
"Suami ...." lirih Zelene.
Zelene Liang terperangah mendengar kata 'suami' yang dilontarkan dari bibir tipis pria itu. Ia menepuk dahinya dengan keras dan berusaha mencerna situasinya saat ini, lantaran kepalanya masih pening dan pikirannya pun semrawut ia menjadi lupa pada pria yang menikah dengannya dua tahun lalu, dan selama dua tahun pula mereka tidak pernah berjumpa atau berkomunikasi.
Sempat selama beberapa Minggu saat Zelene masih syuting, ia mencari berita mengenai Tony Huo karena pria itu tidak ada kabarnya sama sekali, akan tetapi, Zelene tidak menemukan berita apa pun dan ia tidak mencari lagi setelahnya. Bahkan, ketika ia menerima panggilan dari kediaman Huo, mereka tidak menyebut-nyebut nama Tony Huo. Saat ini, bukannya Zelene melupakan statusnya yang sudah menikah, hanya saja ia terlalu sibuk dan lengah akibat alkohol semalam.
"Kenapa begitu kaget?" Tony Huo yang telah beranjak dari ranjang, mengulas sebuah seringai di ujung bibirnya dan mendapati bahwa, situasi ini cukup menarik di matanya. Yang mana Zelene Liang kelimpungan saat mendengar kata 'suami' dan itu artinya, kemungkinan saja Zelene Liang telah melupakannya selama dua tahun ini, pikirnya. Hatinya agak geram dengan kenyataan ini, tetapi dengan melihat wajah Zelene saat ini membuatnya ingin tergelak sekaligus marah.
"Ah, uhm ..., aku hanya pusing," Zelene sedang mencari alasan untuk menghindari kecanggungan dan juga menutupi rasa malunya, lalu berkata lagi, "ugh! Kepalaku ... kepalaku pusing." Ia memijat pelipisnya dengan intens.
Tony Huo kembali naik ke atas ranjang dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zelene. Menurutnya pagi ini, terasa sangat berbeda dengan pagi sebelumnya saat, ia berada di Kanada. Pria itu merasakan sesuatu hal yang baru, ketika ia bangun dan mendapati seseorang berada dalam kamarnya, mengapa dulu dirinya harus pergi dan tak merasakan keseruan ini?
"Jadi, sudah ingat sekarang?" tanya Tony Huo, di depan wajah Zelene.
"Hm!" Zelene mengangguk kuat-kuat dan tersenyum memaksa hingga gigi putihnya yang belum disikat terlihat tetap memesona. Ia kemudian bertanya tanpa menghilangkan senyum memaksanya, "kapan kamu kembali?"
Duh! Dua tahun pria ini tidak ada kabarnya dan tiba-tiba pulang saat aku dalam keadaan seperti ini. Pantas saja dia bisa tidur di kamar ini. Mungkinkah aku melakukan sesuatu yang tidak bermoral padanya tadi malam? Zelene bertanya-tanya dalam batinnya, walaupun ia tidak mengingat apa pun mengenai kelakuannya tadi malam, namun tingkah konyolnya telah terekam dalam kepala pria di depannya itu.
"Tadi malam, dan aku langsung sibuk mengurus seorang pemabuk. Itu baru awal dari kompensasi yang aku berikan padamu." Ujarnya pelan
Zelene merasakan hembusan napas pria itu seperti menari di wajahnya, begitu lembut dan berbau mint, padahal pria itu juga belum menggosok gigi sama seperti dirinya. Bibir Zelene berkedut dan ia bertanya pelan, "Kompensasi ...?"
"Iya, kompensasi karena aku telah pergi selama dua tahun ini. Jika ada yang kamu inginkan, kamu bisa meminta langsung padaku atau pada asisten Duan. Apa pun itu, aku akan memenuhinya."
"Huh ...?" Dahi Zelene berkerut dan kedua matanya menatap tidak percaya pada pria itu. Sudah meninggalkannya dan sekarang tiba-tiba kembali, lalu ingin memberikannya kompensasi? Memang apa yang tidak bisa didapatkan oleh Zelene Liang? Zelene melengos dan turun dari ranjang, lalu berkata dengan nada malas, "tidak perlu! Aku bisa mendapatkan apa pun yang aku inginkan."
Tony Huo menengadah menatap langit-langit kamar tersebut, sedang kedua tangannya bertumpu di atas ranjang, bibir tipis itu kembali berucap, "Kamu terlalu percaya diri ...," ucapannya sengaja ia potong dan pandangannya beralih menatap tubuh jenjang Zelene, kemudian ia melanjutkan, "pikirkan baik-baik dan simpan saja jika kamu tidak menginginkan apa pun untuk saat ini. Mungkin saja suatu saat akan berguna, 'kan?"
Dahi Zelene makin berkerut dan tatapan curiga di arahkan pada Tony Huo. "Apa maksudmu? Apakah kamu sedang merencanakan sesuatu untuk membuatku menerima kompensasi darimu? Kamu saja tidak minta maaf padaku dan tiba-tiba mengganti permintaan maaf dengan kompensasi? Hah ..., aku benar-benar tidak percaya!" Zelene memutar bola matanya malas, ia tidak bisa menebak arah pikiran pria itu.
