
Taukah kamu tentang apa yang kumau
Aku menginginkanmu
Untuk selalu menemaniku
Aku
Ingin bersandar nyaman di bahumu
Dan mengisi ruang kosong di hatimu
Oh waktu
Andai sedetik saja kamu berliku
Pasti rubahlah garis takdirku
Namun sayang,
Amor telah berlalu
Menjadikanku merenung dalam redupku
Pelik
Kala menatap bola netranya
Pahit
Ketika mengingat dusta di dalamnya
Namun manis
Ketika terbayang bekas cintanya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di sebuah ruangan di lantai dasar. Krisna begitu gugup mengingat ini pertama kali dirinya dipanggil langsung oleh visitor. Bahkan dia sendiri tidak mengerti apa dan bagaimana visitor itu. Yang ada di benaknya hanyalah visitor adalah orang yang melakukan kunjungan ke kantor ini. Tentang menakutkan atau tidak orang itu, dia akan pasrah menghadapinya.
"Tok...tok..tok permisi," Krisna mengetuk pintu dengan gugup. Namun dia berusaha menetralkan debaran dadanya.
"Masuk", jawab orang yang berada di dalamnya.
"Permisi pak, saya karyawan baru disini," ujar Krisna ketika dia pertama kali masuk ke ruangan itu.
"Silahkan duduk kris," perintah sang pemilik ruangan
"Baik Pak," ucap Krisna kemudian duduk di kursi yang berada di depan orang itu.
Kini Krisna berhadapan dengan seorang pemuda tampan, berkulit putih, dan tampak menawan. Berbeda dengan dirinya yang berpenampilan sederhana dengan rambut di gerai dan sedikit polesan lipstik tanpa bedak ataupun make up lainnya.
"Perkenalkan saya adalah visitor pusat yang beberapa haribkedepan mendapat jatah di kantor ini. Nama saya Angga Dermawan. Kamu tau apa tujuan saja memanggil kamu untuk datang kesini?," tanya Pak Angga.
"Tidak Pak," jawab Krisna.
"Tidak ada yang memberitahumu?," tanya Pak Angga memastikan.
"Tidak Pak," jawab Krisna lagi.
"Baiklah, akan saya jelaskan sendiri, siapa nama kamu?," tanya Pak Angga lagi.
"Loh, katanya mau jelasin kok malah tanya," batin Krisna. Namun dia tetap menjawab pertanyaannya.
"Perkenalkan nama saya Krisna Ristanti, biasa dipanggil Krisna, saya lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dengan jurusan Administrasi Perkantoran, terima kasih," Krisna memperkenalkan diri dengan singkat.
"Berapa nilai ujian nasional kamu?," tanya Pak Angga.
"Mata pelajaran Bahasa Inggris 60, Bahasa Indonesia 88, Matematika 100, dan mata pelajaran Kejuruan 98", jawab Krisna.
"Kamu tidak bisa Bahasa Inggris?," ujar Pak Angga.
"Saya bisa berbahasa Inggris, namun dengan kosakata yang sangat minim pak," terang Krisna.
"Bisa perkenalan pakai Bahasa Inggris?," pinta Pak Angga.
"Ini sebenernya ujian sekolah atau ketemu visitor sih? Kenapa tidak menanyakan pekerjaanku? Malah nanyain masalalu, kan aku jadi baper," gerutu Krisna dalam hati.
"Good morning Mr. Angga, Let me to intruduce my self, my name ia Krisna Ristanti you dan call me Krisna, I'am graduated from Vocational High School Major in Officer Administration, thanks You," Krisna memperkenalkan diri dengan Bahasa Inggris yang minim kosakata.
"Apa saja yang dilakukan ketika ujian mata pelajaran kejuruan?," tanya Pak Angga.
"Ujian Nasional Kejuruan saya hanya melakukan ujian teori dimana soal-soal di dalamnya membahas tentang tata cara kerja seorang sekretaris yang tentunya berkaitan dengan semua alat tulis perkantoran serta menyusun jadwal metting pimpinan, jadwal perjalanan dinas pimpinan, bagaimana cara mengarsip yang benar, bagaimana cara membuat presentasi, bagaimana cara membuat undangan, bagaimana cara membuat laporan dengan Microsoft word, dan bagaimana cara menyusun laporan keuangan yang benar," jawab Krisna dengan rinci sembari mengingat-ingat lagi masa itu.
"Tidak, saya juga bisa mengaplikasikan Lactora," ucap Krisna.
"Nilai kamu diatas angka 94 semua, lumayan baik," gumam Pak Angga.
"Terimakasih atas pujiannya pak," lirih Krisna.
"Oke, apakah kemampuanmu bisa di tes? Mengingat apakah ini murni kemampuanmu atau hanya untuk status kelulusanmu," Pak Angga bertanya dengan raut seperti ingin meyakinkan kemampuan Krisna.
