My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Jangan terburu-buru! Urusan kita belum selesai



Dalam perjalanan menuju taman belakang yang tinggal beberapa meter lagi, Zelene Liang dan Tony Huo berpapasan. Pandangan mereka bersirobok selama beberapa detik sebelum Zelene Liang mengalihkan pandangannya pada gadis di belakang Tony Huo.


Dari penampilan gadis itu yang cukup rapi dam anggun, Zelene Liang tahu kalau gadis itu bukanlah dari keluarga sembarangan. Maureen Lee juga memperhatikan Zelene Liang sembari tersenyum sopan. Padahal dalam hatinya gadis itu mengutuk Zelene Liang dan ingin mencabik kecantikan wanita itu. Apalagi gaun yang dikenakan oleh Zelene Liang sangat anggun sehingga membuatnya semakin cantik di mata siapa pun yang melihatnya.


Maureen Lee melirik Tony Huo yang sedari tadi tak berkedip ketika memperhatikan Zelene Liang. Hal itu membuat Maureen Lee semakin merasakan aura panas menyeruak ke dalam venanya. Darahnya telah memanas dan dia ingin sekali menutup mata Tony Huo seketika itu juga.


“Selamat pagi, CEO Huo.” Sapa Zelene Liang mengalihkan pandangannya pada pria itu karena sudah terlalu lama mereka berdiri di sana tanpa ada yang menyapa lebih dulu.


“Selamat pagi, CEO Huo, asisten Duan.” Hanna Gu dan Xu Mo mengikuti menyapa Tony Huo dan Duan Che setelah Zelene Liang.


“Selamat pagi,” balas Duan Che, sedang Tony Huo hanya mengangguk saja.


Pria itu masih memperhatikan Zelene Liang tanpa ada keinginan untuk mengalihkan pandangannya. Semua orang dapat melihat hal tersebut kalau Tony Huo nampak terkesima dengan penampilan anggun nan cantik Zelene Liang.


“Kami harus pergi sekarang.”


Zelene Liang melangkahkan kakinya, namun tangan besar Tony Huo menyambar pergelangan tangan rampingnya sehingga Zelene Liang menghentikan langkahnya. Dia mengerutkan kening sembari melihat pergelangan tangannya yang dicekal oleh Tony Huo.


“Tuan,” Duan Che ingin berkata sesuatu pada Tony Huo, tetapi nampaknya pria itu tidak peduli. “Syuting akan segera dimulai.” Ucapnya memberitahu Tony Huo, namun dia juga tidak bisa melarang atasannya.


Tony Huo tidak mengindahkan ucapan Duan Che, ia malah menarik Zelene Liang bersamanya, melangkah meninggalkan mereka.


“Tony Huo, lepaskan aku!” Zelene Liang mencoba menghempaskan tangan Tony Huo, namun genggaman tangan pria itu terlalu kuat hingga dia harus mengikuti langkah kaki Tony Huo.


“Kak Tony!” Maureen Lee berseru dari belakang. Wajahnya pucat ketika memperhatikan Tony Huo menarik pergelangan tangan Zelene Liang. Maureen Lee melangkahkan kakinya ingin mengikuti mereka, namun segera dihentikan oleh Duan Che. “Asisten Duan,”


“Sekretaris Lee, lebih baik kau tidak mencari masalah. Mungkin CEO Huo memiliki urusan dengan Nona Liang. Sekarang ikuti saja aku!”


Maureen Lee berdecak kesal, akhirnya mengikuti Duan Che, meski dalam hatinya mengutuk Zelene Liang. Dia memperhatikan Tony Huo dan Zelene Liang yang semakin menjauh seraya melirik sepatu yang dipakai oleh wanita itu, sampai mereka memasuki salah satu kamar dari villa tersebut. Maureen Lee tersenyum dingin di belakang Duan Che.


“Aku berharap tidak ada masalah yang kau perbuat, sekretaris Lee.” Duan Che melirik Maureen Lee yang sedari tadi sibuk memperhatikan atasannya.


Segera Maureen Lee mengalihkan pandangannya ke depan yang hampir menabrak punggung Duan Che, “Masalah apa yang bisa aku sebabkan? Kau tidak perlu khawatir asisten Duan.” Sekali lagi harga diri Maureen Lee seperti ditenggelamkan ke dasar laut karena peringatan Duan Che. Pria itu tidak lelah memperingati Maureen Lee agar tidak menyebabkan masalah.


