
Hari ini Terry merelakan hidupnya hanya untuk Krisna. Seolah wanita itu adalah penyemangat jiwanya. Mulai hari ini juga, dianggap ataupun tidak oleh Krisna, Terry telah menobatkan dirinya menjadi yang kedua.
"Tidak ada laki-laki baik rela menjadi yang kedua," gumam Krisna.
"Aku memang bukan laki-laki baik, kita sama-sama pendosa jika itu yang kamu maksud. Namun setidaknya aku tidak meninggalkan wanitaku demi apapun. Apalagi untuk sesuatu yang tidak penting menurutmu," tukas Terry.
Andai saja dunia punya seribu cerita, Terry akan memilih satu saja untuk diperankannya. Namun ternyata alam hanya punya satu cara untuk menyatukan mereka.
"Apa aku salah jika memilihmu sebagai penghuni hatiku? Aku melihat ketulusan di matamu, aku juga melihat kekecewaan di relung jiwamu. Kamu terlalu sempurna untuk seorang pengkhianat sepertinya. Mendapatkanmu mungkin tidak sesulit melupakanmu, tapi aku tidak yakin bisa membuatmu lupa akan kenangannya. Dia terlalu lama menjadi bayang dalam setiap malammu. Bahkan dia juga terlalu sempurna untuk seorang penanam luka. Aaarrgghhh! Apa yang harus kulakukan agar kamu bisa berhenti memikirkannya?," jerit Terry dalam hati.
Empat jam berlalu hanya mereka habiskan di dalam kamar. Bukan berbuat hal yang menimbulkan kenikmatan, tapi keheningan yang membuat Terry merasa tertekan.
"Kenapa kamu diam? Apa bibirmu tidak gatal heh?," dengus Terry kesal.
Krisna melirik sekilas memastikan Terry yang mengucapkan kalimat pedas barusan. Sang empu yang baru mengatupkan bibir mendadak menerbitkan senyum merekah karena tak kuasa mendapat lirikan tajam.
"Cup! Jika ini yang membuatmu diam maka kamu akan mendapatkannya," ucap Krisna setelah mencium bibir Terry sekilas.
"Cup! Jika ini yang kamu inginkan maka memintalah," ucap Terry setelah berhasil mencium bibir Krisna.
Perlahan Terry yakin jika perasaannya akan terbalas. Krisna bukan wanita yang dengan mudah akan terlena. Dia adalah wanita pemilik mata elang yang tegas menyiratkan keseriusannya.
Lebih dari tiga tahun Terry mengenal Krisna. Bahkan laki-laki itu paham dengan skandal busuk temannya yang ingin merebut Krisna dari Poda. Dua tahun Terry hidup berdampingan dengan Krisna memaksanya mengerti dengan kebiasaannya.
"Jika dua tahun laki-laki lain mendekatimu tidak pernah mendapat ciuman seperti ini, apakah berarti hadirku saat ini adalah candu dalam jiwamu?," sindir Terry dengan tatapan mata yang beradu dengan milik Krisna.
Senyum sinis tersungging di bibir wanita itu. Dia merasa sedang terintimidasi, tapi berusaha menutupi atas sang lawan tidak menyadari.
"Senyum sinismu hanya untuk orang yang istimewa menurutmu," tukas Terry.
Satu kelopak mata Krisna berkedip disertai senyum termanis miliknya yang terkesan sebagai senyum kemenangan.
"Sesempurna itu menjadi pengamat ku?," ucap Krisna santai.
Terkesan santai, tapi tidak untuk Terry. Laki-laki itu terasa seperti sedang terintimidasi ganti. Bagaimana dia bisa keceplosan mengucapkan hal tabu seperti itu.
"Em," ucap Terry terbata.
"Apa cinta yang membuatmu terlihat bodoh seperti ini?," sindir Krisna.
"Tidak, em maksudku cinta tidak membuatku bodoh seperti ini, tapi cinta membuatku mengerti jika kita harus merelakan sekalipun hal itu sangat menyakitkan," sambung Terry cepat.
"Bersiaplah, aku ingin makan rujak sekarang," ucap Krisna seraya pergi meninggalkan Terry yang masih membeo.