"Bisa pak," jawab Krisna.
"Sebelumnya kamu pernah berkerja dimana?," tanya Pak Angga.
"Saya pernah menjadi kasir part time di suatu toko ketika saya masih sekolah kemudian setelah lulus saya bekerja di pabrik garment di Sema*an*, saya resign karena orang tua saya sakit sementara saya anak pertama dan adik saya masih kecil," jelas Krisna.
"Kenapa kamu kerja part time?," tanya Pak Angga.
"Karena saya berasal dari keluarga kurang mampu pak, saya bekerja untuk membiayai sekolah dan juga kebutuhan saya, saya sudah banyak merepotkan kedua orangtua saya dan saya tidak ingin terus merepotkannya," jawab Krisna.
Pak Angga hanya mengangguk-anggukakan kepala mendengar semua jawaban Krisna. Berdasarkan hasil tanya jawab, Krisna terlihat cerdas tapi beliau belum mengetahui kemampuan sesungguhnya karena beliau belum melakukan tes kepada Krisna.
"Apa yang kamu lakukan ketika di rumah?," tanya Pak Angga.
"Ketika libur sekolah, di pagi hari saya membantu disawah sampai siang, siangnya istirahat dan sore sampai malam bekerja," ucap Krisna.
"Kenapa dari tadi Pak Angga bertanya terus dan aku selalu menjawab terus? Namanya juga aku sedang interview ulang," keluh Krisna dalam hati.
Berdiri dari tempat duduknya. Membuka laptop dan menyalakan proyektor. Lalu mengambil benda pipih seperti pulpen kemudian benda itu diberikan untuk Krisna.
"Kamu tau ini apa?," Pak Angga bertanya sembari mengacungkan benda yang di pegang.
"Pointer Laser pak," jawab Krisna.
"Benar, disini ada contoh presentasi, Tolong pahami dan presentasikan! Lakukan sebaik mungkin!," pinta Pak Angga.
"Baik pak," Krisna kemudian membaca dan menghafal materi presentasinya.
Dia sangat gugup. Bahkan terlihat dari tangan yang tak henti-hentinya mengeluarkan keringat dingin terus. Membaca dan menghafal. Lalu dia akan presentasi.
"Ah shit! Kelemahanku adalah menghafal secara spontan dalam satu waktu, aku tidak bisa," Krisna menjerit dalam hati.
Berkali-kali membaca, lalu memahami. Tetap saja Krisna belum paham. Lima menit sudah dia berada di depan laptop. Tak kunjung mengedipkan matanya.
"Ada kesulitan?," Pak Angga bertanya setelah melihat berkali-kali Krisna membaca tanpa berkedip.
"Saya kesulitan menghafal secara spontan seperti ini pak, tapi saya akan berusaha semampuku," jawab Krisna meyakinkan.
"Baik, silahkan tunjukan presentasimu di depan saya," perintah Pak Angga.
Krisna segera melakukan presentasi. Tentunya dengan ingatan dan pengetahuan yang minim. Setelah presentasi selesai, Pak Angga kembali melakukan sesi tanya jawab lagi. Krisna benar-benar seperti interview ulang.
"Saya tau kelemahan dan kelebihan kamu, bagaimana jika seandainya saya pindahkan kamu ke divisi lain?," tukas Pak Angga.
"Tidak apa-apa pak?," jujur Krisna.
"Kenapa?," tanya Pak Angga.
"Karena saya disini berarti kantor ini yang menentukan saya di bagian apa," jawab Krisna.
"Bagaimana kalau kamu mengisi bagian Administrasi? Kebetulan hari ini adalah hari terakhir dia bekerja," tawar Pak Angga.
"Baik pak," jawab Krisna.
"Kenapa kamu teelihat pasrah? Tidak meminta bagian lain?," tanya Pak Angga.
"Karena disini belum ada yang mengetahui apa keahlian saya, jadi saya tidak punya bukti yang kuat untuk meminta di divisi itu," jawab Krisna
"Seandainya kamu tetap di divisi kamu, namun kamu hanya sendiri tidak bersama partner kamu, apa yang akan kamu lakukan?," ujar Pak Angga.
"Saya akan bekerja lebih baik dan berusaha mengerjakan pekerjaan sebelum date line tiba," ucap Pak Angga.
"Jika saya menempatkan kamu di bawah posisi kamu saat ini?," tawar Pak Angga.
"Saya akan menerimanya karena mungkin saya belum layak berada di posisi sekarang, semua butuh proses dari bawah pak," ucap Krisna.
"Sebenarnya posisi apa yang kamu cari?," tanya Pak Angga.
"Saya menginginkan menjadi Merchendiser Display karena saya yakin semua proses itu berawal dari bawah," jawab Krisna.
"Meskipun itu berarti kamu akan ada di posisi lebih rendah dari sekarang?," ujar Pak Angga.