"Apakah permintaan maaf begitu penting? Apakah lebih baik dari kompensasi?" Tony Huo mengangkat salah satu alisnya, dan ia masih tetap dalam posisi yang sama, duduk di atas ranjang.
Tony Huo menurunkan pandangannya dan diam untuk beberapa saat. Permintaan maaf tidak ada dalam kamusnya, jika sebuah permintaan maaf sangat berguna, mengapa permintaan itu malah menyebabkan sebuah kematian yang begitu tragis? Tony Huo duduk tegak, lantas mengepalkan jari-jarinya. Pikirannya telah berada jauh dimasa lalu, ia memejamkan mata sekilas dan menyimpan memori itu dengan cepat. Ia bangkit seketika dan tanpa aba-aba, ia mengunci rahang Zelene dengan tangan kanannya. Zelene telah membangkitkan kembali kenangan pahit yang terkubur dalam-dalam hanya dengan kata 'maaf'.
"Tony Huo tidak pernah meminta maaf." Ia mendesis seraya rahangnya terkatup.
Tangan Tony Huo menekan kuat pada rahang Zelene, sehingga wanita itu meringis kesakitan dan matanya menatap marah pada Tony Huo. Sikap kasarnya itu pun disadari oleh Tony Huo dan segera melepaskan tangannya. Tidak seharusnya karena masa lalu yang tidak diketahui oleh Zelene malah membuatnya marah dan menyakiti wanita itu.
"Dasar gila!" Zelene mengelus rahangnya dan dengan kesal memukul dada bidang Tony Huo. Pukulannya itu tepat mengenai luka cakar yang akibatkan oleh dirinya. Sehingga membuat Tony Huo mengernyit halus. Zelene dengan marah membuka bibir mungilnya, "apa kamu sangat tidak menyukaiku? Sehingga sebuah permintaan maaf membuatmu geram? Asal kamu tahu saja, aku juga tidak menyukaimu, tuh!"
"Bukan begitu." Tony Huo menghela napas dan saat itu pula kepalanya kembali berdenyut, "sudah lupakan saja! Oh, iya, kamu harus mendapatkan hukuman atas kelakuanmu semalam."
"Apa? Kelakuanku? Apa tidak cukup membuat rahangku sakit dan masih ingin menghukumku?"
Zelene memijat kepalanya yang pening. Masih pagi dan Tony Huo sudah mengajaknya untuk bertengkar, jika Tony Huo pulang hanya untuk memberikan kompensasi padanya, Zelene lebih memilih agar pria itu tidak pulang sekalian. Sangat berbeda sekali ketika dirinya bangun pagi, ia bebas melakukan apa pun tanpa harus bertengkar dengan siapa pun di pagi hari, tetapi harinya mungkin akan sangat berbeda dengan sebelumnya karena kehadiran Tony Huo.
"Kamu mungkin tidak mengingat kelakuan burukmu semalam. Tapi aku tidak akan pernah lupa dengan hal tidak bermoral yang kamu lakukan pada seorang pria." Ucapnya dengan dingin serta sorot matanya seperti bongkahan es.
"Tony Huo! Orang mabuk bertindak di luar kesadaran mereka. Sama halnya denganku, mana mungkin aku tahu hal tidak bermoral yang telah aku lakukan pada seorang pria, dan ... siapa pria itu?" awalnya ingin berdebat melawan Tony Huo, namun mengingat hal tidak bermoral yang dimaksud oleh pria itu, Zelene menjadi agak malu.
"Kamu tidak ingat?" Tony Huo membuka kancing kemejanya satu demi satu sampai kancing ke-tiga ia berhenti dan memperlihatkan bekas cakaran kuku pada dada bidangnya.
Zelene membeliakan mata menatap bekas cakaran itu, dan beralih menatap kuku-kuku di tangan kanannya dan mendapati bahwa, kuku jari tengahnya telah patah dan kuku lainnya rusak, sontak penampakan kukunya tersebut membuatnya histeris, "Ahhhhh! Kuku ...."
Tony Huo menutup telinganya rapat-rapat, ketika mendengar teriakkan Zelene. Ia baru tahu, bahwa kuku sangat penting bagi wanita hingga membuat Zelene begitu histeris, tetapi itu kesalahan yang dibuat oleh Zelene sendiri.
"Sudah! Teriakanmu bisa membuatku tuli. Aku akan mandi dan setelah sarapan nanti kamu harus menerima hukumanmu." Tony Huo bergegas menuju kamar mandi, meninggalkan wanita yang masih menatap sedih pada kukunya yang patah dan rusak.
"Hukuman? Hpmh! Kamu sudah merusak kuku cantik dan terawat ini. Tony Huo, aku akan balas dendam padamu." Dada Zelene kembang-kempis karena menahan amarah pada pria yang sudah masuk ke dalam kamar mandi itu. Ia kemudian melihat kembali pada kukunya dan berkata dengan lirih, "kuku ... ku ...."
🍁 Bersambung🍁