My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 84 Bioskop



"Didaun yang ikut mengalir lembut," ponsel Krisna berdering menandakan ada panggilan masuk.


"Sebentar," tukas Krisna seraya menjauh dari Poda.


"Aarghh! Menyebalkan!," gerutu Poda.


Krisna segera menghampiri ponsel yang terletak di atas kasur, tiba-tiba beban berat seperti menindihnya. Hampir saja Krisna menggapai benda pipih itu, tapi lengan kekar menjauhkannya.


"Berat!," ucap Krisna tertahan.


Poda sengaja menindih Krisna dan menggunakam kedua tangan untuk mengunci tangan Krisna agar tidak bisa bergerak. Sementara Krisna tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan hatinya. Seperti akan pasrah, namun tidak ingin berhenti sampai disitu.


"Aku menginginkanmu sayang," bisik Poda tepat di telinga Krisna sambil sesekali meniupnya.


"Aku lapar," lirih Krisna pasrah.


"Baiklah," gumam Poda seraya bangun dari tubuh Krisna.


"Mengapa aku jadi seperti ini? Dasar memalukan!," gerutu Poda dalam hati.


"Sial! Woey Poda berhenti dong jadi laki-laki mesum! Nggak capek dari tadi mepet terus? Aku aja sebenernya juga mau tapi malu-malu hahaha," tukas Krisna dalam hati.


Keduanya lalu berjalan menuju makanan yang tidak lagi panas. Berkat keusilan Poda yang diciptakan, mereka makan dalam suasana canggung. Terkadang kedua insan itu saling melempar pandangan. Namun tetap saja suasana menjadi sedikit kaku.


Mengambil nasi dan lauk yang lebih sedikit lalu menyuapi Krisna. Wanita itu tidak bisa makan dengan porsi di sendok Poda karena menurutnya kebanyakan.


"Aak," ucap Poda.


Segera Krisna membuka mulutnya dan Poda memasukkan makanannya lalu mengunyah pelan. Poda tersenyum akhirnya Krisna luluh juga. Tidak seperti tadi yang selalu menggerutu dan marah-marah.


"Enak?," gumam Krisna.


Poda mengerutkan dahi karena harusnya laki-laki itu yang bertanya, tapi malah Krisna yang menanyakan hal itu. Benar, Krisna sudah seperti biasa menjadi wanita yang sedikit aneh lagi.


"Enak, bagaimana jika setelah ini kita pergi nonton," tukas Poda.


"Nonton kemana?," tanya Krisna polos.


"Ke bioskop, aku sudah membeli dua tiket untuk kita! Film dengan genre romance dan sedikit adegan dewasa, bukankah kamu sangat menyukainya?," jawab Poda dengan seringai liciknya.


"Tidak untuk adegan dewasa," gerutu Krisna seraya memanyunkan bibirnya.


"Bukankah kamu yang menyukai adegan seperti itu?," ucap Krisna lagi mencoba menggoda Poda.


Kemudian mereka tertawa bersama. Selesai makan, Krisna beres-beres lalu mandi bersiap menunggu Poda menjemput. Sementara Poda langsung pulang ke kost dan mandi tak lupa memakai kaos couple warna putih agar terlihat serasi. Dipadukan dengan celana berwarna hitam dan sepatu abu-abu. Penampilan yang menurut Poda terlihat tampan.


Ketika suara matic terdengar Krisna segera ke luar gerbang. Menghampiri Poda dan segera berangkat menuju bioskop yang dimaksud. Sepanjang perjalanan keduanya saling bercanda. Hingga perjalanan kurang lebih setengah jam terasa begitu cepat.


Sebelum masuk, Krisna membeli pop corn dan minuman sebagai camilan untuk di dalam. Poda memilih kursi yang berada di belakang paling pojok dengan temaram yang membuat Poda bisa melihat Kris a dengan jelas tanpa takut ketahuan.


Bukan tanpa alasan, tapi Poda yakin jika Krisna tidak akan suka duduk di depan karena akan tersorot oleh layar. Di pojok juga tidak hanya Krisna yang senang, namun Poda sudah siap dengan ide liciknya.


