My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 125 Baby



Aku mencintaimu dalam diam


Karena aku sadar dunia begitu kejam


Bagaimana waktu menyatukan jika akhirnya saling melupakan


Dalam bimbang resahku tidak menjadi tenang


Dalam kelam risauku tidak bersama alam


Aku hanya bulir air yang akan terbuang


Kala pagi menyambut sesuatu yang hilang


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Terima kasih untuk penantian yang tidak akan kulupakan. Aku mencintaimu dan akan tetap bersamamu meski kelak sesuatu akan memisahkan," gumam Terry.


Sorot mata yang teduh, rambut hitam tebal serta bibir seksi kemerahan. Krisna baru menyadari ketampanan alami yang dimiliki Terry. Selama mereka bersama, wanita itu tidak pernah mengamati Terry sedekat ini. Pun ketika mereka tidur di ranjang yang sama, sekedar melirik saja Krisna tidak terpikir.


Jangan menyalahkan keadaan meski terpaksa berjauhan. Jarak bukan masalah selagi kita bisa saling mengalah.


"Cinta, terima kasih masih abadi di dalam sana. Jangan pernah sedikitpun kau ubah suka menjadi kecewa. Aku belum menginginkan, namun setidaknya masih ada secuil harapan. Hatiku masih tertinggal di masanya. Di tempat yang membuatku sulit untuk melupakannya. Aku mencintainya setulus aku menyayanginya. Berusaha menjaga, tapi dia selalu merusaknya. Jika cinta adalah keikhlasan, maka mulai detik ini aku akan berusaha merelakan. Iklhaskan yang tidak mampu membuatmu bertahan. Lalu inginkan yang kiranya mampu membuatmu nyaman," gumam Krisna membalas ucapan Terry.


Hamparan laut menjadi saksi keduanya mengukir janji. Andai saja pertemuan antara laut dan langit cinta sejati, ingin rasa mereka berlari untuk mengikuti.


"Oleh karena laut mencintai langit, dia memilih peraduan sebagai tempat untuk saling merindukan. Seperti saat aku dan kamu tidur bersebelahan, ingin rasanya aku membuatmu mengerang keenakan," kekeh Terry.


Mendengar ucapan mesum dari Terry, Krisna menjauhkan tubuhnya. Wanita itu tidak mungkin membiarkan Terry bertindak seenaknya.


"Menjauhlah, aku tidak ingin bersentuhan dengan jiwa mesummu," usir Krisna dengan nada jengkel.


Sedikit saja Terry tidak menggodanya, mungkin membuat hidup wanita itu tenang. Namun tidak untuk Terry. Justru laki-laki itu tidak akan tenang jika berhenti melakukan.


Sejak awal pertemuannya dengan Krisna, dia memiliki kebiasaan baru. Entah darimana semua bermula. Namun Terry hanya mengingat jika apa yang dilakukan Krisna menjadi bahan bulian untuknya.


Seringai tipis membuat Terry terlihat semakin menggoda. Apalagi ketika dia mengenakan jaket jeans seperti saat ini. Membalut Pol* t-shirt hitam di dalamnya.


"Nggak niat mau meluk lagi? Apaan sih nggak romantis ternyata," batin Krisna hingga tanpa sadar wanita itu mengerucutkan bibir.


"Hei, ada apa denganmu? Apa bibir itu minta dicium lagi?," goda Terry bersama senyumnya yang merekah.


"Hm?," gumam Krisna gugup.


Ucapan Terry membuyarkan lamunannya. Beruntung laki-laki itu sudah hafal kebiasaan buruknya sehingga Krisna tidak perlu melakukan pencitraan di depannya.


"Kenapa harus melamun jika obyek lamunanmuberada di sini?," ucap Terry santai.


"Astaga, kenapa aku harus menaruh hati kepada laki-laki ini," dengus Krisna.


Bertanya kepada diri sendiri lebih baik daripada bertanya kepada tersangka. Jika mereka bersama, apa mungkin Terry masih mengabadikan keusilannya. Bisa jadi dia akan semakin dalam melakukannya.


"Gimana kalau Terry bakal berhenti begituan pas aku lagi di bawahnya? Ah entah! Sadar woey! Kenapa ikutan mesum gini sih," rutuk Krisna dalam hati.


"Baby," ucap Terry lirih.


Meskipun lirih, Krisna masih bisa mendengarnya. Hanya saja wanita itu memilih diam karena tidak tau siapa yang sebenarnya dipanggil Terry.


