
"Pertanyaan bodoh," dengus Krisna.
Tanpa memperdulikan Terry yang sekarang ada di kamarnya, Krisna langsung melemparkan tubuhnya ke kasur begitu saja. Seakan dia menginginkan kesendirian.
Dahi Terry refleks mengkerut melihat tingkah Krisna yang terlihat menyimpan beban. Padahal saat bersama Terry, dia tidak pernah seburuk ini.
"Ada apa?," tanya Terry lirih.
Laki-laki itu berangsur mendekat ke arah Krisna. Menyamakan posisinya dengan merebahkan tubuhnya di kasur yang sama. Ini sudah ke dua kalinya mereka berada di ranjang yang sama jadi tidak ada alasan apapun untuk Krisna menolaknya.
Hening karena Krisna tidak menjawab pertanyaan Terry. Laki-laki itu berpikir jika apapun yang dilakukan Poda selalu berpengaruh kepada hidup Krisna. Terutama hal buruk yang menyakitkan.
Memiringkan badan agar tepat berhadapan dengan Krisna. Terry menyentuh anak rambut wanita itu. Terlihat acak-acakan sebenarnya merupakan godaan, tapi mengingat wanita itu saat ini tidak butuh sentuhan maka Terry mengurungkan niatnya.
"Ada apa hm? Ceritakan padaku," ucap Terry tulus.
Satu sisi yang disukai dari sosok Terry adalah sifat perhatian dan kasih sayangnya. Ketulusan yang diberikan Terry tidak bisa didapatkan dari seorang Poda. Mungkin jika Krisna lebih dulu mengenal Terry, dia tidak akan jatuh ke dalam pelukan laki-laki bermoral rendah seperti sekarang.
Krisna menggeleng mengisyaratkan jika dia tidak apa-apa. Namun Terry lebih berpengalaman dalam urusan cinta. Bahkan bisa jadi apa yang dilakukan Poda saat ini sama dengan apa yang pernah dilakukan Terry tempo hari.
"Tidak dipungkiri rumput tetangga lebih menggoda," ucap Terry santai.
"Itu untuk laki-laki brengsek sepertimu," dengus Krisna.
"Jangan melupakan jika laki-laki milikmu lebih brengsek dariku," tukas Terry.
"Aku hamil," gumam Krisna lirih bahkan hampir seperti bisikan namun Terry mendengarnya dengan jelas.
Tidak heran jika Krisna hamil karena hal itu biasa dilakukannya, tapi mengingat hubungannya dan Poda tidak baik membuat Terry bertanya-tanya.
"Kenapa bisa?," tanya Terry.
"Pas aku pulang aku mendapati Poda berada di kostku bersama dua botol Jack Daniel, lalu tau sendiri kan apa yang terjadi," jawab Krisna.
"Aku tau, maksudku kenapa bisa kelolosan? Bukankah selama ini kamu tidak pernah ceroboh?," tanya Terry lagi.
"Aku juga tidak tau kenapa saat itu aku membolehkannya mengeluarkan di dalam. Ah Terry lupakan jika kamu hanya membuatku mengingat hal buruk itu," tukas Krisna.
"Cup" Terry mencium bibir Krisna lalu ********** sebentar sebelum akhirnya dilepaskan.
Sorot mata teduh itu menatap Krisna tajam seakan menyiratkan keseriusan yang dalam. Kedua tangan Terry menangkup wajah Krisna. Manik mata bulat milik Krisna ingin sekali berlari dari tempatnya. Dia tidak bisa menerima tatapan Terry seintens ini.
"Cup" satu kecupan singkat mendarat di bibir yang mulai sedikit basah.
"Kita sama-sama dewasa, kita saling membutuhkan. Jangan memaksanya untuk bertanggung jawab karena aku yakin itu hanya akan melukai perasaanmu," ucap Terry.
"Kenapa?," tanya Krisna polos.
"Kamu melakukannya dengan suka rela, tapi belum tentu dia dan keluarganya menerimamu dengan lapang dada," jawab Krisna.
"Aku hanya mengatakan sedikit ketakutan di hatiku, tapi tenanglah masih ada aku yang selalu di sampingmu," bisik Terry tepat di telinga Krisna.
