
"Kamu gila," dengus Krisna.
Mungkin jika boleh memilih, malam ini Krisna akan memilih tidur di kostnya sendiri daripada ke hotel untuk menemui Terry. Perlahan penyesalan mulai hinggap di benaknya.
Tapi untuk apa menjaga hati jika seseorang yang kamu sayangi dengan tega telah menyakiti. Apa yang semula ingin direncanakan Terry mendadak sirna begitu saja.
Bahkan ketika dengan sengaja dia mencium Krisna, laki-laki itu seperti sedikit menyesal. Dia merutuki kebodohannya yang terlepas begitu saja.
Sia-sia pencitraan yang dilakukan Terry selama ini. Krisna belum tahu sisi mesum Terry yang sepertinya akan ditunjukkan malam ini.
Terry adalah laki-laki yang baik hati ke semua orang tanpa memandang derajat mereka. Namun dibalik itu semua, dia adalah laki-laki pemilik hasrat besar. Membayangkan saja begitu berat, apalagi melakukannya.
Kadang ketika Krisna mendapati Terry meliriknya, hanya senyuman yang bisa ditunjukkan Terry. Semua rasa yang ada dijiwanya serasa mengaduk-aduk nalurinya.
Tanpa permisi Terry menempelkan punggung tangannya ke kening Krisna.
"Masih demam?," tanya Terry.
"Sedikit," jawab Krisna.
"Apa setiap mimpi buruk selalu seperti ini?," tanya Terry lagi.
"Iya," jawab Krisna.
"Jutek banget sih," gerutu Terry.
"Terry, aku ngantuk tapi takut tidur," tukas Krisna.
"Hm," gumam Terry.
"Hm aja terus, nyebelin banget," dengus Krisna.
Pura-pura tidur untuk mengetahui seberapa Krisna membutuhkannya. Terry memalingkan tubuhnya memunggungi Krisna. Laki-laki itu memejamkan matanya yang sudah terasa berat.
Krisna sebenarnya juga mengantuk, tapi jika tidur dia yakin akan bertemu dengan mimpi buruknya. Mimpi indah mungkin akan hilang begitu saja ketika terbangun dan sulit untuk melanjutkan, tapi saat mimpi buruk bahkan sudah membuka mata satu jampun masih bisa bertemu.
"Aaarrgghhh," jeritan Krisna putus asa.
Mendengar jeritan Krisna, refleks Terry membalikkan tubuhnya dan memeluk Krisna.
"Ssttt, tenanglah," ucap Terry seraya mengusap puncak kepala Krisna.
"Terry," lirih Krisna.
"Hm," gumam Terry.
"Aku lelah," ucap Krisna dengan nada lemah.
"Na, aku selalu ada disampingmu. Jangan pernah meragukan ketulusanku karena suatu saat kamu akan mengerti jika saat ini kamu bersama seseorang yang salah," ujar Terry.
Krisna masih sesenggukan menahan tangisnya agar tidak keluar. Dia benci lemah seperti ini hanya untuk laki-laki yang selalu menyakitinya.
Lagi-lagi Terry mengusap rambut Krisna agar wanita itu tenang. Hasrat buasnya mendadak hilang entah kemana setelah melihat wanita di hadapannya begitu terluka.
"Aku akan melindungimu semampuku. Berharap suatu saat takdir kan menyatukan kita dalam ikatan yang diakui secara agama dan negara. Aku tidak mengerti jika semakin kesini rasa yang kumiliki semakin menjadi. Bukan semakin berkurang rasa cintanya, aku merasa rasa itu semakin bertambah dari seharusnya," batin Terry.
"Na," bisik Terry.
"Kamu ingat dimana awal pertama kita bertemu?," tanya Terry mencoba mengubah suasana canggung menjadi santai kembali.
Terlihat seperti berpikir, Terry tetap menunggu Krisna untuk menjawabnya. Satu menit berlalu, tapi Krisna masih diam membuat Terry berpikir jika dia hanya melamun.
"Ingat?," ucap Terry dengan mengguncang tubuh Krisna hingga wanita itu mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan nyawanya telah kembali.
"Eh, apa?," tanya Krisna.
Terry mengerucutkan bibir kemudian menjitak kepala Krisna pelan.
"Sakit, apa-apaan sih," dengus Krisna.
Perlahan senyum Terry terbit setelah melihat Krisna menggerutu. Wanita itu sudah kembali ke sifat asalnya.
