
Aku mencintaimu dalam diam
Andai senja mengerti betapa pahitnya cinta
Mungkin ia tak kan bicara ketika gelap mulai menyapa
Terdengar sayup iba dari raga yang meminta
Namun terdengar rengek tangis dari hati yang tak mungkin mengemis
Aku belum mengerti tentang rasa ini
Hanya sekedar menyukai,
Atau selamanya ingin memiliki
Mungkin saat ini rasaku ingin kulertahankan
Sebelum cinta benar-benar meninggalkan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
POV Raka
"Akan ada satu orang untuk menjadi partnermu. Dia wanita, masih muda dan belum menikah. Ingat, jangan menggodanya karena kamu selalu tidak bisa mengurus perempuan. Semoga kinerjamu menurun kepadanya," seorang Manager memberitahu Raka akan kabar bahagia ini sekaligus mengejek Raka akan nasib malang asmaranya.
"Baik pak," jawab Raka.
Kantor ini terbagi menjadi dua sift. Sift pagi semua namun berbeda jam kerja. Sift pertama bekerja dari jam 07.00-15.00 WIB dan sift kedua dari jam 08.00-16.00 WIB. Jam dinding menunjukan pukul 06.55 WIB, namun karyawan baru itu belum muncul. Mungkin dya telat. Tapi kantorku tidak menoleransi karyawan baru yang telat. Telat di hari pertama tanpa alibi yang rasional tidak bisa diterima atau dengan kata lain gugur menjadi karyawan di kantor ini. Aku semakin penasaran siapa yang akan menjadi partnerku nanti. Semoga dia adalah jodohku kelak. Aku harap-harap cemas mengingat nasib asmaraku selalu mengenaskan.
"Selamat pagi semua, di divisi kalian akan ada karyawan baru. Silahkan perkenalkan dirimu kris," bapak Manager datang bersama perempuan cantik dan menyuruhnya memperkenalkan diri.
"Baik pak," jawab wanita itu.
"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Krisna Yosepha, kalian bisa memanggilku Krisna. Umurku saat ini 19th dengan status belum menikah terima kasih," begitu perkenalan singkatnya.
"Sial, bahkan aku belum sempat menanyakan hal yang lebih privasi, tapi biarlah toh nantinya dia juga akan selalu bersamaku," gumamku dalam hati
Perempuan itu biasa saja. Tidak terlalu menarik, tidak cantik, tidak jelek juga secara umum, namun menurutku dia tetap cantik. Memiliki wajah khas oriental dengan kulit sedikit putih. Hanya melihat sekilas, aku seperti mempunyai ketertarikan kepadanya. Bisa dibilang aku turun level dari mantan kekasihku yang terakhir berbeda sekali dengan Krisna. Rena, kekasih yang sangat kusayangi. Aku sangat mencintainya apapun kuberikan untuk Rena. Bahkan ketika Rena selalu meminta ditemani ke salon, aku tidak mempermasalahkannya. Aku selalu menemaninya, namun Rena dengan terang-terangan selingkuh di depan mataku. Rena berpelukan dengan salah satu bawahanku. Aku sangat marah, aku sangat kecewa bahkan aku tidak bisa lagi menerimanya. Rasa sayang yang selama ini kurasakan mendadak hilang. Benar-benar hambar. Itulah perasaanku saat itu dan hingga detik ini. Untuk bawahanku, apakah aku memecatnya. Tidak. Sekalipun dia salah?. Iya, mungkin bawahanku salah telah selingkuh bersama Rena kekasih atasannya, tapi dia tidak punya masalah dengan pekerjaannya. Bukankah aku harus profesional dengan tidak mencampur adukan masalah pekerjaan dan perasaan. Aku mencoba seprofesional mungkin meski sebenarnya aku sangat marah kepada bawahanku. Dia meminta maaf dan berkata ingin meninggalkan Rena. Tidak usah. Jika kalian saling mencintai, teruskan saja hubungan kalian. Bukankah jika selingkuh pertanda kalian saling mencintai?. Aku tidak akan memecatmu, kamu tenang saja. Aku akan berprofosional dengan tidak mencampur adukkan perasaan dan pekerjaan.
