
"Ehem," Krisna berdehem mencairkan suasana yang terlihat menegangkan antara Raka dan Raga.
"Apa?," ketus Raka.
"Wuih, perang dunia akan dimulai," batin Raga.
"Pergi sana!," dengus Krisna.
"Kemana?," tanya Raka.
"Apel pagi Bapak Raka Rahardian, silahkan anda pimpin dan keluar dari ruangan ini," jawab Krisna sopan dan penuh penekanan.
"Hm," ucap Raka seraya berlalu.
Wanita itu sudah benci menjadi tontonan. Sementara untuk mengusir para karyawan dia tidak punya nyali karena dia sendiri masih baru. Namun jika mengusir Raka setidaknya wanita itu sudah terbiasa.
Beruntung pagi itu Raka keluar ruangan diikuti Raga dan seluruh karyawan lantai dua. Tidak peduli meski Raka keluar dengan wajah yang ditekuk, tapi jika melihat Raka di ruangannya sungguh menyiksa mata.
Perubahan yang akhir-akhir ini mencolok. Sekarang Raka menjadi laki-laki tempramental. Padahal dulu dia tidak pernah seperti itu.
"Apa semua gara-gara aku? Tapi kan Raka sudah tahu kalau aku punya pacar, kenapa dia seperti ini?," gumam Krisna.
Sepertinya hanya membuat hari yang dilalui sedikit tegang jika memikirkan Raka. Biarkan laki-laki itu bertingkah sesuka hati. Mungkin itulah sisi lain Raka yang tidak diketahui Krisna. Toh memang benar adanya jika Krisna hanya bertemu Raka di kantor. Tidak menutup kemungkinan semisal Raka sering ke bar dan melakukan hal yang sudah menjadi rahasia umum untuk laki-laki.
"Tuh lihat kamu juga kaya gitu kan? Untung nih hati masih punya mata, kalau nggak bisa ****** aku sama yang tempramental kaya kamu," gerutu Krisna.
Lima menit Raka kembali dengan wajah yang semakin kesal. Biasanya hanya Krisna yang berani menggoda dirinya. Juga hanya Krisna yang berani menjahilinya, tapi pagi itu Raga dan karyawan lain ikut menggoda membuat Raka semakin murka.
"Aarrrghhh," teriak Raka putus asa dan mendudukkan pantatnya secara kasar di kursi.
"Kenapa?," tanya Krisna.
"Kamu tidak melihat aku sedang kesal?," jawab Raka dengan pertanyaan juga.
"Apa pertanyaanmu harus dijawab? Hei, justru aku bertanya karena melihatmu kesal!," ucap Krisna.
"Pertama aku kesal karenamu, kedua aku kesal karena Raga, ketika aku kesal karena semua orang! Cukup dan jangan banyak bertanya!," dengus Raka kesal.
"Oke, aku menyimpulkan jika pagi ini kamu yang tidak sehat nyatanya semua orang menjadi penyebab kekesalanmu," ketus Krisna.
"Dan lagi, kenapa apel pagi hanya lima menit? Cepat sekali tidak seperti biasanya," tambah Krisna.
"Aku tidak peduli, di sana aku sudah sangat malas," dengus Raka kesal.
"Dasar aneh, emang ini perusahaan nenek moyangmu? Bisa-bisanya bersikap seenak jidat," gerutu Krisna.
Raka mendengar ucapan Krisna, tapi dia memilih diam. Jika dilanjutkan bisa menambah amarahnya. Hanya mengumpat dan menggerutu yang saat ini bisa dilakukan Raka.
"Tek tek tek" suara jarum jam terdengar merdu diantara keheningan.
"Biarkan dia menyadari kesalahannya, karena jika tidak dia akan selalu bersikap seenaknya," batin Krisna.
Satu jam berlalu masih dalam suasana hening. Krisna membiasakan diri untuk itu. Dia juga menahan bibirnya agar tidak mengucapkan sesuatu. Padahal sebenarnya dia sudah ingin mengoceh, namun ditahan karena gengsinya.
Menghadapi laki-laki seperti Raka ternyata sulit. Diam-diam dia memiliki sifat labil dan tempramen seperti Krisna. Padahal usia Raka sudah di atas wanita itu.
