My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 92 Ibadah



Jika saat ini boleh memilih, aku ingin memilihmu sebagai teman untuk menikmati masa tua bersama.


Namun jika terpaksa aku harus mengikuti alur takdir, aku tidak akan dengan senang hati menjalaninya karena aku percaya seperti apa kita memaksa, seperti apa kita mengejarnya, jika dia tidak berjodoh dengan kita maka alam yang akan memisahkannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Poda mengintip dari ujung pintu yang terbuka. Dia berniat mengintip Krisna, tapi ketika mendengar pintu terbuka membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya.


"Sial! Mau diintip malah ngintip orang lain," gumam Poda.


Krisna masih memincingkan mata mengamati sandal laki-laki didepannya. Wanita itu selalu ingin tahu urusan orang lain maka tidak heran jika dia sering mendapat Omelan dari Raka ketika di kantor.


Wanita yang baru selesai mandi itu tidak menyadari kehadiran Poda. Bahkan ketika Krisna memincingkan mata membuat Poda juga ikut memincingkan mata. Krisna heran dengan apa yang dilihatnya, sedangkan Poda heran dengan apa yang dilihat kekasihnya.


Tanpa diduga, Krisna mengambil sandal yang tergeletak di depan pintu. Mencari nomor ukuran di bagian belakang, lalu mencoba memakainya.


"Masih sisa, tapi sisa dikit! Em, sebenernya muat sih," gumam Krisna.


"Dasar aneh, udah kepo, ngeselin, kurang kerjaan juga," batin Poda.


"Brak," terdengar suara seperti menggebrak meja dari dalam kamar.


Mendadak Krisna melepaskan sandal yang dipakai. Wanita itu takut jika pemilik kamar keluar dan memergoki dirinya sedang mencoba sandal di depan pintunya.


Krisna segera lari menuju kamarnya. Namun di hadang Poda di dipan pintu. Sontak saja Krisna menabrak Poda. Wanita itu menjerit seperti melihat hantu di kamarnya.


"Wuuaaaaa! Kenapa kamu disini?," teriak Krisna.


"Berisik!," ketus Poda dengan tangan kamar menutup bibir Krisna.


Laki-laki itu menatap Krisna tajam seperti ingin memangsanya hidup-hidup. Harusnya Poda yang berteriak dan marah ketika melihat Krisna mencoba sandal laki-laki lain bukan Krisna yang marah-marah seperti ini.


"Lepasin! Sakit tahu," ucap Krisna susah payah karena dibekap Poda.


Poda tidak mengalihkan tatapannya. Kini laki-laki itu memelototkan mata tepat di depan mata Krisna. Membiarkan keduanya saling beradu pelototan.


"Diam!," ucap Poda lirih namun penuh penekanan.


Krisna mengangguk pertanda dia menyetujui ucapan Poda. Wanita itu diam dan tidak berontak. Melihat wanita di hadapannya menurut, Poda segera melepaskan tangannya.


"Fiiyyuuhhh, akhirnya lepas juga! Dari tadi kek, ngapain harus nunggu ngos-ngossan dulu," gerutu Krisna seraya bernafas lega.


"Kamu kalau didiemin lama-lama bisa nglunjak, apa nggak sadar diri heh?," sindir Poda.


"Aku? Eh, aku kan nggak ngapa-ngapain kenapa harus sadar diri," dengus Krisna kesal.


Pasalnya wanita itu memang tidak tahu apa salahnya. Jangankan untuk mengetahui kesalahannya, dia saja menganggap jika mencoba milik orang lain bukanlah dosa. Justru itu membuat orang lain menjadi ibadah karena meminjamkan miliknya.


"Masih nggak paham juga?," tanya Poda.


"Nggak akan paham karena aku memang nggak salah," jawab Krisna.


"Hei wanita menyebalkan kenapa aku bisa jatuh cinta padamu hah?," dengus Poda kesal.


"Aku memang muda dan menggoda, kamu pantas jatuh cinta padaku! Lalu kenapa? Apa kamu menyesalinya?," tanya Krisna dengan kesal.


"Hish, bukannya paham malah nglunjak!," jawab Poda.


Krisna masih saja menggerutu padahal Poda tidak membuka suaranya. Sementara kedua telinganya mulai panas mendengar ocehan Krisna yang tiada henti.


Wanita itu menyalakan TV dan merebahkan diri di kasur. Kebiasaan yang tidak pernah membuatnya bisa meskipun dilakukan berkali-kali. Tentu saja tidak bosan, siapapun juga akan merasa seperti itu. Bahkan bisa dikatakan jika rebahan adalah hobi yang paling menyenangkan.