Oke, jika untuk saat ini aku turun level tidak masalah. Yang terpenting untukku saat ini, aku ingin mencintai seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku. Aku sudah lelah dengan para wanita yang bergaya sosialita namun berhati layaknya setan durhaka. Dan perempuan di depan sana yang sedang membuat hatiku merana sekarang.
Krisna mencari kursi kosong. Kursi kosong itu hanya ada disampingku. Tentunya sudah dipersiapkan semuanya karena seorang partner harus berada didekat partnernya.
"Kris, duduk sini," aku menyapanya pertama kali dan menawarkan bangku.
"Hei, perkenalkan namaku Raka," aku memperkenalkan diriku.
"Aku Krisna," Krisna memperkenalkan dirinya.
Hari ini kita ditugaskan keluar kantor berdua. Oh Dewa, sepertinya hari ini berpihak kepadaku. Aku memberitahunya jika hari ini kita akan keluar berdua dan dia pun menyetujuinya.
Aku dan Krisna mengendarai mobil kantor. Awalnya Krisna ingin duduk dibelakang. Namun aku menolaknya. Aku menyuruh Krisna duduk di depan di sampingku. Perjalanan kali ini terasa sangat cepat. Aku memutar lagu "Avril Lavigne ~ When Your Gone". Krisna ikut bernyanyi.
"Ternyata dia tidak terlalu udik," pikirku.
Sampai di tempat tujuan, aku dan Krisna mengerjakan tugas masing-masing. Tidak terasa jam menunjukan waktu makan siang. Aku dan Krisna makan di cafe dekat lokasi. Saat sedang menunggu makanan, Rena datang.
"Apa yang dia lakukan, kenapa kesini?," pikirku.
"Apa-apaan kamu Raka! Pergi bersama wanita lain," Rena bertanya dengan nada tinggi.
"Kita sudah tidak ada urusan lagi," tegasku.
"Oh, jadi ini wanita yang membuatmu berubah," ucap Rena dengan sinis.
"Bukan dia, tapi kamu yang telah merusak hubungan kita," aku menjawab dengan nada tak kalah tinggi. Bahkan hampir saja memarahinya jika saat ini aku tidak bersama Krisna. Aku dan Rena saling adu mulut hingga akhirnya Rena pergi. Aku tidak peduli. Harusnya aku bersyukur terbebas dari wanita seperti itu.
"Dia siapa?," Krisna bertanya seperti orang penasaran.
"Dia Rena mantan kekasihku, kita berpisah karena Rena selingkuh di depan mataku," jawabku.
"Oh," Krisna ber oh ria.
Bodohnya, aku malah menjelaskan siapa dan seperti apa Rena hingga aku dan Rena berpisah hingga Krisna berkata "bukan urusanku juga kok ka".
"Shit! Kenapa aku jadi semakin terlihat bodoh," umpatku dalam hati.
Aku semakin gencar ingin mendekatinya karena hati kecilku berkata dia wanita yang mampu membuatku bahagia. Namun aku mengurungkan niat itu. Ini terlalu cepat.
Hari selanjutnya, aku dan Krisna ditugaskan keluar kantor lagi. Dengan senang hati aku melakukannya bahkan setiap hari pun aku siap. Tiba di lokasi, aku menggelitik Krisna namun dia marah.
"Raka, apa-apaan kamu, Jangan menyentuhku!," ucap Krisna. Dia terlihat marah.
Lalu saat makan siang, aku kembali mendekatinya. Dia berkata tidak ingin mendua, hanya ingin setia. Takut jika suatu saat nanti karma menghampiri. Ya Tuhan, semoga wanita di depanku ini kelak menjadi jodohku. Dia berbeda sekali dengan wanita-wanitaku sebelumnya. Mereka yang menghampiriku. Mereka mudah kulukuhkan. Bahkan sekali bertemu saja mereka dengan suka ria ku sentuh. Tanpa menolak.
"Tuhan, tolong dekatkan aku dengan wanita ini. Aku berharap dia menjadi jodohku," berkali-kali aku berharap dalam hati.
Bahkan aku tidak peduli ketika dia memilih makan bakso di pinggir jalan. Benar-benar sederhana di zaman sekarang. Dia malah mengatakan kalau dia kampungan. Ah aku tidak peduli. Kali ini hatiku benar-benar penuh oleh namanya. "Krisna". Your name always stay on my heart. Love you so much😙.