My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 14 Ranjang



Luka itu kasat mata


Hanya bisa dirasa


Tanpa mampu ku merabanya


Ruang rasa berkata


Perihal luka yang memudarkan warna


Berkaca dari waktu dipenghujung senja


Melukis rapi sayatan duka


Membisu


Ketika lara datang tanpa menyapa


Menghilangkan cinta tanpa sisa


Inginku mengakhirinya


Mencoba untuk melupa


Mengenai hasrat bersama


Dan kini,


Semua cukup memudar sebagai luka dalam dada


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Prraankkkk.... Bang*at!," suara gelas pecah terdengar memekakkan telinga berserta umpatan kasar. Poda melemparkan gelas disampingnya tempat tidurnya ketika melihat Krisna berlalu meninggalkannya.


"Ada apa?," Krisna bertanya dan mendekati Poda.


"Bodo*! Apa kurang jelas! Aku memintamu tetapi disini tapi kamu justru meninggalkanku!," Poda berkata dengan suara tinggi.


"Aku lelah melihatmu seperti ini. Lelah melihatmu seperti anak kecil. Apapun yang ki lakukan selalu salah dimatamu," ucap Krisna.


"Ppprrankkk....," kali ini suara piring pecah yang terdengar.


"Ya Tuhan, mengapa aku dihadapkan dengan laki-laki seperti ini? Laki-laki yang berawal dari kelembutan kini menjadi pemarah dan aku seperti berada di tengah singa kelaparan. Mengapa aku tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini? Mengapa aku dengan bodohnya mudah percaya semua rayuanya? Tuhan, apakah semua sudah berakhir di sini? Apakah benar aku mencintai orang yang salah?," batin Krisna.


Poda membanting piring ketika menyadari kesalahannya namun gengsi untuk meminta maaf. Tidak aka kata meminta maaf untuk seorang seperti Poda. Apapun yang dilakukan dan bagaimanapun keadaan yang ada, dia tetap yang paling benar. Laki-laki yang tetap akan angkuh sepanjang hidupnya.


"Sekali lagi seperti itu, aku benar-benar pergi!," ancam Krisna.


Benar saja Poda langsung diam menatap kosong jendela di depannya. Perlahan meneteskan air mata, namun segera dihapusnya. Tidak mau orang lain melihat sisi kelemahannya. Tidak ada yang tahu juga apakah itu air mata buaya atau air mata penyesalannya.


"Sayang, tolong sedikit berbaik hatilah sebelum semua benar-benar terjadi diluar dugaannmu," Krisna berbicara dengan nada rendah.


Sebenarnya dia sudah lelah menghadapi Poda. Namun untuk saat ini situasi benar-benar memaksanya agar masih setia dengan kesabaran. Poda mengangguk tanpa menatap Krisna.


"Aku akan buang air," tukas Poda.


"Buang air sediri. Kamar mandi di depan kamu kan?," ucap Krisna.


"Tidak mau! Aku mau kamu menemaniku," tegas Poda.


"Aku tidak mau. Untuk apa kamu memintaku sedangkan kamu sendiri tidak pernah menemaniku," tukas Krisna.


Dia merasa hidupnya tidak adil. Poda selalu menginginkan Krisna di sampingnya, namun Poda tidak pernah ada di samping Krisna.


"Kalau kamu tidak mau aku akan keluarkan disini! Di ranjang ini!," ucap Poda dengan menunjuk ranjang tempatnya berbaring.


"Silahkan," ucap Krisna santai.


Poda kemudian menurunkan celananya, memperlihatkan juniornya yang ada di sana. Sekilas melirik Krisna, memikirkan apa yang akan dilakukan wanita itu. Biasanya Krisna tidak akan tega membiarkan Poda melakukan hal bodoh.


"Heh, apa-apaan," ucap Krisna tiba-tiba.


"Kamu tidak mau menemaniku kan?," tanya Poda.


"Baiklah," akhirnya Krisna mengalah karena mengelak pun percuma. Dia sadar betul dengan siapa saat ini berhadapan. Seorang laki-laki yang pantang untuk di tolak.


Krisna memapah Poda menuju kamar mandi dengan sangat hati-hati. Bahkan Krisna tahu dengan pasti jika sekecil saja dia membuat kesalahan pasti akan habis dengan ribuan umpatan yang terlontar dan dia tidak mau mendengarkan itu semua. Sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.


"Heh, tidakkah kamu malu dengan keadaanmu seperti ini?," tanya Krisna.


"Untuk apa aku malu sama kamu? Bahkan bukan hanya sekali atau dua kali kamu melihatnya," jawab Poda.


