My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 96 Stalker



Karena terkadang kita terlena hanya dengan sebuah kata,


Meski terasa sempurna,


Namun tak selamanya membuat tertawa


Percayalah jika penyesalan selalu datang setelah kebahagiaan


Karena itu adalah karma dari sebuah ketidakpatuhan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ssttt ada yang marah," bisik Raga.


Krisna yang menyadari hal itu segera keluar dari ruangan Raka menuju tempat dimana Raka berada. Wanita itu menghampiri Raka yang masih menatapnya tajam lalu tersenyum.


"Morning ceremonial akan dimulai atau ditiadakan?," ucap Krisna santai.


"Gara-gara laki-laki breng***!," batin Raka.


"Akan mulai ketika semua sudah berkumpul, tidak ada yang berduaan di ruanganku," jawab Raka datar.


"Oke baiklah," lirih Krisna.


Raka segera memimpin apel pagi dengan tegas. Lebih tepatnya bukan tegas, tapi penuh emosi. Setelah selesai, semua karyawan kembali ke ruangannya begitupun dengan Raka dan Krisna.


Raka berjalan di depan sedangkan Krisna mengikuti Raka. Pintu di buka dengan sekali hentakan hingga menimbulkan suara. Krisna melotot ketika dia hendak masuk namun Raka sudah menutup pintunya lagi.


"Sial! Pagi yang apes untuk hari yang cerah," umpat Krisna.


Wanita itu lalu membuka pintu dan segera masuk. Dua duduk di kursi miliknya lalu menghidupkan laptop. Raka juga melakukan hal yang sama karena saat ini sudah saatnya semua kembali ke rutinitas bekerja.


Tidak memperdulikan suasana yang hening, Krisna terus membuka laporannya kemarin. Memeriksa dengan detail apakah ada e


kekurangan atau tidak.


"Baik-baik saja," gumam Krisna.


Kemarin tidak ada perintah untuk mengumpulkan laporan, mungkin nanti akan ada yang memintanya sendiri. Iseng Krisna membuka aplikasi berwarna biru dengan logo F melalui laptop di depannya.


Setelah menampilkan tampilan log in atau daftar, Krisna segera memasukkan email dan password nya. Wanita itu tidak akan lupa meskipun tidak pernah membukanya karena dia menggunakan kata sandi gabungan namanya dan Poda.


"Done," ucap Krisna ketika berhasil masuk ke akun miliknya.


Nama Poda menjadi daftar pertama akun yang ingin diselidiki. Setelah mengetik nama di kolom pencarian, Krisna segera menekan kata oke. Mesin pencari sedang melakukan pekerjaannya.


Muncullah nama akun yang dicari di daftar paling atas. Krisna lalu membuka akun itu dan melihat timeline-nya. Krisna membelalakkan mata ketika melihat banyak kiriman di timeline Poda. Dia tidak mengetahui siapa pengirimnya, namun melihat nama dan Poto profil yang digunakan sepertinya pemilik akun itu adalah wanita.


Krisna membaca setiap pesan yang dikirim. Terkesan seperti kekasih yang sedang merayu pasangannya. Waktu yang ditunjukkan adalah dua belas jam yang lalu. Berarti pesan itu dikirim baru kemarin.


"Apa dia wanita yang semalam menjerit?," lirih Krisna.


Melihat ada dua puluh pesan yang dikirim di akun Poda, tapi tidak ada satupun yang di balas. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Krisna segera membuka akun wanita itu. Krisna ingin mencari tahu apapun yang menyangkut Poda dan wanita tersebut.


Pertama Krisna membuka akun wanita dengan nama "Resta Nila". Lalu membuka informasi yang ada di akun tersebut. Krisna mengerutkan dahi karena dia sepertinya tidak mengenal Resta.


Masih menscroll ke bawah di kolom informasi, tapi hingga selesai tidak menemukan tanda-tanda kedekatannya dengan Poda. Kemudian Krisna membuka timeline Resta untuk mencari tahu lebih banyak lagi.


Di sana tidak ditemukan akun Poda, tapi banyak cuitan yang bertebaran disana. Masih sama seperti yang dikirim ke akun Poda, cuitan itu berupa rayuan untuk pasangannya agar mau kembali bersama.


Turun ke bawah lagi untuk mencari cuitan dari kemarin atau jika memungkinkan Krisna akan mencari tau dari awal akun itu ada. Krisna berniat akan menjadi stalker untuk hubungan yang dijalaninya. Karena kehadiran orang ketiga bisa membuat semuanya hancur seketika.


"Ddrttt ddrttt" getaran ponsel membuyarkan Krisna.


Wanita itu mengambil benda pipihnya. Di layar menunjukkan adanya notif pesan masuk. Tanpa rasa penasaran, Krisna meletakkan kembali ponselnya. Dia merasa jika pesan itu bukan dari Poda.


Matanya kembali tertuju pada laptop, tapi tiba-tiba layar mendadak padam membuat Krisna mengerutkan dahi. Dia ingat jika baterainya penuh. Bahkan wanita itu juga menyambungkan charger pada listrik agar tidak mengganggunya ketika tiba-tiba baterai habis.


Berkali-kali menekan tombol power agar menyala, tapi tetap tidak ada hasil. Krisna ingin sekali bertanya kepada Raka, tapi wanita itu tidak mungkin mempermalukan dirinya. Krisna panik, dia takut jika laptopnya rusak maka tidak bisa melanjutkan bekerja.


