
Sedikit tercengang, Zelene Liang meluruskan pandangannya, dia baru mengerti perubahan ekspresi Tony Huo yang secara tiba-tiba. "Sudah." Jawabnya singkat. Tadi pagi Zelene Liang berbohong mengatakan kalung tersebut merupakan pemberian dari Hanna Gu, namun saat ini Tony Huo pasti sudah tahu semua yang telah membeli kalung tersebut.
Singkat saja Zelene Liang tidak ingin menjelaskan lagi karena Tony Huo sendiri sudah tahu. Dia malah santai saja meskipun Tony Huo memiliki ekspresi muram. Karena saat ini, jika Tony Huo ingin marah padanya, dia cukup diam saja.
"Hanya itu saja? Kamu tidak ingin menjelaskan apa pun?" bertanya tanpa melihat ke arah Zelene Liang. Siku Tony Huo bersandar pada sandaran kursi dan jari telunjuknya bermain di bibir tipisnya.
"Tidak ada. Aku tidak perlu menjelaskan hal-hal yang agaknya telah kamu ketahui." Zelene menjawab dengan datar, dia juga tidak menatap Tony Huo. Zelene Liang terlalu malas untuk membahas kalung pemberian Xie Yu Fan karena dia tidak ingin mengingat ekspresi masam pria itu ketika dia mengembalikan benda pemberiannya.
Suasana dalam mobil berubah menjadi dingin. Duan Che memperhatikan pasangan itu melalui kaca spion. Sebelumnya mereka masuk dengan bergandengan tangan dan menampilkan aura hangat sampai-sampai Duan Che sempat tercengang melihat raut muka hangat terpampang dari wajah pria yang biasanya seperti Kutub Utara tersebut.
Kini, setelah Tony Huo menanyakan perkara kalung yang ditemukannya tadi pagi membuat wajah hangatnya kembali menjadi dingin seperti semula. Anehnya setelah beberapa hari Duan Che perhatikan, Tony Huo biasa menjadi hangat di depan Zelene Liang. Mungkinkah ...? Duan Che memiliki sesuatu yang dia pikirkan, namun tidak melanjutkan pemikiran itu lebih jauh karena dia sendiri tidak mau menebak-nebak. Duan Che hanyalah seorang penonton dari drama yang sedang dimainkan oleh kedua orang itu.
Setelah selesai rapat pada pagi tadi Duan Che segera membawakan daftar pembeli dari liontin tersebut dan Tony Huo pun menemukan bahwa salah satu dari 50 orang pembeli ialah Xie Yu Fan. Saat itu Duan Che sudah mengetahui bahwa Tony Huo agaknya telah dapat menebak orang yang telah memberikan liontin tersebut pada Zelene Liang. Pria itu hanya butuh memastikan dan benar saja dugaannya, tidak mungkin Hanna Gu akan membeli kalung semahal itu menggunakan gajinya.
"Tapi kamu punya kewajiban untuk menjelaskannya, Zelene Liang. Kamu menerima hadiah dan itu pun pemberian dari seorang pria yang tengah digosipkan berkencan denganmu." Tuntut Tony Huo. Semakin Zelene Liang ingin menutup mulutnya, semakin Tony Huo ingin penjelasan dari wanita itu. Meskipun Zelene Liang berkata telah mengembalikan liontin itu, namun tetap saja Tony Huo menduga-duga dalam benaknya. Mengapa Zelene Liang mau menerima liontin itu?
"Tony Huo, apakah kamu sangat ingin penjelasan mengenai hal sepele seperti ini? Hanya sebuah liontin pemberian dari temanku menjadi masalah bagimu? Aku juga sudah mengembalikannya."
Zelene Liang tengah menatap Tony Huo, namun pria itu memandang lurus ke depan membuat Zelene Liang menjadi lebih malas. Harusnya dia diam saja dan tidak mengucapkan apa pun.
"Bukannya malah menjelaskan kamu malah bertanya apakah itu masalah bagiku atau bukan? Aku suamimu, Zelene Liang." Tony Huo akhirnya memalingkan wajah dan menatap mata Zelene Liang. Ia memperhatikan mata almond itu, sungguh cantik membuat Tony Huo hampir merasakan kedalaman dari sebuah lautan.
