My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 40 Pendekatan yang Sia-sia



Ketika nafsu menguasai jiwamu


Terlalu sulit untuk kau menguasai nuranimu


Ketika hawa murka itu ada


Teramat sulit untukmu menolaknya


Kala kelam menyapa


Kala pekat membekap


Ketika itu pula jiwa meronta


Dibawah gemerlap bintang


Ditengah hamparan hijau rerumputan


Kita bersama


Memandang langit seluas semesta


Malam


Kini ku terlempar ke sebuah rasa yang semakin dalam


Ingin ku memilikinya,


Namun tak mungkin untuk ku mendapatkannya


Ingin ku mendekap erat,


Namun ku sadar,


Semua itu hanya sesaat


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Raka semakin mendekatkan dirinya. Benar-benar tidak menyisahkan jarak antara keduanya. Membiarkan menikmati aroma eau de perfume yang digunakan masing-masing. Greentea bercampur musk. Ketenangan dan kelembutan. Sejenak mereka saling terhanyut dalam lamunan. Sebelum semuanya benar-benar menghanyutkan.


"Kris," ucap Raka.


"Hem?," jawab Krisna.


"I Love You," lirih Raka.


"Terima kasih," ujar Krisna.


"Kenapa terima kasih?," tanya Raka penasaran.


"Terima kasih karena telah mencintaiku. Meski dengan penuh kesadaran aku tidak bisa memilihmu," jelas Krisna.


"Kenapa?," tukas Raka.


"Karena aku telah mencintai seseorang dan orang itu tetap abadi dalam sanubariku," sesal Krisna.


"Aarrrhhhh! Kenapa Poda sialan selalu ada di pikirannya? Padahal dia tidak pernah sekalipun memikirkan Krisna," gerutu Raka dalam hati.


Tanpa Raka sadari, bahkan dia sendiri tidak mengerti kenapa dia melakukannya. Raka memeluk Krisna. Mendekapnya erat. Tidak ingin melepaskan Krisna. Dia tidak peduli meski Krisna tidak menganggapnya ada. Raka bermaksud ingin mencium Krisna. Namun tiba-tiba Krisna tersadar akan godaanya.


Melepaskan pelukan Raka perlahan. Menatap mata teduh itu. Meski sebenarnya dia kesulitan mengucapkannya. Namun Krisna tidak ingin Raka berharap lebih.


"Raka, maaf," ucap Krisna pelan.


"Aku yang seharusnya minta maaf selalu membawamu dalam hidupku padahal kamu tidak pernah sekalipun menganggapku ada," ujar Raka pelan dengan nada yang sangat rendah.


"Asal kamu tau ka, aku juga mencintaimu! Tapi aku tidak mau menghancurkan komitmenku hanya untuk sebuah perselingkuhan, maafkan aku Raka, maafkan aku," batin Krisna dalam hati.


Menatap Krisna sebentar, sebelum akhirnya dia kembali melakukan pekerjaan masing-masing.


"Iya ka, jangan lupa oleh-olehnya," pinta Krisna santai.


"Aku hanya ke kantin kris, aku kelaparan, kamu mau titip apa?," tanya Raka.


"Dasar playboy suka ke kantin hanya untuk para wanita," jawab Krisna datar.


"Biarkan aku kesana untuk mereka yang terpenting cintaku hanya untuk orang yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka," goda Raka.


"Tidak ada hubungannya dengan kata-kataku kan? Bercandamu terlalu garing Raka! Cepet makan sana sebelum otak kamu benar-benar geser!," Krisna mengusir Raka dengan tangan yang di gerak-gerakan menyerupai mengusir ayam.


Sepeninggal Raka ke kantin, Krisna kembali duduk di depan laptop. Kali ini dia tidak mengerjakan tugasnya. Namun melakukan kejadian tadi yang baru saja menimpanya. Sebenarnya dia menginginkannya. Andai hatinya belum ada yang mengisi. Nyatanya, hati itu telah penuh oleh orang yang selalu membuat jiwanya luruh. Meski berkali-kali orang itu selalu memberi luka yang tak kunjung sembuh.


POV Raka


Malam ini rencanaku gagal. Awalnya aku berencana mengajak Krisna keluar hanya sekedar jalan-jalan tapi Poda juga ikut-ikutan mengajak Krisna jalan. Tentu saja Krisna memilih laki-laki sialan itu. Padahal banyak yang bilang jika aku dan Krisna cocok.


"Mungkin kalian jodoh," begitu kata mereka ketika melihat kedekatan ku dan Krisna.


