My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 36 Sadar



Menceritakan kembali luka yang pernah dialami hanya membuat sakit itu semakin abadi


Namun dengan bodohnya


Aku malah membuatnya abadi dalam satu dimensi


Bernama hati


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah mengambil pisau itu, Poda memberikannya kepada Krisna.


"Untuk apa?," Krisna bertanya pelan takut membuat Poda kembali marah.


"Untuk membunuhku jika kamu lelah menghadapi ku," mawab Poda.


"Aku lelah, tapi bukan begini caramu," ucap Krisna.


"Lantas?," tukas Poda.


"Cukup menjadi seseorang yang sederhana dan apa adanya, tanpa pernah sedikitpun kamu membuatku menderita," lirih Krisna.


"Aku tidak bisa," ucap Poda tak kalah lirih dari Krisna.


"Pergilah," pinta Krisna.


"Aku akan tetap disini," ujar Poda.


"Untuk apa? Untuk membuatku kembali menderita dengan cara yang sama? Atau untuk membuatku kembali terluka dengan cara yang berbeda hah?," kali ini Krisna berbicara dengan nada agak ketus. Bersyukur jika nantinya Poda memilih pergi.


Setelah Krisna berkata demikian, Poda sama sekali tidak bergeming. Dia kembali memandang pisau dengan tatapan kosongnya. Krisna yang semakin merasa takut beringsut mundur ke belakang. Takut sesuatu yang buruk menimpanya.


Namun sungguh di luar dugaan, Poda justru membalikkan badan dan menatap wanita di depannya. Wanita itu terlihat sangat terluka. Tampilan di depannya sungguh memprihatinkan. Rambut panjangnya dibiarkan sedikit berantakan tidak di kuncir dan tidak di rapikan.


"Apakah Krisna begitu karena aku?," pikir Poda.


Menatap wajahnya yang sendu. Matanya memerah, disana terlihat bekas usapan air mata. Sementara hidungnya juga ikut memerah juga berair. Pipinya semakin merah karena tamparannya. Ah benar-benar kacau wanita di hadapan Poda saat ini.


Kemudian Poda mendekat bermaksud memeluk wanita itu. Namun wanita didepannya itu menolak. Ketika Poda mendekatinya, Krisna semakin menjauh. Semakin rapat hingga tidak ada tempat untuk beringsut lagi. Sampai akhirnya Krisna terpojok di sudut ruangan membuat dirinya berhimpitan dengan Poda.


Menggenggam jemari Krisna yang terasa asing di tangannya. Mengingatkan betapa Poda merasakan jauh sekali dengan wanita itu. Dosa apa yang sudah diperbuat Poda. Kenapa saat ini dia merasakan tidak berada di dekat Krisna. Baru saja tangan itu menggenggam jemari Krisna, namun Krisna melepaskannya dengan perlahan. Poda semakin dibuat heran dengan tingkah yang dilakukan Krisna. Seberapa Krisna kecewa hingga menepis genggamannya. Padahal dulu Krisna sangat senang berada di genggamannya.


"Maaf," itulah kata pertama yang diucapkan Poda.


"Untuk apa?," Krisna tidak menjawab pertanyaan Poda namun malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Hish itu gaya bicaraku, kenapa kamu menirukan ku?," Poda menjawab dengan menyipitkan mata dan menatap tajam Krisna seperti tatapan ingin membunuhnya.


"Lantas?," Krisna kembali menirukan gaya bicara Poda.


Poda semakin merasa di permainkan. Dia paling benci ketika gaya bicaranya ditirukan namun juga tidak dipungkiri itu bisa membuat Poda senyum-senyum sendiri. Dia selalu merasa senang ketika melihat Krisna dengan polosnya melakukan sesuatu hal bodoh yang justru menurut Poda istimewa.


"Sayang?," lirih Poda.


"Hem," ucap Krisna.


"Aku kangen," ujar Poda.


"Eh kangen?," Krisna bertanya untuk memastikan pendengarannya.


"Iya," jawab Poda dengan menyunggingkan senyum termanisnya.


"O," Krisna hanya menjawab dengan bibir membentuk bulat mengerucut dan berekspresi datar.