Film diputar menampilkan bagaimana cuplikannya membuat Krisna melotot seketika lalu memukul pelan bahu Poda.


"Sial! Kenapa kamu memilih ini? Jika seperti ini lebih baik menonton di rumah saja," gerutu Krisna.


"Karena aku ingin melihat bersamamu disini," ucap Poda santai.


Laki-laki disamping Krisna tersenyum manis. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya lalu menyenggol Krisna bermaksud untuk mengajaknya selfie. Namun Krisna tidak menyadarinya. Dengan terpaksa Poda berdiri dan membungkukkan badannya berbisik tepat di telinga Krisna.


"Bisa kita mengabadikan moment ini?," lirih Poda sontak membuat Krisna memegang tengkuknya.


Aura dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Bersama desiran aneh yang mendadak tercipta. Dadanya tiba-tiba berdebar seperti merasa cinta kedua kalinya.


Krisna melihat Poda yang sudah bersiap dengan ponselnya. Lalu tersenyum manis dan memegang lengan Poda. Tentu saja Poda juga tersenyum karena dia tidak akan menolak pesona seorang Krisna.


"Ciss," ucap Poda ketika keduanya sudah bersiap di depan kamera.


Sore menjelang malam mendadak mengubah kepribadian Poda menjadi seorang yang alay. Baru kali ini Poda mengajaknya Poto, biasanya Krisna yang akan merengek agar Poda mengikuti kemauannya.


"Muach! Terima kasih," ucap Poda setelah mengecup pipi Krisna.


"Astaga! Laki-laki menyebalkan!," gerutu Krisna dalam hati.


Adegan dewasa adalah hal biasa yang sering dilihat Poda, tapi di bioskop tentu saja menjadi adegan yang di skip meskipun semua penonton sudah dewasa. Jadi tidak masalah jika nanti Poda tertidur. Toh laki-laki itu tidak rugi suatu apapun.


Tanpa disadari, satu jam berlalu justru Krisna yang tertidur. Berawal dari wanita itu menyandarkan kepalanya ke bahu Poda, lama-lama mengeluarkan sedikit dengkuran. Poda tidak menyadari jika Krisna tidur. Dia mengira jika Krisna merasa nyaman dan bersandar namun ketika tidak merasakan adanya gerakan dari Krisna memaksa Poda untuk menggerakkan bahunya.


"Hei," lirih Poda bermaksud memanggil wanita di sebelahnya.


"Tidak bergerak, suka sekali dia tidur di bahuku," gerutu Poda.


Laki-laki itu Setega mengangkat kepala Krisna dengan kedua tangannya. Menegakkan wajah cantik yang tertidur pulas lalu mengecup dahinya sekilas.


"Biarlah, sekali-kali mengambil kesempatan dalam kesempitan siapa suruh sering tidur di tubuhku," gumam Poda.


Sebenarnya dia ingin keluar dari sana dan menggendong Krisna, tapi sebentar lagi film yang diputar akan selesai. Akhirnya dengan berat hati Poda menunggu Krisna yang tidur manis seperti layaknya seorang pengasuh menunggu anak kecil yang sedang tidur.


Setengah jam lagi akhirnya film selesai dan satu per satu orang keluar dari bioskop. Krisna tentu saja masih berada di alam mimpinya menikmati tidur sore yang haqiqi. Jarang dia bisa tidur dengan tenang.


Poda berpikir apakah dia akan membangunkan atau memilih menggendongnya. Namun melihat wajah wanita cantik yang kelelahan membuatnya mengurungkan niat.


Dengan penuh keraguan Poda membawa tubuh itu ke dalam pelukannya. Sudah pasti Poda malu karena disana banyak orang dan tentu saja ada penjaga yang berada di depan pintu.


"Maaf tuan, apakah butuh bantuan? Kenapa nona ini terlelap?," tanya petugas keamanan ketika melihat ada laki-laki menggendong perempuan dalam pelukannya.


"Tidak, dia ketiduran dan aku tidak sampai hati membangunkannya," jawab Poda.


Petugas itu lalu tersenyum. Baru kali ini semua yang ada di sana melihat laki-laki romantis seperti Poda.