
Senjaku bertemu diruang rindu
Menyapamu sebagai pemuja rahasiaku
Aku tidak tau apa yang kurindukan darimu
Ketika aku begitu tulus mencintaimu
Kamu dengan sengaja melukis luka dibelakangku
Mengukir cinta, mungusik dusta dan menulis cerita berbasis sandiwara
Aku tidak pernah sekalipun membencimu
Ketika kamu masih dengan tega membohongiku
Tapi kamu dengan kejam tega mengkhianatiku
Tidak hanya pengkhianatan
Namun juga menggenggam bara di atas api melata
Tahukah kamu apa itu kecewa
Kecewa adalah rasa dimana kita tak lagi dianggap ada
Ketika kita berdiri bersama
Namun merasa hanya sebatang kara
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Salahnya waktu kenapa mempertemukan kita di saat yang salah," gumam Krisna.
Raka semakin gemas melihat tingkah Krisna seolah-olah waktu yang salah. Semakin gemas lagi ketika mendengar wanita itu bergumam namun dengan wajah polos. Andai saat ini bukan di dekat gerbang, pasti Raka sudah membawa Krisna ke dalam dekapannya. Namun sayang, mereka masih di sana dan di saksikan oleh scurity yang tadi menghampiri ketika mendengar Krisna berteriak.
"Diamlah," lirih Raka.
Kemudian Raka mengacak pelan rambut Krisna. Setelah itu meninggalkan wanita di depannya itu tanpa berkata-kata. Bahkan tidak mengatakan alasan yang tepat jika Poda dan Denada menganggap mereka berselingkuh.
Melihat kepergian Raka yang ternyata masuk ke kantor lagi membuat Krisna sedikit tenang. Jika seperti itu setidaknya Poda dan Denada tidak akan memergoki mereka. Krisna pun yakin jika tadi mendengar teriakannya. Namun dia bisa saja beralasan ada lebah atau tikus.
Perlahan Krisna kembali ke parkiran. Menghampiri motor kesayangannya. Dia mengurungkan niatnya untuk menemui Poda di luar karena Denada.
"Drttt.. drrttt.. drtt" ponsel milik Krisna berdering.
"Ya halo, kenapa? Aku mau pulang, sebentar aku akan pakai masker dan jaket sepertinya aku akan batuk jadi aku memakai masker," ucap Krisna dan segera mematikan ponselnya tanpa membiarkan Poda memaki dirinya.
Krisna kemudian memakai masker, memakai jaket dan melepas sepatunya. Menaruh sepatu kedalam jok, lalu memakai helm. Kini Krisna benar-benar akan hujan-hujanan.
"Bersiaplah hujan, aku akan menjemputmu," lirih Krisna.
Kemudian dia berlalu meninggalkan kantor. Menyisahkan sedikit kenangan disana. Mengingatkan jelas akan kebodohannya. Bahagimana mungkin dia lupa jika ada Poda yang menunggunya, sedangkan dia malah berteriak sekeras mungkin. Beruntung,Poda tidak langsung mengintip dari celah yang ada di gerbang itu.
"Kenapa lama sekali? Aku menunggumu dari tadi," tanya Poda.
"Maaf, ayo pulang aku tidak membawa jas hujan!," teriak Krisna.
Dia sengaja tidak turun dari motor bahkan tidak berhenti juga. Krisna juga sengaja tidak melihat ke arah Denada. Tidak mau nanti Denada mengenalinya.
Sementara Denada hanya memandang Krisna dengan jelas. Dia tidak tahu jika yang dilihatnya adalah Krisna. Bagaimanapun dia memang melihat Krisna dari dekat, namun hanya melihat ketika bersama Raka. Tidak tahu bagaimana motor dan jaketnya.
Poda segera menyalakan maticnya dan menyusul kepergian Krisna. Sore itu sepertinya hujan deras akan turun. Poda juga tidak mau menunggu lama. Tidak mau menunggu gerimis menjadi deras. Meninggalkan wanita yang tadi berada di belakangnya seorang diri.
Setengah jam berlalu, Denada masih di sana. Menunggu dengan kesal karena orang yang ditunggunya tak kunjung keluar. Kantor juga semakin sepi. Semenjak dia berada di sana, hanya ada tiga orang yang melewatinya.
