
Setiap sujud yang kulakukan
Ku tengadahkan untuk sebuah harapan
Semoga kelak Tuhan menyatukan kita dalam sebuah ikatan
Amin...
~Krisna Yosepha~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku hampir tidak percaya jika yang selama ini kurasa adalah cinta. Pertama kehadirannya, aku tidak menganggapnya ada karena aku percaya jika alam berpihak kepadaku. Sekian lama bersama aku masih belum menyadarinya. Namun ketika aku melihat senyum manis di bibirnya, aku seperti tidak ingin melupakannya. Aku tidak tahu bagaimana hatiku mendeskripsikan. Arrgggg! Dimana hatiku yang dulu tidak pernah goyah sedikitpun. Kenapa sekarang aku merasa mudah sekali baper," gerutu Krisna.
"Nah apa yang ku bilang benar adanya kan? Angin, kamu dengar lagi kan bagaimana wanita disebelahku ini mencurahkan isi hatinya?," sindir Raka.
"Hish Rakaa! Kamu apa-apaan sih dari dari nyindir terus?," tukas Krisna.
"Ssstttt cup cup cup, jangan baper anak manja! Aku akan tetap di sampingmu," lirih Raka seraya mendekat dan mengacak rambut Krisna.
Krisna menangkis tangan Raka. Dia kembali ke sifat asli yang sebenarnya. Wanita itu tidak suka disentuh apalagi sama laki-laki yang bukan pasangannya. Dengan berani Krisna menatap Raka tajam. Kali ini menyiratkan kemarahan dan terlihat jelas.
"Kamu marah? Oke, aku suka melihatmu yang seperti ini daripada melihatmu yang suka di sentuh siapapun," ucap Raka santai.
"Dasar laki-laki gila! Kelamaan jomblo makanya kamu jadi baperan! Pergi sana! Kembali ke kursimu!," dengus Krisna.
Hanya melirik kursinya sekilas, dan berlalu. Bahkan Raka tidak berniat duduk di kursi panas tersebut. Pagi itu dia memilih mengikuti apel pagi membuat beberapa karyawab salibg berbisik. Setelah ada Krisna di ruangannya, dia lebih memilih mengurung diri berdua disana. Namun sekarang Raka memilih keluar ruangan dan meninggalkan Krisna di dalam.
"Wah, tumben ikut apel pagi? Marahan ya?," tanya Dika teman satu kantor Raka namun beda divisi.
"Pacar juga bukan kenapa marahan," jawab Raka ketus.
"Eh, dia marah! Okelah, daripada bentar lagi dapet semprit Raka mending gue pergi aja," tukas Reza.
Memilih pergi karena sepertinya pagi ity Raka sedang dalam mood yabg buruk. Dika sahabat karibnya saja terhempas apalagi orang lain. Begitu juga dengan karyawan lain, mereka memilih tidak menyapa Raka.
"Kenapa mereka pada menjauh? Yaudahlah aku balik ke ruangan aja daripada jadi patung jata gini," batin Raka.
Segera membuka pintu lalu masuk ke ruangannya membuat semua karyawan yabg melihat mwnjadu terbahak. Lumayan hiburan di pagi hari untuk mereka. Jarang sekali bisa melihat Raka murung seperti itu. Biasanya laki-laki tampan itu ajan murah senyum sehingga membuat siapapun yang melihat akan terpikat.
Tiba di ruangannya Raka melihat Krisna masih bergelut dengan laptop. Kehadiran Raka yang sengaja lewat depannta juga tidaj dihiraukan. Membuat Raka menjadi semakin murung.
"Jika kamu penawar sedihku, apakah aku juga penawar sedihmu? Apa aku salah jika mengharap sedikit perhatian darimu?," pikir Raka.
Kalut dengan apa yang dia pikirkan. Saat itu Raka tidak bisa berpikir jernih hanya kareba seorang wanita yang sudah punya pasangan. Lebih tepatnya seorang wanita yang sudah bahagia bersama pasangannya.
Membuka aplikasi dengan kolom dan tabel sebagai isinya, lalu membuka email memastikan tidak ada yang terlewatkan. Krisna tersenyum, sama seperti Raja yang juga tersenyun. Dia selalu puas dengan pekerjaan Krisna.
