My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Lupakan saja yang barusan terjadi



"Tony Huo! Lepaskan!" seru Zelene. Tangannya mendorong dada bidang pria itu, namun rangkulan pada pinggangnya terlalu kuat, sehingga Zelene tidak bisa melepaskan dirinya dari pria itu.


Tony Huo semakin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Kamu mengatakan telah melakukan lebih daripada jabat tangan dengan pria itu. Apakah seperti ini?"


Bibir tipisnya dengan perlahan mendarat pada bibir mungil Zelene Liang. Kedua bibir itu pun akhirnya menyatu serta detak jantung keduanya pun beradu cepat. Sorot mata Tony Huo mengarah pada bibir Zelene yang kini agak bengkak setelah ia mengakhiri ciumannya.


"Lupakan saja yang barusan terjadi." Ucap pria itu dengan nada dingin. Ia melepaskan rangkulannya serta menjauhkan dirinya dari Zelene dan mulai mengambil langkah keluar dari kamar mandi wanita.


Pikiran Zelene sudah kembali tersadar berkat ucapan Tony Huo. Setelah mengambil ciuman secara paksa, kini ia harus melupakan apa yang telah mereka lakukan?


"Hah, aku benar-benar tidak bisa percaya." Zelene mengusap bibirnya yang bengkak dan memandang ke arah cermin. "Ya, lupakan saja hanya sekadar ciuman, bukan, tidak lebih? Mengapa aku harus terlalu memikirkannya?"


Meskipun demikian, ada rasa aneh dalam hatinya yang membuat Zelene merasa sedikit tertusuk di dalam sana. Ia membilas bibirnya yang telah bersentuhan dengan bibir tipis pria itu.


Saat melakukan adegan ciuman dengan aktor, ia tidak merasakan apa pun dan semua itu dilakukan dengan profesional olehnya, tanpa adanya perasaan di dalamnya. Namun tetap saja terlihat mendalami ciuman tersebut. Lain halnya dengan kali ini, meskipun Tony Huo sudah pernah menciumnya ketika pernikahan mereka berlangsung. Ciuman barusan dirasakan berbeda sekali, entah ia sendiri kurang memahaminya.


Ia mengambil tisu dan mengelap bibirnya yang basah-sudah tidak ada lipstik lagi di sana. Bibir Zelene berwarna merah jambu, terlihat natural.


"Pria bodoh! Aku akan membalasnya ribuan kali!" geramnya. Jari-jemari Zelene terkepal dan dadanya menggebu. Ia melemparkan tisu yang digunakannya barusan ke dalam tempat sampah dengan kesal.


Setelahnya, dengan langkah kesal Zelene keluar dari kamar mandi.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Tony Huo berjalan pelan-pelan melewati koridor dari kamar mandi menuju ke kantornya. Tidak ada yang tahu, ia barusan keluar dari kamar mandi wanita karena Manajer Ning sudah mengatur agar tidak ada karyawan yang memasuki kamar mandi tersebut.


Ia menepuk dahinya karena telah merusak suasana hangat barusan dengan ucapannya yang dingin. Ia sendiri yang memulainya, ia juga yang menggoda Zelene dan pada akhirnya, dirinya juga yang menghempaskan Zelene.


"Apa aku sudah tidak waras lagi? Bukan aku yang menggodanya, tapi bibirnya terlalu menggoda untukku." Plak! Sekali lagi, ia menepuk dahinya. "Apa yang barusan aku katakan? Hahaha ...." Ia tertawa di sepanjang koridor, tetapi tawanya terdengar agak menyakitkan.


Karena Tony Huo berjalan terlalu santai, langkahnya telah disamai oleh Zelene. Mereka kembali berpapasan di depan ruangan Tony Huo. Zelene sendiri tidak sadar bahwa di depannya ada Tony Huo, dan ketika itu mata mereka saling bertemu.


Zelene menyeringai, ia kemudian mengangkat kaki kanannya dan menginjak kaki kanan Tony Huo dengan hak tingginya.


"Ahk-" Tony Huo menutup mulutnya dan memotong teriakannya sendiri. Dahinya berkerut serta sorotan tajamnya mengarah pada Zelene Liang yang masih menyeringai di tempatnya.


"Oh! Aku tidak sengaja, CEO Huo, bagaimana kalau kita lupakan saja yang terjadi barusan?!" ucapannya mengembalikan ucapan Tony Huo-di kamar mandi tadi.


"Heh, jangan terlalu berharap, Tony Huo, aku tidak bisa melepaskan diriku barusan. Tapi, tidak dengan lain kali, ah, maksudku tidak ada lain kali!" kata Zelene dengan intonasi angkuh, ia tidak memberikan harapan pada Tony Huo agar bisa menciumnya kembali.


