
Hampa
Kini kau hadir berselimut duka
Menggulung pergi bersama lara
Kini
Kosong sepi merasuk hati
Menjamah lirih guratan nadi
Pulanglah
Tolong kembali
Ingatkah kau tentang hati yang kini sendiri
Dimana janji yang pernah kau ingkari
Akankah selamanya kau begini
Berjanji hanya untuk diingkari
Lupakah kau akan janji antar jemari
Meremas erat saling mengisi
Membius diri sepanjang hari
Hampa
Dimana kau simpan sebuah rasa
Mengapa aku tak lagi merasakannya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kenapa nggak jalan? Liat itu di belakang macet!," teriak pengemudi yang tadi mengklaksonnya.
"Maaf mobilku sedikit rewel, sebentar aku coba lagi!," teriak Raka dengan suara tak kalah keras.
Kini Raka melajukan mobilnya dengan sedikit menggerutu. Beruntung ada Krisna disebelahnya yang menenangkan. Dia tidak pernah membiarkan siapapun yang bersamanya dalam keadaan marah. Terlalu sering bersama Poda mengendarai motor dengan kecepatan tinggi ketika marah, membuat Krisna menjadi sedikit trauma.
"Jika saat ini Raka marah, mungkinkah dia juga akan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi?," batin Krisna.
Senyum yang tadi menghiasi wajahnya, kini berubah menjadi muram. Krisna menekuk wajahnya meski dia sendiri tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba merasa tidak nyaman. Mungkin khawatir Raka akan melakukan hal yang sama.
Setengah jam berlalu Raka tetap masih diam. Dia tidak berkata sedikitpun. Suasana hening menyelimuti perjalanan keduanya menuju puncak.
"Terus nanti pas udah sampai juga gini? Mending pulang aja nggak ada bedanya jalan sama Raka atau sama Poda," gerutu Krisna dalam hati.
"Kris, kok sepi banget?," ujar Raka tiba-tiba.
"Heh serius kamu bicara sama aku?," tanya Krisna.
"Dasar bodoh, mana mungkin aku bicara sendiri," umpat Raka dengan lirih. Meskipun begitu, Krisna tetap mendengarnya.
"Raka apaan sih dari tadi marah terus?," tanya Krisna.
"Ini mau lagu apa sepi banget kalau nggak ada musik," ucap Raka.
"Element~Rahasia Hati," jawab Krisna.
"Galau terus," tukas Raka.
"Bukan galau tapi enak didengerin," jawab Krisna.
"Sama aja kris," ucap Raka.
Tanpa disadari senyum tipis mulai terukir dibibir Raka. Sementara tangan kirinya mulai memutar volume pada speaker yang ada di dasboard. Menaikan dua tingkat agar suara musik bisa didengar. Memencet tombol naik dan mencari lagu itu.
"Kok nggak ada," tanya Raka.
"Entah," jawab Krisna acuh dengan mengetikkan sebelah bahunya.
"Arrrggghhhhh," Raka frustasi mendapat jawaban yang sama sekali tidak diharapkan.
Kembali memencet tombol hingga tidak bisa dinaikkan lagi. Lalu kembali memencet tombol "down" agar menemukannya. Sedangkan Krisna dari tadi hanya melirik Raka. Menunggu laki-laki itu bisa mencarinya atau tidak.
"Waktu terus berlalu
Hingga kusadari," Raka mendengarkan seksama nyanyian itu. Seperti pernah mendengarnya.
"Stop! Itu yang kucari, udah diemin aja jangan diganti," pinta Krisna.
Raka tidak menjawab perintah Krisna. Tanpa diminta pun Raka tidak akan memindahnya. Dia juga sepertinya pernah mendengar nyanyian itu. Tapi lupa dimana dan siapa yang memutarnya.
"Yang ada hanya aku dan kenangan
Masih teringat jelas
Senyum terakhir yang kau beri untukku
Tak pernah ku mencoba
Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Hanya dirimu yang pernah
Tenangkanku dalam pelukmu
Saat 'ku menangis
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu
Akan tetap kuarungi hidup tanpa cinta
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
Namun bila harus tanpamu
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Tak pernah ku mencoba
Dan tak ingin ku mengisi hatiku"
Sesekali Krisna dan Raka ikut bernyanyi. Menurut Krisna, lagu itu mewakili perasaannya. Hanya berbagi cinta dan sayang kepada seseorang. Berbeda dengan Raka yang sedari tadi mengingat dimana dianpernah mendengarnya.
