
Alasanku
Kamu adalah alasanku tetap disini
Menunggu hadirmu menyusup ke relung hati
Rinduku
Bersemayamlah kau dalam abadiku
Karena aku akan menjemputmu dalam baris sajak rimaku
Aku tahu
Ketidakpastianmu adalah alasanku untuk menunggu
Sedangkan tulusnya rasamu adalah alasanku untuk menyembunyikanmu
Aku tidak mau siapapun tahu
Tentang siapa dirimu dan tentang siapa penghuni hatiku
Cukup kita
Menyisipkan cerita ditengah godaan gelora
Mengumbar cinta seolah penyegar dahaga
Cinta
Indahnya buaianmu membuatku ragu
Akan setia yang telah lama ku tuju
Namun cabikan toreh lukamu
Membuatku yakin
Akan cinta yang kini kutanam adalah cinta yang sedang ku perjuangkan
Juga cinta yang selamanya kuharapkan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di parkiran, dua insan saling bersisihan namun tidak untuk suatu kebodohan. Sore itu langit semakin pekat, dimana rintikan air perlahan mulai turun. Gemericiknya menambah kehangatan setiap hati yang meresapinya.
Krisna membuka ransel bermaksud mencari ponsel yang sedari tadi tidak disentuhnya. Sepertinya terakhir dia membuka ponsel tadi pagi, sedangkan tadi siang dia hanya membawa saja bahkan belum sempat melihat aplikasi berwarna hijau itu.
"Tiga panggilan tak terjawab, kenapa dia menghubungiku," gumam Krisna.
Wanita itu melihat jam yang tertera pada panggilan tak terjawab, itu adalah jam dimana Krisna dan Raka menuju sebuah karaoke keluarga terkenal di kota Utara.
"Apakah dia melihatku? Tapi kenapa dia tidak langsung mendatangiku," pikir Krisna.
Raka hanya melihat apa yang dilakukan Krisna. Bagaimanapun juga laki-laki itu yang telah mengalihkan perhatian Krisna agar dia lupa akan ponselnya. Namun Raka tetap pura-pura tidak mengetahuinya.
"Kenapa? Serius banget? Pasti tentang Poda ya?," sindir Raka.
"Iya," ucap Krisna lesu.
Berbagai pertanyaan terlontar dalam benarnya begitu saja. Krisna tidak mau membawa Raka dalam petaka hidupnya. Sudah cukup dia membawa Raka dalam gumpalan dosa atas cerita yang selalu terlontar begitu saja. Kali ini dia tidak akan membiarkan Poda menyalahkan Raka atas apa yang mereka berdua lakukan.
"Sial! Bagaimana ini? Kenapa aku tidak mengetahui jika dia melakukan panggilan ke ponselku? Aarrgghhh, aku tidak mau sesuatu buruk terjadi pada Raka," umpat Krisna.
"Tenanglah," pinta Raka seraya tersenyum manis.
Krisna hanya mengangguk. Dia tidak mau membuat Raka semakin bersalah. Juga tidak memikirkan bagaimana caranya pulang nanti. Yang jelas, dia akan tetap memilih berada dalam derasnya hujan.
Sementara Raka, dia hanya mengedikkan bahu. Laki-laki itu sudah hafal kebiasaan buruk Krisna yang selalu pergi jika merasa gugup. Mungkin saat ini Krisna merasa gugup berada di dekat Raka.
"Senja kini berganti malam," ponsel itu berdering pertanda ada panggilan masuk.
Krisna melihat ponselnya, membaca siapa nama pemanggil yang tertera.
"Poda?," gumam Krisna.
Segera menyentuh layar itu untuk mengangkat panggilan. Dia tidak mau mendengar Poda menggerutu. Sudah bosan akan gerutu yang hanya memanaskan telinga.
"Aku di depan kantor, keluar sekarang! Kenapa belum pulang juga ha?," perintah Poda.
"Iya sebentar," ucap Krisna.
Wanita itu tidak langsung pulang, namun melihat di depan gerbang memastikan keberadaan Poda. Laki-laki gila itu bisa melakukan apapun sesuka hatinya.
Krisna membuka ponsel, lalu menulis sesuatu disana.
"Jangan membuatku malu!," kemudian dia menekan tulisan "send".
