My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Jantungmu berdebar keras



Wajah keduanya memiliki semburat merah. Mereka saling menatap satu sama lain, namun mereka diam di tempat seperti menunggu salah satu dari mereka memulai untuk mengulang adegan barusan. Jemari Tony Huo masih berada pada dagu Zelene Liang, dan pria itu hanya menatap iris Zelene berlama-lama.


"Tony Huo," lirih Zelene. Dia memalingkan wajah ke kanan dan tak lagi menatap mata pria di depannya. "Lepaskan tanganmu." Pintanya dengan nada lembut.


Tony Huo mengukir sebuah seringai di bibirnya, perlahan ia melepaskan tangannya dari dagu Zelene. Namun, dengan lembut tangan besarnya mengelus pipi halus nan putih milik wanita di depannya.


Zelene merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya, dia memejamkan mata dan mencoba mendorong Tony Huo. "Hentikan, Tony Huo." Dia sendiri tidak mengerti akan hal tersebut dan hatinya terasa hangat saat ini. Tetapi dia tidak bisa membiarkan Tony Huo mengambil alih keadaan, tangan Zelene Liang terus mencoba mendorong pria itu dan ingin sekali segera menjauhkan dirinya.


"Heh, bukankah kamu berkata tidak akan membiarkan aku untuk mengambil ciumanmu lagi? Tapi, sekarang kamu telah membiarkanku menciummu tanpa paksaan. Apakah kamu menikmatinya?"


Mendengar pertanyaan dari pria itu seolah Zelene dengan sengaja membiarkan dirinya dicium atas kemauannya sendiri. Dia menatap geram pada pria itu dan semua yang Zelene rasakan barusan seperti hilang dibawa oleh angin dalam sekejap. Dirinya masih bungkam, namun amarahnya telah berkecamuk di dalam sana dan ingin segera dikeluarkan.


"Mengapa kamu diam? Perlukah aku melakukannya lagi agar kamu puas? Biar aku beritahu, Zelene Liang, aku sama sekali tidak merasakan apa pun saat menciummu, jadi kamu tidak perlu menaruh harapan padaku, apalagi mengatakan bahwa, aku cemburu pada rumor murahan kalian." Jelas Tony Huo dengan nada mengejek. Ia menjauhkan tangannya dari wajah Zelene serta melepaskan rangkulannya dari pinggang ramping milik wanita itu.


Tangan Zelene terkepal dan dia ingin sekali menampar wajah Tony Huo, lebih daripada itu, dia ingin mencabik pria itu. Perlahan Zelene menenangkan amarahnya dan berpikir untuk membalas Tony Huo. Jika emosinya masih berkecamuk, maka balasan untuk Tony Huo hanya akan menjadi kekerasan fisik yang tak ada artinya bagi tubuh pria itu.


"Tidak ada rasa apa pun, sungguh? Tapi, aku bisa melihat rona merah pada wajahmu dan kamu juga menikmati ciuman kita. Iya, aku sungguh menikmati ciuman tadi, sangat berbeda dengan yang lain ketika aku melakukan adegan ciuman dengan seorang aktor. Aku sangat menikmatinya, Tony Huo dan kamu pun demikian, apakah kamu malu mengakuinya? Apakah mengakui bahwa kamu memang cemburu akan menghancurkan harga dirimu?" serangnya balik. Untuk apa melawan dengan kekerasan jika bisa melumpuhkan pikirannya dengan perkataan sebagai balasannya?


Bibir Tony Huo berkedut mendengar ucapan panjang lebar dari Zelene Liang. Tony Huo tidak menyangka mendapatkan serangan balik dari istrinya. Ia hanya ingin membuktikan kalau tidak ada rasa apa pun saat mereka berciuman. Bohong! Debaran jantungnya sesaat lalu sangat kencang, bagaimana mungkin tidak ada rasa apa pun di dalam sana? Tony Huo mungkin terlalu takut untuk mengakuinya atau ia sendiri masih belum mengerti dengan perasaannya sendiri.