Lalu membuka aplikasi mesin pencari tahu, menuliskan nama "Krisna R" disana. Memunculkan wajahnya yang sedang tersenyum manis bersama Poda membuat Raka memelototkan mata..
"Sial! Aku tidak menyangka dia mempunyai akun goog*e dan menjadikan poto mereka sebagai avatar, ternyata benar wanita di depanku ini pandai menyembunyikan rahasianya!," pikir Raka.
Berjalan pelan agar Krisna tidak menyadari kehadiran Raka di belakangnya, alih-alih mencari aman Raka justru menjadi apes karena ketahuan. Laki-laki itu tidak sengaja menginjak kabel yang ada di belakang Krisna, lalu terjatuh.
"Eh, apa yang kamu lakukan? Kamu ngapain di belakangku? Kenapa sekarang kamu menjadi aneh seperti ini?," ucap Krisna dengan penuh penekanan.
Dia tidak menyangka jika saat ini berhadapan dengan laki-laki yang super kepo seperti dirinya. Bagaimana mungkin Raka selalu mengolok-olok Krisna jika sebenarnya dia juga memiliki sifat yang sama.
"Hehehe," Raka tertawa kecil seraya berdiri.
Mencoba berbaik hati dengan membantu Raka berdiri, namun sayang Krisna justru jatuh ketika Raka menariknya. Kini mereka berdua terlentang di atas lantai dengan posisi di bawah dan Krisba tepat di atasnya. Sedikit saja Raka mendongak, pasti bibir mereka saling bersentuhan.
Bertepatan dengan itu, ruangan Raka terbuka tanpa adanya ketukan sebelumnya membuat kedua manusia yang tengah berada di bawah meja menjadi panik. Hanya takdir yang tahu bagaimana nasip keduanya. Akan hal yang tidak sengaja namun pasti menjadi petaka bagi keduanya.
"Ehem, apa tiduran di kamar hotel sudah tidak bisa? Dan kamu Raka, apa kamu selalu begini setiap hari? Di saat semua karyawan melakukan apel pagi kamu malah mesra-mesraan," ucap atasan mereka karena yang membuka pintu adalah atasannya.
"Maaf pak, aku tidak bermaksud seperti ini hanya saja wanita di atasku tidak pergi, jadi bagaimana cara aku berdiri? Apa aku harus menendangnya?," tukas Raka.
"Hei, apa-apaan! Kamu yang menarikku hingga seperti ini! Seenak jidat merusak reputasiku!," gerutu Krisna.
"Sudah jangan bertengkar! Sekarang Raka ikut ke ruanganku!," ucap pimpinan seraya berlalu.
Menikmati sebentar moment langka sebelum nantinya Krisna menyadari debaran dadanya. Tanpa sadar Raka memeluk pinggang Krisna, tapi wanita itu melepaskannya. Dia segera bangkit, namun ketika berdiri tali kimono yang dipakainya terlepas. Untung saja dia memakai kaos dalam berwarna hitam sehingga Raka tidak melihat dengan jelas.
"Apa lihat-lihat? Dasar mesum suka cari kesempatan dalam kesempitan!," umpat Krisna membuat Raka memalingkan wajah.
"Hancur sudah reputasiku! Selalu saja kamu mengetahui isi kepalaku! Kenapa juga kamu pakai kaos, coba kalau kamu nggak pakai apa-apa! Dipikir gampang cari moment seperti ini?," gerutu Raka dalam hati.
"Rakaaa lepaskan aku!," teriak Krisna hingga sampai ke luar ruangan membuat banyak karyawan berdatangan.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa berteriak? Apa kamu tidak malu jika mereka melihat kita seperti ini?," ucap Raka dengan membekap bibir Krisna.
"Brak" pintu terdengar di buka paksa.
Masih dengan posisi yang sama, beberapa karyawan melihat Raka dan Krisna masih di sana. Seperti mendapat kekuatan seribu tangan, Krisna segera berdiri dan dengan santainya menasehati Raka.
"Raka, tolong jangan pernah kamu memperlakukan saya seperti itu! Tolong jaga juga harga diri kamu sebagai laki-laki! Aku tidak suka mempunyai teman seperti kamu," ucap Krisna kemudian pergi ke luar ruangan.
"Permisi," ketus Krisna ketika melewati pintu yang penuh dengan karyawan.