"Astaga ya Tuhan, disaat seperti ini masih saja menggoda," gerutu Krisna.


"Oke aku ikut tapi jangan lama-lama," ucap Krisna.


"Sekalian lepaskan celanaku," pinta Poda.


"Ya," jawab Krisna datar.


Namun tiba-tiba tangan Poda memegang pundak Krisna. Meminta Krisna berbalik seraya berbisik "aku merindukanmu". Langsung saja Krisna melotot. Membiarkan mata bulatnya memandang Poda dengan tajam.


"Kamu sakit! Jangan pikirkan yang tidak bisa kamu lakukan," geram Krisna.


"Ayolah, aku sangat merindukanmu," rayu Poda.


"Tidak untuk saat ini!," tolak Krisna.


Krisna melepas celana Poda. Membiarkan junior itu mengeluarkan air seninya Lalu membasuh dengan air yang diambil dari bak mandi. Sedikit kejahilan mendadak muncul di benak Krisna.


"Sayang, jangan membuatku marah," lirih Poda.


"Marah saja toh aku sudah terbiasa," ucap Krisna acuh.


"Kamu menyiksaku!," gerutu Poda.


"Aaarggggg," Poda mengacak rambutnya kesal.


"Sial! Selalu saja menggodaku," batin Poda.


Hari ini mereka habiskan di ranjang Rumah Sakit dengan bermanja. Sepanjang hari saling melepas rindu saling memeluk, saling mencium, dan saling menggoda. Namun sayang, untuk kali ini mereka tidak melakukan adegan ranjang.


POV Poda


Aku melihat dia datang dan hanya sendiri. Darimana dia mengetahui semuanya? Siapa yang memberitahunya?," aku bergumam.


Dia yang kumaksud adalah Krisna. Terkadang aku mencintainya, terkadang aku merasa ingin menjauh dari hidupnya. Aku tidak tahu ada apa dengan hatiku.


"Oh aku lupa, bahkan apapun yang kulakukan selalu saja Krisna mengetahui. Sekuat itulah fellingnya?. Biarkan, biar saja dia tahu semuanya. Aku tidak peduli," aku masih berbicara sendiri.


"Kamu kenapa?," kalimat pertama kali yang diucapkan Krisna.


Dia mengatakan panjang lebar dan berakhir ingin pergi. Yang benar saja, dia ingin meninggalkanku disaat aku seperti ini? Dasar wanita bodoh. Tidak bisakah sedikit berperikemanusiaan? Tidak betah melihatku seperti ini. Aku seperti anak kecil. Sepertinya julukan bodoh pantas untuknya. Beginilah caraku mencari perhatiannya.


"Kumohon, tetap disini menemaniku," aku mengiba padanya.


"Tidak aku tetap akan pergi," ujar Krisna.


"Prraankkkk...," suara pecahan kaca untuk pertama kalinya.


Gelas yang ku lemparkan tadi tidak menggoyahkan hatinya, kini aku mencoba melepar piring. Semoga saja kali ini dya luluh.


Benar saja dia kembali. Bersedia menemaniku disini.


"Aku akan buang air kecil," sengaja aku berbicara manja seperti anak kecil.


"Buang air kecil sendiri," Krisna menjawab acuh.


Bukan aku namanya jika tidak punya cara untuk menaklukkannya. Aku punya seribu satu cara untuk membuatnya tetap berada di sampingku.


Aku melakukan ancaman akan mengeluarkan air itu di ranjag. Benar saja, dia mengalah. Alur berfikirnya terlalu mudah untuk ditebak.


Akhirnya Krisna menuruti semua yang kukatakan. Termasuk ikut kedalam kamar mandi. Membukakan celanaku. Membiarkan air yang sedari tadi ditahan juniorku mengalir.


"Tolong jangan menyiksaku," aku berkata dengan lirih.


Rindu itu tak lagi mampu ku tahan. Aku menginginkannya. Selama aku merayunya aku sangat berharap dia segera luluh. Kali ini tidak semudah merayu seperti sebelumnya. Butuh waktu tiga puluh menit untuk melunakkan hatinya. Hingga akhirnya Krisna bersedia menemaniku sepanjang hari.


Aku bahagia memeluknya diatas ranjang. Menciumnya semauku, dan menggoda sesuka naluriku. Namun sayang, ini tempat umum.


"Arrgggg," aku mengacak rambutku pelan setelah benar-benar sadar jika ini tempat umum. Hampir saja aku menunjukkan kecerobohanku.


Terbunuh oleh rasa yang kuciptakan sendiri. Terhanyut oleh hasrat yang tak bisa kupungkiri.