My Hidden Love

My Hidden Love
Akhir dari Sebuah Kekhilafan



Mungkin kita akan menyadari jika seseorang itu berarti setelah kita kehilangannya


Ingat, penyesalan selalu datang dibelakang karena kalau di depan namanya pendaftaran


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Aku lelah menghadapi semuanya. Laki-laki yang seharusnya menuntunku dalam kebenaran justru menjatuhkan ku teramat dalam. Menyisahkan bongkah kenangan yang aku sendiri tidak bisa memahami. Seperti api yang sulit padam ketika sudah menunjukkan amarahnya. Aku ingin pergi dari dunia ini, jika saja aku tidak perduli denganmu kakak. Hanya kamu tempatku bersandar seperti sekarang. Aku tidak punya tujuan lain. Bahkan kamu sendiri sangat mengerti seperti apa hancurnya hidupku di mata keluargaku," ucap Krisna di tengah isaknya.


"Ssttt, aku selalu di sampingmu," bisik Terry.


"Andai kamu tahu, setelah dia pergi aku juga sendiri. Hanya kamulah satu-satunya penyejuk jiwaku," tambah Terry.


Terry medekap Krisna yang masih sesenggukan dalam tangisnya. Dengan kasih sayang yang tulus, Terry memberanikan diri mengecup puncak kepala Krisna agar wanita itu berhenti menangis.


Tanpa di duga, Krisna justru semakin membenamkan wajahnya di dada Terry. Membiarkan aroma belagio milik Terry merasuki seluruh rongga hidungnya. Untuk saat ini hanya satu kata yang pantas untuk Krisna yakni kecewa.


Semakin erat Terry memeluknya, semakin erat pula Krisna membalas pelukan Terry. Dua insan yang tidak pernah menyangka jika kini mereka saling membutuhkan. Pertemuan yang selalu membuat mereka bertengkar ternyata membawanya ke dalam suatu dimensi bernama kasih sayang.


"Aku mencintaimu, meski aku sendiri tidak menyadari kapan rasa itu hadir. Jujur aku tidak pernah menyangka jika akhirnya kita sedekat ini," ucap Terry.


"Kamu menyebalkan! Mudah sekali hatimu mendua, dasar laki-laki playboy!," dengus Krisna kesal.


"Hei, lihatlah! Bahkan kamu lebih menggemaskan ketika menggerutu seperti ini," ucap Terry.


Krisna mendongakkan wajahnya untuk menatap Terry.


"Cup" Terry mencium bibir Krisna singkat laku melengos melihat ke arah lain.


"Dih, dasar mesum," ketus Krisna.


"Aku tidak peduli, bahkan kamu menikmati pelukan nyaman dariku! Atau kamu mau lebih dari ini?," goda Terry.


Sontak saja Krisna menjitak kepala Terry. Krisna melepaskan pelukan Terry lalu meminum semua coklat yang di pesannya.


"Ayo pulang," ajak Krisna seraya berdiri.


"Baiklah," balas Terry.


Keduanya pulang menuju ke kost Krisna. Bukan wanita itu tidak memikirkan Poda, tapi Poda sendiri yang membuatnya menjadi seperti sekarang.


"Karena kecewamu aku memilih menjauh darimu, karena keegoisanmu aku memilih merelakanmu, dan karena luka yang selalu ku rasa aku memilih mengakhirinya! Aku berjanji pada diriku sendiri jika aku akan melupakanmu meskipun itu sulit untukku," gumam Krisna seraya menatap potret Poda.


Terry kembali memeluk Krisna lalu mengecup pipinya singkat.


"Aku pulang," pamit Terry.


"Hati-hati," ucap Krisna.


Hari berlalu begitu cepat untuk Terry dan Krisna. Membuat hubungan keduanya semakin dekat. Terry tidak mempermasalahkan jika dia harus menjadi yang kedua. Yang dia inginkan saat ini hanya melihat wanita kesayangannya tersenyum meski bukan karenanya.


Seminggu berlalu dan hari ini adalah hari Minggu. Dimana mereka berjanji untuk pergi refresing melepas penat setelah suntuk bekerja dan jenuh dengan masalah yang dialaminya.


Saat ini Terry berada di motor KLX nya bersama Krisna yang duduk di belakang tubuhnya.