"Dia sudah punya pacar," aku selalu menjawab ketus.


"Halah, baru pacaran! Kamu pasti bisa mendapatkan hatinya, bahkan di kantor ini siapa yang tidak bisa kamu takhlukan?," ujar Dika teman seangkatanku di sini.


Begitu dan sejenisnya para penonton selalu mendukungku dan Krisna. Namun saat ini Dewi Cinta tidak berpihak kepadaku. Meluluhkan hatinya yang beku benar-benar hal tersulit untukku. Setiap hari aku selalu bersamanya. Duduk bersebelahan, mengerjakan sesuatu bersama bahkan kerap sekali keluar kantor tugas berdua. Tapi tidak sedikitpun dia melihatku.


Em maksudku tidak melihat cinta dan ketulusanku. Kalau untuk melihat kasat mata, tentu saja Krisna melihat aku yang tampan dan rupawan ini selalu di sampingnya. Tapi hatinya benar-benar tertutup cinta. Benar-benar cinta buta.


Beruntung malam ini turun hujan deras. Pertanda Dewi Cinta juga tidak berpihak kepada mereka. Tapi bukankah jika hujan mereka akan menghabiskan malam bersama tanpa luput dari sentuhannya.


Arrgghhh sial. Kenapa aku terlalu jauh memikirkan itu. Toh akupun juga sama melakukan itu dengan pacar yang dulu. Tapi wanita yang satu ini aku tidak bisa mengiklaskannya. Membayangkan dia hanya duduk berdua saja membuatku murka. Apalagi membayangkan mereka.


"Aaaarrrrhhhhhhh," aku kembali mengacak rambutku kesal.


Kenapa harus wanita sederhana itu. Bukan wanita diluar sana yang dengan bangganya mempersilahkan dirinya untukku.


"Ya tuhan, Rakaaa tolong sadarlah! Kamu dan Krisna sangat jauh perbedaannya, dia akan kesulitan menyesuaikan dirinya jika bersanding denganmu! Tapi aku tidak peduli, aku benar-benar gila dibuatnya! Padahal dia tidak pernah menyentuhku barang sejengkal pun, tapi aku terlalu gila membayangkannya! Apalagi nanti jika dia benar-benar milikku seutuhnya," aku merutuki diriku sendiri.


Semakin malam hujan semakin deras. Akupun semakin gencar memikirkannya. Membayangkan adegan demi adegan yang mereka lalui. Sungguh menyayat hati. Baru kali ini aku merasa gila. Hingga akhirnya aku tertidur dengan sendirinya.


Aku terbangun dengan rasa yang begitu menginginkannya. Padahal ini sudah pagi. Dan aku juga sudah tidur semalam. Kenapa bayang itu masih saja abadi dalam benakku.


Aku melirik jam yang ada di atas nakas. Pukul 05.30 WIB. Okelah, aku bergegas menuju kamar mandi. Menyambar handuk yang tergantung didepan pintu. Mengguyur semua badanku berharap melupakan semua tentang si wanita sederhana itu.


Selesai mandi, aku segera membuat sarapan. Kali ini aku membuat nasi goreng dengan lauk telur mata sapi. Aku sangat menyukainya. Apalagi dengan kecap manis di atasnya.


Berangkat kantor setelah semua benar-benar selesai. Setelah sarapan dan berganti pakaian, segera aku memanaskan motor KLXku.


Tiba di kantor, seperti biasa. Selalu aku yang lebih dulu datang. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu.


Hari ini Krisna datang mengenakan jaketnya. Tumben sekali dia membawa jaketnya ke sini. Atau mungkin dia lupa.


"Kenapa masih pake jaket kris?," aku bertanya atau lebih tepat jika mengingatkan untuk melepaskannya.


"Eh iya, aku lupa ka," Krisna menjawab seraya melepaskan jaketnya.


Betapa aku terkejut melihat tanda merah di lehernya.


"Kamu tidak malu?," aku mencoba bertanya. Siapa tau dia memang sengaja.


"Ah aku lupa,"ucap Krisna.


Aku sangat menginginkan memberi tanda disana, tapi benar yang kubayangkan semalam dia melakukan semuanya. Aku sangat murka. Perlahan aku mendekatinya. Memeluknya. Memberanikan diri mendekatkan wajah ku di dekatnya. Mengamati tanda di lehernya. Aku semakin menginginkannya.


Semua bayangan itu saling berkelebat dalam benakku. Namun sial. Lagi-lagi Krisna mengingat Poda. Aku sudah berusaha mendekatinya, sudah sedekat ini dia malah menyadarinya.


**********************************************