnya.


"Selalu saja pura-pura tidak tahu," gerutu Krisna dalam hati.


"Diam seribu bahasa bagaikan langit tanpa bintang," gumam Raka.


Membuat Krisna menyadari jika sindiran itu untuknya. Dia membulatkan matanya serta mengepalkan tangannya di samping Raka sebelum laki-laki itu melihatnya. Namun sayang Raka yang menyadari ada gerakan kecil disebelahnya langsung memalingkan wajahnya.


Merasa bagai maling tertangkap Krisna segera memalingkan wajah. Menatap ponsel di hadapannya. Tidak berniat meneruskan pembicaraan sore itu.


"Satu kata untukmu yaitu gila. Dan kenapa juga aku bisa mencintai wanita gila ini?Hmmm," batin Raka.


Lima belas menit berlalu, Krisna sudah menyelesaikan laporan. Bermaksud untuk pulang, namun melihat Raka masih berkutat dengan laptopnya membuat Krisna membatalkan niat awalnya.


"Kamu belum selesai?," tanya Krisna.


"Sudah," jawab Raka santai.


"Kenapa belum pulang?," tanya Krisna lagi.


"Menunggumu," ucap Raka datar.


"Mulailah sesi menggombal sore ini," geram Krisna dalam hati.


Krisna segera berlalu meninggalkan Raka. Tidak bermaksud berpamitan toh dia sudah tahu jika ini waktunya pulang. Bahkan lebih dua puluh menit dengan menunggunya.


"Is, laki-laki ini menyebalkan sekali," pikir Krisna.


Beruntung di luar langit masih cerah. Bahkan tidak terlihat mendung sedikitpun. Krisna segera menuju parkiran mengambil motor kesayangannya dan melajukan membelah padatnya jalan.


Pulang kantor adalah jam dimana jalan yang dilewati Krisna mencapai titik kemacetan. Karena kebanyakan penghuni jalan juga memiliki jam kerja yang sama dengan Krisna.


Tiba di kost dia segera merebahkan tubuh dan menyalakan AC di kamarnya. Lalu menghidupkan TV seraya berlalu menuju kamar mandi. Membiarkan ruangan itu menonton TV. Mungkin saja dinding disana lelah dan butuh sedikit hiburan.


Pemikiran yang konyol untuk seorang wanita cerdas seperti Krisna. Namun selalu menganggap hal itu sebagai angin lalu. Memberi sedikit komedi di hidupnya tidak ada yang salah.


Hanya saja terkadang orang lain yang mengira hidupnya aneh. Setelah mandi, Krisna segera menuju kamarnya dan menyaksikan apa yang tadi disaksikan dinding dan segala penghuni kamar yang tak kasat mata.


Menghempaskan tubuhnya secara kasar ke kasur lalu perlahan dia terlelap. Terbangun ketika semua diruangan itu berwarna hitam. TV yang sedari tadi ditonton juga mati.


"Kenapa mati listrik? Padahal aku sudah membeli token kemarin," gumam Krisna.


Ketika hendak berjalan, tubuhnya tersandung sesuatu. Dia menyadari yang disandung seperti tubuh manusia, tapi bukankah tadinya hanya seorang diri.


"Astaga! Apa-apaan ini?," batin Krisna.


Jarinya meraba dinding mencari tombol untuk menyalakan lampu namun seperti ada tangan lain yang memegang kakinya. Krisna semakin takut dalam kegelapan itu. Seperti ingin berteriak namun tidak mengeluarkan suara. Seperti ingin berlari namun mendadak kakinya Kelu seperti membeku.


Dengan penuh kekuatan, Krisna menghempaskan kakinya agar siapapun yang memegangnya melepaskan. Benar saja, tangan itu lalu terlepas beriringan dengan suara bariton laki-laki.


Suara berat khas bangun tidur, dengan sedikit menggerutu. Krisna mengenali suara itu. Tidak mungkin lupa akan laki-laki yang selama ini menemaninya.


"Hei, kenapa ada di sini? Apa kamu tidak bisa membangunkanku?," gerutu Krisna.


"Maaf, tadinya aku bermaksud membangunkanmu namun melihatmu sangat damai membuatku tidak tega," ucap Poda.


Poda segera berdiri menuju saklar lampu. Berkali-kali ditekan namun lampunya tak kunjung hidup. Poda lalu melihat situasi luar melalui jendela kamar.


Sementara Krisna mengintip di antara celah pintu. Memastikan jika yang dilihat Poda sama dengan yang dilihatnya. Di sekitar kost itu lampunya padam semua.


"Mungkin mati listrik, lihatlah disana juga padam semua," lirih Krisna.


"Eh, aku lupa tadi memang mati listrik," tukas Poda dengan menepuk dahinya.


"Dasaaarrr! Kenapa juga kamu tidak menyalakan lilin tapi malah langsung tidur? Apa kamu tidak berpikir jika aku takut kegelapan?," umpat Krisna.


"Maaf," sesal Poda.


Krisna hanya diam tidak berniat berbicara dengan Poda. Bahkan dia hanya mengangguk. Menurutnya, dengan begitu seharusnya Poda juga sadar akan jawabannya.


"Apa kamu lapar?," tanya Poda.


"Iya," jawab Krisna.


"Baiklah ayo kita cari makan," ajak Poda.


"Kemana? Mau makan apa mati listrik seperti ini?," ucap Krisna.


"Terserah apa keinginanmu, aku akan menuruti kemauanmu," tukas Poda.


"Hm," gumam Krisna.


Krisna masih berdiri dibalik pintu dalam kegelapan. Mengingat dimana dia meletakkan ponselnya sebelum tidur. Namun Poda sedera mengeluarkan ponselnya. Menyalakan lampu dari sana.


"Terima kasih," ucap Krisna.