"Anak siapa? Buatan siapa? Kenapa yang ribet gua? Ngeselin banget sih! Dimana bapak Lo bocah?," gerutu Terry dengan menirukan gaya ala Ibu Kota.
"Mau nggak? Katanya mau jadi calon ayahnya," ucap Krisna.
Terry membulatkan matanya mendengar ucapan Krisna.
"Serius?," tanya Terry bersemangat.
"Mana ada, nyumbang aja enggak masa ngaku-ngaku," jawab Krisna.
Walau berat, Terry tetap mengikuti kemana Krisna mengajaknya. Saat ini mereka berada di bawah panasnya terik matahari tanpa payung atau pelindung kepala. Krisna biasa menghadapi panas seperti ini. Dia juga tidak peduli jika nanti kulitnya akan berubah menjadi sawo matang atau hitam sekalipun.
"Sabar sayang, bentar lagi nemu kok tukang rujak kelilingnya," ucap Krisna seraya mengusap perutnya yang meskipun mulai buncit tapi tidak terlihat.
"Semoga aja dia bisa nerima aku jadi ayahnya," gumam Terry.
Ya, Krisna meminta rujak yang harus di dapatkan di Malioboro. Harus dinikmati di bawah terik matahari langsung tanpa payung atau pelindung. Entah itu ide siapa, tapi sepertinya bukan keinginan jabang bayi.
Satu jam sudah Terry menemani Krisna duduk di kursi taman. Kulit Terry yang memang berwarna agak kemerahan dan rambut kemerahan seperti bule menjadi semakin merah.
"Kris, panas banget ayo pergi," rengek Terry.
"Hm, baiklah karena udah nemenin di sini sekarang kita pulang," ucap Krisna seraya berdiri.
Tiba di kost, Krisna segera mandi dan masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuh mungilnya disana. Terry mengikuti dari belakang. Tidak berani mengucapkan apapun. Dia tahu Krisna sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Berapa usia kandunganmu?," tanya Terry.
"Entahlah, aku lupa," jawab Krisna.
"Kalau aku tidak salah, karusnya hari ini genap tiga bulan, tapi entahlah aku tidak mengingatnya," tambahnya.
Memaksa tidak akan berguna lebih baik menunggu hingga Krisna bercerita. Mungkin saat ini Terry harus lebih berusaha agar Krisna mampu menerimanya.
Tiga bulan kemudian
Selama tiga bulan Poda tidak menampakkan diri. Krisna sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak pernah mendapat jawaban dari si tersangka. Sebelum acara tunangan dimulai, Poda mengatakan jika ponselnya rusak. Saat itu juga Krisna langsung mengajak Poda membeli ponsel untuknya. Lalu sekarang bagaimana jika nomor yang dihubunginya tidak ada hasilnya.
Terry sama paniknya dengan Krisna. Dia tidak diizinkan untuk menikahi wanita itu. Krisna dengan santai tidak akan melakukan apapun agar Poda menemuinya.
"Jika dia tidak datang menemui ku atau setidaknya memberiku jawaban aku tidak akan mencarinya. Aku akan membesarkan anak ini seorang diri," ucap Krisna santai.
"Kamu tidak boleh seperti ini Krisna, ingat dia butuh sosok ayah yang harus memberinya kasih sayang," jelas Terry.
"Aku ingin pulang. Pergilah atau kamu akan dia selama aku tidak ada," tanya Krisna.
"Berikan kuncimu padaku! Aku akan pergi setelah puas menikmati ruangan ini," jawab Terry.
Krisna mengambil kunci kamar yang masih menancap di pintu lalu melemparkan ke arah Terry. Laki-laki itu menangkap dengan sigap.
"Be carefull honey," teriak Terry.
"Oke, don't worry," balas Krisna.
Sudah kesekian kali wanita itu melakukan perjalanan kost ke rumahnya seorang diri. Dan sekarang Krisna melakukannya lagi. Tidak ada keinginan lebih yang menuntunnya kembali ke rumah.
Hanya saja kehadiran Terry sedikit mengusik ketenangannya. Dia takut semakin lama Terry menemaninya, semakin tumbuh benih yang tak sengaja di tanamnya.
"Maafkan aku Terry, aku tidak ingin kamu pergi, tapi aku tidak ingin memulai denganmu di saat seperti ini," gumam Krisna di tengah perjalanannya.