Kembali laki-laki bernama Poda menatap Kris a dengan sinis. Dia merasa heran kenapa justru wanita itu yang marah bukan dirinya. Padahal jelas Krisna yang melakukan kesalahan sementara Poda hanya menegurnya.


"Apakah televisi lebih penting daripada kehadiranku? Ingatlah bahwa aku selalu memelukmu saat kamu kedinginan bukan TV bututmu itu," ejek Poda.


"Hm pergi sana!," usir Krisna.


"Tidak menjawab pertanyaanku malah mengusirku," dengus Poda.


Krisna melirik laki-laki itu sekilas. Tampak jika dia sedang mengerucutkan bibir dan menyilangkan tangan di depan dadanya. Namun Krisna tetap acuh kepada laki-laki itu.


"Wanita selalu benar jika kamu lupa," ucap Krisna santai.


"Aku tidak lupa hanya saja laki-laki selalu berna*su besar jika kau lupa," ucap Poda tak kalah santai.


"Dasar mesu*! Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta kepada laki-laki seperti ini?," gerutu Krisna dalam hati.


Wanita yang masih dalam posisi rebahan mengacuhkan Poda. Berpura-pura santai dan tidak memperdulikan Poda meski sebenarnya hatinya sedang kacau oleh ucapan Poda. Lima menit laki-laki itu menunggu Krisna berbicara, tapi tidak mendengar apapun.


"Hm, sepertinya drama baru akan dimulai," gumam Poda.


Masih dengan sekuat tenaga menahan hatinya agar tetap santai menghadapi laki-laki di depannya. Poda semakin menambah aura dingin dalam wajahnya. Semakin tajam menatap Krisna dan bahkan laki-laki itu tidak mengalihkan pandangannya barang sedetikpun.


Krisna menelan ludah dengan susah payah. Sungguh dia tidak ingin melihat sisi dingin Poda dengan jelas. Wanita itu sudah muak melihat semua perlakuan Poda di masalalu. Mungkin jika tahu di masa depan akan seperti ini, Krisna memilih untuk tidak melanjutkan hubungannya.


"Hampir sepuluh menit," gumam Poda.


Melihat reaksi Krisna masih sama, Poda perlahan berjalan menuju kasur. Jujur saja sebenarnya aura negatif sudah menguasai jiwanya, tapi Poda masih berusaha bersikap sewajarnya. Tidak mungkin melakukan perjuangan yang nantinya hanya sia-sia.


Semakin dekat hingga Poda tepat berdiri di samping kepala Krisna. Wanita itu bergidik ngeri ketika merasa bulu halus yang ada di kaki Poda menyentuh pipinya. Bukan rasa hangat yang menjalar di wajahnya, namun rasa takut yang amat dalam sedang berlari di dalam hatinya.


"Please jangan mendekat," pinta Krisna dalam hati.


"Masih tidak menganggap kehadiranku? Baiklah jika itu maumu," ucap Poda dengan penuh penekanan di setiap kata yang dilontarkan.


"Ada apa?," lirih Krisna.


Mau atau tidak wanita itu harus memaksa agar bibirnya mampu bicara. Rasa kelu mendadak hilang ketika mendengar suara berat Poda yang menandakan laki-laki itu sedang berbicara serius dan tidak mau dibantah.


Poda membungkukkan badannya dan berhenti tepat di telinga kanan Krisna. Menghembuskan nafas lembut disana serta membisikkan sesuatu.


"Apa kamu tidak bisa sedikit bersikap baik kepadaku?," bisik Poda.


"Ah maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Krisna gugup.


"Lalu sikap seperti apa yang kau maksud," bisik Poda lagi.


"Berhenti bisikin aku ayang beb!," jerit Krisna dalam hati.


"Sikap manismu seperti saat kita berdua menikmati indahnya malam dengan penuh cinta eh,"ucap Kris a keceplosan dan wanita itu segera menutup mulutnya.


"Haha kenapa kamu menutupnya? Bukankah itu adalah bisikan dari hatimu?," ucap Poda di sela tawanya.


Setelah mendengar jawaban Krisna, laki-laki itu segera berdiri menjauhkan badannya. Berjalan mencari gelas dan menuang air putih disana. Lalu membawanya ke tempat Krisna berada. Poda sangat mengerti jika saat ini Krisna gugup oleh karena itu dia berusaha menghilangkan kegugupannya.