Pria itu mengerutkan dahinya lantaran mengingat ciuman hangat barusan dan memalingkan tubuh tegapnya dari Zelene Liang. Ia berjalan membelakangi Zelene, kemudian menyentuh dada kirinya. Debaran kencang pada jantungnya masih bisa ia rasakan, namun tak sama kencangnya seperti saat mereka berciuman. Ekspresi Tony Huo bagai orang kebingungan, ia ingin menunjukkan pada Zelene Liang bahwa wanita itu telah salah dan ingin mempermalukannya juga, malah ia sendiri yang menjadi bingung. Tony Huo lantas duduk di atas sofa dan menurunkan tangannya.


Ia merilekskan dahinya yang sempat kusut, meski demikian debaran jantungnya tetap berpacu, namun Zelene Liang tentu tak mendengarnya.


"Turunlah ke bawah, kamu makan malam saja duluan dan jangan menungguku." Ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Namun, tatapan datar dari pria itu malah yang di dapat oleh Zelene Liang. "Sudah aku katakan kalau tidak ada perasaan apa pun saat aku menciummu! Mau aku lanjutkan lagi dan membuktikan padamu?" tantangnya.


"Ck," Zelene Liang berdecak kesal, dia mendekatkan wajahnya ke dada bidang Tony Huo, membuat pria itu menjadi tidak nyaman dan kembali dahinya berkerut.


"Zelene Liang apa yang sedang kamu lakukan?"


"Mendengarkan detak jantungmu." Sahutnya pelan sambil menempelkan telinganya pada dada bidang pria itu. Dia mendengarkan dengan saksama dan tidak perlu menelaah lebih jauh karena jantung Tony Huo berdebar lebih cepat lagi saat dia mendekatkan dirinya pada pria itu. "Ini yang kamu sebut tidak merasakan apa pun? Kamu tidak bisa merasakan debaran jantungmu sendiri ataukah kamu hanya ingin menutupi saja?"


"Jangan berlebihan!" Tony Huo sudah tidak tahu lagi bagaimana harus mengelak hujaman pertanyaan dari Zelene Liang. Wanita itu masih mendengarkan detak jantungnya dan kembali aroma cherry dari wanita itu menyeruak memenuhi rongga hidungnya. Entah mengapa saat ia merasakan aroma tersebut bagaikan mencium lilin aromaterapi atau meminum teh beraroma terapi yang seketika menghilangkan lelahnya.


Tony Huo tanpa sadar menarik lengan Zelene Liang dan membawa wanita itu ke dalam pangkuannya.


"Tony Huo! Apa-apaan tingkahmu ini?" sementara, Zelene sendiri merasa kaget karena dalam sekejap sudah berada di pangkuan pria itu. "Lihat bagaimana posisi kita sekarang?"


Posisi yang agak canggung, namun mereka adalah sepasang suami-istri tidak menjadi masalah jika Zelene berada di pangkuan Tony Huo, 'kan?


"Kenapa? Bukankah kamu dengan percaya diri mengatakan kalau aku cemburu? Bagaimana jika aku mengakuinya dan ...," tangan kirinya menyisir rambut Zelene dengan lembut, sementara tangan tangan kanannya dengan erat merangkul pinggang wanita itu agar tidak bisa melarikan diri darinya. Tony Huo mendekatkan wajahnya dan dengan saksama mendengarkan debaran jantung dari Zelene Liang. "Jantungmu berdebar keras. Mungkinkah kamu gugup saat ini?"


"Apa yang kamu bicarakan? Lepaskan aku!" wajah Zelene seperti terbakar, sangat panas dan jantungnya berpacu lebih cepat lagi ketika dia mencoba melepaskan diri dari Tony Huo. "Tony Huo! Sudah cukup, aku tidak akan menggodamu lagi. Aku hanya bercanda barusan."


Tony Huo mendongak dan menatap mata Zelene, kini mata wanita itu tidak seberani seperti sebelumnya. Seulas seringai terpasang pada bibir Tony Huo.


🍁 Bersambung🍁