Krisna segera mengendap-endap menuju celah diantara gerbang, mengintip laki-laki berperawakan tinggi itu. Di sana ada Poda duduk di atas motor maticnya, tak juah di belakangnya ada seorang wanita cantik. Krisna seperti pernah melihat wanita itu. Namun lupa dimana pernah melihatnya. Tiba-tiba saja Krisna menempelkan telapak tangan kanannya di dahi.
"Sial! Itu kan Denada, ****** kris! Tamatlah riwayatmu!," umpat Krisna.
Raka yang sedari memperhatikan Krisna segera menghampiri setelah melihat gadis itu menempelkan telapak tangannya. Jika hal buruk terjadi maka Raka akan dengan sigap memberikan pertolongan pertama kali. Raka berjalan pelan, agar Krisna tidak mengetahui kedatangannya.
Setelah berada di belakang Krisna, Raka segera mengintip ke luar gerbang dan melihat ada Denada di sana. Dia sendiri, namun laki-laki yang di depannya seperti Poda.
"Shit! Apakah mereka saling kenal? Gawat!," umpat Raka dalam hati.
Sementara Krisna bermaksud mendekati Raka yang ada di parkiran. Melihat parkiran itu dari jauh namun tidak menemukan Raka. Ketika Krisna hendak berbalik, badannya merasa ada yang menghimpit.
"Ya Tuhan, siapa yang berada di belakangku? Kenapa aku merasa sesuatu yang nyata adanya? Ini masih sore, kenapa setan sudah keluar? Bahkan Raka juga tidak ada di sana," gerutu Krisna dalam hati.
Perlahan Krisna membalikkan badannya namun dengan mata tertutup. Dia tidak sanggup jika nanti apa yang dipikirkan menjadi nyata. Tidak ingin melihat hantu sedekat ini. Wanita itu sangat penakut dengan makhluk tak kasat mata. Dengan buku kuduk yang sedikit berdiri, dia susah payah membalikkan badannya. Tidak tahu kenapa badannya terasa berat. Bahkan gesekan antara dua tubuh itu sangat terasa.
Perlahan tapi pasti, kini Krisna berhasil membalikkan badannya walau dengan sedikit nyali untuk menemaninya. Lalu bermaksud melangkahkan kaki ke depan ketika tanpa sengaja kaki kanannya menginjak sesuatu laluh melompat, sementara bibirnya tanpa sengaja juga menyentuh sesuatu yang sedikit basah namun dari yang dia rasakan bentuknya seperti bibir juga.
"Aaarrrrgghhhh, ****** Kris! Berani-beraninya setan penghuni kantor ini kamu cium!," teriak Krisna dengan refleks membuka matanya.
Setelah membuka mata, Krisna melihat Raka berdiri di depannya. Menatap penuh dengan selidik seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibir Krisna.
"Tolong jangan berteriak! Apa kata semua orang jika mereka memergoki kita berada di sini sedangkan kamu berteriak?," tanya Raka datar.
"Raka?," gumam Krisna.
"Hm?," ucap Raka.
"Apakah aku menciummu?," tanya Krisna.
"Iya", jawab Raka santai.
"Aaarrrggggghhh! Kenapa kamu menodai kesucian bibirku?," gerutu Krisna.
"Hei, bukankah kamu yang menciumku? Kenapa kamu yang marah-marah? Ingat jangan pernah berteriak atau aku akan membungkammu!," ancam Raka.
"Eh, em maaf aku panik ketika kamu berada di depanku, tidak tahu ketika yang berada di belakangku adalah kamu, aku tadi melihatmu di parkiran sana tapi tidak menemukanmu, bagaimana jika mereka berdua saling kenal? Sungguh aku tidak mau Poda berasumsi jika kita selingkuh, Raka aku tidak mau itu, bagaimana ini?," ucap Krisna panik.
Raka diam, namun otaknya berpikir dengan keras mencari alasan yang akan di berikan kepada mereka. Dia tidak mungkin mengotori namanya hanya untuk pengkhianatan.
"Ayolah otak! Berpikirlah! Cepat berpikir! Bagaimana jika Poda dan Denada beranggapan jika kamu dan Krisna berselingkuh?," gerutu Raka dalam hati.
"Rakaa, ayo cepatlah berpikir!," rengek Krisna.
"Tolong diamlah! Jangan membuatku semakin bingung seperti ini. Kita berada di waktu yang salah," ucap Raka ditengah kepanikannya.