My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 21 Raka Rahardian



Genggam sebelum hilang


Jaga sebelum tiada


Hargai sebelum pergi


Karena sesuatu yang hilang


Akan dirindukan ketika dibuang


Ada banyak luka yang harus kusembunyikan


Bukan maksudku untuk menyimpan sendirian


Namun, ketika kamu tak lagi punya waktu untuk diluangkan


Akankah aku hanya berdiri bersama harapan?


Aku hanya belajar berdiri di atas kakiku sendiri


Karena aku percaya


Di dunia ini tidak ada yang yang tinggal untuk selamanya


Terlebih kamu


Sosok yang selalu membuatku merindu


Namun enggan untuk bertemu


Biarkan aku rapuh layaknya sesuatu yang lapuk


Karena mungkin memang hanya itu yang pantas untukku


Terlalu sadis caramu membuat egoku menangis


Mengemis dan mengais bagai mencari tawa dalam ribuan luka


Sesuatu itu teramat langka


Bahkan aku ragu akan mendapatkannya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah sampai di tempat tujuan, Raka dan Krisna segera mengerjakan tugas masing-masing. Mereka butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hingga waktu menunjukan pukul 12.00 WIB mereka baru selesai. Raka berniat mengajak Krisna makan siang. Sebenarnya Raka merasa kasihan melihat Krisna yang di hari pertamanya bekerja harus mengerjakan pekerjaan sebanyak ini. Tapi dia yakin Krisna akan terbiasa dengan sendirinya.


"Eh, bukankah nantinya Krisna memang mengerjakan pekerjaan ini," Raka bicara pada dirinya sendiri.


"Kris, sudah selesai?," tanya Raka.


"Sebentar lagi mas," jawab Krisna.


"Lama banget, sebenarnya kamu bisa mengerjakan tidak heh?," tanya Raka lagi, kali ini dia melirik Krisna.


"Bisa kok mas, cuma belum selesai," jawab Krisna santai.


"Lama seperti siput kris," Raka berkata dengan polosnya.


"Heh?," ucap Krisna.


"Ah tidak," kata Raka sembari menggelengkan kepalanya.


Lima menit Raka menunggu akhirnya Krisna selesai juga. Meneliti kembali hasil kerjanya lalu memasukkan semuanya ke dalam map besar.


"Sepertinya Krisna rajin juga," batin Raka.


"Nanti kita tinggal menyusun laporannya," pikir Krisna.


"Mas Raka, aku sudah selesai kita jadi makan siang bareng?," tanya Krisna.


"Tidak kris, kamu makan sendiri saja aku ada urusan mendadak," ucap Raka.


"Kita tidak jadi makan? Baiklah aku berniat akan makan sendiri," ujar Krisna.


"Niat awalnya sih begitu tapi kamu membuatku menunggu," lirih Raka.


"Biarin, ya sudah aku makan sendiri aja," Krisna menjawab sambil berlalu.


"Kris, tunggu aku! Kita jadi makan berdua kok," teriak Raka.


"Tidak, tadi aku cuma iseng, kenapa kamu tidak marah?," tanya Raka penasaran.


"Hei, aku tidak ada alasan untuk marah lagipula kan itu urusan kamu bukan urusanku," jelas Krisna.


"Apakah Krisna tidak tergoda oleh ketampananku? Wanita macam apa dia sebenarnya? Selama ini banyak wanita yang menggodaku, aku juga dengan gampangnya mencari wanita sesuai kriteriaku," pikir Raka.


Akhirnya mereka memilih makan di cafe di ujung jalan. Merlihat bangku menimbang akan di meja atau lesehan hingg akhirny memilih duduk lesehan tanpa kursi. Krisna duduk di depan Raka namun Raka pindah duduk disampingnya. Katanya biar sekalian buka laptop dan mengerjakan laporan. Krisna menurut saja toh dia tidak bermaksud apa-apa. Sambil menunggu makanan datang, Raka membuka laptop dan mulai menjelaskan seperti apa laporan yang akan dibuatnya nanti.


Baru saja Raka mengeluarkan laptop dari tempatnya, tiba-tiba seorang wanita berperawakan tinggi, cantik, dan berkulit putih menghampiri mereka berdua.


"Kenapa Rena ada disini?," pikir Raka.


Rena adalah mantan pacar Raka. Hubungan keduanya akhir-akhir ini menjadi semakin jauh semenjak Raka memergoki Rena selingkuh. Rena selingkuh dengan salah satu bawahan Raka di kantor. Bodohnya, mereka selingkuh ketika Rena berada di ruangan Raka dan bawahannya datang. Mereka sama-sama mengatakan perasaanya dan ketika mereka berpelukan, Raka datang. Melihat dengan mata kepalanya sendiri sang kekasih berselingkuh, Raka pun tak lagi sudi melihat wanita itu.