"Oh ****! Denada! Ya, itu adalah nada dering di ponsel Denada," umpat Raka.
"Denada? Jadi sekarang dia perempuan yang mendekatimu?," tanya Krisna. Jiwa keingintahuannya muncul.
"Bukan," jawab Raka santai. Merasa tidak perlu menutupi apapun dari Krisna. Toh sekuat tenaga Raka mencari perhatiannya, Krisna tetap menganggap sebagai teman tidak lebih.
"Ceritain ya aku kepo," pinta Krisna.
"Udah bisa ditebak kalau kamu pasti tanya. hahhaha," kekeh Raka.
"Dasar playboy," gerutu Krisna.
"Kalau ngambek aku nggak jadi cerita," ucap Raka pura-pura marah.
"Eh, iya aku nggak marah tapi ceritain dulu Denada itu siapa," pinta Krisna.
Raka kemudian menceritakan masa lalunya. Mengingat kembali kenangan pahit itu dengan menatap jalan di depannya. Sesekali membunyikan klakson ketika ada pengendara roda dua yang melaju dengan kecepatan tinggi seenaknya.
Aku berasal dari keluarga berada yang hidup berkecukupan. Begitu juga dengan Denada. Dia adalah keturunan pemilik salah satu hotel terkenal di kota ini. Jarak usia diantara kita hanya dua tahun. Setelah lulus sekolah aku dan Denada berniat melanjutkan di kampus yang sama namun dengan jurusan yang berbeda.
Sesaat setelah daftar ulang dan kita dinyatakan diterima, Denada melakukan hal yang membuatku sangat marah. Denada duduk di taman kampus bersama laki-laki yang entah siapa aku tidak memperdulikannya. Mereka saling memeluk dan berciuman. Tepat ketika di depan mata, aku melihat Denada tertawa dan mencium bibir laki-laki itu. Aku mengabadikan moment pengkhianatan itu melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Hingga ketika mereka beranjak, Denada dan laki-laki itu sama-sama terkejut. Namun yang paling terlihat adalah keterkejutan Denada atas kehadiranku disana.
*Flashback ONN
"Raka, ini tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Denada.
"Kamu tau apa yang ku bayangkan?," tanya Raka dengan santai.
"Aku tau kamu pasti berfikir kalau aku selingkuh, tolong dengarkan aku," pinta Denada.
"Baik, sekarang jelaskan apa yang akan kamu jelaskan!," ujar Raka.
"Laki-laki itu namanya Jalu, kita satu jurusan dan aku tadi tidak sengaja menabraknya saat keluar dari ruang daftar ulang," ucap Denada.
"Cukup?," tanya Raka.
"Aku berniat minta maaf namun Jalu memberiku penawaran, dia akan memaafkan ku jika aku menciumnya, aku terpaksa melakukannya," jawab Denada.
"Kamu menciumnya terpaksa atau suka rela ?," tanya Raka dengan sinis.
"Aku terpaksa Raka, maafkan aku," ucap Denada dengan lirih.
"Kalau terpaksa kenapa kamu tersenyum saat memeluknya? Bahkan kamu terlihat seperti sedang menggodanya," tanya Raka.
"Em, eh ak-," jawab Denada yang belum sempat melanjutkan pembicaraannya.
"Kenapa? Kamu mengiginkannya kan? Aku tidak menyangka kamu serendah itu," tukas Raka.
"Raka maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya," rayu Denada dengan menggenggam erat tangan Raka.
Raka enggan membiarkan Denada menggenggam tangannya. Namun dia tidak kuasa untuk menolaknya. Membiarkan hatinya berkecamuk hingga akhirnya Denada pergi bersama tangisannya.
*Flashback OFF
Raka tersenyum sinis mengakhiri ceritanya. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa semua wanita hanya mempermainkan hatinya dan nya menginginkan hartanya.