Saat hanya berdua seperti ini, dia sengaja ingin membuat suasana romantis. Namun wanita yang menyebalkan menurut Terry, tapi bisa meluluhkan hatinya malah merusak semuanya.


"Memanggilku? Sejak kapan dengan kata baby?," tanya Krisna bingung seraya menunjuk dirinya.


"Oh shit!," umpat Terry pelan.


Pelan dan penuh penekanan karena laki-laki itu merasa kesal dengan Krisna. Saking kesalnya, bola mata miliknya refleks berputar. Semacam tubuh yang syok mendengar decitan ban menyatu dengan aspal.


"Aku harus memanggilmu apa? Sayang, aku memanggilmu. Seperti itukah yang kamu mau?," tukas Terry.


Dengan tatapan tajam seakan menghunus pandangan, Krisna memilih diam. Dia tidak takut dengan tatapan Terry, tapi merasa risih jika laki-laki itu melihatnya seperti itu.


Susah payah Krisna menelan ludahnya. Jarak dekat, aroma maskulin dan ketampanan membuat dadanya bergetar hebat. Hampir saja lututnya melemas jika dia tidak ingat dimana mereka berada sekarang. Pesona Terry kali ini mampu melumpuhkan penolakannya.


Sirna begitu saja berganti keinginan untuk menguasainya. Krisna benci situasi seperti ini. Saat dimana dia harus lemah karena sesuatu yang sulit ditelaah.


"Please, jangan seperti ini. Menjauhlah!," batin Krisna.


Dari sorot matanya, wanita itu terlihat gelisah. Terry menyadarinya. Mungkin ini saatnya untuk membalas kelicikan Krisna. Wanita itu selalu menolak permainannya. Bukan dia yang salah, tapi Terry yang ingin selalu mendesah.


"Baby," ucap Terry dengan suara serak beratnya.


"Ayolah, aku tau kamu tidak akan mampu menolakku lagi," pikir Terry.


Krisna berusaha menahan gejolaknya, tapi dia berperilaku sebaliknya. Mereka berdekatan, dengan berani Krisna memeluk leher Terry serta menatapnya dengan kilatan ingin memangsanya.


Puas dengan situasi di depannya. Seakan dunia berpihak padanya. Namun mendadak Terry sadar jika mereka berada di alam terbuka.


"Damn! Kenapa bisa lupa!," umpat Terry.


Kini berganti seringai licik terukir di bibir Krisna. Wanita itu puas karena secara tidak langsung Terry mengakui kekalahannya.


"Akhirnya kamu berada di bawahku. Bagaimana mungkin seorang Terry yang kental akan kehidupannya bisa gusar hanya karenaku," gumam Krisna.


Darah mengalir cepat berpacu ke seluruh nadi. Terutama menjalar di sekitar wajah. Terry merasa wajahnya merah seperti tomat.


Awalnya berpikir untuk membuat Krisna menginginkannya. Namun berakhir dengan fantasi gilanya. Terry merutuki kebodohan yang dimiliki. Nyatanya laki-laki itu menyadari jika dia dan Krisna hampir sama.


Bodoh di berbeda hal yang membuatnya paham jika tidak selamanya yang sempurna terlihat nyata. Baru kali ini Terry kalah dengan wanita. Dengan terang menghadapi wanita yang juga menantang.


Lain halnya dengan yang pernah bersamanya. Terry sedikit memancing, mereka dengan suka rela terpancing. Tidak berlaku untuk Krisna. Semakin dipancing, wanita itu akan kembali memberi umpan.


Sulit diartikan bagaimana isi kepalanya. Sekali lagi Terry menyadari wanita yang selalu lemah di sampingnya adalah wanita penuh dengan sejuta misteri tanpa terduga.


"Aku mengakui kecerdasanmu," puji Terry dengan tulus.


"Apa kecerdasan semacam selalu dikecewakan?," tanya Krisna malas.


"Bukan seperti itu, aku mengerti otakmu berada di atas rata-rata. Hanya saja kamu belum menemukan bersama siapa kamu mengasahnya," jawab Terry.


"Lalu kepada siapa aku akan memperlihatkannya? Jika sekedar mengasah saja aku tidak bisa," ucap Krisna dengan wajah murung.


"Kita hampir sama. Aku akan mengujimu di ranjang," kekeh Terry seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Aargghhkk menyebalkan! Aku benci laki-laki sepertimu," tukas Krisna cepat.