"Minumlah," ucap Poda seraya memberikan gelas kepada Krisna.


"Terima kasih," tukas Krisna yang sedang menerima gelas dari Poda.


"Sudah habis," lirih Krisna.


"Baiklah aku akan mengembalikan gelas ini," ucap Poda seraya mengambil gelas dari tangan Krisna.


Berjalan menuju tempat dimana tadi dia mengambil gelas lalu meletakkan gelas kotor yang dibawanya disana. Poda juga merasa haus, lalu segera menuang air di bekas Krisna seraya bernyanyi.


"Hingga Nabi minum di bekas bibirnya oh Aisyah," gumam Poda.


"Hingga Poda minum di bekas bibirnya oh si Krisna," imbuh Poda.


Selesai minum Poda kembali berjalan ke arah Krisna. Laki-laki itu tidak berdiri seperti tadi melainkan langsung meloncat di kasur samping Krisna yang kosong. Jelas saja kosong karena kasur ukuran jumbo hanya untuk satu orang.


"Hish, mengganggu hariku saja," desis Krisna.


"Ayolah sayang aku bingung mwlihatmu seperti ini," tukas Poda.


Sontak Krisna menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu ingin tertawa mendengar ucapan Poda, namun dia takut dosa. Jika wanita selalu benar, maka Krisna berpikir jika laki-laki di hadapannya ini selalu benar.


"Heh?," ucap Krisna.


"Apa?," ketus Poda.


"Tidak papa," tukas Krisna.


"Em baiklah," gumam Poda.


"Kenapa jadi garing gini sih? Kan nyebelin," gerutu Krisna dalam hati.


Suasana hening mencekam keduanya. Membuat sore hari yang mendung semakin memperkuat auranya. Tiba-tiba petir menggelegar membuat Krisna tanpa sengaja langsung memeluk Poda.


Jangan tanya bagaimana sikap Poda. Tentu saja laki-laki itu tersenyum sinis karena menang dalam aksi saling diamnya. Poda mengklaim jika dirinya bisa bertahan karena tidak berbicara terlebih dulu, tapi Krisna tentu saja wanita itu kalah.


Tidak bisa di dipungkiri wanita yang sejak dulu sangat menyukai hujan namun amat membenci petir itu ketakutan. Bagaimanapun dia tidak akan membiarkan telinga kesayangannya mendengar suara menggelegar.


Dengan sedikit isak tangis dia menutup kedua telinganya lalu bersembunyi di pelukan Poda. Wanita itu lebih memilih mendengar debaran dada daripada mendengarkan suara yang membuat jiwanya runtuh seketika.


Poda memeluk Krisna dengan erat. Laki-laki itu sudah hafal kebiasaan Krisna seperti saat ini. Semua pikiran mesu* dan ide jahilnya dilupakan begitu saja. Dia bukan laki-laki brengs*k yang akan dengan sengaja melakukan semua kebej*tannya sementara wanita yang dicintainya sedang ketakutan.


"Ssttt tenanglah, aku ada disampingmu," bisik Poda tepat di telinga Krisna membuat wanita itu merasa hatinya menghangat.


"Aku takut," lirih Krisna.


"Aku tahu, tapi tenanglah," ucap Poda seraya mengusap punggung Krisna dan mengecup puncak kepalanya sekilas.


Semakin lama Krisna menutup kedua telinganya semakin kuat membuat Poda juga memeluknya semakin erat untuk menenangkan. Tidak selang lama hujan rintik-rintik mulai terdengar seiring suara guntur yang perlahan menghilang.


"Tenangkan dirimu sayang, percayalah aku akan tetap disini," ucap Poda menenangkan.


Krisna mengangguk mendengar ucapan Poda yang membuatnya sedikit lebih baik. Setelah di rasa suara guntur benar-benar hilang, Krisna segera membuka telinganya dan meniupkan angin disana. Tentu dengan cara tangan di posisi seperti menggenggam lalu meniupnya, kemudian ditempelkan ke telinga.


Wanita itu beranggapan jika cara tersebut efektif untuk menghilangkan dengungan di kupingnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi karena dia adalah wanita langka, maka jangan heran dengan apa yang di perbuatanya.


"Sudah merasa lebih baik?," tanya Poda.


"Iya, dia sudah pergi kan?," jawab Krisna dengan pertanyaan.


"Dia siapa? Dari tadi kita cuma berdua, jangan bilang kalau kamu lihat yang aneh-aneh," gerutu Poda.


