My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 80 Kesal



Aku adalah kekosingan hatimu yang perlahan menjadi bayang yang selalu mengikutimu


Aku adalah sesuatu yang bernama harapan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah lima belas menit meninggalkan ruangannya, Raka kembali dengan wajah yang terlihat masih kesal. Rambut acak-acakan serta wajah ditekuk dan masuk ruangan tanpa mengetuk pintu.


"Bodo amat, kan ini ruangan milik Raka! Aku saja yang numpang disini," gumam Krisna.


Raka melirik Krisna sekilas, dan Krisna juga meliriknya lalu pandangannya kembali menghadap ke laptop.


"Dia tidak penasaran apa yang terjadi denganku heh?," batin Raka.


"Kris?," lirih Raka.


"Ya?," gumam Krisna.


"Kamu tidak mau menanyakan bagaimana keadaanku saat ini? Apa aku masih terlihat sama seperti sebelumnya?," tanya Raka.


"Tidak toh kamu masih sama dari dulu, masih sama-sama tampan rupawan nan menawan," jawab Krisna santai.


"Sial! Masih saja menggombal," gerutu Raka dalam hati.


Raka kemudian duduk di mejanya tanpa memperdulikan Krisna. Dia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kenapa dipertemukan dengan wanita yang mendadak menjadi acuh. Tidak biasanya Krisna bersikap seperti itu.


Jika wanita sulit dimengerti, lalu siapa yang akan mengerti laki-laki. Akankah laki-laki ditakdirkan hanya untuk menjadi penenang wanita. Jika wanita ditakdirkan berkodrat manja, kenapa laki-laki manja sepertinya bukan hal wajar.


Sebenarnya Raka membawa kabar bahagia karena dia tidak jadi di pindah ke luar kota. Namun tentu saja Krisna hanya menganggap itu biasa. Tidak ada hal kecil menyangkut Raka yang mampu mengubah hidup Krisna.


Hanya sekedar menarik perhatian wanita itu, Raka harus rela mengacak rambutnya agar terlihat putus asa. Ternyata, Krisna cuma meliriknya tanpa bertanya apapun. Terlebih menanyakan bagaimana keadaanya, sudah pasti mustahil.


Dulu Krisna sangat peduli akan kehidupan Raka, tapi sekarang wanita itu mendadak mengacuhkannya. Tanpa Raka sadari ternyata Krisna memang memiliki sifat baik kepada semua orang. Bisa dikatakan rawan baper untuk laki-laki yang tidak mengenalnya. Misalnya seperti Raka saat ini.


"Ddrrtt" ponsel Krisna bergetar.


Bergegas sang pemilik segera mebgambilnya melihat ada pesan masuk dari Poda.


From : Poda


"Jaga mata, jaga senyum dan jaga hati"


Krisna tersenyum melihat pesan singkat yang baru saja diterima. Sementara Raka melihat Krisna dengan sinis. Laki-laki yang tidak menyadari perubahan dirinya. Dulu dia tidak pernah melihat orang dengan senyum sinisnya. Bahkan ketika mendapati Denada selingkuh, dia tidak tersenyum seperti itu.


"Lihat saja aku akan mengirimimu pesan setiap hari," batin Raka.


Krisna kemudian membalas pesan Poda setelah beberapa saat tersenyum. Jarang sekali dia mendapat pesan seperti itu.


"Semoga Poda benar-benar sudah berubah," gumam Krisna.


From : Krisna


"Perihal mata aku tidak berjanji bisa menjaganya karena apa yang kulihat adalah ketidaksengajaan, perihal senyum aku juga belum tentu bisa menjaga karena seulas senyum akan terlukis ketika aku bertemu seseorang, tapi aku berjanji perihal hati karena aku akan selalu menjaganya. Aku tidak akan membiarkan siapapun masuk dan bersinggah disana karena disana adalah tempat yang penuh akan sosokmu"


From : Poda


"Ah kamu membuatku hampir mengumpat! Sayang, tolong jangan bersikap baik kepada laki-laki terlebih kepada Raka! Laki-laki itu menginginkanmu"


From : Krisna


From : Poda


"Tentu karena aku mencintaimu"


From : Krisna


"Aku juga mencintaimu"


Kemudian Krisna melirik Raka yang berada di mejanya. Tanpa Poda memberitahu, Krisna sudah tahu jika Raka menyimpan rasa untuknya. Namun wanita itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak akan mendua sekalipun dia diduakan.


