My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 50 Bukan



Terimakasih atas waktu yang selama ini tercipta


Meski ku tahu


Aku bukanlah segalanya


Dan untuk rasa yang perlahan ada


Biarkan aku menikmatinya


Aku mencoba tersenyum ditengah risaunya hati


Menatap terik siang dikala dunia tengah berputar


Tuhan


Kini kupejamkan mata namun tidak untuk segalanya


Aku melihat hamparan langit dengan hati yang terluka


Tentang cinta


Aku bisa merasakannya


Dan perihal indahnya dunia cukup hatiku yang kecewa


Karena mata ini enggan terbuka jika hanya membaca dusta


Kini di tengah keramaian


aku duduk seorang diri


Menikmati setiap hembusan angin yang sekedar menghampiri


Berharap Tuhan menyatukan kita dalam janji suci


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Raka maaf ya gara-gara aku kamu jadi seperti ini," ucap Krisna dengan lirih. Dia merasa menyesal telah menanyakan tentang Denada.


"Aku tidak apa-apa," jawab Raka datar.


Untuk pertama kali, Krisna memberanikan diri menyentuh Raka. Memegang jemari yang sedang mengemudi. Rakapun tahu apa maksud Krisna. Dia segera menurunkan tangan kirinya. Membiarkan wanita itu menggenggam tangan penuh peluhnya. Sebenarnya Raka ingin sekali meluapkan amarahnya. Teringat semua kebusukan Denada wanita yang pernah dicintainya tersebut.


Menceritakan kembali cerita masa lalu sama saja membuka luka lama yang belum sembuh sempurna. Setelah pengkhianatan itu, Raka berangsur-angsur melupakan Denada. Dia menemukan wanita yang sangat dicintai meski harus berakhir dengan pengkhianat juga. Kini Raka tidak bisa merasakan indahnya cinta. Terlalu sering dikecewakan dan harus merasakan sakit sendirian.


"Damn!," Raka membanting stir dengan tangan kanannya.


Semakin berusaha untuk melupakan, semakin jelas benak Raka memutar memori itu. Membuat dadanya semakin nyeri. Andai saat ini Krisna tidak menggenggamnya mungkin dia tidak bisa memendam gejolaknya.


Krisna diam tanpa mengucapkan apapun. Bahkan dia tidak memandang Raka melainkan melihat hujan di sebelahnya lewat kaca yang sedikit dibuka. Mobil yang mereka naiki sudah ada ACnya namun Krisna tetap ingin merasakan air hujan menerpa wajahnya.


"Padahal Krisna tidak melakukan apa-apa, tapi membuatku merasa sedikit lega, ah andai dia tidak sedang menjalin hubungan dengan laki-laki brengsek itu," batin Raka.


"Kris," ucap Raka. Dia bertekad tidak akan membiarkan situasi canggung diantara mereka.


"Hm?," jawab Krisna.


"Terima kasih," ujar Raka.


Saat ini otak dan pikiran Raka tidak bisa bekerja sama. Mereka saling berjalan menuju tujuannya masing-masing. Raka hanya pasrah akan suratan takdir yang telah menggariskan kehidupannya.


"Sama-sama ka, di saat aku terpuruk seperti ini kamu pasti ada, dan kini saatnya aku ada untuk menemaniku juga," ucap Krisna.


"Tidak akan ada hubungan hanya sebatas teman ketika dua orang berbeda jenis saling mendekat," begitu ucap seorang teman dekat mereka.


Namun tentu tidak semudah itu untuk Raka. Dia harus meyakinkan hatinya. Tidak mau kembali terluka hanya karena cinta. Raka tidak ingin buru-buru. Kini hatinya tak lagi sama. Terlalu sering dikhianati rupanya membuat hatinya sedikit rapuh. Bukan dia tidak mau berbagi, namun tidak tahu harus kepada siapa berbagi cerita.


"Kita makan dulu ya, setelah itu ke Ini* Visit*," Raka berkata lirih masih dengan tatapan menerawangnya.


"Kapan kita ke Kaliurang kapan? Bukankah tadi kamu berniat mengajakku ke sana," tukas Krisna.


