My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Anu ... begini, Tuan, sebenarnya ... itu ....



Toronto, Ontario, Cannada


Tony Huo bersandar di atas kursinya—kepalanya terasa seperti kapal karam yang semua bagiannya pecah hingga berantakan, ia mendapatkan sakit kepala disebabkan tidak tidur dengan teratur selama beberapa hari ini. Ia memutar-mutar ibu jarinya guna memijat pelipisnya. Wajahnya kehilangan cahaya saking lelahnya nampak dari kantung mata yang menghitam.


Bukan hanya tentang pekerjaannya yang menggunung hingga membuatnya tidak tidur dengan tenang, tetapi laporan yang diberikan oleh Xiao Xuan dan Xiao Juan.


Beberapa hari yang lalu setelah Zelene sampai di Negara C; Xiao Xuan langsung melapor padanya, dalam laporan itu tersampaikan bahwa Zelene baik-baik dan sehat-sehat saja, tidak ada yang berniat jahat ataupun melukai Zelene selama syuting di beberapa negara. Dalam laporan terakhir Xiao Xuan mengatakan bahwa Zelene terus bersama dengan Xie Yu Fan.


Maka dari itulah, kepala Tony Huo berdenyut hingga hari ini, sebenarnya ia tidak ingin memikirkan hal mengenai Zelene Liang, akan tetapi laporan dari Xiao Xuan membuatnya resah tak seperti sebelum-sebelumnya. Ia kemudian memejamkan matanya untuk sesaat, menenangkan pikirannya yang berkecamuk.


Ketukan di pintu masuk tak terdengar di telinga Tony Huo—maka, orang yang mengetuk pintu langsung masuk tanpa ijin. Wanita berparas manis itu mendapati wajah kelelahan Tony Huo, ia menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan pria itu.


"Dia terlihat kelelahan, apakah dia bekerja tanpa istirahat?" gumam Lana Wei. Langkah anggunnya berjalan ke belakang kursi Tony Huo, lantas jemari lentik wanita itu menyentuh pelipis Tony Huo.


"Hm ...." Tony Huo merasakan sensasi dingin di pelipis, juga rasa tenang dikarenakan pijatan dari Lana Wei, akan tetapi ia menyadarkan dirinya; ia membuka mata perlahan dan mencengkeram jemari lentik yang menari di pelipisnya.


Tangan Lana Wei ditarik dengan kasar mengakibatkan wanita itu terjungkal ke pangkuan Tony Huo. Sontak saja Lana Wei kaget juga mengerang kesakitan karena cengkeraman Tony Huo sangat kuat.


"Ah! T-Tony ..., lepaskan tanganku, sakit!" ucapnya lirih.


Alis Tony Huo dirajut ketika mata mereka saling terkunci. "Kenapa kau bisa masuk ke sini?" tanyanya dengan nada tidak ramah.


Sebelum Lana Wei bisa menjawab pertanyaan tidak ramah dari Tony Huo—pintu terbuka tanpa diketuk—tatapan Duan Che yang membuka pintu bersirobok dengan tatapan kedua orang pada posisi duduk yang mana Lana Wei berada di pangkuan Tony Huo.


Duan Che yang menyaksikan adegan itu terdiam sejenak, kemudian bibirnya dipaksakan bergerak. "Maaf, silahkan lanjutkan." Ia kemudian menutup pintu.


Baiklah, lagipula berita yang akan aku sampaikan mungkin tidak terlalu penting bagi Tuan, pikirnya.


Sementara itu, di dalam ruangan, Lana Wei masih bertengger di pangkuan Tony Huo tanpa bergerak sedikit pun. Semburat merah makin kentara di wajahnya, sepertinya ia sangat gugup bahkan jantungnya berdebar hebat, mungkin karena ini pertama kalinya Lana Wei berada di atas pangkuan Tony Huo.


Tony Huo menyadari posisi mereka, ia segera mendorong Lana Wei dari lamunannya. Wanita itu terhuyung, namun dengan cepat ia mengambil posisi berdiri.


