My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Tony Huo, kamu membuatku takut



Tony Huo masih berdiri di depan kamar utama, jemarinya menyentuh gagang pintu, namun pintu tersebut tidak dibuka olehnya. Agaknya ia tengah menimang-nimang memilih untuk masuk atau tidak karena ia belum tahu, apakah Zelene Liang masih terjaga atau sudah tidur di dalam sana? Ia kembali melepaskan tangannya dari gagang pintu layaknya orang kebingungan. Tony Huo memalingkan tubuhnya membelakangi pintu kamar, ia melangkah ke depan berniat untuk meninggalkan kamar utama. Akan tetapi setelah tiga langkah, ia berbalik dan membuka pintu di depannya tanpa berpikir panjang.


Dalam kamar tersebut lampu masih menyala, tetapi wanita muda di atas ranjang sudah tertidur lelap. Sepertinya dia tidak mendengar pernyataan lantang dari Sarah Wu tadi. Tony Huo menghela napas sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Setelahnya, ia menutup pintu tersebut dengan perlahan-lahan agar tidak membangunkan Zelene Liang.


Sembari berjalan pelan menuju ke arah ranjang, Tony Huo bergumam, "Kenapa lampunya tidak dimatikan? Apakah dia lupa atau sedang berpura-pura tidur saat ini?"


Setelah pertengkarannya juga interogasi yang dilakukannya barusan terhadap pelayan wanita bernama Sarah Wu, kini Tony Huo merasa sangat lelah. Ia semakin mendekat ke arah ranjang dan perlahan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Diperhatikannya Zelene Liang terlelap dan dalam tidurnya pun wajah cantiknya masih tetap sama, juga semakin menggemaskankan.


Tony Huo mendekatkan tubuhnya, kemudian menyentuh rambut Zelene dengan lembut menggunakan kelima jemari kirinya. Apa yang ada dipikirannya saat ini? Ketika makam malam ia memberikan ekspresi dingin pada Zelene Liang, kini wajahnya terlihat sangat hangat saat membelai rambut istrinya.


"Zele," bisiknya lembut di telinga Zelene.


Saat ini, Tony Huo sedang tidak mabuk karena ia merupakan peminum yang baik. Setengah botol anggur bukanlah apa-apa bagi seorang pria, apalagi pria seperti Tony Huo yang menghadiri acara di mana-mana akan disuguhkan anggur.


"Zele." Bisiknya lagi.


Zelene Liang mengerutkan alis lantaran dia merasakan ada sesuatu yang mengganggu tidurnya. Bibirnya bergerak-gerak, dan seketika dia membalikkan badannya. Kini, wajahnya sangat dekat dengan wajah Tony Huo, sehingga pria itu bisa merasakan napas hangat Zelene yang menyapu wajahnya.


Tony Huo menikmati sapuan pada wajahnya. Napas wanita itu sangat hangat dan beraroma cherry, bahkan ia bisa mencium seluruh ruangan itu dilingkupi oleh aroma cherry yang tak lain adalah merupakan aroma dari tubuh Zelene Liang. Begitu menenangkan menurutnya, sehingga tanpa sadar Tony Huo mengecup lembut pada bibir mungil Zelene Liang. Aroma cherry telah bercampur dengan aroma anggur dari bibir Tony Huo.


Perlahan bulu mata lentik wanita itu—bergetar, kelopak matanya terangkat pelan. Dia merasakan sesuatu yang lembut tengah menempel di bibirnya. Ketika matanya telah terbuka sepenuhnya, ia mendapati wajah tampan Tony Huo menangkup wajahnya. Sontak Zelene Liang mendorong pria itu, ia segera menjauhkan dirinya ke tengah-tengah ranjang.


"Tony Huo!" serunya dengan nada keras. "Apa yang sedang kamu lakukan tengah malam di kamarku?"


Zelene Liang tidak lupa menyentuh bibirnya—yang ciumannya telah dicuri barusan oleh pria—yang kini tengah tersenyum puas.


"Kamu ke sini untuk mencuri ciuman dariku? Dasar pria tidak tahu malu!" Zelene sangat kesal sampai-sampai dia melempar bantal ke arah wajah tampan Tony Huo.


Pria itu hanya terkekeh ketika bantal yang dilempar padanya tepat mengenai wajahnya. "Hahaha~" ia menutup bibir tipisnya dengan punggung tangan sembari memperhatikan wajah panik Zelene Liang.


"Mengapa malah tertawa?" dahi Zelene makin berkerut melihat tingkah aneh Tony Huo. Secara sengaja Zelene membaui jemarinya yang telah menyentuh bibirnya. "Anggur? Kamu mabuk, Tony Huo?"


