
"Aku hanya diberi kelonggaran untuk mencari penggantimu sebelum aku keluar sekaligus mengajari dia sampai bisa," jawab Raka.
"Oh," Krisna hanya membulatkan bibirnya.
Setelah perdebatan itu selesai, Raka segera membuka laptopnya dan mengubah settingan agar laptop Krisna bisa menyala kembali.
"Sekarang hidupkan laptopmu," pinta Raka.
Krisna segera melakukan perintah Raka. Benar saja laptopnya sudah hidup dan bisa menyala dengan baik. Bahkan laporan yang tadi di buka dan belum sempat ditutup sudah otomatis tersimpan.
"Wah, canggih juga," gumam Krisna dengan mata berbinar karena kekagumannya.
"Alay, apa kamu tida diajarkan aplikasi seperti itu?," tanya Raka.
"Tidak," jawab Krisna ketus karena merasa direndahkan Raka.
"Aku mengakui ketidaktahuanku di dunia seperti ini karena yang kutahu hanya mencintaimu sosok laki-laki yang selalu di sampingku," tambah Krisna.
"Haha," Raka tertawa garing mendengar celoteh Krisna.
Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, waktunya Raka dan Krisna keluar kantor. Seperti biasa Raka menunggu di bawah bersama mobil kantor sementara Krisna mengurus surat izin keluar. Setelah selesai, Krisna segera menghampiri Raka dan keduanya keluar bersama.
"Kita pergi ke arah utara," ucap Raka memulai pembicaraan.
"Oke," ucap Krisna.
Dua puluh menit perjalanan, Raka dan Krisna tiba di sebuah outlet di daerah utara. Raka segera memasuki kantor outlet tersebut dengan Krisna mengikuti dibelakang Raka.
"Kamu langsung masuk outlet aja, biar aku yang ke kantor," ucap Raka.
"Oke," tukas Krisna.
Wanita itu segera memasuki outlet seperti ucapan Raka. Dia mencari dimana keberadaan barang yang dipasarkan berada. Dengan santai, Krisna melangkahkan kaki menuju lorong paling timur.
Di sana wanita itu mendapati ada laki-laki yang menghalangi jalannya karena berdiri di tengah tengah lorong.
"Permisi," ucap Krisna sopan.
"Iya," ucap laki-laki itu seraya membalikkan badan karena berbicara saling memunggungi itu tidak baik.
Tanpa memandang wajah di depannya, Krisna langsung berlalu. Namun ketika melewati depan seseorang itu, Krisna merasa tangannya seperti di pegang. Krisna membalikkan tangan dan menatap siapa yang telah mencegah perjalanannya.
"Eh," Krisna kaget dengan laki-laki di depannya.
Laki-laki itu adalah Terry, teman lama Krisna. Mereka berasal dari satu kota yang sama, namun dari sekian luasnya dunia kenapa Tuhan mempertemukan keduanya di luar kota.
"Hai," sapa Terry.
"Hai juga ter, kenapa di sini?," tanya Krisna.
"Kerja na, kamu sendiri kenapa di sini? Apakah kamu terdampar dan menetap disini?," tanya Terry.
"Sial; Aku kerja Terry, tidak aku masih menetap di rumah asliku haha," jawab Krisna disela tawanya.
"Awalnya aku berpikir kamu anak rumahan, tapi setelah melihatmu disini aku berubah persepsi," ejek Krisna.
Pasalnya Terry tahu siapa Krisna. Dia adalah wanita yang tidak akan keluar rumah untuk hal tidak penting. Dan sekarang dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Krisna ada di kota tetangga.
"Hihhh kamu masih saja menyebalkan," gerutu Krisna seraya mencubit Terry.
"Krisna! Kamu ternyata juga masih menyebalkan," dengus Terry sembari mengacak rambut Krisna.
Terry senang ketika melihat Krisna mengerucutkan bibir dan mengomel. Krisna memiliki tinggi dan warna kulit yang mirip dengan adik Terry. Bahkan mereka juga seumuran. Itu yang membuat Terry seringkali menggoda Krisna.
Ketika bersama Krisna, Terry ingat dengan adiknya. Wanita yang selalu bertengkar dengannya ketika Terry berada di rumah. Dari situlah Terry selalu membuat Krisna kesal.
"Ih, kamu selalu membuatku kesal," dengus Krisna pura-pura marah.
"Kamu tidak merindukanku setelah sekian lama kita tidak berjumpa hm?," goda Terry.
"Untuk apa merindukan laki-laki yang sudah kuanggap sebagai kakak tapi selalu membuatku kesal," gerutu Krisna.
"Oh maafkan aku Krisna sayang, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Terry menyesali ucapannya.