Karena karma lebih sakit, oleh karena itu Krisna tetap dengan sabar tidak membalas pengkhianatan Poda. Raka datang ketika hubungan Krisna dan Poda sedang terguncang. Beruntung jika Krisna mau menerima sosok Raka, tapi wanita itu masih tutup mata untuk persoalan asmara.


Raka bermaksud melirik Krisna, tapi dia mendapati Krisna sudah melihat ke arahnya. Masih dengan wajah kesal, Raka memincingkan matanya. Menatap tajam ke arah Krisna, tapu wanita itu hanya tersenyum.


"Yes! Akhirnya dia tersenyum juga, aku sudah menyangka! Pasti dia tidak tahan melihatku dingin seperti ini," pikir Raka.


"Ada apa?," dengus Raka pura-pura kesal.


"Tidak apa-apa," ucap Krisna santai.


"Kenapa tersenyum? Apa kamu merindukanku? Tidak tahankah kamu dengan diamku hm?," tanya Raka percaya diri.


"Eh, tidak! Bumankah aku memang terbiasa tersenyum? Lalu bagaimana jika sepanjang hari aku menatapmu terus? Apa kamu akan berpikir jika aku mencintaimu?," jawab Krisna datar.


"Hm tidak juga! Untuk apa aku mencintai wabita yang sudah memiliki pasangan? Terkesan seperti aku tidak laku," ketus Raka.


"Bukankah kamu memang seperti itu? Em, maaf aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, tapi aku berkata jujur. Sekarang hanya ada dua kenyataan, tentang kamu yang tulus menyatakan perasaanmu atau tentang kamu yang berpura-pura mencintaiku?," tukas Krisna dengan senyum jahil serta menaikkan kedua alisnya.


"Mamp*s! Wanita ini selalu bisa membuatku terpojok!," umpat Raka dalam hati.


"Menurutmu? Lagian apa kamu mau jika aku menjadi yang kedua," ucap Raka serius beserta senyum liciknya.


"Haha, kamu terlihat tampan jika bersikap dingin seperti ini! Daripada bersikap receh dengan selalu merayuku, ingat Raka banyak perbedaan yang jauh diantara kita," jelas Krisna serata tertawa.


"Hahaha, aarrghhh! Kamu selalu berhasil membuatku tertawa! Sebenarnya apa yang kamu lakukan terhadapku? Sepertinya kamu memberiku sesuatu," selidik Raka.


"Hei, lihatlah Raka yang tampan nan rupawan! Jangan melupakan hal jika aku memang bersikap baik kepada semua orang, tolong sedikit saja rasa bapermu dikurangi! Apa kamu tidak malu setiap hari berharap akan rasamu?," lirih Krisna.


"Benar juga! Apes! Pagi ini aku kalah telah dari Krisna," umpat Raka.


Keduanya kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing seperti biasa. Melupakan hal memalukan yang tadi pagi tidak sengaja dipertontonkan. Hingga jam istirahat tiba, keduanya berencana makan siang bersama. Bersama menu yang sebentar lagi membuat Raka bosan, tapi Krisna tetap menyukainya.


Lidah penjajak kuliner seperti Raka harus rela bersanding dengan lidah lokal yang tidak mengenal masakan asing. Jika Krisna memilih menu baru, Raka harus bersiap menampungnya karena tidak hanya sekali wanita itu mencoba masakan lain, tapi berakhir hanya mencicipi satu atau dua sendok saja.


"Kris, kalau kamu mau menu lain juga boleh aku siap menampungnya! Aku sungguh sangat lapar," tukas Raka ketika mereka keluar dari ruangannya.


"Kamu mau makan apa?," tanya Krisna.


"Pengen burger atau pizza, kamu mau burger kan?," jawab Raka.


"Iya, burger tanpa selada, tanpa beef, tanpa tomat, tanpa timun, tanpa saus," lirih Krisna karena dia tahu akan mendapat ejekan dari Raka.


"Sekalias saja minta roti dan margarin," dengus Raka kesal.


Raja berjalan cepat menuju parkiran dan mengambil KLX-nya di sana. Siang yang terik, berada di bawah paparan matahari membuat Raka bertambah kesal.


"Bersama wanita aneh ini harus sedikit sabar," guman Raka.