"Aku tidak mabuk," jawab Tony Huo setelah menghentikan tawanya. Ia mulai naik ke atas ranjang dan mendekati Zelene, perlahan. "Hanya saja ...,"


"Hanya apa? Tony Huo, kamu pasti mabuk. Jangan membohongiku dan cepat turun dari sini!"


Semakin Tony Huo mendekat, Zelene semakin menjauh. Entah mengapa dia merasa agak ngeri dengan tingkah Tony Huo yang seperti sekarang ini. Tatapan mata pria itu bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Akankah Zelene Liang menjadi mangsa Tony Huo, seperti apa yang tengah dipikirkan oleh wanita itu saat ini?


"Aku hanya minum setengah botol anggur. Menurutmu, bisakah setengah botol anggur membuatku mabuk?"


"Takut apa? Hah," Zelene melengos, namun nyatanya dia menghela napas pelan. Dirinya sempat takut kalau-kalau Tony Huo sampai mabuk dan berbuat yang tidak-tidak. "Aku pikir kamu sedang mabuk dan ingin membunuhku. Lihatlah, wajahmu sangat seram saat sedang tersenyum."


Wajah Tony Huo jatuh dan seketika itu juga senyumnya menghilang dari bibir tipis itu. Hanya tatapan datar yang kini tersisa di sana. Ia bangkit kembali, lantas mendekatkan wajahnya pada Zelene Liang. Mendadak Zelene menjauhkan dirinya, namun kepala Zelene dengan cepat diraih oleh Tony Huo. Sehingga saat ini mereka saling menatap.


"Lihat aku baik-baik, apakah menurutmu aku menyeramkan? Semua orang mengatakan bahwa aku sangat tampan dan dipuja di mana-mana."


Dengan sombongnya Tony Huo berkata demikian, membuat Zelene mengangkat senyum tipisnya. Ujung bibirnya perlahan naik, dan hal tersebut ditangkap oleh mata hitam Tony Huo.


"Apakah sekarang aku terlihat lucu di matamu, sampai-sampai kamu tersenyum? Tersenyumlah lebih lebar lagi. Aku lebih suka jika kamu tersenyum lebar, Zele. Kamu terlihat cantik tidak seperti tadi ketika menggebrak meja makan, sangat jelek."


Zelene merasa takut dengan nada bicara Tony Huo yang agaknya lebih lembut dari sebelumnya. Ada apa dengan pria itu, jika tidak mabuk untuk apa dia berkata seperti itu?


"Tony Huo, jika kamu tidak mabuk, lantas bagaimana kamu menjelaskan tingkahmu saat ini? Sebelumnya kamu marah, kemudian mengerjaiku, lalu bersikap dingin dan saat ini ... aku benar-benar tidak mengerti." Zelene menggelengkan kepalanya lantaran sama sekali tidak mengerti akan jalan pemikiran dari Tony Huo.


"Kamu tidak perlu mengerti."


Tangan besar Tony Huo menyapu wajah Zelene Liang dengan lembut, mata jernihnya mengawasi setiap lekuk dari wajah wanita muda itu. Istrinya memang sangat manis dan kepribadiannya pun sangat tangguh tak seperti kebanyakan wanita lainnya yang pura-pura rapuh dan menginginkan perlindungan dari seorang pria. Tony Huo sering menemukan wanita seperti itu, kebanyakan pria akan dengan senang hati menjadi tameng juga melindungi mereka, akan tetapi tidak dengan Tony Huo karena ia tahu wanita-wanita seperti itu—bermuka dua dan harus dihindari.


Dari pemahamannya, Zelene Liang agaknya berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia temui. Zelene memang angkuh dan tidak lemah, namun dia juga penyayang. Terbukti dari bagaimana Zelene memperlakukan orang tuanya. Wanita itu sangat menghormati mereka juga menyayangi mereka dengan tulus dan tidak mengada-ada.


"Zele." Untuk keempat kalinya Tony Huo memanggil Zelene dengan menyingkatnya.


"Tony Huo, kamu membuatku takut."


Zelene Liang tak pernah merasa takut sebelumnya, namun saat ini jantungnya berdebar sangat kencang seperti akan terlepas dari tempatnya. Dia tidak tahu apakah sebenarnya yang dirasakannya adalah rasa takut atau bukan? Meskipun demikian, dia tetap membiarkan jemari Tony Huo berselancar di wajahnya.


Sedangkan, Tony Huo sendiri perlahan mengecup dahi istrinya selembut mungkin. Setelahnya, bibirnya turun mengecup kedua mata indah Zelene secara bergantian, lantas beralih ke kedua pipi tirusnya.


Zelene Liang memejamkan matanya menerima kecupan demi kecupan yang dilayangkan pada wajahnya oleh pria itu.


Perlahan Tony Huo membaringkan tubuhnya di atas tubuh Zelene Liang, namun ia tetap menghujam kecupan hangat pada wanita itu.


"Tony Huo," lirihnya.


🍁 bersambung🍁