"Ish, sejak kapan memanggilku sayang heh? Ingat aku hanya akan setia kepada satu orang jadi jangan pernah menyebutku seperti itu," tanya Krisna.
"Tidak untuk saat ini, tapi jika takdir menyatukan kita apa kamu bisa menolaknya? Tentu saja kamu akan menikmati hidup disampingku selamanya," jawab Terry.
"Hei, lupakan khayalan gilamu itu, membuatku muak dengan segala rayuanmu! Em, apa jangan-jangan kamu sudah mendua? Tidak bersama dia?," tanya Krisna dengan antusias.
Wanita itu merasa senang ketika memojokkan Terry dengan pertanyaan-pertanyaannya. Menurut Krisna, Terry adalah laki-laki yang baik hati, namun karena kebaikannya itu bisa membuat wanita menjadi baper. Siapa yang tidak kegeeran jika diperlakukan manis oleh laki-laki setampan Terry. Namun itulah Terry, dia perhatian dan berbuat baik kepada semua orang.
"Arghh kamu selalu mengatakanku seperti itu, padahal kamu tahu sendiri kalau aku laki-laki paling setia di jagad raya ini," jawab Terry dengan senyum kemenangan.
"Idih, untung aku udah kenal kamu lama ya, coba kalau baru aja kenal bisa baper aku. Kamu kan tahu kalau hatiku tuh gampang meleleh," ucap Krisna merendahkan diri.
"Apa yang gampang meleleh? Bahkan dua tahun ada laki-laki yang mendekatimu saja kamu tidak menyadarinya," dengus Terry kesal.
Pasalnya Terry sangat mengerti jika Krisna adalah wanita yang sangat kuat menjaga hatinya. Dia tidak mudah goyah hanya dengan sedikit pujian apalagi perlakuan manja. Jangankan untuk memanjakan wanita itu, untuk sekedar dekat saja Krisna tetap menjaga jarak.
"Arghkk menyebalkan! Itu masa lalu Terry, lagi pula mana mungkin aku menyadarinya jika dia sendiri tidak mengatakannya," ucap Krisna dengan pembelaan.
Menurut Terry, Krisna adalah sosok wanita yang patut dibanggakan. Bagaimana tidak jika Ima tahun menjalin hubungan dengan Poda tidak sekalipun wanita itu melirik laki-laki lain. Ketika Krisna masih duduk di bangku sekolah, pernah ada teman laki-laki yang terang-terangan mengungkapkan perasaannya, namun Krisna dengan tegas mengatakan jika dia tidak ingin berkhianat.
Ketika Krisna dan Terry bertemu dengan teman satu komunitasnya, ada laki-laki yang mendekati Krisna, tapi wanita itu tidak pernah menganggap kehadirannya.
Dua tahun laki-laki itu melakukan segala cara agar bisa merebut hati Krisna dari Poda, seseorang yang menurutnya tidak pantas bersanding dengan Krisna. Namun Krisna tidak goyah akan pendiriannya. Bahkan jika laki-laki itu menawarkan untuk mengantar pulang, Krisna selalu menolak.
"Bagaimana dengan masa lalumu? Apa kamu menyesal tidak menerimanya?," goda Terry dengan senyum liciknya.
"Apa aku harus membahas masa lalumu juga?," ancam Krisna dengan ucapan datar namun tersenyum jail.
"Ah tidak, lupakan saja masalalu kita haha," tukas Terry.
Terry sangat hafal kebiasaan Krisna. Ketika wanita itu tersenyum manis, makan dibalik senyumannya menyimpan sebuah kelicikan yang akan dilakukan. Terry memilih untuk mengakhiri perdebatan mereka daripada melihat Krisna mempermalukan Terry di tempat umum.
"Baiklah, aku selalu senang menggodamu hingga wajahmu memerah kakak," lirih Krisna namun Terry mendengarnya.
"Sial! Apa kamu selalu melakukan ini kepada semua orang? Hei, lihatlah kamu tidak pantas menjadi wanita penggoda!," ucap Terry penuh penekanan seraya merapatkan tubuhnya ke tubuh Krisna.
"Mampu*! Salah ngomong kan? Apes! Bakal kena semprot Terry nih," umpat Krisna dalam hati.
"Stop! Jauhkan tubuhmu! Jangan mendekat!," jerit Krisna.
Terry langsung membekap mulut Krisna dengan tangannya. Terkadang Terry kesal dengan kebiasaan Krisna yang selalu berteriak tanpa berpikir mereka sedang dimana.
"Berisik!," bisik Terry seraya melepaskan bekapannya.
"Sial!," gerutu Krisna.
Tepat ketika Terry melepaskan tangannya, Raka datang menghampiri mereka. Raka datang dengan tatapan bingung. Bagaimana mungkin Krisna bisa dengan jelas melakukan hal itu di outlet. Sedangkan Krisna berasal dari kota yang ditempuh dengan waktu satu jam dari sana.