Raka mengamati Krisna yang mendadak panik. Laki-laki itu menyeringai licik. Tentu saja laptop milik Krisna mati karena ulahnya.


Krisna melirik sekilas ke arah Raka, laki-laki itu juga melihat ke arahnya namun segera membuang pandangannya. Raka menahan malu karena ketahuan mengamati Krisna. Dia tidak mau perang dingin seperti tadi muncul lagi.


"Sebenarnya aku menginginkan sebuah kemesraan bersamamu, tapi jika harus keributan yang tercipta maka aku akan menerima karena itu juga bentuk kasih sayangmu untukku. Aku percaya akan hal itu," batin Raka.


Masih dengan senyum licik yang tersungging, Raka memutar musik untuk menghilangkan keheningan di ruangan itu. Tanpa izin dan tanpa permisi, Raka memutar lagu milik Kotak dengan judul "Dosa Terindah".


"Ehem," Krisna berdehem.


"Apa?," ucap Raka tanpa melihat Krisna.


"Bisa kamu membantuku?," dengus Krisna kesal, meskipun dia meminta tolong namun rasanya masih kesal ketika melihat Raka tersenyum licik padanya.


"Apa?," ucap Raka santai.


"Laptopku mati," tukas Krisna.


"Lalu?," tanya Raka pura-pura tidak tahu.


"Bisakah kamu menghidupkannya? Aku sudah mencoba, tapi tetap tidak menyala," jawab Krisna.


"Kamu gunakan untuk apa sehingga benda itu bisa mati dengan sendirinya?," tanya Raka sembari membalikkan badannya dan menatap Krisna lekat dari tempat duduknya.


"A-aku gunakan untuk membuat laporan," jawab Krisna terbata pasalnya wanita itu menyadari jika mulai ada yang tidak beres.


"Yakin?," ujar Raka dengan nada biasa namun penuh penekanan.


"Iya," lirih Krisna.


Sungguh Krisna mendadak menjadi gugup. Kali ini dia menyadari jika Raka adalah seniornya. Juga menyadari jika apa yang baru saja dilakukan bukan bekerja, tapi stalker akun kekasihnya.


"Jangan bilang laptop disini udah di setting kalau buka yang aneh langsung ngehank?," pikir Krisna was-was.


"Jika kamu belum tau aku beri tahu sekarang," ucap Raka menggantung.


"Apa aku melewatkan hal penting?," tanya Raka.


"Ya dan sekarang kamu melakukan kecerobohanmu," ucap Raka penuh kewibawaan.


"Sial! Kenapa baru sadar sekarang sih? Please Raka, jangan marah ya please!," pinta Krisna dalam hati.


"Em, apa itu?," tanya Krisna gugup.


"Laptop disini bisa digunakan untuk membuka akses, sekalipun kamu membuka akun sosmed, tapi itu semua atas izinku," ucap Raka.


"Tapi kamu tidak meminta izin padaku, bahkan mengabaikan seniormu ini untuk stalker akun pacar kesayanganmu. Benarkah seperti itu?," tambah Raka.


"Iya, lalu?," tanya Krisna masih belum mengerti maksud Raka.


Selama ini Raka selalu bersikap biasa saja sekalipun Krisna melakukan kesalahan. Namun sekarang Raka benar seperti senior yang bersikap profesional. Krisna menelan ludahnya dengan susah payah, wanita itu menyadari jika tadi melakukan hal jahil pada Raka. Mungkin saat ini adalah pembalasan Raka.


"Hei, aku ini seniormu jika kamu lupa dan aku hanya bersikap profesional! Kamu membuka sesuatu yang tidak penting sementara aku, seniormu, sekaligus orang yang memegang laptop sebagai usermu sedang sibuk kenapa kamu tidak membantuku malah sibuk dengan duniamu?," ucap Raka dingin dan penuh penekanan.


"Woey, bilang aja dari tadi aku nyuekin kamu! Dasar gila, ini namanya bukan profesional tapi balas dendam," gerutu Krisna dalam hati.


"Maaf," lirih Krisna.


Wanita itu hanya bisa mengucapkan penyesalan. Sebenarnya bukan menyesal atas perbuatannya, tapi menyesal karena mengabaikan Raka ternyata membuatnya celaka.


Sementara Raka tersenyum penuh kemenangan. Hanya karena sedikit nada dingin yang terlontar membuat Krisna diam kaku bak manekin bisu.


"Haha, siapa suruh lebih mentingin laki-laki kaya Poda! Aku udah bilang kan kalau yang pantes itu aku bukan dia," batin Raka.


"Bagus, lanjutkan pekerjaanmu dan hari ini kita akan keluar kantor pukul 10.00 WIB, sebagai hari terakhirku disini," tukas Raka.


"Tiap hari bilang terakhir, dulu aja bilang terakhir nggak taunya masih disini. Sekarang bilang terakhir, paling besok juga masih disini," dengus Krisna kesal.


"Aku memang terakhir disini, tapi setelah aku menemukan penggantimu yang cocok," jelas Raka.


"Bukankah itu urusan bagian HRD? Kenapa kamu memutuskan seperti itu?," tanya Krisna penasaran.