My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Rin Kazuo



"Sepertinya aku ketahuan." Julia Qin berucap lirih dari seberang telepon. Ada kegetiran samar dalam nadanya.


Pria itu tersenyum dan kembali menyesap rokok di tangannya. Senyumnya sehalus wajah tampan tanpa cela itu dan perlahan dia mulai terkekeh, "Hahaha~"


"Mengapa kamu tertawa? Jika aku dituntut, maka karirku ...," ucapan Julia Qin terhenti karena rasa khawatir yang terdengar jelas dari nadanya. Dia sempat berpikir bahwa, rencananya semalam bukanlah hal besar untuk ditakuti jika ketahuan oleh Zelene Liang, namun yang tidak dia ketahui ialah Tony Huo tiba di sana tadi malam.


"Tenanglah, itu bukan masalah besar. Jangan terlalu cemas, kerutanmu akan semakin banyak jika kamu terlalu khawatir." Pria itu berucap dengan nada bercanda, dia tidak terlalu memusingkan insiden tadi malam seperti Julia Qin yang saat ini pikirannya sedang berkabut.


Dengan santai pria bersuara lembut itu menuangkan wine ke dalam gelasnya, dia juga memasukkan beberapa es batu ke dalamnya lantas menggoyangkan gelas di tangannya. Jemari elegan yang memegang gelas tersebut bergerak lambat menuju bibir pria itu.


"Bukan masalah besar katamu? Entah apa hubungan Zelene Liang dan Tony Huo sehingga para reporter itu bisa disingkirkan dan menutup mulut mereka. Aku juga mendengar dari orang-orangku bahwa, para reporter itu sudah diberhentikan dari pekerjaan mereka dan Tony Huo sendiri yang menyelidiki insiden tersebut. Aku ketahuan! Aku ketahuan berkat ide bodohmu!" pekik Julia Qin dengan nada tinggi, menyalahkan pria yang duduk dengan tenang di kursi mini bar.


"Sudah kubilang tenang saja dan jalankan rencana selanjutnya! Berhenti menggangguku dengan nada tinggimu itu, perempuan cempreng, sial!"


"Rin Kazuo—" panggilnya, geram. Namun, Rin Kazuo telah mematikan panggilan tersebut dan suara cempreng Julia Qin sudah tidak terdengar lagi.


Rin Kazuo melemparkan smartphone-nya asal-asalan ke atas meja mini bar. Dia menenggak wine dalam gelas di tangannya dengan sekali teguk. Sorot mata lelaki berwajah rupawan itu telah berubah garang karena mendengar nama Tony Huo disebut dalam percakapannya dengan Julia Qin barusan.


"Hahaha!" dia tertawa risau dan tangannya terkepal erat memukul-mukul meja mini bar tersebut. "Tony Huo!"


🍁🍁🍁


Para pelayan di kediaman Xue Garden sedang mempersiapkan meja makan pula hidangan makan malam tengah di tata di atas meja berbentuk persegi panjang. Hidangan di atur sedemikian rupa, meski yang menikmati hidangan tersebut hanyalah sepasang suami-istri.


Butler Kim tengah menunggu kedatangan sang tuan rumah sembari menuangkan air putih pada gelas yang sudah dipersiapkan oleh para pelayan. Pria berambut perak itu menoleh pada arloji di tangannya dan mendapati bahwa waktu makan malam sudah tiba, namun kedua orang itu belum juga turun.


"Semuanya sudah lengkap butler Kim. Juru masak juga sudah menghangatkan makanan yang dimasakan khusus untuk Nyonya Muda oleh Nyonya Huo tadi siang." Kata Ji Meng.


"Aku mengerti. Lanjutkan pekerjaan kalian, aku akan memanggil Tuan dan Nyonya." Butler Kim mengambil langkahnya keluar dari ruang makan menuju ke lantai dua.


Pertama dia pergi ke ruang belajar karena dia sangat yakin, Tony Huo masih berkutat dengan dokumen-dokumennya. Butler Kim berhenti di depan pintu ruang belajar dan mengetuk pintu pelan.


"Masuk." Kata pria di dalam ruang belajar.


Butler Kim membuka pintu ruang belajar dan mendapati Tony Huo meninjau dokumen-dokumen di atas mejanya. Dia masuk ke ruangan, kemudian menutup pintu tersebut. Dengan langkah pelan, dia berjalan ke depan meja Tony Huo, lantas menundukkan kepalanya dan berkata, "Tuan Muda, makan malam sudah siap. Anda sebaiknya turun dan makan malam terlebih dahulu. Anda sudah bekerja sejak pagi hingga sekarang. Apa bedanya dengan Anda bekerja di rumah dan di kantor? Anda tetap saja sibuk bekerja. Anda harus istirahat, Tuan Muda."


"Butler Kim, sejak kapan kau menjadi sangat cerewet? Aku akan turun sebentar lagi. Bagaimana dengannya?" tanya Tony Huo sembari memberikan coretan berupa tanda tangan di atas kertas putih itu dan segera menutupnya.


