My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Tuan Muda, ijinkan saya untuk memijat bahu Anda



Dalam sebuah bangsal pribadi, perempuan berambut panjang dengan balutan gaun biru tua tersebut duduk pada sebuah kursi di tepi ranjang pasien. Dia mengelus tangan halus seorang wanita muda yang usianya kira-kira lebih tua 5 tahun darinya. Sementara dia sendiri terlihat berusia 22 tahunan.


"Kakak, semua orang telah menganggapmu tiada. Kapan kau akan bangun dan menunjukkan wajahmu pada dunia yang telah membuangmu?" tanyanya lirih. Air matanya pun mulai membasahi pipinya seperti sebelumnya ketika bertemu dengan Tony Huo. "Oh, iya, Kak, aku bertemu dengan Tony Huo saat di jalan menuju kemari. Dia masih sama sombongnya. Tadinya aku ingin mengajaknya untuk menemui Kakak, tapi dia sedang terburu-buru, sayang sekali. Sepertinya aku harus menerima tawaran dari Kak Zhong dan masuk organisasinya. Kau tahu memang berbahaya jika berhubungan dengan Kak Zhong, tapi aku ingin sekali menghabisi mereka yang membuatmu seperti ini Kak. Juga mereka yang telah membuangmu."


Seringai pada salah satu ujung bibirnya bagaikan ketajaman ujung dari sebilah belati yang telah diasah. Dia menghapus air matanya, kemudian mengambil sebuah pisau buah dan memilih-milih buah mana yang akan dikupasnya, namun sebelum dia bisa mengupas buah di tangannya jatuh ke lantai ketika tiba-tiba pintu bangsal terbuka dan memperlihatkan seorang lelaki bertubuh gemuk berdiri di ambang pintu.


"Paman!" serunya. Pisau buah di tangannya bergetar ketika matanya tak henti melihat ke arah pria tambun itu.


"Laura Ji," pria tambun itu melangkah masuk ke dalam bangsal dan dengan pelan menutup pintu di belakangnya. "Ada apa dengan tatapan matamu itu? Paman datang untuk menjenguk keponakanku tercinta." Dia melangkah ke arah ranjang pasien dan berhenti di seberang Laura Ji. Pria itu memperhatikan wanita muda yang terlelap dalam tidur panjangnya.


"Apa lagi yang kau inginkan David Ji?" Laura Ji bertanya dengan nada pelan sembari menatap pria itu dengan sorot benci.


David Ji mengalihkan pandangannya ke arah Laura Ji. Dia menatap malas pada keponakannya serta bibirnya berkedut jijik, kemudian dia berucap malas, "Tentu saja melihat keadaan Lira. Kau pikir aku ke sini untuk menemuimu, gadis tidak berguna? Lihat Kakakmu yang cantik ini terbaring di ranjang rumah sakit selama beberapa tahun, dan apa yang kau lakukan? Menjenguknya setiap hari tanpa melakukan hal yang lebih berguna lagi?" bentakannya.


Laura Ji terduduk mendengar bentakan tersebut, dia marah juga benci pada David Ji yang sama tidak berguna seperti dirinya. Namun pria itu ada benarnya juga, dia selama ini tidak melakukan hal berguna sama sekali. Pelaku kejahatan yang telah membuat Lira Ji menjadi koma masih belum ditemukan. Sementara dia hanya bisa merawat Lira Ji sambil bekerja paruh waktu. Laura Ji mengepalkan jemari tangannya, dan dengan ini semakin menguatkan tekadnya untuk masuk ke sebuah organisasi atau tepatnya di mana para mafia berkumpul.


Genangan cairan bening di pelupuk matanya membuat mata perempuan itu kembali berkabut kala melihat ke arah Lira Ji yang terlentang di atas ranjang pasien.


"Paman, aku akan menerima tawaran dari Kak Zhong." Ujarnya pada David Ji. Dia mengangkat tangannya dan menancapkan pisau tersebut pada buah yang telah jatuh ke lantai.


Pria itu tidak terkejut sama sekali, dia malah menghela napas lega. Keponakan yang dianggapnya tidak berguna akhirnya memutuskan untuk bertahan hidup dengan mengambil jalan sebagai bagian dari mafia.


"Bagus! Aku percaya akan kemampuanmu dan jangan sia-siakan bakatmu itu. Aku akan ikut bersamamu menemui Ah Zhong." Nada David Ji melunak begitu juga dengan tatapan jijiknya terhadap Laura Ji sudah agak memudar. "Kau tahu, bukan, kalau kalian berdua hanya memiliki aku di dunia ini? Aku akan melindungi kalian dan bergabung dengan Ah Zhong."


