
"Sayang, kenapa kamu hampir menabrakku?," tukas Krisna.
"Aku sudah memanggilmu, tapi kamu tidak mendengar," gerutu Poda.
Krisna tetap memanyunkan bibir, tidak terima atas ucapan Poda. Walau sebenarnya memang benar jika dia tidak mendengar.
"Apa Poda ingin mencelakai ku?," batin Krisna.
"Sayang ayo pulang, aku membawa seafood dan ingin memakannya," ucap Poda.
Segera Krisna menepi dan naik ke atas matic Poda. Laki-laki itu melajukan maticnya pelan seiring menikmati hembusan angin yang semilir. Betapa indahnya jika hati selamanya seperti itu. Tanpa sebuah kepalsuan, dan tanpa sebuah pengkhianatan.
Poda yang memiliki sifat sedikit jahil tersenyum karena dia mendapatkan ide jahil. Sengaja mengencangkan laju matic lalu sengaja di rem secara mendadak sontak saja membuat Krisna langsung bergeser maju dan memeluk Poda.
"Hei kamu menyebalkan sekali! Apa ini modus barumu hm?," gerutu Krisna tak lupa dia mencubit pinggang Poda.
Sementara Poda hanya tersenyum. Dia suka saat seperti ini. Ketika Krisna menggerutu tanpa sadar membuat hati Poda sedikit lega. Karena jika wanita itu diam pertanda dia tidak laklgi memiliki rasa untuknya.
"Kenapa diam? Kamu sengaja? Atau kamu sebenarnya akan membuatku celaka?," tanya Krisna, tapi Poda masih diam.
Wanita yang terbiasa dengan tingkah konyolnya tidak bisa jika tidak membalas tingkah Poda. Dia segera berpikir cepat seraya mengerutkan dahi.
"Sepertinya jika aku memeluknya, lalu ketika dia merasa nyaman aku akan menggelitik pinggangnya adalah balasan yang pantas," pikir Krisna.
Tiba-tiba Krisna membawa tanganya menuju pinggang Poda. Lalu melingkarkan di sekitar area roti sobek.
"Ngiler deh, pinggang yang selama ini kurindukan akhirnya kita bertemu lagi! Eh woey sadar kris!," umpat Krisna dalam hati.
Poda menempelkan tangannya bermaksud membuat pegangan Krisna lebih erat, Krisna mengikuti kemana jemari Poda membawanya.
"Muach," seketika Poda menarik tangan kanan Krisna dan menciumnya membuat wajah Krisna sedikit terasa panas.
"Sial! Apa-apaan?," gerutu Krisna.
"Aku mencintaimu," gumam Poda.
"Hm," lirih Krisna.
Tidak terasa saat ini mereka telah tiba di kost. Poda segera melepas sepatu lalu membuka pintu. Sedangkan Krisna membuka sepatu lalu menuju kamar mandi mencuci tangan dan kaki.
Sore itu Krisna merasa sangat lapar, tapi kemudian tersenyum ketika mengingat Poda membawa seafood untuknya. Cacing dalam perut semakin berdemo tatkala membayangkan aneka hidangan seafood dengan nasi panas ada di depan mata.
"Hm, sungguh menggoda selera," gumam Krisna.
Berjalan dengan penuh semangat memasuki kamar dan mendapati Poda terlentang sembari memutar DVD. Laki-laki itu bermaksud mengubah kamar Krisna menjadi privat karaoke room.
"Sayang," sapa Krisna manja ketika melihat Podaa tidak menyadari kehadirannya.
"Iya," jawab Poda.
"Dimana seafoodnya? Hehehe," ucap Krisna malu seraya tersenyum.
"Oh, seafoodnya masih di motor sebentar aku ambilkan," tukas Poda.
Laki-laki itu kembali dengan menenteng plastik hitam, tapi Krisna tidak mencium aroma masakan. Krisna mengerutkan dahi ketika Poda memberikan plastik itu kepadanya.
"Mana seafoodnya?," tanya Krisna.
"Sayang, ku kira kamu membeli yang sudah matang! Kalau begini mending tadi aku makan dulu," gerutu Krisna.
"Masakan kamu kan enak! Ini tanggal tua aku belum gajian sementara saat ini perutku minta sedikit gizi! Hehehe maafkan aku," sesal Poda.