"Kenapa kau bisa masuk ke sini?" Tony Huo mengulang pertanyaan yang dilontarkannya barusan. Ia berdiri dari duduknya, lantas melangkah ke dinding kaca di belakang kursinya.


"Aku baru saja sampai dan langsung menemuimu." Ucap Lana Wei pelan sembari memperhatikan Tony Huo yang memunggunginya.


"Menemuiku? Kau sudah melihatku sekarang, maka pergilah!" perintahnya dengan nada dingin, ia tidak senang dengan kehadiran Lana Wei.


Tubuh Lana Wei bergetar mendengar nada dingin Tony Huo seperti kristal es menusuk tepat ke jantungnya. "Apa tidak boleh aku di sini lebih lama?" tanyanya lirih. Ia menggigit bibir bawahnya.


"Nona Wei," Tony Huo membalikkan badannya dan menatap dingin ke arah Lana Wei, "aku masih punya banyak pekerjaan! Aku tidak bisa menemanimu dengan obrolan yang tidak penting." Bentak Tony Huo, nadanya terdengar sarkas.


Kepala Lana Wei tertunduk, ia seperti gadis lemah yang butuh kasih sayang. Hanya dengan nada sarkas Tony Huo sudah membuatnya gemetar. "Kamu terlihat sangat lelah karena itu, aku memijat pelipismu. Beristirahatlah, berkerja terlalu berlebihan tidak baik bagi kesehatanmu."


"Huh, itu bukan urusanmu!" pandangan Tony Huo mengarah ke pintu keluar, "aku tidak perlu memberitahumu letak pintu keluarnya, 'kan?"


"Aku akan keluar, jaga kesehatanmu, Tony." Lana Wei melirik Tony Huo sebelum berjalan ke arah pintu.


Lirikan sendu itu tidak mendapatkan balasan dari Tony Huo—pria itu sudah kembali menatap ke arah luar dinding kaca. Ia sama sekali tidak memperhatikan Lana Wei dan kesedihan di dalam mata wanita itu.


Pintu tertutup dan ruangan itu kembali dalam keheningan seperti sebelumnya. Tony Huo menghembuskan napas kasar, ia kembali memijat pelipisnya karena sakit kepalanya makin bertambah.


"Harusnya dia tidak datang lagi!" dinding kaca itu dihantam oleh kepalan tangan Tony Huo. Ia kembali mengambil posisi duduk dan memanggil Yun Ruo Xi melalui intercom, "bawakan aku pain killer!"


"Baik, Tuan." Sahut Yun Ruo Xi dari seberang intercom.


🍁🍁🍁


"Anda terlihat kelelahan, Tuan, sebaiknya kepala Anda dipijat ...." Yun Ruo Xi menaruh nampan itu di atas meja Tony Huo, tangannya bersiap ingin memijat kepala Tony Huo.


"Keluarlah!" perintahnya, tak membiarkan Yun Ruo Xi mendekat padanya.


" ... Baik, Tuan." Ucapnya dengan nada kecewa. Yun Ruo Xi tidak menunggu lagi dan langsung keluar dari ruangan Tony Huo dengan wajah ditekuk.


Tony Huo mengambil pain killer, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya dan setelah itu ia menenggak segelas air putih tanpa menyisakannya. Ia mengelap bibir tipisnya dengan saputangan, tetapi gerakkannya terhenti, ketika ia mengingat Duan Che seperti ingin mengatakan sesuatu padanya barusan.


Intercom di atas mejanya kembali ia tekan, kali ini ia memanggil Duan Che. "Datanglah ke ruanganku sekarang!"


Hanya beberapa saat setelah panggilan itu berakhir, Duan Che sudah masuk ke ruangan Tony Huo membawa sebuah tablet PC di tangannya.


"Anda perlu sesuatu, Tuan?" tanya Duan Che yang berdiri tegak di depan meja Tony Huo.