"Dasar wanita menyebalkan! Kenapa aku bisa mencintaimu? Kurasa mataku ini sedikit rabun," Poda menggerutu seraya melepaskan pelukannya.


Poda berharap Krisna berganti memeluknya karena pelukannya dilepaskan. Namun prediksinya salah. Krisna justru melenggang pergi keluar kamar dan menutup pintu tanpa menghiraukan Poda disampingnya. Melihat dengan jelas derasnya air hujan yang turun membasahi bumi.


"Ya Tuhan, kenapa Poda selalu bisa mengaduk-aduk hatiku? Selemah inikah hatiku hanya untuk menghadapi laki-laki berhati iblis seperti dia?," gumam Krisna dalam hati dengan sangat lesu.


Sementara Poda yang ditinggal Krisna, dia perlahan sadar akan kesalahannya. Menyadari jika wanita tidak mungkin akan menerima hidup bersama pria yang selalu memperlakukannya semena-mena. Tapi naluri itu berjalan dengan sendirinya. Terkadang aku tidak berniat melakukannya, namun terjadi begitu saja.


"Apakah ego ini terlalu menguasai ku? Aku tidak mau kehilangan orang yang benar-benar tulus mencintaiku, apalagi sekarang ada Raka yang selalu disampingnya! Dia dengan sabar selalu berkata akan menerima Krisna apapun keadaannya, mungkin memang seharusnya takdir berpihak kepada Raka, tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi!," Poda berbicara dalam hati.


Pikiran dan hati Poda berkecamuk. Dia tidak ingin Raka menganggu hidupnya. Tidak ingin Raka bisa menggeser posisinya di hati Krisna. Namun di sisi lain Poda tidak bisa mengendalikan egonya.


"Aaarrrggggghhh," Poda mengacak rambut dengan frustasi. Benar-benar tidak bisa memahami dirinya sendiri. Apalagi memahami orang lain, semua terlalu berat.


Kemudian dengan tergesa-gesa Poda membuka pintu kamar. Ingin selalu menemani Krisna di saat susah maupun senang. Tidak mau kehilangan orang yang dicintainya secepat ini. Tidak mau orang lain manapun mengambil apa yang telah menjadi miliknya.


"Kris?," Poda mengawali pembicaraan.


"Ada apa?," jawab Krisna. Dia tau jika Poda memanggil dengan namnya pasti ada hal serius yang akan dibicarakan.


Poda tidak menjawab pertanyaan Krisna. Namun dia langsung memeluk Krisna dari belakang. Mendekapnya erat seperti tidak ingin melepaskan. Ingin selalu seperti ini untuk selamanya.


Lain halnya dengan Krisna. Dia hanya bersikap biasa. Tidak terlalu larut dalam suasana. Dia tidak mau terlena untuk kesekian kalinya. Meski sebenarnya menginginkan pelukan seperti ini untuk menenangkan hatinya, namun Krisna terlalu takut akan perlakuan Poda yang selalu kasar kepadanya.


"Sayang, i love you," ucap Poda.


"I love you to," jawab Krisna datar.


Poda menarik Krisna dan membalikkan badannya hingga kini mereka saling berhadapan. Poda menatap Krisna taja..


"Ingin sekali aku mencium lehernya, mamun takut jika Krisna menolaknya seperti tadi! Aku harus mencari saat yang tepat," batin Poda.


Krisna yang selalu luluh dengan tatapan itu, perlahan membalas pelukan Poda. Poda selalu bisa membuat pertahanannya runtuh. Seperti apapun Poda menyia-nyiakannya, Krisna selalu dengan mudah kembali memaafkannya.


Poda menenggelamkan Krisna dalam dekapannya. Membiarkan dia mendengar debaran dadanya. Sementara Poda memandangi hujan di depannya. Betapa bahagianya andai mereka seperti dulu. Bersama di bawah atap yang sama, menatap hujan yang sama, dan saling memeluk seperti ini. Tapi itu dulu, sebelum jiwa brengsek Poda muncul.


Semakin lama Krisna semakin merasa hanyut dalam ketenangan. Begitupun Poda, perlahan emosi yang tadi meluap-luap berganti menjadi sebuah kenyamanan yang selama ini ia rindukan. Perlahan kepala mereka saling mendekat. Membiarkan Poda menghirup shampo aroma strawberry dari rambut Krisna.