
Aku dan hatiku telah cukup tahu tentang kecewaku
Tanpa sadar ketika cinta berbalas dusta
Dengan sabar mengukir bahagia di atas luka
Namun kini,
Setelah sekian lama waktu berputar
Akhirnya aku bertemu dengan saat dimana hatiku kembali bergetar
Ya,
Kamu telah membuat hatiku kembali merasakan cinta
Dan aku berharap semoga ini awal untuk menuju bahagia
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Cie, ternyata laki-laki sama juga ya," teriak pria yang paling dekat dengan podium.
Suasana riuh kembali, kali ini dengan sorakan yang memojokkan Poda. Laki-laki yang tadinya romantis mendadak menjadi mesum. Namun dia tetap menampilkan senyum andalannya yang mampu membius kaum hawa.
"Bagaimana mungkin aku mampu menahannya jika orang yang kita sayangi selalu berada di dekat kita? Bahkan dia tidak pernah menyadari sedikitpun kode yang kita lakukan. Bagaimana pendapat kalian wahai kaum Adam? Aku yakin jika bukan hanya aku yang berharap seperti itu. Namun wanita kali ini terlalu sulit untuk ku luluhkan. Terima kasih atas waktu yang diberikan pihak resto untuk saya, terima kasih juga atas kalian yang rela mendengarkan suara receh saya," Poda mengakhiri ucapannya dengan lampu yang menyorot ke meja Krisna.
Setelah Poda duduk, keduanya menjadi pusat perhatian. Mereka saling berpandangan sepersekian detik hingga akhirnya Krisna memalingkan wajah. Poda tersenyum melihat Krisna menghindar, perlahan dia membisikkan kata-kata lalu mengecup pipinya pelan.
Para pengunjung resto bersorak kembali. Mereka seperti melihat drama di TV yang bergitu romantis. Tidak bisa dipungkiri, bahwa banyak wanita yang menginginkan diperlakukan seperti itu.
"Sial! Apa yang kamu lakukan!," gerutu Krisna.
"Aku mencintaimu," lirih Poda.
"Hm, sekarang makanlah! Pesananmu sudah datang," tutur Krisna.
Kemudian Poda mengambil sendok dan garpu mengambil sedikit nasi lalu menyuapi Krisna. Wanita itu lalu membuka mulutnya dan mengunyah pelan tanpa melihat sekeliling jika kedua insan itu masih menjadi pusat perhatian.
"Cie, cie prok prok prok," teriak meja yang berada di sebelah Krisna.
"Astagaaa! Apa-apaan mereka!," gerutu Krisna ketika mendengar teriakan dari sebelahnya.
Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, dan semua yang ada di sana masih melihat mereka. Krisna diam akan hal itu, rasanya percuma saja jika dia dengan terang-terangan menunjukkan rasa haru bercampur malunya.
Wanita itu makan tanpa memikirkan beberapa mata yang masih meliriknya. Dia sungguh tidak ingin membuat Poda menjadi besar kepala. Meski sebenarnya apa yang dilakukan Poda telah membuat Krisna mengubur lukanya dalam-dalam.
Seribu luka yang dirasa akan sirna ketika Poda sekali saja memperlakukan Krisna dengan penuh cinta. Seperti malam ini, Krisna tak genti-hentinya tersenyum. Dia lupa akan rasa sakit yang selama ini dirasakan.
Di sisi lain di sudut hati yang terdalam Poda merasa lega karena dengan begitu dia melihat Krisna tersenyum. Bahkan laki-laki itu yakin jika Raka sedikitpun tidak akan menggeser posisinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya, dan mulai saat ini aku akan memperlakukan Krisna dengan sangat istimewa," pikir Poda.
Sesekali Poda memberi suapan ke Krisna. Menunjukkan betapa kini dirinya telah merubah segala sifat yang dulu hanya membuat Krisna terluka.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selagi kita mampu melakukannya. Malam itu dua insan yang selalu bersama kembali di mabuk asmara. Perihal kecewa yang pernah dirasakan, Krisna memilih untuk melupakan. Dan perihal senyuman yang kini terlukiskan, Krisna berharap semoga itu awal keduanya untuk menuju ke pintu kebahagiaan.
Selesai makan malam, Poda mengantarkan Krisna kembali ke kost Krisna lalu Poda mengendarai maticnya menuju kostnya. Tak henti-hentinya laki-laki itu tersenyum.