"Barusan ... sepertinya ada yang ingin kau sampaikan?!"


"Oh, agaknya bukan sesuatu yang penting, Tuan." Duan Che berkata bahwa sesuatu yang ingin ia beritahukan barusan tidak begitu penting untuk diketahui oleh atasannya, mengingat adegan yang terekam dalam ingatannya barusan.


"Apa kau yakin itu bukan sesuatu yang penting? Kalau begitu keluarlah!"


"Anu ... begini, Tuan, sebenarnya ... itu ...." Kini, Duan Che tidak tahu bagaimana harus memberitahu Tony Huo berita mengenai Zelene Liang yang sedang menjadi topik hangat di Negara C.


Tony Huo memelototi Duan Che. "Bicaralah yang benar! Sejak kapan kau menjadi gagap?"


"Anda lihat saja sendiri." Duan Che menyodorkan tablet PC ke atas meja Tony Huo.


Tatapan Tony Huo beralih ke tablet PC di atas mejanya, dalam layar berukuran 8" tersebut terpampang dengan jelas wajah cantik istri yang ditinggalkannya 2 tahun lalu, namun di dalam foto itu menampakan Zelene bersama dengan seorang pria berambut coklat gelap yang tidak lain adalah Xie Yu Fan.


Artikel dalam majalah daring itu berjudul 'Keakraban Zelene Liang dan Xie Yu Fan, apakah mereka sedang berkencan?'


Judul artikel itu benar-benar membuat Tony Huo kebakaran jenggot. Ia mengambil tablet PC itu, kemudian memandang lekat-lekat pada pria dan wanita yang saling menggoda di dalam foto. Bukan hanya satu foto ataupun satu artikel, namun puluhan foto keakraban Zelene dan Xie Yu Fan di lokasi syuting telah membakar mata Tony Huo.


Ruangan yang tadinya hening dan dingin, kini berubah menjadi kobaran bara api—siap membakar apa saja yang mendekatinya. Duan Che menelan salivanya, ia merasakan atmosfer di dalam ruangan semakin pengap hingga ia sendiri kesulitan bernapas.


Wajah Tony Huo sudah menghitam setelah membaca beberapa artikel kedekatan Zelene dengan lawan mainnya. Apalagi ketika ia membaca komentar para penggemar sangat antusias dan mendukung istrinya berkencan dengan Xie Yu Fan.


Bagaimana mungkin orang-orang itu begitu vulgar dengan komentar mereka? Tony Huo menyeret layar ke bawah dan semakin kebawah komentar para penggemar makin membuatnya muntah darah.


"XieXieLove: Harus aku akui bahwa, mereka memang pasangan yang serasi."


"AkuCintaXie: Walaupun aku tidak ingin pangeran Xie memiliki kekasih, tetapi Zelene Liang merupakan pengecualian. Aku memberikan restuku pada kalian."


"KabutApi: Bagaimana ini? Mataku buta melihat kesempurnaan mereka, ah, aku ingin mereka menikah!!!"


Komentar itu merupakan yang terakhir dibaca oleh Tony Huo sebelum tablet PC itu terlempar dari tangannya. Ia berdiri dari duduknya dengan napas gusar, kedua tangannya bertumpu di atas meja.


"Pesan tiket ke Imperial City, kita akan berangkat malam ini juga, dan tidak ada penundaan!" perintahnya dengan marah.


Duan Che menelan salivanya dalam-dalam sebelum menjawab perintah Tony Huo. "Baik, Tuan." Ia segera keluar dari ruangan yang pengap akan amarah Tony Huo.


Kali ini, Tony Huo sangat marah; Xiao Xuan sama sekali tidak melaporkan tentang paparazi yang mengikuti Zelene hingga beritanya sudah membludak di Negara C. Ia mengusap wajahnya menggunakan tangan kanan, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan; berharap agar ia bisa sedikit lebih tenang.


🍁 Bersambung🍁