"Dia si Guntur yang menggelegar tadi," ucap Krisna santai.


"Astaga! Dia katamu? Dasar wanita aneh, baru sekarang aku tahu ada yang beranggapan jika Guntur adalah dia," tukas Poda.


"Hehehe karena aku sangat membencinya," lirih Krisna.


Poda semakin gemas ketika melihat Krisna tertawa seperti tidak punya beban apapun. Juga tidak merasa berdosa atas apa yang diucapkan. Laki-laki itu mengacak rambut Krisna karena sangat gemas melihat tingkah yang menurutnya manja.


"Gadis kecilku sudah kembali menyebalkan," gumam Poda.


"Argkk menyebalkan," gerutu Krisna seraya mengalihkan tangan Poda dari kepalanya.


"Terlalu sering mengacak rambut seseorang itu adalah perbuatan tidak terpuji," dengus Krisna kesal.


"Darimana kamu tahu? Tapi menurutku kamu menggemaskan hingga aku tidak bisa berhenti melakukannya," ucap Poda santai.


Krisna cemberut dan memanyunkan bibirnya. Dia seperti anak kecil yang minta es krim kepada orang tuanya. Poda semakin gemas melihat bibir Krisna seperti pantat bebek.


"Eh, em halo pantat bebek, atau pantat itik, atau mungkin pantat burung?," tanya Poda dengan tawanya.


"Berhenti mengejekku seperti itu!," gerutu Krisna.


"Maaf," lirih Poda dengan kembali mengacak rambut Krisna lalu berlari keluar kamar.


"Ih, apaan sih," dengus Krisna sebal.


Wanita itu hendak mengejar Poda, tapi mengingat di luar hujan akhirnya dia hanya mengintip lewat jendela. Mengamati pergerakan apa yang akan dilakukan Poda. Laki-laki itu memindahkan matic kesayangannya mendekat ke arah pintu.


Membiarkan maticnya merasakan keteduhan seperti sang empu. Beruntung benda dengan dua roda itu hanya terguyur sedikit karena Poda dengan segera keluar dan menuntunnya.


"Kirain mau pergi," gumam Krisna.


Mengambil handuk yang tersampir di jemuran, Poda bermaksud mengeringkan rambut basahnya. Sebenarnya dia ingin Krisna mendekat karena pesonanya, tapi baru saja wanita itu ketakutan sepertinya akan sia-sia jika Poda berharap begitu.


Sementara di dalam kamar, setelah mengintip Poda wanita itu kembali ke kasur. Melanjutkan acara TV yang sempat terjeda karena keadaan alam yang tidak bisa ditunda.


"Acaranya jelek kaya Poda padahal tadi keren," gerutu Krisna.


Poda baru saja masuk ketika Krisna mengucapkan gerutunya. Laki-laki itu mencebikkan bibir. Bagaimana mungkin dia iba dengan wanita yang selalu mengucapkan sumpah serapah kepada dirinya.


Ide jahil kembali muncul ketika mendengar penuturan Krisna. Kini Poda tidak perduli lagi dengan wajah iba Krisna. Laki-laki itu terlanjur gemas mendengar ucapan Krisna membuat jiwa usilnya muncul kembali.


"Selalu saja menggemaskan," lirih Poda seraya menggelengkan kepala.


Krisna mengganti chanell lain, tapi tidak menemukan yang menurutnya bagus untuk ditonton. Kembali wanita itu menggerutu dan kali ini lebih parah daripada tadi yang diucapkan.


"Aish, semakin jelek! Apa acara bagus sudah tamat?," gerutu Krisna.


Poda segera mendekat mendengar ucapan Krisna. Dia bermaksud menghukum Krisna dengan caranya sendiri. Tentu tidak dengan kekerasan, tidak juga dengan sebuah kecupan. Namun dengan sebuah dekapan yang tentunya menghangatkan.


Laki-laki itu memeluk Krisna dari belakang. Seharusnya Krisna tidak tahu jika Poda akan memeluknya, tapi tiba-tiba Indra pendengarannya menangkap derap langkah yang seperti asing dari biasanya. Serta aroma parfum yang khas membuat Krisna semakin yakin jika yang melakukan adalah Poda.


"Emh sayang, lepasin aku," lenguh Krisna,".


"Tidak akan, aku mendapatkanmu susah payah sayang," gerutu Poda.


Poda hanya mengangguk mengerti bagaimana keadaan Krisna. Namun jika dia tidak lagi mengerti, entah apa yang nantinya akan terjadi.