“Kuharap juga begitu.” Dari nadanya sepertinya Duan Che tidak terlalu percaya pada Maureen Lee karena dia melihat ada obsesi yang kuat dari mata gadis itu menginginkan Tony Huo. Untuk saat ini Duan Che akan mengawasi Maureen Lee untuk atasannya juga untuk Zelene Liang.


“Tony Huo lepaskan tanganku!” Zelene Liang masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Tony Huo ketika mereka masuk ke dalam salah satu kamar. “Aku harus segera ke taman belakang. Jika tidak Sutradara Qi akan memberikan protes padaku.”


“Tidak akan.” Ucapnya dengan percaya diri. Tony Huo duduk di sofa, ia menarik Zelene Liang hingga jatuh dalam pangkuannya. Ia menyeringai, mendekatkan wajahnya ke wajah Zelene Liang yang sudah amat dekat.


“Hentikan!” mendorong dada Tony Huo hingga punggungnya bersandar pada dinding sofa. Malah membuat Tony Huo terkekeh garing melihat ekspresinya saat ini. Zelene Liang mengerutkan kening serta mengerucutkan bibirnya. Dia juga melipat tangannya bak anak kecil yang menginginkan sebuah permen. “Mengapa malah tertawa?”


“Lihatlah wajahmu saat ini. Sangat lucu, Zelene Liang.” Tony Huo mengambil smartphone-nya dari dalam saku celananya. Ia membuka kamera smartphone tersebut dan mengarahkan pada wajah Zelene Liang. “Lihat ini kalau kamu tidak percaya.” Masih terkekeh Tony Huo mengambil foto Zelene Liang ketika sedang manyun.


“Hapus foto itu sekarang juga!” Zelene Liang merebut smartphone Tony Huo, namun lengannya tidak sampai karena Tony Huo mengangkat tangannya tinggi-tinggi, Zelene Liang tidak dapat berdiri karena salah satu lengan Tony Huo merangkul pinggangnya dengan erat. “Tony Huo, kamu sedang mencari masalah denganku?!”


“Hum?” Tony Huo membuat wajah lucu sembari meledek Zelene Liang. “Coba saja ambil kalau bisa. Aku akan menunjukkan foto ini pada Ibu nanti.” Ia tersenyum jahat menunjukkan gigi-gigi putihnya.


Merasa tertantang Zelene Liang tersenyum manis pada Tony Huo. Wanita itu mendekatkan wajahnya dan perlahan mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir tipis pria itu. Setelah mengambil ciumannya, Zelene Liang tersenyum lebar.


Tony Huo agak kaget karena pertama kalinya Zelene Liang memberikan ciuman pada dirinya juga tersenyum begitu lebar membuat matanya tak dapat berkedip melihat betapa manisnya wanita di hadapannya itu. Tangan Tony Huo perlahan turun, ia sedang asik dengan lamunannya saat ini. Sampai tidak mengetahui kalau smartphone-nya telah berada di tangan Zelene Liang.


Zelene Liang telah menghapus fotonya barusan. Dia menyeringai pada Tony Huo karena bisa ditipu dengan mudahnya. Jari-jemari Zelene Liang menepuk pipi Tony Huo, lantas berkata, “Aku kembalikan smartphone-mu.” Dia terkekeh melihat wajah Tony Huo yang masih terbengong.


Sesaat kemudian Tony Huo tersadar ketika smartphone tersebut disodorkan padanya. “Kamu mempermainkanku Zelene Liang?” ia mendesis di telinga Zelene Liang.


Zelene Liang merasa agak bergidik karena suara Tony Huo membuat bulu kuduknya berdiri. Saat ini pria itu sangat seram dan dia berharap Tony Huo tidak akan marah dan melakukan sesuatu padanya.


“Aku harus segera ke taman belakang!”


“Jangan terburu-buru! Urusan kita belum selesai.” Ucapnya.


Wajah oval Zelene Liang diraih oleh tangan besarnya. Bibir tipis itu perlahan membalas ciuman singkat yang tadi diberikan oleh Zelene Liang. Ciuman Tony Huo sangat kuat menekan bibir mungil Zelene Liang.


Zelene Liang menerima ciuman itu dan menikmatinya, kedua lengannya kini berada di pundak Tony Huo. Mungkin inilah balasan yang didapatkan olehnya karena telah mengerjai Tony Huo barusan.


🍁Bersambung🍁