"Ehem," Raka berdehem.
Krisna hanya melirik sekilas. Dia bertekad tidak akan memulai pembicaraan jika bukan Raka sendiri yang mengawalinya. Mungkin deheman itu adalah isyarat, tapi Krisna tidak memperdulikan. Wanita itu masih pura-pura sibuk.
Raka menguap dan meregangkan otot, tapi Krisna tidak meliriknya. Wanita itu justru membuka ponselnya lalu tersenyum. Dia tidak ingin menghadapi laki-laki yang menurutnya tidak ada kejelasan.
Sudah tahu mereka hanya berteman, tapi masih saja selalu cemburu melihat kedekatan Krisna dan Poda. Dulu memang Raka selalu ada untuk Krisna, namun wanita itu sudah mengatakan berkali-kali jika dia memiliki kekasih.
Awalnya Raka sosok yang dewasa, tapi sekarang dia selalu membuat Krisna mengerutkan dahi. Jika benar cinta bisa mengubah seseorang, maka saat ini adalah gambaran yang pantas untuk Raka.
Cinta bisa mengubahmu dari pendiam menjadi sosok yang selalu ceria. Namun bisa juga cinta mengubahmu dari sosok cerewet menjadi sosok pendiam karena memendam hati.
Ketiadaan cinta adalah ketika kita tidak mendapatkan balasan untuk rasa yang sama. Namun percayalah, jika bukan saat ini tentu suatu saat semu akan terbalas.
Satu setengah jam berlalu, ruangan itu masih hening. Jam terasa berjalan sangat lambat untuk Raka, tapi tidak untuk Krisna. Wanita itu melakukan chatting dengan Poda. Terkadang dia senyum sendiri, bahkan tertawa lirih.
Tidak bermaksud membuat Raka kesal, tapi memang itulah rasa bahagia yang sedang dirasakan Krisna. Setelah penantian panjang yang selalu menyakitkan, kini dia menemukan titik terang kebahagiaan.
Raka sedikit kesal melihat Krisna seperti sedang berbunga-bunga. Oh tentu saja Krisna seperti itu, dia dan Poda adalah pasangan yang sedang di mabuk asmara. Sayang laki-laki tampan yang berada di sebelah Krisna tampak seperti monster kaku menyebalkan.
Tidak sengaja Krisna menjatuhkan pulpen yang di pegangnya. Wanita itu bermaksud mengambilnya. Dia berjongkok dari kursi dan mengambil pulpen di bawahnya. Lagi-lagi Raka mencebikkan bibir.
"Bilang aja cari perhatian! Pura-pura pulpen jatuh," dengus Raka.
"Apa tidak salah? Bukankah dari tadi kamu yang cari perhatian? Hei Raka, aku tidak tahu apa salahku dan kamu mendiamkanku!," gerutu Krisna.
"Wanita menyebalkan! Apa kamu tidak mengerti maksud ucapanku? Aaarrgghhh!," batin Raka.
Raka menatap tajam kearah Krisna, tentu saja wanita itu membalasnya. Dia sama sekali tidak keberatan akan tatapan maut itu. Justru Krisna membalas tatapan Raka. Keduanya saling memberi tatapan mematikan seolah mengukur sampai dimana kemampuan keduanya.
Tidak berhenti di situ, Raka lalu mengomel sesuatu yang menurut Krisna tidak penting. Wanita itu mendengar, tapi enggan untuk menjawab. Dia merasa seperti bukan menghadapi Raka. Sungguh berbeda dari yang biasanya.
"Apa laki-laki ini gila? Kenapa aneh sekali," pikir Krisna.
"Hei, kamu tidak berniat menyapaku terlebih dahulu? Aku seniormu disini," ketus Raka penuh penekanan.
"Oh baiklah, terima kasih Anda telah mengingatkan saya! Selamat pagi menjelang siang Bapak Raka Rahardian," ucap Krisna terlihat tulus namun tidak tulus dari hati.
"Dua kamu kamu memanggilku seperti itu! Aku tidak mau terlihat tua!," dengus Raka.
"Dasar tidak tahu diri! Kamu pikir kamu masih muda?," gerutu Krisna.