"Terima kasih Tuhan, kamu menyadarkanku sebelum semua benar-benar terlambat," batin Poda.
"Terima kasih waktu, Krina aku mencintaimu," gumam Poda.
"Aku akan mengantarmu ke kantor," ucap Poda ketika mereka sedang sarapan.
"Yakin? Tidak biasanya kamu seperti ini," ujar Krisna.
"Iya, selesaikan makanmu aku akan mengantarmu sekarang," tukas Poda.
"Baiklah," lirih Krisna.
Selesai makan Krisna segera mencuci piring sementara Poda membereskan tempatnya. Hal kecil yang selalu dilakukan keduanya, setelah melakukan kewajiban masing-masing mereka akan berlomba memakai sepatu lalu berlari meninggalkan yang terlama.
"Selesai, aku pergi dulu!," teriak Krisna seraya meninggalkan Poda.
"Hei, mau kemana? Hari ini aku akan mengantarmu!," teriak Poda.
"Oh maaf aku lupa, hehe," lirih Krisna dengan sedikit tawa.
Poda segera menyusul Krisna yang menunggu dengan setia di samping maticnya. Melihat wanita itu tersenyum, membuat Poda tak ingin berpisah darinya. Ingin rasanya hari itu Poda membolos sekali saja agar bisa menikmati hari pertamanya bersama orang yang dicintainya.
Tiba di depan kantor Krisna, mereka berpapasan dengan Raka. Krisna tersenyum seperti biasa karena memang dia murah senyum, namun Poda juga tersenyum seperti senyum kemenangan.
"Apa mereka sudah baikkan? Ah sudahlah, mungkin Krisna memang bukan takdirku toh sebentar lagi aku akan pindah ke luar kota semoga saja aku bisa melupakan gadis kecilku itu," pikir Raka.
"Hai bro, baru berangkat ya?," sapa Poda.
"Iya nih, kamu kenapa belum berangkat?," tanya Raka.
"Baru nganterin nih cewek manja," tukas Poda.
"Heh, apa-apaan! Kamu sendiri yang maksa mau nganterin aku," gerutu Krisna.
"Sudah jangan bertengkar, aku naik dulu ya kris," pamit Raka.
"Iya, hati-hati ya," balas Krisna.
"Duluan ya bro, tuh cewek manja tinggal aja kalau ditungguin dia makin manja," ucap Raka.
"Haha, bisa aja bro," tawa Poda.
Setelah Raka pergi, Poda segera menatap Krisna. Menyiratkan kerinduan yang menggebu untuk memeluk wanita di depannya, namun malu karena banyak karyawan yang lain. Tersenyum tulus karena entah mengapa pagi itu Poda sama sekali tidak cemburu kepada Raka. Bahkan sepertinya hanya Raka yang menyimpan perasaan untuk Krisna tapi dua tidak membalasnya.
"I love you," lirih Poda.
"I love you to sayang," ucap Krisna.
Poda hendak memeluk Krisna, namun Krisna menahannya seraya menatap Poda tajam. Poda pura-pura tidak mengerti akan hal itu membuat Krisna semakin kesal karena mereka beradu tangan.
"Jangan peluk aku! Ini tempat umum! Awas saja kalau kamu memalukan!," ancam Krisna.
"Tidak masalah muaachh," ucap Poda seraya mengecup pipi Krisna.
"Aarrgghhhh!!!," teriak Krisna putus asa.
Sekali lagi Poda melihat pipi Krisna merah membuat dia ingin melakukannya lagi. Mencoba mendekat seperti akan membisikkan sesuatu tapi di urungkan. Lalu mendekat lagi berbisik dan membisikkan sesuatu dan hanya mereka berdua yang tahu.
Tiba-tiba Krisna memukul bahu Poda pelan. Wanita itu tiba-tiba mengerucutkan bibir. Semakin menggerutu dan semakin manyun membuat Poda semakin gemas. Wajar saja laki-laki itu baru dimabuk asmara. Tidak heran jika Poda rela mengantarkan Krisna pagi itu. Melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menyadari jika sebentar lagi pukul 07.00 WIB.
"Eh, sial! Sayang aku ke kantor ya, bye muuaacchh," ucap Poda seraya mencium bibir Krisna.
Kini hubungan Krisna dan Poda mulai membaik.