Zelene Liang mendesah malas karena pria itu sungguh keras kepala. Daripada Tony Huo terus mengomel dan tetap mempertanyakan sesuatu yang membuat dirinya menjadi tambah malas, Zelene Liang memilih untuk memberikan penjelasan. "Saat kami makan siang dia memberikanku sebuah kotak hitam, aku sebenarnya ingin menolak saat itu juga, tetapi paparazi malah menemukan kami. Aku mengambil kotak perhiasan itu dan masuk ke dalam mobil setelahnya. Tidak ada alasan khusus untuk menerima hadiah pemberiannya. Seperti yang kamu ketahui aku juga telah mengembalikan benda itu padanya hari ini." Terangnya dengan sejelas-sejelasnya. Meluruskan pandangannya ke depan, Zelene Liang menyandarkan kepalanya dan merasakan tenggorokannya agak kering setelah berbicara panjang lebar.
Tony Huo menyimak semua ucapan Zelene Liang dan memang tidak ada yang ditutup-tutupi dari nada wanita itu. Setidaknya dia tahu kalau Zelene Liang terpaksa menerima liontin itu, bukannya sengaja menerima pemberian dari pria itu.
Akhirnya dua menit kemudian mobil memasuki gerbang depan dari kediaman tersebut. Sedang Tony Huo tetap bungkam memperhatikan Zelene Liang.
Laju mobil berhenti di depan pintu mansion karena Zelene Liang mengira bahwa tidak ada lagi yang dikatakan oleh Tony Huo, maka dia bersiap untuk turun dari mobil, namun pada saat dia akan membuka pintu mobil tersebut, lengan Zelene Liang diraih oleh tangan besar Tony Huo.
"Tony Huo apa yang kamu lakukan? Kita sudah sampai di mansion dan jika ada yang ingin kamu katakan—kita bisa membicarakannya di dalam." Protes Zelene Liang. "Aku ingin segera mandi dan makan malam. Aku sudah lapar, jadi lepaskan tanganku." Melotot tidak senang pada pria itu, Zelene Liang mendengus kesal.
Pria itu melirik ke kursi penumpang dan berkata. "Keluarlah."
Menatap dari kaca spion, Duan Che mengangguk. "Baik, Tuan." Duan Che segera turun dan tidak ingin menganggu pasangan itu. Dari gelagat Tony Huo nampaknya Duan Che tahu aksi yang akan dilancarkan oleh atasnya tersebut. Entah mengapa Duan Che merasa hubungan keduanya seperti es dan api. Sebentar dingin dan sebentar panas, dan saat ini kemungkinan di dalam mobil sedang berapi-api.
Setelah Duan Che menutup pintu pengemudi, di dalam mobil hanya tinggal mereka berdua. Tony Huo memperhatikan wajah malas Zelene Liang.
"Sampai kapan?" Zelene Liang menggeleng dan mengulangi pertanyaannya, "sampai kapan kamu akan mempertahankan adegan yang membosankan in—"
Ucapan Zelene Liang terpotong ketika bibir tipis nan dingin itu mendarat pada bibir merahnya. Zelene Liang sama sekali tidak siap akan aksi spontan dari Tony Huo. Dia mencoba untuk mengelak, namun tengkuknya diraih oleh telapak tangan pria itu, sementara tangan satunya lagi berada pada pipinya.
Tony Huo memperdalam ciumannya dan bibir wanita itu sudah terkunci. Perlahan Zelene Liang memejamkan matanya karena tidak ada gunanya dia melawan Tony Huo, lagipula adegan seperti ciuman sudah sering dia lakukan. Tapi saat ini dia berciuman dengan suaminya sendiri. Ciuman ini pula bukanlah ciuman pertama atau kedua bagi mereka.
Mereka menikmati suasana itu selama beberapa saat hingga bibir Tony Huo mulai menelusuri leher jenjang Zelene Liang.
🍁 Bersambung🍁