My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 110 Dosa Terindah



**Aku mencintaimu segenap jiwa dan ragaku


Meski tanpa sebuah harapan akan hidup bahagia denganmu


Terkadang kita harus merelakan


Jika pada akhirnya cinta yang dimiliki tidak terbalaskan


Bukan hanya sulit,


tapi teramat sakit saat cinta justru berbalas dusta


Lalu kepada siapa aku berbagi derita


Jika kamu bahkan tidak pernah sudi untuk sekedar mendengar lara


Jangan menyalahkan ku atas rasa yang tercipta karenamu


Namun ingatlah jika awal dari semuanya adalah kenyamanan yang pernah kau janjikan


Meski pada nyatanya hanya kepalsuan yang kau berikan


#Love not always true, but i fell dissapointed with you**#


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Poda menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Tak lupa dia menarik selimut juga untuk wanita di sebelahnya. Setelah puas melakukan berkali-kali, rasa kantuk mulai dirasakannya.


"Sudah lama tidak seperti ini," kekeh Poda.


"Untuk waktu yang tidak bisa ditentukan, aku tidak bisa menjanjikan sebuah kepastian. Namun untuk raga yang selalu bersama, aku akan menjanjikan sebuah kenyamanan," gumam Poda.


Perlahan Poda memalingkan tubuhnya agar menghadap ke arah Krisna. Mengamati wanita yang lebih dulu terlelap seperti mengamati alur hidupnya yang terasa berat.


Hanya karena kehancuran masa lalunya, kini Poda membalas kepada wanita yang tidak mempunyai kesalahan padanya. Ya, seringkali hidup terasa tidak adil bagi mereka yang selalu tersiksa.


Jika sang wanita tidak bisa melupakan, maka sang laki-laki memang tidak berniat melupakan. Dia ingin selalu membayangkan bagaimana hidup membuat perlahan rasa dendamnya menghilang.


Kedua tangan Poda terulur memeluk pinggang Krisna. Menarik agar lebih dekat dengannya. Lalu membawa kepala Krisna untuk tidur di dadanya.


Sudah lama sejak penginapan di puncak kala itu, Poda tidak merasakan kehangatan dalam hubungan mereka.


Satu jam berlalu mereka tidur siang. Saat merasa tubuhnya begitu lengket, Krisna membuka mata. Ternyata bukan hanya tubuhnya yang membuat Krisna tidak nyaman, tapi juga kulit Poda yang hampir semuanya menempel pada tubuhnya.


"Pantas panas banget," gerutu Krisna.


Poda lebih besar darinya, tentu saja juga lebih berat. Namun Krisna tetap berusaha untuk memindahkan tubuh laki-laki yang kini terasa berat untuknya.


Sedikit merasa aneh saat kedua tangan yang masih melingkar justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Hei, bangunlah! Aku tidak bisa tidur seperti ini," dengus Krisna.


"Aku tau kamu cuma pura-pura tidur," tambahnya.


Poda diam tidak ingin menjawab omelan Krisna.


"Bahkan jika boleh aku lebih memilih melakukannya lagi," tukas Poda masih dengan kedua mata yang terkatup.


"Dasar mesum," ucap Krisna.


"Cup" Poda mencium bibir Krisna lalu **********.


Sementara kedua tangannya perlahan menjelajahi tubuh telanjang miliknya. Tidak ada yang boleh menolak Poda atau laki-laki itu akan melakukannya dengan buas.


"Emh lepaskan," ucap Krisna ditengah lenguhannya.


Namun Poda mengabaikan ucapannya. Untuk apa menghentikan jika itulah yang diinginkan. Poda lebih liar dalam aksinya. Kini laki-laki itu melepaskan pagutannya dan turun menelusuri setiap inchi leher dihadapannya.


"Aarrggh," ucap Krisna seraya menjambak rambut Poda.


Antara menikmati atau menyesali memperbolehkan laki-laki itu melakukannya. Jika di tempat lain mungkin Krisna memakluminya, tapi Poda melakukannya di tempat terbuka miliknya.


Tidak ingin ada penolakan, maka Poda dengan leluasa menguasai semua miliknya. Bukan miliknya, tapi lebih tepat milik wanita dihadapannya yang sudah di claim menjadi miliknya.