Bukan menjawab ucapan Krisna, Terry justru membawa Krisna ke dalam pelukannya dan mendorong sedikit tubuh wanita itu agar kembali berbaring. Terry tidak sebrutal tadi, tapi dia melakukannya dengan hati-hati.
Perlahan Terry memalingkan tubuh Krisna agar menghadap ke arahnya. Setelah keduanya berhadapan, Terry segera mencium bibir Krisna. Meski terlalu cepat, tapi setidaknya kini keduanya sedang dalam suasana yang damai.
Secepat mungkin melengos setelah mendapat kecupan singkat. Krisna merutuki kebodohannya kali ini. Entah mengapa dia terlalu mudah jatuh ke jebakan Terry.
"Aku mencintaimu," bisik Terry.
"Gila," dengus Krisna.
"Aku juga tidak mengira akan berakhir seperti ini, tapi bagaimana jika memang rasa itu perlahan mulai tercipta? Aku bahkan tidak bisa menolaknya. Berkali-kali aku melupakanmu, namun justru aku semakin khawatir dengan keadaanmu. Awalnya aku mengira hanya simpati kepadamu, namun nyatanya hatiku berkata lain seperti yang kamu lihat saat ini," jelas Terry.
"Terry, kamu bahkan tau apa yang akan kamu dapatkan jika mencintaiku," ucap Krisna.
"Sekalipun cintaku bertepuk sebelah tangan, aku akan selalu ada untukmu. Mungkin aku bukan lagi Terry yang pertama kali kamu kenal, tapi percayalah akan rasa yang akhir-akhir ini mengusik hariku," ucap Terry.
Mencerna ucapan Terry yang baru saja membuat bibir seksinya kering bukan masalah untuk Krisna. Sekalipun Terry mengucapkan seribu kata cinta, itu semua tidak akan mengubah pendirian Krisna.
"Aku tidak tahu dengan perasaanku saat ini. Aku tidak mau kehilanganmu, tapi aku belum merasa adanya getaran ketika didekatmu," ucap Krisna polos.
Jelas saja Terry kesal. Bagaimana mungkin wanita di hadapannya dengan polosnya mengutarakan perasaannya. Jika bukan cinta, lalu kenapa takut kehilangan. Jika tidak ada rasa merasa terus membutuhkan.
Semenjak kepergian Poda yang tak pernah memberi kabar, Krisna selalu berbagi keluh kesah kepada Terry. Dengan senang hati Terry mendengarkan segala curhatan Krisna. Juga dengan senang hati laki-laki itu selalu memberikan pundaknya untuk bersandar.
"Jika menangis lebih baik, maka menangislah," ucap Terry tulus seraya membelai rambut Krisna.
"Aku benci menangis hanya untuk seorang pengkhianat," lirih Krisna.
"Aku tau, tapi tenanglah. Tidak semua yang kamu lakukan adalah salah. Terkadang kita butuh seseorang untuk bersandar agar kita mengerti siapa yang sebenarnya kita butuhkan".
"Lalu untuk apa kamu menahan tangis jika pada akhirnya air mata itu tetap keluar? Dia tahu tentang apa yang kita rasakan, jadi untuk apa kita pura-pura bertahan jika sebenarnya kita memendam kekecewaan,".
Krisna diam bukan karena mencerna ucapan Terry. Wanita itu kembali sibuk merutuki kebodohannya. Kenapa dia terlahir sebagai wanita yang tulus tapi selalu mendapat balasan yang hanya sebatas modus.
Pencitraan terlalu sempurna untuk menggambarkan sosok laki-laki yang selama ini bersamanya. Bukan lagi tentang cinta, tapi tentang sebuah nafsu dunia dimana hanya dia dapatkan untuk menembus dahaganya.
"Aargghhkk! Brengsek memang," ucap Krisna di sela tangisnya.
Akhirnya bulir itu menerocos keluar tanpa sebuah kata permohonan. Tangisan yang ditahannya pecah begitu saja kala mengingat kembali luka yang selama ini dirasakannya. Bahkan dia selalu berpikir semua kan baik-baik saja.
Namun ternyata semua hanya ilusi belaka. Tentang harapan yang tak kan mungkin terwujudkan. Tentang kekecewaan yang tak mungkin menjadi kebahagiaan. Juga tentang pengkhianatan yang akan berbalas dengan pengkhianatan juga. Karena suatu kebodohan akan menciptakan suatu kekhilafan.