"Iya, itu niat awalku, namun saat ini hujan tidak berpihak kepada kita! Lihat, semakin ke atas hujan semakin deras sedangkan kita tidak mungkin menginap disana," jelas Raka.


"Seandainya saat ini aku bersama Poda," gumam Krisna lirih. Namun Raka tetap saja masih bisa mendengar.


"Apa?," tukas Raka.


"Eh enggak kok," jawab Krisna gugup.


"Bodoh kenapa aku bisa keceplosan! Laki-laki itu tidak bisa sedikit saja tidak menganggu benakku," gerutu Krisna dalam hati.


"Tolong berhenti memikirkan seseorang yang tidak pernah memikirkanmu," pinta Raka.


"Maaf," ucap Krisna.


Raka melepaskan genggaman tangannya. Bukan tanpa maksud. Sebenarnya dia sangat berharap bisa menikmati moment langka itu lebih lama. Hanya saja kini dia harus memutar balik mobilnya. Mengurungkan niatnya untuk menikmati indahnya puncak singgah sana. Bisa saja Raka memaksa Krisna untuk tetap melanjutkan perjalanannya. Namun pastinya harus menginap disana. Dan Raka tidak mungkin bisa menahan hasrat lelakinya ketika berada dalam satu kamar bersama wanita. Terlebih wanita itu saat ini sedang dalam masa pendekatan.


"Kita turun aja ya," ucap Raka dengan wajah polosnya seperti menyembunyikan rasa bersalah.


"Iya," jawab Krisna lesu.


Kini mereka berbalik arah. Menyia-nyiakan setengah jam perjalanan di tengah derasnya hujan. Untuk apa diteruskan jika nantinya hanya akan membuat suatu kekhilafan. Tidak mustahil Raka sangat menginginkan itu tapi dia tidak ingin di situasi terpaksa seperti ini.


"Kamu yakin?," tanya Raka.


"Yakin," jawab Krisna.


"Kita mau ke Inu* Visit*," ucap Raka.


"Nggak papa lagian kita nggak ngapa-ngapain," jawab Krisna dengan pertanyaan juga.


"Baiklah dengan senang hati," ujar Raka seraya tersenyum.


Semakin turun hujannya semakin Reda. Hingga tiba di pelataran tempat yang mereka tuju, hujan hanya menyisahkan gerimis. Namun sepertinya saat ini hujan sedang mengikuti pergerakan dua insan yang memiliki perbedaan rasa. Nyatanya setelah mereka turun dari mobil hujan deras langsung mengguyur tempat itu. Mereka berlari menuju pintu utama karaoke keluarga agar tidak basah terkena hujan.


Sebuah tempat di pinggir jalan utama, bukan sebuah tempat ditengah padatnya kota. Raka sengaja memilih lokasi itu karena tidak mau ada yang memergoki mereka. Membolos di jam kerja untuk sekedar bersenang-senang sudah menjadi hal wajar di kantor mereka. Selagi tidak ada penguntit yang mengikuti, semua pelaku pembolosan merasa aman.


"Mbak, cheeto* empat dan spr*te dua," ucap Raka kepada penjaga tempat itu.


"Room seperti biasa mas?," tebak penjaga.


"Iya mbak jangan lama-lama ya," ucap Raka.


Krisna merasa heran kenapa Raka tidak menyebutkan dia meminta room namun orang tadi sudah mengerti. Tapi dia hanya mengikuti kemana Raka membawanya. Yang Krisna tau Raka tidak mungkin memperlakukan dirinya dengan rendah seperti kepada pacar-pacar sebelumnya.


"Kamu sering kesini?," pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari bibir Krisna.


Raka hanya tersenyum namun tidak menjawab pertanyaan Krisna.


"Astaga, pasti Raka sering kesini, kalau nggak mana mungkin mbak-mbak tadi hafal," ucap Krisna dalam hati.


Mereka sampai di depan pintu ruangan yang telah selesai di cek oleh Inu* Visit* crew. Raka segera mempersilahkan Krisna masuk. Menunjukkan tempat dimana dia biasa melepaskan penatnya.