"Paman ...." Air mata Laura Ji tidak terbendung lagi. Cairan hangat tersebut mengalir ke pipinya, sedang bulu matanya bergetar. Dia merasa terharu dengan ucapan David Ji. Laura Ji segera menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan kedua tangannya, dan kembali berucap, "oh, iya, Paman, tadi aku bertemu dengan Tony Huo ketika aku tidak sengaja terburu-buru menyebrang jalan. Mobilnya hampir saja menabrakku."


"Tony Huo!" David Ji berdiri dari duduknya ketika menyerukan nama Tony Huo. Kali ini pria itu agak terkejut, dia memberikan tatapan serius pada Laura Ji seraya berjalan ke arah perempuan itu. "Kau tidak terluka, 'kan?" dia mengamati Laura Ji dari atas hingga bawah.


"Aku tidak apa-apa, Paman. Sepertinya Tony Huo tidak mengenaliku." Laura Ji menyeringai.


🍁🍁🍁


Tony Huo masih berada di kantornya pada pukul 9 malam. Ia bekerja lembur karena tadi siang ia sampai di kantornya pada pukul 2 siang. Jadi, beberapa pekerjaannya terlantar dan ia juga harus menghadiri rapat hingga sore tadi. Tony Huo membaca dokumen di atas mejanya dan sesekali melirik pada arloji di pergelangan tangan kanannya.


Panggilan tersebut langsung diangkat dan suara butler Kim menyapa di seberang sana. "Selamat malam, Tuan Muda, apakah Anda memerlukan sesuatu?"


"Hum, butler Kim, bagaimana keadaan Zelene Liang? Hm ..., maksudku, aku akan pulang agak malam." Tony Huo berucap agak terbata. Ia agak canggung ketika menanyakan kabar istrinya. Sejak tadi, sembari membaca dokumennya, ia tidak lupa menyelipkan wajah manis Zelene Liang ke dalam pikirannya.


"Setelah makan malam, Nyonya Muda pergi ke kamarnya dan tidak turun lagi setelahnya. Mungkin beliau sudah tidur. Apakah perlu saya bangunkan?"


"Tidak usah, butler Kim." Entah mengapa Tony Huo tiba-tiba berdiri dari duduknya. Jantungnya pun berdebar mendengar istrinya telah kembali ke kamar mereka dan tidak turun lagi. Mungkinkah dia sedang menungguku? Tony Huo bertanya dalam hatinya. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan menghela napas perlahan, lantas kembali duduk. "Hanya itu saja, butler Kim, akan kututup teleponnya."


Panggilan telepon tersebut telah ditutup olehnya. Ia meletakkan smartphone-nya di atas meja, kemudian menekan intercom dan memanggil Yun Ruo Xi.


"Sekretaris Yun, bawakan kopi untukku." Perintahnya.


"Baik, Tuan."


Setelah menunggu beberapa menit; Yun Ruo Xi membawakan kopi untuknya.


Wanita itu berjalan elegan membawa nampan di tangannya, dia tersenyum lembut ketika memperhatikan wajah tampan Tony Huo. Saat ini mereka sedang berduaan di kantor tersebut, meskipun Duan Che masih berada di kantornya. Akan tetapi di ruangan tersebut hanya ada Tony Huo dan dirinya saja. Bisakah Yun Ruo mengambil kesempatan untuk mendekatkan dirinya dengan pria idamannya?


Langkahnya tepat berhenti di sebelah Tony Huo. Bahkan bau parfum maskulin dari pria itu dapat tercium dengan jelas olehnya lantaran mereka sangat dekat. "Kopi Anda, Tuan Muda," dia meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja Tony Huo.


Seakan urat malunya telah dipotong, dia meletakkan tangannya di atas bahu Tony Huo, kemudian berbisik dengan nada manja, "Tuan Muda, ijinkan saya untuk memijat bahu Anda. Anda terlihat lelah seharian."


🍁🍁🍁


Zelene Liang terlentang di atas ranjang besarnya sambil mengarahkan sorot matanya ke dinding dan memperhatikan jam dinding besar yang terpaku di sana.


"Dia belum pulang; aku tidak sedang menunggunya." gumamnya. Dia menghirup napas panjang sejenak sembari meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi kiri dan pipi kanannya. "Zelene Liang ada apa denganmu? Apakah kamu sudah luluh oleh pria itu, sehingga kamu memikirkannya?!"


Dia menggeleng pelan, lalu membalikkan badannya perlahan ke kiri lantaran dia masih merasakan badannya seperti remuk. Untuk pertama kalinya semenjak dirinya menjadi aktris dan melakoni peran berat sekalipun dia tidak pernah merasa selelah ini. Perlahan mata almond Zelene Liang mulai terpejam.


🍁 Bersambung🍁