"Saya cerewet demi kesehatan Anda, Tuan Muda," ucapnya penuh penekanan. "Nyonya masih di kamarnya, saya akan segera memanggilnya. Kalau begitu saya permisi, Tuan Muda." Butler Kim berbalik dan melangkah menuju pintu, sebelum dia membuka pintu diliriknya kembali Tony Huo—pria itu membuka kembali sebuah dokumen.


Tony Huo mengerti akan maksud butler Kim. Jadi, dia menutup dokumennya dan merenggangkan lengannya karena dia bisa fokus bekerja tanpa gangguan dari bayang-bayang wajah cantik Zelene Liang, sampai ia sendiri lupa jam makan malam. Ia melihat ke arah jendela yang masih terbuka, cahaya di luar sana remang-remang lantaran matahari baru saja terbenam.


Tony Huo bangkit dari kursinya, ia berjalan keluar dari ruang belajar dan setelah menutup pintu dilihatnya Zelene Liang juga keluar dari kamar utama. Koridor ruang belajar satu arah dengan kamar utama, jadi tidak heran jika saat ini pandangan mereka bersirobok. Entah mengapa Tony Huo mempercepat langkahnya dan menghampiri Zelene Liang, sementara Zelene sendiri hanya mematung menatap Tony Huo yang berjalan ke arahnya.


"Kamu sudah menghubungi agenmu?" tanya Tony Huo ketika ia sampai di depan kamar utama.


"Iya, kami akan membicarakannya besok dengan Presdir Wang." Jawab Zelene. Dia memperhatikan wajah Tony Huo yang agaknya kelelahan setelah bekerja seharian. "Kukira karena sakit kamu akan istirahat, namun rupanya di mana pun dan dalam keadaan apa pun kamu tetap bekerja."


"Pekerjaanku sangat banyak, Zelene Liang. Ayo turun atau butler Kim akan mencari kita lagi." Tony Huo berjalan mendahului.


Zelene Liang berjalan mengikuti di belakangnya. "Kapan kamu akan kembali ke Kanada?"


Langkah Tony Huo terhenti dan ia menoleh ke belakang tanpa membalikkan badannya.


"Aku akan tinggal di sini. Mengapa kamu bertanya begitu? Apakah kamu tidak senang jika aku menetap di Imperial City?" tanyanya balik lantas pria itu meluruskan pandangan ke depan.


Zelene melangkahkan kakinya ke depan dan berdiri di samping Tony Huo. "Aku hanya ingin tahu karena bisa saja kamu pergi tanpa memberitahu seperti sebelumnya. Kita memang tidak akrab, Tony Huo, tapi setidaknya hargai aku sebagai menantu keluarga Huo." Dia menatap pada pria itu dan sebuah seringai terulas di wajah cantiknya.


Tony Huo tentu melihat seringai di wajah istrinya. Ia menyadari bahwa Zelene Liang sedang menyindir dirinya karena sebagai pria yang tidak menghargai perasaan seorang wanita. Apalagi Zelene Liang telah menjadi menantu dari keluarga Huo. Tony Huo tidak berpikir sampai di sana lantaran ia yakin bahwa, Zelene Liang tidak akan mengapa jika ia tinggalkan begitu saja. Lidah Tony Huo mendadak kelu, pikirannya kosong dan ia menatap Zelene Liang dengan raut canggung.


Segera Tony Huo menyadarkan dirinya dan mengubah arah pandangnya lurus ke depan.


"Hem ..., ayo, kita turun dan makan malam, jika tidak butler Kim bisa meneror kita." Tony Huo mengalihkan pembicaraan karena tak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Zelene.


Bibirku rasanya kelu. Apakah tadi aku sudah kalah? Hoho, Tony Huo sejak kapan kamu tidak mampu berdebat dan lagi, dia seorang wanita? Sejak kapan kamu tidak mampu membalas ucapan orang?


"Hm, baiklah, kita turun saja. Aku juga sudah sangat lapar dan aku berharap tidak akan ada makanan yang kabur dengan sendirinya, sebelum aku bisa memakannya." Perlahan langkah Zelene Liang meninggalkan Tony Huo.


Sial! Wanita itu sedang menyindirku lagi? Huh, kamu pikir lain kali aku akan kalah dengan sindiranmu yang payah itu, Zelene Liang? Gerutu Tony Huo di dalam benaknya.


Tony Huo tampaknya lengah karena kelelahan sehingga membiarkan dirinya disindir tanpa membalas balik. Ia berjalan mengejar Zelene seraya mengepalkan tangannya. Langkah besarnya berhasil mendahului Zelene.


Ia menengok ke belakang sebelum menuruni tangga dan memberikan tatapan sengit pada Zelene Liang karena merasa dirinya telah kalah. Tak lama kemudian Tony Huo melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Zelene Liang.


"Pfffttt!" Zelene terkekeh melihat ekspresi Tony Huo. "Dia nampak kekanak-kanakan."


🍁 Bersambung🍁