"Mau kemana?," tanya Terry antusias.


"Puncak," jawab Krisna seraya tersenyum puas.


Terry segera melajukan KLXnya menuju puncak yang sudah ditunjuk Krisna. Di sana, keduanya leluasa melakukan apapun yang menurut mereka menyenangkan. Terry tidak pernah sedikitpun melepas Krisna, meskipun wanita itu kerap kali meminta Terry untuk berhenti membuat pipinya merona.


"Cup" Terry tak segan-segan mengecup bibir Krisna ketika mendapati ada laki-laki yang meliriknya.


"Jika kebahagiaan ini tidak selamanya, setidaknya aku tidak terlalu menyesalinya. Karena jujur saja aku sudah lelah dengan janji palsu serta rayuan bejatmu," batin Krisna.


Sepanjang hari mereka selalu tersenyum dan tertawa hingga gelap berbintang mulai menyapa. Krisna mengajak Terry untuk pulang, namun laki-laki itu menolaknya.


Terry menghentikan KLX nya di tengah Padang rumput yang luas agar leluasa melihat langit yang berbintang.


"Indah, kamu suka?," tanya Terry.


"Tentu saja," jawab Krisna.


Terry memeluk Krisna, membenamkan kepalanya di leher wanita itu. Mengecup singkat, lalu menggigitnya.


"Terry lepaskan!," pinta Krisna seraya mendorong tubuh Terry.


Namun Terry tidak mendengarkan ucapan Krisna. Dia terus bermain dengan fantasinya sendiri. Hingga hampir lepas kendali, Krisna dengan sigap mendorong tubuh Terry. Laki-laki itu tersenyum licik lalu ******* bibir Krisna.


"Sstt, kali ini saja," bisik Terry.


"Tidak akan, aku khilaf menikmati dosa bersamamu. Mungkin lain waktu bisa lebih dari ini," ucap Krisna dengan gelak tawa.


"Haha, tentu aku tidak akan menolaknya," gumam Terry.


Malam berlalu begitu cepat meninggalkan Terry dan Krisna yang hanyut dalam kegelapan. Tentang hati yang tak kan pernah mengerti. Tentang jiwa yang belum pernah ternoda.


"Aku hanya manusia yang tak pernah luput dari dosa dan noda. Aku terlampau kecil untukmu yang berkuasa di atas kekayaanmu. Maaf, hanya itu kata yang mampu kuucapkan untuk menebus kekhilafan ku," ucap Krisna.


"Ssttt diamlah. Nikmati saja kebersamaan kita malam ini karena bisa jadi lusa kita sudah sadar dengan kesalahannya masing-masing," lirih Terry.


Wanita yang sedang dipermainkan perasaannya itu duduk memeluk lututnya sendiri. Hawa dingin menyelimuti tubuhnya sekalipun dia memakai jaket, namun tetap membuatnya menggigil.


"Hei, pakailah jaketku. Jangan pura-pura tegar, aku bahkan yang lebih sakit darimu tidak bisa sepertimu," ucap Terry seraya memakaikan jaketnya di tubuh Krisna.


"Terima kasih," lirih Krisna.


"Sama-sama," balas Terry.


Kini Krisna meluruskan kakinya karena tubuhnya tidak kedinginan seperti tadi. Tanpa di duga, Terry justru merebahkan kepalanya di paha Krisna membuat wanita itu merasakan panas pada wajahnya. Namun dia tidak mengalihkan pandangannya karena yakin Terry tidak akan melihatnya.


Perlahan Krisna mengusap rambut tebal milik Terry. Laki-laki itu memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang membuat jiwanya meronta. Krisna berusaha menghindari tatapan Terry kala wanita itu menatap rambut Terry. Dia teringat semua yang pernah dilaluinya. Luka tangis bahagia pernah mengombang-ambingkan hidupnya.


"Kenapa?," tukas Terry.


"Tidak papa," ucap Krisna.


"Wajahmu terlihat sendu," ucap Terry.


"Biarlah, aku hanya ingin menikmati setiap hembus nafas yang membawa pergi semua luka," lirih Krisna.


"Sudahlah, jangan bersedih. Ingat masih ada aku yang selalu disampingku. Apa kamu lupa jika kita ditakdirkan untuk bersama?," goda Terry.