"Shit! Kenapa Raka tidak keluar juga? Apa dia sudah pulang?," gerutu Denada.
Akhirnya wanita itu menuju ke pos security. Bertanya kepada security dimana keberadaan Raka. Dia sudah lelah menunggu di sana.
"Permisi pak, apakah Raka ada di dalam?," tanya Denada.
"Maaf mbak, mbak mencari Raka siapa? Di sini Raka tidak hanya satu," jawab security.
Denada sendiri tidak tahu apa bagian Raka di kantor itu. Dia hanya tahu nama panjang Raka. Tapi bukankah jika nama panjang tidak mungkin semua orang mengetahuinya. Kecuali jika dia adalah orang penting.
Menge luarkan benda pipih dari dalam tas brandednya. Mencari photo Raka di sana. Denada sengaja menunjukkan Poto dirinya dan Raka agar security itu tahu siapa dirinya. Sedangkan Denada, dia berharap jika di sana Raka memiliki jabatan tinggi agar di tidak malu mencari Raka.
"Raka yang saya cari adalah laki-laki yang berada di photo ini pak," ucap Denada seraya memperlihatkan ponselnya kepada security.
"Oh ini, baru saja dia dari gerbang bersama Krisna. Mereka berdua tadi seperti mengintip seseorang lalu tiba-tiba Raka pergi setelah mengacak rambut Krisna," jelas security.
"Apa? Mengacak rambut wanita itu?," gumam Denada.
"Iya, mereka memang dekat bahkan sudah menjadi rahasia umum jika Raka semakin gencar mendekati Krisna, namun Krisna selalu menolak menjadi kekasihnya," jelas security.
"Damn! Dasar wanita jal*ng! Kenapa kamu merebut pacar orang? Tidak bisa cari pacar sendiri? Bukankah tadi dia dijemput pacarnya!," umpat Denada sinis.
Security hanya diam mendengar umpatan Denada. Dia tahu wanita itu sengaja mencari Krisna dan Raka. Raka sudah memberitahunya melalui panggilan ketika dia masuk kantor tadi.
"Wanita itu adalah Denada, aku pernah memergokinya berselingkuh di depan mataku, jadi tolong, apapun alasannya untuk menemuiku jangan pernah izinkan dia!," ucap Raka saat melakukan panggilan tadi.
"Apa Raka sudah pulang?," tanya Denada.
"Sudah," jawab security.
Denada yakin Raka belum pulang. Namun dia kesal kepada security yang mengatakan jika Raka mengejar Krisna. Bagaimana mungkin sekarang Raka mencintai wanita seperti itu dan menolak kehadiran Denada. Meski tidak ada yang tahu bagaimana cara hati mempermainkan insanya, namun tidak ada yang bisa menolak kehadiran cinta di dalamnya.
Dengan hati kesal, Denada melihat sekeliling parkiran. Mencari motor Raka di sana. Namun tidak menemukannya.
"Kenala tidak ada? Apa dia benar- benar sudah pulang? Tapi kenapa aku tidak melihatnya?," gumam Denada.
Kemudian Denada berlalu memasuki kantor tanpa berkata-kata, namun segera di cegah oleh security yang lain.
"Maaf mbak, kantor ini sudah sore dan hampir tutup jadi silahkan mbak keluar dari sini," ujar security itu.
"Sial! Kenapa aku diusir seperti ini?," umpat Denada.
Security itu berkali-kali menyuruh Denada untuk pergi dari sana hingga akhirnya wanita itu pergi. Meski dengan sedikit menggerutu. Denada merasa disana dia tidak dihargai.
"Entah, kenapa security itu tidak melirikku sedikitpun? Malah mereka mengusirku, benar-benar membuat harga diriku jatuh!," gerutu Denada.
Sampai di depan gerbang, Denada masuk lagi menuju pos security.
"Apakah yang terakhir keluar adalah Krisna?," tanya Denada tanpa basa-basi.
"Iya," jawab security malas.
"Maaf mbak, gerbang ini akan saya tutup," ujar security yang lain.
"Iya, aku akan keluar! Jangan mengusirku!," tukas Denada.