"Tidak mungkin Krisna mendua kan?," pikir Raka.
"Eh Raka, udah?," tanya Krisna ketika menyadari kehadiran Raka.
"Udah," jawab Raka.
Raka berlalu meninggalkan Krisna. Tanpa mengucapkan apapun, Krisna sudah tahu jika Raka bermaksud agar Krisna mengikutinya.
Sedari tadi Terry hanya mengernyitkan dahi melihat kehadiran Raka. Karena sejak Terry melihat laki-laki itu dari jauh, Terry merasa Raka menyimpan sesuatu untuk adik kesayangannya itu.
"Seniorku, aku duluan ya kak," pamit Krisna.
Terry kembali menggapai tangan Krisna untuk kedua kali.
"Selingkuha*mu ya?," goda Terry.
"Apaan sih, gila aku selingkuh. Paling kamu yang selingkuh," balas Krisna.
"Eh, sepertinya besok kita tidak akan bertemu lagi," ucap Terry tiba-tiba membuat Krisna mengernyitkan dahi.
"Kenapa?," tanya Krisna.
"Karena ini pertemuan kita yang terakhir. Hari ini adalah hari terakhirku disini. Besok aku pindah ke luar kota," jawab Terry.
"Dan aku tidak tahu kita masih bisa bertemu atau tidak," tambah Terry.
"Kakak, bagaimana mungkin aku bisa menerima kepergianmu? Kamu memang bukan saudara atau kakak kandungku, bahkan kamu tahu jika aku sangat menginginkan kehadiran sosok kakak laki-laki untukku," lirih Krisna.
"Iya aku tahu, aku akan tetap menjadi kakakmu. Entah darimana kamu berpikir menyebutku seperti itu, tapi memang kamu juga mengingatkanku dengan adik semata wayangku," ucap Terry.
Krisna hendak membuat drama dengan meneteskan air mata. Wanita itu menguap berkali-kali agar air matanya keluar. Namun Terry menyadarinya dan segera tertawa.
"Sudah jangan banyak drama! Aku tidak suka melihatmu seperti ini haha," tukas Terry.
"Kenapa kamu menyebalkan begini sih kak? Apa kakak iparku yang membuatmu seperti ini?," tanya Krisna penuh selidik.
"Tidak adik kecilku, kakak iparku bahkan selalu membahagiakan aku," jawab Terry.
"Ddrrttt ddrttt" getaran di ponsel mengagetkan Krisna.
Segera mengambil benda pipih di dalam sakunya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan.
"Raka, sial! Aku lupa kalau kesini sama Raka kak. Maaf ya, aku duluan," pamit Krisna.
"Iya, jangan sampai dia menjadi yang kedua! Awas saja kalau kamu berani mengkhianati laki-laki yang lima tahun menemanimu," ancam Terry.
"Iya kakak, eh sekalian aku minta nomor ponselmu. Tulis dan beri nama sekalian," ucap Krisna seraya menyodorkan ponselnya.
"Oke," ucap Terry.
Membuka aplikasi untuk menulis nomor, lalu menuliskan angka disana dan menyimpannya.
"Sudah," ucap Terry sembari mengembalikan ponsel milik Krisna.
"Terima kasih," ucap Krisna.
Wanita itu segera berlari mencari keberadaan Raka. Krisna baru pertama kali kesini dan tidak tahu dimana Raka berada. Untuk bertanya kepada Raka lewat chatt saja Krisna tidak berani. Dia sadar akan kesalahannya yang tidak segera mengikuti kepergian Raka.
Dua lorong dilewati, di ujung pintu dekat gudang Krisna menemukan Raka.
"Maaf," lirih Krisna.
"Tidak papa, sini aku ajarkan apa saja pekerjaanmu," ucap Raka.
"Oke," ucap Krisna.
Raka dan Krisna melanjutkan pekerjaannya. Sementara Terry segera pergi dari outlet setelah bertemu dengan Krisna. Raka dengan sabar mengajarkan Krisna apa yang harus dilakukan.
Tidak merasa kesulitan menuntut Krisna dalam pekerjaan karena wanita itu cepat tanggap. Hanya saja memiliki kelemahan sulit menghafal. Namun Raka tidak mempermasalahkannya.
Setengah jam kemudian Krisna selesai dengan pekerjaannya. Raka tersenyum puas atas usaha Krisna. Untuk kesekian kalinya Raka memberikan pujian untuk Krisna.
"It's better than yesterday! Nice, so good," puji Raka dengan Bahasa Inggris.
"Haha, big thanks Raka, tapi jangan sampai lidahmu kelu," ucap Krisna disela tawanya.