Krisna mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Terry. Sebenarnya hal ini yang paling ditakutkan Krisna. Terlebih mengingat Poda berasal dari keluarga berada dan orang tuanya tidak merestui hubungan mereka.
"Andai semudah itu ter," gumam Krisna.
Rasa tenang kembali menyelimuti hatinya. Untuk kedua kali Krisna merasa Terry membuatnya bahagia. Meski tanpa cinta, tapi wanita itu tidak ingin Terry meninggalkannya.
Tanpa sadar perlahan rasa kantuk dirasakan Krisna sampai akhirnya wanita itu terlelap. Ya, untuk kedua kalinya juga dia tidur nyaman dalam dekapan Terry.
Sudah merasa hidupnya hancur, jadi untuk apa menghindar dari perlakuan Terry. Mereka sama-sama pendosa hanya saja beda cara melakukannya.
Krisna terbangun ketika merasa ada tiupan angin di lehernya. Padahal dia tidak bersama Poda. Dengan mata yang masih berat, dia terpaksa membuka kelopaknya. Mendapati Terry tidur dengan memeluknya sementara kepalanya tenggelam di leher milik Krisna.
"Pantas saja ada aura dingin, ternyata kamu penyebabnya," gumam Krisna.
Rambut tebal milik Terry adalah titik fokus penglihatan Krisna. Wanita itu ingin sekali menjambaknya penuh nafsu jika saat ini dia sedang tidak sadar.
"Untuk hidup yang terlanjur penuh dengan luka, maafkan hati yang tak sanggup menuai kecewa. Aku hanya ingin secerah harapan bukan ribuan puing kenangan"
Hembusan nafas berat dihempaskan saat menyadari Terry semakin mengeratkan pelukannya. Laki-laki itu melayangkan kecupan singkat di leher Krisna.
"Terry," ucap Krisna.
"Hm," gumam Terry.
"Bangun," bisik Krisna di telinga Terry.
Gelengan di leher sebagai jawaban atas ucapan Krisna. Laki-laki itu menjulurkan lidah untuk menyesapi manis kulit lehernya.
"Terry lepaskan bodoh!," ucap Krisna penuh penekanan.
Tidak mengira Terry akan memancingnya lagi. Jika malam itu Krisna bisa lolos, jangan harap sekarang bisa melakukannya lagi.
Semakin Krisna menolak, semakin gencar Terry melakukannya hingga akhirnya wanita itu hanya bisa menyerah.
"Cup" Terry mencium bibir Krisna lalu ********** lembut.
Dengan lembut pula wanita itu membalas lumayan Terry. Tidak ada yang perlu ditutupi dari keduanya. Selain tahu tentang kebusukan masing-masing, mereka juga melakukannya atas dasar rela. Meski tanpa cinta di dalamnya.
Cinta bertepuk sebelah tangan tidak membuat Terry menyerah. Bahkan dia yakin jika cepat atau lambat, perhatiannya mampu meluluhkan hati Krisna.
Jika dengan menjadi ayah dari janin yang dikandungnya bisa membuat Terry semakin dekat dengan Krisna, maka Terry akan melakukannya. Sama seperti awal pertemuan mereka. Terry selalu iba kepada Krisna atas nestapa hidup yang diderita. Namun siapa sangka jika lambat laun rasa iba berubah menjadi cinta.
Masih di ranjang, Terry yang tadinya memeluk Krisna kini melepas tangan kanannya untuk menyusuri setiap lekuk tubuh yang hanya terkaman Poda. Laki-laki brengsek, yang sialnya sekarang Terry merubah dirinya menjadi brengsek juga.
Hawa sesak mulai dirasakan Krisna. Wanita itu juga merasa dadanya berdebar kencang. Tidak tahu apa penyebabnya, tapi dia berharap semoga bukan tanda jatuh cinta.
Tangan kanan Krisna terulur meremas rambut Terry. Kini bukan lagi bayangan yang ada dalam benaknya, tapi benar-benar dilakukan. Terry merasa ingin melakukan yang lebih dari itu. Laki-laki itu melepas pagutannya.
"Shit! Jangan bilang baper gara-gara Terry," umpat Krisna dalam hati.
"Krisna," ucap Terry.
"Hm," gumam Krisna.