"Emh," lenguhan lirih terdengar merdu di telinga Poda ketika laki-laki itu menggigit kacang kecil miliknya.


Hingga percintaan itu terjadi lagi begitu saja. Sungguh dosa terindah yang tidak pernah bisa terlupakan. Setelah selesai, Poda segera memakai bokser dan keluar mengunci gerbang depan agar tidak ada yang masuk.


"Sempurna, siang ini kost resmi menjadi milikku," ucap Poda dengan seringai liciknya.


Selesai mengunci gerbang, Poda kembali berjalan ke kamar. Mendapati Krisna masih tidur terlentang, laki-laki itu segera mengangkatnya ke kamar mandi. Mereka mandi bersama dan melakukannya lagi.


Memang tidak pernah memakai pengaman, tapi selama ini Poda selalu safety, hanya saja sekarang dia ingin mengeluarkan semuanya. Toh jika suatu saat Krisna hamil, dia akan tanggung jawab sepenuhnya.


Pepatah mengatakan bercinta adalah solusi terbaik ketika kita sedang bertengkar dengan pasangan. Bisa jadi pepatah itu benar, karena setelah percintaan siang itu hubungan Poda dan Krisna membaik.


Kini mereka menjalani hidup lebih baik dari sebelumnya. Krisna juga tidak mempermasalahkan Raka yang sekarang jauh darinya. Sementara Terry, jangan ditanya lagi bagaimana laki-laki tengil itu. Dia tetap saja suka menggoda Krisna karena rasa cinta yang perlahan mulai ada.


Satu bulan kemudian, Krisna merasa tamu bulanannya tak kunjung datang. Hal yang sudah dipikirkan matang-matang sebelum melakukan bersama Poda, tapi tidak menyangka jika satu hari akan mengakibatkan seperti ini.


Dengan penuh keberanian, wanita itu membeli alat tes kehamilan. dua menit kemudian setelah benda itu dicelupkan ke dalam urin miliknya, dua garis merah terlihat sangat terang.


"Sial!," umpat Krisna.


"Bagaimana bisa seperti ini? Jujur saja sebenarnya aku masih ragu akan hubunganku dengan Poda. Laki-laki itu selalu menghilang dan datang tanpa tau kepastiannya," ucap Krisna cemas.


Dia segera mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi Poda. Nada dering ponsel terdengar dari seberang, Krisna bernafas lega karena panggilannya terhubung.


"Halo," sapa Poda.


"Aku hamil," tukas Krisna.


"Baiklah, kita bicarakan nanti," ucap Poda santai.


"Tut" sambungan terputus tepat setelah Poda mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Aarrgghkkk brengsek! Bahkan dia tidak membiarkanku mengucapkan kata lain," umpat Krisna.


Rasa ketakutan menghantui dirinya. Bukan tentang siapa yang akan tanggung jawab tentang kehamilannya, tapi tentang sifat Poda yang tidak bisa dimengerti.


"Hati kecilku mengatakan ini adalah pertanda buruk," gumam Krisna.


Wanita itu melemparkan ponselnya sembarangan lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Dia menyalakan speaker aktif lalu memutar lagu remik. Musik yang sungguh memekkakkan telinga jika Krisna tidak dalam keadaan frustasi.


"Tok tok tok" pintu kamar kos diketuk seseorang.


Dengan rasa malas, Krisna terpaksa berjalan membuka pintu itu. Kedua matanya membulat sempurna ketika mendapati Terry berdiri disana.


"Kenapa kesini? Gila!," gerutu Krisna.


"Aku merindukanmu," ucap Terry santai.


Tanpa dipersilahkan, tapi laki-laki itu seenaknya menyelonong masuk ke kamar. Lalu menghampiri speaker yang hampir membuat kotoran kupingnya berlari.


"Kamu yang gila! Ini suara apa berisik banget," ucap Terry seraya mematikan musik yang diputar Krisna.


"Jangan menyentuh semua benda milikku!," ucap Krisna hampir berteriak.


"Lalu apa aku harus menyentuhmu saja?," goda Terry.


"Aargggg," Krisna mengacak rambutnya kasar.


Wanita yang sedang dalam rasa putus asa itu merasa hatinya semakin buruk.