"Hahaha~" Tony Huo tertawa renyah. Apakah memang begini karakter Zelene Liang, tidak mau kalah dan membalas dendam pada waktu yang tak diperkirakan. "Kamu adalah istriku, aku bisa menciummu di mana saja dan kapan saja. Tidakkah kamu berpikir akan sangat lucu jika seorang istri tidak bisa dicium oleh suaminya sendiri?"


"Tony Huo, ingat kita sedang berada di mana." Zelene melihat ke sekeliling dan mendapati bahwa beberapa karyawan melirik ke arah mereka sesekali. "Kita berada di depan ruanganmu, lihat bawahanmu sedang mengamati kita. Mungkinkah kamu ingin mereka tahu hubungan kita?" tanyanya dengan nada pelan.


"Kamu sudah tahu kita berada di depan kantor CEO dan kamu berani sekali menginjak kakiku di depan bawahanku?!"


Zelene menatap malas pada Tony Huo. Ia tidak ingin melanjutkan percakapannya dengan pria itu dan memilih untuk membuka pintu kantor lantas masuk ke dalam, meninggalkan Tony Huo yang masih di tempatnya. Bam! Pintu kembali tertutup-mengagetkan Tony Huo.


"Dasar wanita itu." Tony Huo menggeleng. Ia memperhatikan para karyawan di sekitarnya, kepala mereka tertunduk karena tidak ada yang berani menatap Tony Huo yang wajahnya telah menghitam akibat kesal akan kelakuan Zelene Liang.


Ia menghela napasnya dan mulai membuka pintu kantor. Saat ia melangkah, kaki kanannya terasa agak sakit. Tony Huo masuk ke dalam kantornya dan mendapati kembali Zelene Liang dan Xie Yu Fan duduk di sofa yang sama.


"Kalian berdua pasti berpapasan di depan, bukan?" tanya Xie Yu Fan pada Zelene Liang ketika dia melihat Tony Huo masuk ke dalam kantor tersebut setelah Zelene. Begitu juga dengan tadi, di mana Zelene pergi ke kamar mandi dan setelahnya pula Tony Huo keluar dari kantornya.


"Iya, kami berpapasan di depan kantor ini dan aku masuk duluan karena CEO Huo, sedang ada urusan di luar." Jawab Zelene dengan santai tanpa melihat ke arah Xie Yu Fan.


Tony Huo bergegas menuju sofa dan langsung duduk pada sofa di seberang Zelene. Sikunya bertumpu pada sandaran tangan di sofa tersebut, sedangkan jemarinya bermain pada alis kanannya. "Tanda tangan saja dan tidak perlu lagi berbasa-basi, setelah itu pergilah ke divisi desain." Tony Huo berucap dengan nada malas. Ia kembali memperhatikan bibir mungil Zelene yang agak bengkak dan memiliki pikiran untuk membuat bibir itu lebih bengkak lagi nanti.


"Baik, kami mengerti, CEO Huo." Ucap Xie Yu Fan. Pria itu mengambil bolpoin dan diberikan pada Zelene.


Zelene mengambil bolpoin di tangan Xie Yu Fan dan hanya memberinya senyum tanda terima kasih. Tanpa berucap Zelene menandatangani kontrak tersebut. Ia sempat melirik ke arah Tony Huo di seberangnya. Jemari pria itu beralih mengelus bibirnya sembari menatap pada bibir dirinya, kemudian dengan cepat Zelene mengalihkan pandangannya ke arah dinding kaca di belakang meja Tony Huo.


Xie Yu Fan juga menandatangani kontrak tersebut, ia melihat suatu kejanggalan di antara Zelene Liang dan Tony Huo. Sejak Zelene masuk ke dalam kantor tersebut, dia melihat bibir Zelene yang agak bengkak dan kini, Tony Huo mengelus bibirnya saat memperhatikan Zelene, juga ada sedikit bengkak pada bibir tipis pria bertubuh tegap itu. Xie Yu Fan kiranya sudah dapat menebak hal yang terjadi di kamar mandi ketika mereka keluar dari kantor itu. Dia tersenyum kecut, namun dalam hatinya terlukis seringai tajam.


Tony Huo berdiri diikuti oleh kedua artis itu.


Xie Yu Fan mengulurkan tangannya pada Tony Huo. "Terima kasih karena telah memilih kami sebagai duta, kami artis di bawah naungan LC Entertainment, tidak akan mengecewakan Anda, CEO Huo." Dia tersenyum menunggu Tony Huo agar membalas menjabat tangannya.


Tony Huo memperhatikan tangan Xie Yu Fan, ada rasa enggan untuk menjabat tangan pria itu. Ia memutuskan untuk melangkah ke mejanya. "Kalian semua keluarlah!"


๐Ÿ Bersambung๐Ÿ