"Kenapa?," tanya Raka dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Karena biasanya kamu akan menggunakan Bahasa asing ketika menyatakan perasaan, ternyata bisa juga berbicara lain," jawab Krisna.
"Maksudmu?," Raka semakin tidak mengerti dengan ucapan Krisna.
"Ais, masa laki-laki lebih tua dan lebih pintar dariku tidak bisa mencerna ucapan recehku," desis Krisna.
"Cepat jelaskan," geram Raka.
"Awalnya aku berpikir kamu hanya bisa mengucapkan i love you, ternyata kamu bisa juga mengucapkan kalimat lain," jelas Krisna.
"Garing ah," gumam Raka.
"Makanya jangan diperjelas! Cukup hatimu saja yang kering kerontang," gerutu Krisna.
Keduanya keluar dari outlet berjalan menuju parkiran. Raka mengambil mobil kantor lalu menghampiri Krisna yang sudah menunggu di pinggir jalan.
"Ternyata kamu mirip gembel ya haha," ucap Raka di dalam mobil.
"Kenapa aku bisa suka gembel kaya dia? Oh my heart, you make me confused," batin Raka.
Setelah Raka membuka pintu mobil, Krisna segera masuk. Raka melajukan mobilnya pelan menuju arah puncak. Siang itu keindahan puncak mendadak muncul di benak Raka.
"Puncak lagi? Ngapain? Jangan bilang otw terus turun lagi," gerutu Krisna dalam hati.
Raka mengamati jalanan dengan seksama. Mengingat dengan jelas setiap pohon yang menjadi saksi perjalanannya. Laki-laki itu mengukir kenangan di benaknya dengan rapi. Tidak ada sedikitpun yang terlewatkan.
Setiap pohon Cemara yang berjajar mengingatkan Raka akan indahnya pasir pantai yang pernah ditapaki. Pernah menyisir hamparan pantai tanpa alas kaki. Melukis nama bersama wanita yang dulu dipuja. Lalu hilang terhapus air ketika gulungan ombak menghampiri.
Puncak dan pantai adalah dua keadaan yang berbeda. Bahkan dua sudut pandang dengan ilustrasi yang sangat jauh menyiratkan perbedaan. Puncak adalah dataran tinggi dimana Raka bisa melihat hamparan laut di bawah sana. Sementara pantai adalah dataran tinggi yang hanya bisa melihat puncak dengan sangat kecil karena jauhnya.
"Kenapa harus ada perintah untuk menemukan persamaan puncak dan pantai? Aku masih mengingat ucapanmu untuk menemukan siapa wanita yang bisa menjawab persamaan itu," batin Raka.
Krisna melihat Raka yang murung membuat dirinya tidak nyaman.
"Apa Raka marah? Tapi kan aku cuma bicara sama Terry, jangan bilang setelah ini dia akan membalas perbuatanmu seperti tempo hari?," batin Krisna.
"Aku tahu puncak dan pantai adalah perumpamaan untuk dua wanita yang berbeda, aku tahu semua itu sungguh berbeda dari segi manapun! Tapi aku tidak bisa menemukan persamaannya! Jika aku bodoh maka aku akan mengatakan sama-sama ciptaan Tuhan, tapi bukan itu jawabannya!," ucap Raka putus asa.
"Kamu kenapa?," tanya Krisna.
"Tidak papa," jawab Raka.
Sejenak Raka menyadari apakah yang dimaksud adalah Krisna dan Denada. Jika iya, maka tebakan kakeknya benar karena mereka dua orang yang sangat berbeda.
"Jika Denada adalah pantai dengan gulungan ombaknya, maka kamu akan menemukan wanita seperti puncak yang tenang dengan panoramanya. Namun kamu tidak bisa mendapatkannya," Raka mengulang ucapan kakaenya.
"Apa kakek adalah peramal? Ah pertanyaan bodoh macam apa itu," gerutu Raka.
Seulas senyum terukir ketika Raka bisa memecahkan teka-teki hidupnya. Mungkin ucapan orang tua ada benarnya. Terbukti saat ini Raka menemukan wanita seperti puncak yang sulit untuk didapatkan. Bahkan mungkin ucapan kakek benar jika dia tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita itu.
"Aarrrghhh jika kakek peramal kenapa tidak meramalku agar bisa selalu bersama wanita itu? Kenapa harus hal buruk yang kakek ucapkan? Kakek jahat sama Raka," ucap Raka.
"Kakek? Ternyata kamu sayang orang tua ya," gumam Krisna.
"Ia, coba kalau kamu tahu jika wanita yang dimaksud kakek adalah kamu, pasti segala umpatan dan sumpah serapahmu langsung keluarkan?," lirih Raka.