"Raka! Siapa wanita ini?," teriak Rena.


"Dia partner baruku di kantor," jawab Raka datar. Toh memang kenyataannya begitu, andai Raka dan Krisna memiliki hubungan juga bukan urusan Rena lagi.


"Partner atau selingkuhan kamu?," Rena semakin emosi. Dia menatap Krisna tajam.


"Apa urusan kamu? Ingat kita sudah tidak ada hubungan apa-apa," ucap Raka mengingatkan.


"Oh jadi wanita ini yang membuat kamu berubah sekarang", Rena melirik Krisna lagi dengan sinis.


"Kamu sendiri yang telah menghancurkan hubungan kita dan sekarang tolong pergilah sebelum aku mengusirmu wanita j*lang," Raka memberikan penekanan saat mengatakan wanita j*lang.


"Oke aku pergi tapi jangan pernah mencariku lagi," tukas Rena.


"Untuk melihatmu pun aku tidak sudi Rena!," kali ini ganti yang Raka bicara dengan nada tinggi.


Makanan Raka dan Krisna datang tepat ketika Rena pergi. Sebenarnya nafsu makan Raka sudah hilang ketika melihat Rena, tapi melihat Krisna yang kini berada di dekatnya membuat Raka sedikit lega. Wanita yang baru dikenalnya itu membuat mood Raka selalu baik.


"Terima kasih," ucap Krisna kepada sang pelayan.


"Maaf ya kris, wanita tadi adalah Rena, dia pacarku, namun dselingkuh di depan mataku dan aku tidak bisa memaafkannya jadilah sekarang dia mantan pacarku," jelas Raka.


"Kenapa minta maaf mas, bukan urusanku juga kan?," ucap Krisna menimpali.


"Benar juga! Bodoh sekali kenapa aku bisa keceplosan bicara seperti itu di depan Krisna," batin Raka. Dia mengutuk dirinya sendiri.


Mereka makan dalam keheningan. Untuk memulai pembicaraanpun Krisna enggan. Takut jika wanita itu datang lagi dan mempermalukannya. Padahal Krisna dan Raka tidak ada hubungan apa-apa.


Selesai makan Raka menutup laptopnya. Berniat mengerjakan lapora di kantor saja. Suasana hatinya sudah terlanjur rusak sejak kehadiran Rena. Setelah Raka membayar makanannya, Raka dan Krisna segera menuju mobil. Semakin cepat selesai, semakin Raka bisa mengenal Krisna lebih dekat.


Sampai di kantor Raka dan Krisna segera menuju ruangan Raka. Berniat menyelesaikan laporannya. Namun tiba-tiba ide jahil muncul di benar Raka.


"Kris, bisa hidupin laptop?," tanya Raka


"Tidak mas," jawab Krisna.


"Mana mungkin lulusan sekolah ternama sepertimu tidak bisa? Tidak mungkinkan?," Raka berusaha meyakinkan dirinya karena Krisna memang lulusan sekolah favorit bahkan Krisna mengambil jurusan yang setiap hari menggunakan komputer.


"Sudah tau kenapa tanya," jawab Krisna santai.


"Kenapa jadi aku yang terlihat bodoh seperti ini?," pikir Raka.


Krisna duduk di kursi depan Raka. Menghidupkan laptopnya. Lalu membuka aplikasi yang penuh dengan kolom tabel. Raka menjelaskan, dan selalu Krisna langsung mengerti. Mereka selesai di waktu yang lebih cepat. Seperti harapan Raka. Kali ini mereka leluasa berbicara di ruangan Raka.


"Kamu lahir bulan apa kris?," ucap Raka tiba-tiba.


"Agustus, kamu sendiri?," jawab Krisna.


"Aku Mei 1995, kamu tahun berapa?," tanya Raka lagi.


"Aku 1997, rumah kamu dimana mas?," ujar Krisna.


"Usia dibawahku," batin Raka.


"Rumahku setengah jam dari sini kris," lirih Raka.


"Perkenalkan namaku Raka Rahardia, kamu bisa memanggilku Raka, ingat R-A-K-A tanpa mas, atau kalau mau manggil sayang juga boleh! Aku bekerja disini kurang lebih tiga tahun dan kamu bisa menanyakan apapun kepadaku," jelas Raka.


"Iya mas, eh Raka maksudku," ucap Krisna.


"Aku mengurungkan niat untuk mendekati Krisna, ini terlalu cepat," pikir Raka.