"Josh, menyebalkan! Awas saja kalau belinya cuma sedikit!," umpat Krisna.
"Tidak sayang, ayolah cepat aku sudah lapar," rengek Poda manja.
Seiring gerutuan yang terucap Krisna pergi menuju dapur. Mencuci seafood dan memilahnya menjadi tiga bagian lalu menyiapkan bumbu yang akan digunakan.
Memasak udang tepung, sotong garang asin dan cumi saus tiram. Krisna tidak tahu apa nama makanan yang dimasaknya, dia hanya memberi nama sesuka hatinya. Setelah satu jam bergulat di dapur akhirnya Krisna selesai memasak menu makan sorenya.
"Hm lumayan enak," puji Krisna setelah menghirup aroma yang tercium dari uap panas di masakannya.
Segera mencari mangkok dan menuang cumi saus tiram disana. Serta menuang menu lain di piring. Dengan sedikit irisan timun sebagai lalapan. Entahlah, meskipun semua masakan terlihat aneh dengan adanya timun, tapi Krisna tetap menambahkan.
"Hm, cukup menggoda perut," gumam Poda dari dalam kamar setelah hidungnya mencium aroma makanan panas yang nikmat.
Sementara di kamar Poda tidak hanya diam. Laki-laki itu tahu apa yang harus dilakukan. Dia bukan tipe pemalas, tapi dua adalah orang yang tahu apa kewajibannya.
Membersihkan meja kecil di dalam kamar, serta menyiapkan tisu dan juga sendok. Kemudian mengambil nasi secukupnya. Ya, tentu saja keduanya makan di dalam kamar karena tidak mempunyai privat room di kost Krisna.
"Kemarikan, biar aku yang menaruh di meja," pinta Poda dengan tulus ketika melihat Krisna kesulitan membawa piring dan mangkok.
"Tidak usah," ketus Krisna pura-pura kesal lalu menaruh mangkok di atas meja.
Tidak kehabisan akal, laki-laki itu sangat mengerti jika Krisna seperti itu pastilah dia membutuhkan sedikit sentuhan manja darinya. Segera memeluk Krisna dari belakang setelah Krisna selesai menaruh semuanya dan berdiri.
"Jangan memanyunkan bibir terus nanti aku bisa kelepasan," bisik Poda tepat di tengkuk membuat Krisna sedikit merinding.
Bulu halus yang hanya sedikit juga ikut berdiri. Takut tidak bisa menolak kenyamanan yang Poda berikan.
"Sial! Jika begini mana mungkin aku bisa menolak pesonanya!," gerutu Krisna dalam hati.
"Sayang," lirih Poda tepat di telinga Krisna.
Merasakan aliran darah berdesir, Krisna segera membuang pikiran mesumnya jauh-jauh. Kembali berpikir sehat jika keduanya sepakat mengakhiri adegan panas yang dulu sering dilakukan.
"Hm," gumam Krisna.
Poda tidak tahan dengan keinginan yang selama ini ditahannya. Mendekap Krisna lebih erat lalu membalikkan badannya hingga keduanya saling berhadapan.
"Mampu*! Bisa jebol pertahanan ku kalau kaya gini terus!," batin Krisna.
"Bagaimana jika saat ini aku menginginkannya?," lirih Poda hampir mirip suara de*aha*.
"Tidak! Jangan menggodaku seperti ini! Hentikan!," pinta Krisna namun hanya bisa diucapkan dalam hati karena mendadak bibirnya terasa kelu.
Krisna menatap mata yang selama ini menamainya. Bahkan dia telah lupa apa saja yang pernah dilakukan bersama. Hampir tidak pernah ada celah untuk Krisna menolak ketampanannya.
Berdiri di sebuah ruangan yang sangat nyaman bersama laki-laki tampan bukanlah hal mudah. Lebih sulit lagi jika sedikit bisikan setan menggoyahkan iman. Krisna mati-matian menahan hasratnya agar saat itu tetap bersembunyi. Namun Poda pelan-pelan menunjukkan gelagat mesumnya.
Poda sedikit memajukan bibir hampir saja bibir mereka bersentuhan jika suara dering ponsel tidak terdengar oleh keduanya.